
Pagi ini ketika Dannis sedang meeting di kantornya, terdengar notifikasi di ponselnya. Ia yang sedang mendengarkan presentasi karyawannya, segera melihat siapa yang mengirim pesan sepagi ini.
"Dannis, aku akan merestuimu untuk menikah tapi sebelum itu datanglah ke Cafe favorit kita dulu. Aku ingin bertemu dengan mu untuk terakhir kalinya." isi pesan dari Cleo.
"Baiklah, satu jam lagi aku akan datang." balas Dannis tanpa berpikir panjang.
Dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan wanita itu, pikirnya. Karena dua hari lagi adalah waktu dimana gadis yang ia cintai membuat keputusan dan ia yakin gadisnya itu akan menerima pinangannya.
Beberapa saat kemudian setelah meeting usai, Dannis masih juga belum beranjak dari duduknya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu dan itu tak luput dari perhatian Sam, asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Ada masalah boss ?" tanya Sam penasaran, ia mendudukkan dirinya di sebelah Dannis.
Sejak Dannis tahu hubungan Sam dan Sofia, ia tidak pernah lagi bersikap acuh pada Sam. Hubungi mereka kembali hangat seperti semula, saling curhat dan meledek seperti sebelum ada kesalah pahaman diantara mereka.
"Ayo ikut dengan ku !!" perintah Dannis sambil beranjak dari duduknya.
"Kemana boss ?" Sam mengikuti Dannis yang berjalan mendahuluinya.
"Nanti kamu juga tahu." sahut Dannis dengan langkah panjangnya ia berjalan menuju lift.
Sam yang masih penasaran mengekorinya begitu saja tanpa bertanya lagi, toh nanti dia juga tahu. Pikirnya.
Sesampainya di lobby, Dannis melemparkan kunci mobilnya pada Sam. "Cafe Minions." ucap Dannis sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir di area parkir khusus petinggi perusahaan.
Sam mengerutkan keningnya mendengar Cafe yang di sebut oleh boss sekaligus sahabatnya itu. "Bukannya itu dulu Cafe favorit Dannis dan Cleo, apa jangan - jangan Dannis mau bertemu wanita itu." batin Sam dari balik kemudi, lagi - lagi ia mengunci mulutnya untuk tidak bertanya. Ia yakin Dannis sudah sangat berubah sejak bertemu dengan Aline.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di Cafe tersebut, Sam segera memarkirkan mobilnya dan berjalan mengikuti Dannis masuk ke dalam Cafe tersebut. Karena masih pagi, Cafe yang di dominasi warna kuning dan biru itu masih sepi hanya ada beberapa pengunjung yang menikmati secangkir kopi di sana.
__ADS_1
Cleo yang sedari tadi sudah menunggu di Cafe tersebut, sangat senang ketika melihat Dannis dari kejauhan. Senyumnya terus mengembang di bibir merahnya ketika Dannis berjalan semakin mendekat ke arahnya, tapi senyum itu sedikit surut ketika melihat siapa yang bersama Dannis. Ya, dari dulu Cleo memang sangat tidak menyukai Sam yang menurutnya selalu ikut campur dan menempel kemanapun Dannis pergi.
"Dannis, aku pikir kamu tidak akan datang ke Cafe ini." ujar Cleo ketika Dannis baru mendudukkan dirinya di kursi.
"Kamu lihat, Cafe ini tidak banyak berubah ya meski sudah lima tahun berlalu." lanjut Cleo lagi yang mengingatkan kenangan manis mereka di Cafe tersebut, ia berharap masih ada kesempatan untuk dirinya bisa merajut kasih seperti dulu lagi.
"Apa yang kamu inginkan ?" tanya Dannis to the point.
"Dannis, mungkin ini akan menjadikan pertemuan terakhir kita. Karena setelah kamu menikah mungkin istri mu itu tidak akan mengijinkan kita bertemu. Jadi bisakah kamu santai sedikit." ujar Cleo dengan lembut serta sedikit mengiba dan tentunya untuk mengulur waktu menunggu kedatangan Aline.
