
"Shit, kamu selalu saja merusak suasana bro." gerutu Dannis.
"Ck. Kalian memang nggak ada akhlaknya, bisa-bisanya melakukan itu di depan mataku." Sam berdecak kesal.
"Makanya buruan nikah sana, anak orang kamu php in terus !!" ujar Dannis sinis.
"Lihat saja nanti, ada saatnya boss merasakan bagaimana berada di posisiku." cibir Sam yang sudah terlalu jengah melihat bossnya tidak bisa menahan hasratnya meski di depannya sekalipun.
"Kamu mengancamku ?" hardik Dannis sembari memukul kursi yang Sam duduki.
Sam tersentak kaget ketika kursi yang ia duduki terguncang hingga membuat kemudinya sedikit oleng.
"Hampir saja kita setor nyawa boss." celetuk Sam kesal.
Aline yang sedari tadi mendengar perdebatan antara suami dan sahabatnya itu hanya bisa membuang muka ke samping, ia rasanya ingin menggali lubang dan sembunyi di sana karena sangat malu sekaligus kesal.
"Sayang, kamu kenapa ?" Dannis yang menyadari istrinya hanya diam saja langsung menariknya dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
Aline berusaha meronta dari pelukan suaminya, tapi tenaga Dannis begitu kuat menahannya jadi sekarang ia hanya bisa pasrah.
"Jadi ada hubungan apa kamu dengan laki-laki tadi ?" tanya Dannis menyelidik.
"Hanya teman."
"Yakin cuma teman, kamu nggak selingkuh kan ?"
"Aku nggak selingkuh bang bulll." ucap Aline sembari meronta lagi dari pelukan Dannis.
"Iya-iya aku percaya, tapi lain kali jangan pernah dekat dengan laki-laki manapun apalagi pergi ngopi, makan atau apapun itu." sahut Dannis yang masih memeluk istrinya itu dengan posesif.
"Hm."
"Aku sangat mencintaimu sayang, aku nggak mau kamu meninggalkan ku apalagi itu karena pria lain. Kamu mau apapun akan ku berikan, asal tetap di berada sisihku." ujar Dannis lalu mengecup bibir Aline ketika istrinya itu mendongakkan kepalanya untuk menatapnya.
Ehmmmmm
Sam mendadak berdehem ketika melihat dua orang di belakangnya itu dari balik kaca spion.
"Nggak usah iri begitu bro, kita nggak akan melakukannya di sini. Ya kan sayang ?" ujar Dannis yang meminta persetujuan istrinya.
Aline yang masih berada di pelukan Dannis nampak diam saja, membahas soal itu dengan suaminya saja sudah sangat canggung, apalagi bersama Sam sangat memalukan pikirnya.
__ADS_1
Jalanan yang terlihat macet sore itu membuat Aline merasa nyaman dalam pelukan suaminya dan tak menunggu lama ia memejamkan matanya dan terlelap tidur.
Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di Apartemennya. "Astaga kucing kesayangan ku tidur." ucap Dannis yang pasti akan kesulitan bangunin istrinya kalau sudah tidur pasti ngebo.
"Butuh bantuan boss, saya siap bopong Aline ke atas." ujar Sam sembari menggulung kemejanya hingga siku.
"Berani, ku pastikan kamu pulang tinggal nama." ancam Dannis yang membuat Sam bergidik ngeri karena sahabatnya itu menatapnya dengan mata nyalang.
"Bercanda boss." sahut Sam sembari mengangkat kedua tangannya ke atas.
Pada akhirnya Dannis membopong istrinya ke Apartemennya sedangkan Sam mengekor di belakangnya dengan beberapa berkas di tangan kirinya dan tangan kanannya membawa tasnya Aline.
Sesampainya di dalam Apartemennya, Dannis segera membaringkan istrinya di ranjang lalu menyelimutinya. Kemudian ia bergegas ke dapur untuk membuatkan istrinya makan malam.
Jarum Jam menunjukkan pukul 9 malam, Aline baru mengerjapkan matanya. Dilihatnya suaminya sedang duduk di sofa, pandangannya masih fokus ke layar laptop di depannya.
