Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Sudah melewati batas


__ADS_3

"Kemana dia ?" gumam Aline ketika ia baru keluar dari kamarnya siang itu.


Matanya menjelajah ke seluruh ruangan Apartemennya, mencari sosok yang selalu ingin ia hindari. "Hmmm, sepertinya dia sudah membersihkan tempat ini. Bahkan debupun tidak ada yang berani menempel." batinnya.


Kemudian ia berlalu ke dapur untuk mengambil beberapa bungkus snack yang di bawa oleh Sam kemarin, setelah itu ia duduk di sofa sambil menonton tv.


Ketika sedang memakan snacknya, terlintas ide jahil di benaknya. Ia terlihat senyum - senyum sendiri memikirkan ide gilanya itu.


"Aku ingin lihat bagaimana reaksinya kalau aku berantakin bungkus kue ini. Akh ada kacang kulit juga, sepertinya sangat mendukung rencana kali ini." gumam Aline sambil terkekeh ketika membuka satu - persatu bungkus snack tersebut.


Sambil menonton drama action favoritnya. Tak terasa semua snack yang dia bawa tadi sudah ia habiskan dan sudah menjadi kebiasaannya, kalau kekenyangan ia pasti akan tertidur tak perduli meski bukan di kamarnya sendiri.


🍁🍁🍁


Sore harinya Dannis baru keluar dari kamarnya. Ia mengenakan kemeja dengan lengan yang ia gulung keatas. Sepertinya ia baru saja selesai bekerja, karena sejak memutuskan untuk karantina bersama Aline ia selalu bekerja dari rumah.


Kini mata cokelatnya sedang mengawasi seluruh ruangan yang sangat berbeda jauh dari tadi pagi sebelum ia tinggal ke kamarnya. Dannis melihat ruang tamu tersebut terlihat sangat berantakan, bahkan beberapa bungkus makanan sudah berserakan di atas meja dan kulit - kulit kacang sudah tercecer di lantai.


Lalu matanya tertuju pada sosok gadis yang sedang tertidur pulas diatas sofa dengan tv masih di biarkan menyala.


"Astaga, kucing kecilku apa kamu sengaja mengerjaiku. Hmmm ?" gumam Dannis sambil mendekati Aline yang sedang tertidur pulas.


"Sepertinya ini akan menarik kalau aku dokumentasikan." gumam Dannis lagi dengan senyum liciknya, segera ia mengambil ponsel dalam kantung celananya.


Aline terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya hingga tanpa ia sadari mulutnya sudah menganga lebar dan itu membuat Dannis tertawa dengan geli ketika beberapa kali mengambil gambarnya melalui ponselnya.


"Dia pasti akan sangat marah jika melihat ini." ujar Dannis ketika melihat hasil jepretan di kamera ponselnya.

__ADS_1


Setelah itu ia segera membopong gadis kecilnya itu dan memindahkannya ke dalam kamar, lalu ia menidurkannya di atas ranjang dan menyelimutinya.


Sebelum pergi, ia melihat gadis kecilnya itu dengan intens. "Kalau sedang tidur begini, kamu seperti kucing kecil yang minta di kasihani." gumam Dannis diusapnya dengan lembut pipi Aline, lalu ia mendaratkan kecupannya di dahinya sedikit agak lama. Kemudian ia segera keluar dari kamar tersebut.


Setelah itu ia segera mengambil peralatan kebersihan untuk membersihkan ruangan yang sangat berantakan itu, meskipun sebagai seorang CEO di perusahaannya itu tak membuatnya untuk tidak melakukannya sendiri.


Bahkan ini bukan pertama kalinya, karena sejak memutuskan untuk tinggal di Apartemennya. Dannis sudah terbiasa membersihkan tempatnya sendiri. Karena ia tidak menyukai ada orang lain masuk ke dalam ranah privasinya.


Tanpa mengeluh, ia dengan telaten membersihkannya hingga bersih dan rapi seperti sebelumnya. Ia tahu sebenarnya Aline hanya ingin mengerjainya, jadi ia tak begitu mengambil hati. Mungkin tanpa ia sadari tingkat kebucinannya terhadap gadis kecil itu sudah berada di level mercon kalau ibarat makanan.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara notifikasi di ponsel, Dannis segera mengambil ponsel di saku celananya tapi sama sekali tak ada notifikasi pesan yang masuk. Kemudian matanya tertuju pada ponsel di atas sofa, mungkin itu punya Aline pikirnya.


