Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Kecurigaan seorang istri part 2


__ADS_3

Pagi itu Dannis bangun sangat pagi, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan istrinya tapi dia sudah mempunyai janji.


"Aku berangkat dulu ya sayang." Dannis mengecup kening istrinya yang masih tertidur pulas, kemudian ia berlalu dari kamarnya.


Aline yang melihat Dannis meninggalkan kamarnya, dia langsung bangkit dari ranjangnya. Sebenarnya dia sudah bangun sejak Dannis melepaskan pelukannya dan beranjak dari sisihnya pagi itu.


Aline segera ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu dia mengambil piyama tidurnya dan segera memakainya. Kemudian dia bergegas menuruni anak tangga.


Aline berjalan mengendap-endap, mengawasi Dannis yang masih memanaskan mobilnya. Setelah mobil Dannis meninggalkan Mansion tersebut, Aline segera mengambil kunci mobilnya dan mulai menghidupkan mobilnya.


"Nyonya mau kemana, mari saya antar ?" tanya seorang sopir yang berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya.


"Saya bisa sendiri pak." teriak Aline dari balik kemudinya.


"Nanti saya di marahi tuan, nyonya."


"Lebih baik di marahi atau saya pecat." ancam Aline sambil mulai mengemudikan mobilnya.


Pak sopir tersebut memandang nanar mobil yang sudah mulai menjauh, kini ia hanya bisa meratapi nasibnya nanti.


"Jangan kamu pikir, aku sedang hamil besar kamu bisa mengibuliku. Lihatlah bagaimana the power of emak-emak ini." gerutu Aline sambil mengemudikan mobilnya.


Aline mengikuti mobil Dannis yang bukannya ke arah kantornya, tapi justru pergi ke arah lain. "Ya kan benar dugaanku, kamu pasti mau pergi ke rumah selingkuhan mu."


Mobil Dannis terlihat berhenti di sebuah toko kue, Aline yang melihat mobil suaminya berhenti dia langsung meminggirkan mobilnya tak jauh dari toko kue tersebut.


Tak berapa lama Dannis keluar dari toko tersebut dengan membawa sebuah box berpita merah, yang Aline yakini itu sebuah kue tart di dalamnya.


"Oh jadi selingkuhan mu lagi ulang tahun, pintar sekali kamu menipuku. Bahkan setiap malam aku sudah mengikuti kemauan mu dengan berbagai gaya, tapi masih saja belum puas."


Setelah itu Dannis terlihat sedang menerima telepon dengan raut wajah bahagia bahkan sesekali dia tertawa, Aline yang melihat itu nampak sangat geram. Sayangnya ia tidak bisa mendengar suaminya itu sedang ngobrol dengan siapa, karena jarak mereka yang lumayan jauh.


Setelah menutup panggilannya, Dannis masuk ke dalam mobilnya lagi dan mulai melajukan dengan kencang. Aline yang sudah di penuhi amarah, beberapa kali ia memukul setir mobilnya sembari mengumpat.


Bahkan kali ini pukulannya mengenai tombol klakson, hingga mobilnya membunyikan klakson panjang. Padahal mobilnya sekarang sedang berhenti di lampu merah.

__ADS_1


Dannis yang mendengar suara klakson panjang di belakangnya, nampak melihatnya dari kaca spion, tapi berhubung mobil istrinya terhalang oleh beberapa mobil di belakangnya, ia tidak bisa melihatnya.


"Maaf Nyonya, apa anda ada masalah ?" seorang pria mengetuk kaca mobil Aline.


"Maaf tuan, sepertinya saya mau melahirkan." Aline memperlihatkan perut buncitnya lalu menghirup napas panjangnya berkali-kali seakan-akan dia sudah akan melahirkan.


Setelah itu ia melajukan lagi mobilnya, karena lampu lalu lintas tersebut sudah berganti warna. Sedangkan sang pria tadi nampak menggerutu.


"Suaminya pasti laki-laki brengsek, yang membiarkan istrinya pergi ke rumah sakit sendiri." gumam laki-laki tersebut sambil memandang nanar mobil Aline yang mulai menjauh.


Beberapa saat kemudian mobil Dannis memasuki sebuah perumahan mewah, Aline masih tetap mengikutinya tapi memberi jarak agak jauh agar tidak terlihat oleh suaminya.


Kemudian mobil Dannis berhenti tepat di sebuah rumah mewah dengan gerbang tinggi, lalu ia turun tapi tanpa membawa kue yang sudah dia beli tadi. Ia terlihat beberapa kali memencet bel dan tak lama keluar lah seorang perempuan dengan tas serta paper bag di tangannya.