"Bang bule." Aline yang masih mengenakan baju kerjanya kini sudah bersandar di headboard ranjang.
"Sudah bangun sayang." Dannis nampak tersenyum ketika melihat istrinya.
"Kenapa nggak bangunin aku ?" Aline melihat Jam di atas nakas.
"Memang kamu bisa di bangunin sayang ?" sindir Dannis yang memang suka menyerah ketika bangunin istrinya.
Setelah memakai bajunya dan mengeringkan rambutnya, kini ia duduk di sebelah suaminya. "Sayang kamu nggak lapar ?" tanya Aline yang melihat suaminya masih sibuk kerja.
"Lumayan, aku sudah menunggu mu dari tadi." sahut Dannis sembari mematikan laptopnya.
Kemudian mereka berlalu ke dapur. " Ini siapa yang masak ?" Aline terkejut ketika melihat menu oriental favoritnya fuyunghai dengan saus asam manis dan kacang polong sudah terhidang di atas meja makan.
"Tentu saja suamimu yang tampan ini." ucap Dannis narsis.
"Yakin kamu yang masak ?" Aline sedikit ragu ketika akan mencicipi nya, karena yang ia tahu suaminya itu hanya bisa masak mie instan.
"Ini enak sekali." ucapnya lagi sambil mengambil beberapa potong irisan telur tersebut ke dalam piringnya.
"Enakkan, ternyata suamimu ini tidak hanya tampan, pintar dan kaya tapi juga jago memasak." lagi-lagi Dannis menyombongkan dirinya, padahal tadi ia memasak dengan bimbingan ibu mertuanya melalui video call.
Aline yang mendengar kenarsisan suaminya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena mengingatkannya pada Austin Ayahnya.
Setelah menyelesaikan makan malamnya Aline membersihkan meja makannya dan suaminya yang membersihkan peralatan makannya. Hidup berdua di Apartemen membuat mereka menjadi partner dalam segala hal.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu mau nonton ?" tanya Dannis ketika baru menyelesaikan pekerjaannya di bawah kucuran air wastafel.
"Bisa, aku juga belum bisa tidur." sahut Aline kemudian mereka berlalu ke ruangan tengah.
"Nonton apa ?" tanya Dannis sembari memegang remote di tangannya.
"Drakor."
"Astaga nggak seru sayang, kita nonton film action saja." tawar Dannis.
"Tapi aku maunya drakor." ujar Aline keukeh.
"Baiklah." Dannis terlihat pasrah dengan pilihan istrinya.
Aline yang sudah mengikuti alur cerita terlihat fokus, sedangkan Dannis nampak sangat bosan tapi kemudian ia tersenyum menyeringai ketika menatap istrinya.
"Sayang."
hening
"Sayang."
"Hmm."
Dannis yang merasa tak di hiraukan, mencoba mengganggu Aline dengan meniup-niup tengkuknya hingga membuat istrinya itu meremang tapi tetap saja tak bergeming.
Tapi justru ia yang mulai tergoda dengan melihat leher jenjang dan mulus milik istrinya, ia mengecupinya dan menambah jejak yang memang sebelumnya sudah ada.
"Dannis." desis Aline ketika tangan suaminya itu sudah merayap kemana-mana.
Kini Dannis sudah melahap bibir istrinya dengan rakus dan Aline memutuskan untuk melupakan drakor yang ia tontonnya. Ciuman Dannis seakan membiusnya, begitu memabukkan, nikmat dan membuai.
Dan di ruang tengah itu untuk pertama kalinya mereka melakukan penanaman saham untuk ke sekian kalinya dan mungkin akan berlanjut di kamarnya hingga dini hari berharap setelah itu akan tumbuh bayi-bayi lucu buah cinta mereka.
.
.
"Kenapa bu, pagi-pagi di tekuk tuh muka ?" tanya Sofia pagi itu ketika sedang menikmati coffetime bersama Aline di salah satu Cafe dekat kantor mereka.
"Ternyata nikah gini amat ya." keluh Aline merasa tak bersemangat.
__ADS_1
"Memang kenapa, kamu nggak ada pikiran untuk berceraikan ?" ucap Sofia yang lolos begitu saja dari bibirnya.