Diambilnya segera ponsel tersebut. "Bodoh, kenapa dia tidak menguncinya." batinnya ketika ia membuka ponsel Aline yang tak menggunakan password.


Karena penasaran, dengan lancang dia membuka pesan email tersebut. "Jangkung ?" Batin Dannis, ia memicingkan matanya ketika melihat nama pengirim pesan tersebut.


Ia membaca semua pesan email yang masuk di ponsel tersebut, bahkan pesan yang sudah bertahun - tahun lamanya tak luput ia baca. "Apa begitu dekat hubungan mereka ?" Batin Dannis lagi, raut wajahnya menampakkan ketidaksukaannya.


"Sepertinya ia dari dulu tidak mempunyai banyak teman." batinnya.


Lalu ia beralih melihat isi galeri di ponsel tersebut, di lihatlah foto - foto Aline dari ia kecil hingga sekarang. "Ternyata semenjak kecil dia sudah sangat manis." batinnya.


Karena terlalu asyik memeriksa ponsel tersebut, tanpa ia sadari Aline sudah berada di sebelahnya.


"Mana ponselku ?" seru Aline dengan mata melotot.


"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa ?" tanya Dannis balik sambil tersenyum licik.

__ADS_1


"Kamu lancang sekali." Aline mencoba merebutnya tapi Dannis justru menyembunyikan di belakang badannya.


"Siapa suruh menaruh sembarangan dan kamu begitu bodoh tidak menggunakan password di ponselmu." ujar Dannis sambil tersenyum jahil lalu ia beranjak dari duduknya.


"Berikan !" perintah Aline seraya mencoba merebutnya lagi dari tangan Dannis.


Tubuh Dannis yang begitu besar dan tinggi membuat Aline kesusahan untuk meraihnya ketika laki - laki itu mengangkat tangannya keatas.


Aline mencoba untuk loncat tapi tubuhnya tidak terlalu seimbang hingga ia terjatuh diatas sofa dan Dannis yang ia jadikan pegangan juga ikut terjauh dan kini laki - laki itu sudah berada di atasnya.


Dengan posisi seperti itu membuat Aline sulit untuk bergerak, bahkan kini mata mereka saling menatap satu sama lainnya.


Hingga tanpa sadar, bibir mereka sudah saling menempel. Karena tidak ada penolakan dari Aline, Dannis semakin leluasa menciumannya. Ia menyesapnya dan ********** dengan lembut, ia gigit kecil bibir mungil itu agar terbuka lalu ia memperdalam ciumannya hingga tanpa ia sadari tangannya sudah masuk kedalam baju gadisnya tersebut.


Seketika Aline tampak terkesiap ketika Dannis meremas sesuatu miliknya, ia langsung tersadar dan mendorong tubuh laki - laki itu dengan kuat.


"Kamu, sudah melewati batasmu." teriak Aline dengan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya, kemudian ia beranjak dari sofa tersebut.


"Sayang, maaf." ujar Dannis, sepertinya ia sangat menyesali perbuatan yang ia lakukan barusan.


Karena sudah berbulan - bulan ia tidak berhubungan dengan seorang wanita, hingga ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya untuk tidak menyentuh gadis yang mulai ia cintai itu.


"Jangan mendekat !!" teriak Aline lagi ketika Dannis berusaha untuk mendekati, kemudian ia berlari masuk ke dalam kamarnya.


"Akhhhhh." teriak Dannis frustrasi, ia duduk di sofa dengan mengacak - acak rambutnya dengan kasar.


"Dia masih sangat polos, harusnya aku bisa mengendalikan diri." gerutu Dannis, sepertinya ia sangat menyesal.

__ADS_1


Sedangkan Aline yang sudah berada di dalam kamarnya, ia begitu merutuki dirinya sendiri yang tidak mampu untuk menolak. Bahkan dengan sadar ia ikut menikmati ciuman laki - laki itu yang begitu lembut ia rasakan.


"Sepertinya aku harus secepatnya mengusirnya dari sini." gumam Aline.


__ADS_2