Sam yang sedang duduk di depannya Cleo nampak tersenyum sinis, Sam tahu betul bagaimana kelicikan Cleo dulu yang sering menghasutnya dengan wajah polosnya agar Dannis menjauhi dirinya.
"Aku sedang sibuk." sahut Dannis singkat.
"Ayo lah Dannis, kita ngopi sambil berbincang sebentar !!" rengek Cleo, ia sedikit gelisah. Matanya melihat kesana kemari mencari keberadaan Aline yang sudah satu jam yang lalu ia kabari tapi tak kunjung datang.
"Apa kamu tidak mau pesan kopi dulu ?" bujuk Cleo agar ia bisa sedikit lama berbincang dengannya.
"Lima belas menit tidak akan bisa membuat kopiku dingin Cle, kamu tahu kan aku menyukai kopi dengan suhu ruangan." ucap Dannis.
"Dannis, apa sedikitpun tidak ada kesempatan untukku ?" tanya Cleo dengan menampakkan kesedihan di matanya.
"Hubungan kita sudah berlalu Cle dan sebentar lagi aku akan menikah." ujar Dannis dengan tegas.
"Selama lima tahun ini aku sudah berjuang sangat keras agar bisa sepadan denganmu Dannis." ujar Cleo kini air matanya sudah membasahi pipinya.
"Maafkan aku Cle, aku hargai usahamu tapi pada kenyataannya aku memang sudah tidak mencintaimu lagi. Aku berharap kamu akan mendapatkan pria yang bisa mencintaimu." tutur Dannis.
__ADS_1
Disaat bersamaan Cleo melihat Aline dari balik dinding kaca, Aline terlihat sedang melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Cafe tersebut.
Dengan pikiran liciknya Cleo segera beranjak berdiri. "Untuk terakhir kalinya boleh kah aku memelukmu sebagai seorang teman." pinta Cleo dengan iba.
"Kamu jangan berlebihan nona Cleo." ucap Sam sinis yang masih tak bergeming dari duduknya.
Cleo tidak memperdulikan perkataan Sam, wajahnya terus mengiba agar Dannis menuruti kemauannya.
"Baiklah cuma sebagai teman, tidak lebih dari itu." sahut Dannis lalu ia juga beranjak dari duduknya.
Ketika melihat Dannis berdiri, Cleo langsung memeluk Dannis dengan erat. Seperti seorang kekasih yang akan berpisah tapi tidak dengan Dannis, ia hanya menepuk punggung Cleo beberapa kali.
Aline yang baru melangkahkan kakinya masuk kedalam Cafe tersebut, langsung shock ketika melihat pemandangan tak jauh di depannya itu. Ia melihat Dannis dan Cleo sedang berpelukan dengan mesra.
Ingin sekali ia berjalan mendekati mereka dan minta penjelasan, tapi hak dia apa melakukan itu pacar juga bukan. Pikirnya. Lalu ia berbalik badan melangkahkan kakinya pergi.
Aline merasa kalah, memang benar yang di katakan Cleo. Cinta sesaatnya akan kalah dengan cinta yang sekian tahun mereka lalui.
Hatinya hancur, sehancur - hancurnya. lalu ia berlari ke arah mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Cafe tersebut. Sambil mengemudi air matanya jatuh tak bendung.
"Bodohnya aku sudah mencintaimu. Apa kamu tahu Dannis, hatiku sangat sakit sekarang." sesal Aline dari balik kemudinya, air matanya tak henti - hentinya mengalir.
Aline terus melajukan kendaraannya tanpa tujuan, hingga di sini lah akhirnya ia sekarang berada. Di depan sebuah Mansion mewah yang pernah ia datangi sebelumnya.
Lama ia berada didalam mobilnya, matanya mengawasi Mansion yang berada tak jauh dari mobilnya berhenti. Setelah merasa tenang, ia membetulkan riasannya melalui kaca spion. Memoles sedikit bedak untuk menutupi wajah sembabnya.
Dengan langkah gontai, ia turun dari mobilnya dan menyapa penjaga di Mansion tersebut. "Apa tuan Nicholas Bryan ada ?" tanya Aline pada kedua security yang berdiri di depan gerbang.
__ADS_1