"Dokter Hannah, brengsek kamu Dannis. Ternyata kecurigaan ku selama ini benar, kalian memang ada hubungan." gumam Aline ketika melihat Hannah masuk ke dalam mobil Dannis.


Setelah keluar dari komplek perumahan tersebut, Aline masih mengikuti mobil Dannis yang entah akan pergi kemana, tapi ketika berada di jalanan yang lumayan sepi mobil Dannis berhenti.


Setelah menunggu beberapa saat, Aline tak melihat Dannis atau dokter Hannah turun dari mobil tersebut.


Aline terlihat geram, kemudian ia melajukan mobilnya untuk mendekat, setelah itu ia keluar dari mobilnya. Biasanya Aline akan berjalan dengan pelan, tapi karena rasa amarah yang mendominasinya, ia seakan lupa kalau sedang hamil besar.


Dengan langkah cepat Aline berjalan ke arah mobil suaminya dan langsung menggedor-gedor kaca mobil tersebut.


Dannis yang mendengar mobilnya di gedor, langsung melihat siapa yang berani menggedor mobilnya dengan keras.


"Sayang." teriak Dannis, lalu dengan cepat ia keluar dari mobilnya dan di ikuti juga oleh Hannah.


Aline bertepuk tangan sambil tersenyum sinis, ia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Jadi ini kelakuan kamu di belakangku, dasar laki-laki brengsek." teriak Aline menatap tajam ke arah Dannis.


"Sayang, aku bisa jelasin." Dannis mencoba meraih tangan istrinya tapi Aline langsung menepisnya.


"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotornya itu." sentak Aline.

__ADS_1


"Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan sayang, aku dan Hannah tidak ada hubungan apa-apa." Dannis berusaha untuk menjelaskan pada istrinya yang sudah di kuasai amarah.


"Kalau semua maling mengaku, penjara akan penuh tuan Dannis Bryan. Cukup dengan apa yang ku lihat itu sudah membuktikan semuanya, bahkan kamu rela berangkat lebih awal hanya demi menjemput perempuan gatel ini." ucap Aline kesal.


"Kami tidak ada hubungan apa-apa Aline, kami tadi hanya....." dokter Hannah belum menyelesaikan perkataannya tapi Aline sudah memotongnya.


"Stop, aku tidak ingin mendengar penjelasan mu. Dari pertama ketemu waktu itu aku sudah tahu kamu menyukai suamiku. Sekarang ambil lah aku tidak membutuhkan pria brengsek seperti dia dan ini untuk kamu yang sudah berani menyukai milikku."


plakkkkkk


Aline menampar Hannah dengan kuat hingga wanita itu terhuyung ke belakang dan hampir jatuh. Dannis yang berada di antara mereka langsung reflek menahan lengan Hannah agar tidak jatuh.


Aline tersenyum sinis ketika melihat suaminya menolong wanita lain di depan matanya. "Hubungan kita, usai." ucap Aline sembari menatap sinis suaminya itu.


Kemudian Aline berlalu pergi, tapi baru beberapa langkah Dannis sudah menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukannya. Aline memberontak, kemudian dia menendang milik Dannis hingga laki-laki itu meringis kesakitan dan melepaskan pelukannya.


"Tega sekali kamu sayang." rintih Dannis tapi Aline sama sekali tidak memperdulikannya dia semakin cepat melangkah ke dalam mobilnya.


Dannis yang di penuhi rasa khawatir pada istrinya, dia tak mempedulikan rasa sakitnya. Ia segera berlari mengejar istrinya yang akan memasuki mobilnya.


"Sayang, ku mohon dengarkan penjelasan ku dulu." teriak Dannis sembari memeluk istrinya dari belakang.


"Lepaskan brengsek !!"


"Aku tidak akan melepaskan mu." Dannis masih memeluk istrinya dengan kuat.


sedetik kemudian, Aline terlihat lemas dan tak sadarkan diri di pelukan suaminya, nampak darah segar mengalir di kakinya.


"Dannis sepertinya Aline mau melahirkan." ucap dokter Hannah yang melihat darah mengalir di kakinya.


"Tapi perkiraan dokter masih sebulan lagi." ucap Dannis sembari membopong istrinya ke dalam mobilnya.


.


.

__ADS_1


Mendekati ending, bang bule kok bungul banget sih. Minta di bully memang, kesal nih Othor 😤😤


__ADS_2