Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Anak siapa ?


__ADS_3

"Sebelumnya, kamu tidak pernah menghamili wanita lain kan ?" bisik Aline.


"Astaga sayang, aku tidak akan menabur bibit unggulku ini di sembarang tempat." ujar Dannis dengan nyaring yang seketika membuat Aline merasa ingin sembunyi di lubang semut karena malu.


"Baiklah sekarang kita usg dulu ya, kita lihat apa sudah ada kantong kehamilan di dalam rahimnya." dokter tersebut menyingkap pakaian Aline lalu mengoleskan cairan pada perutnya.


"Sepertinya istri anda benar-benar hamil tuan Dannis, sudah ada kantong gestasi di dalam rahimnya dan lihatlah bayi anda masih sebesar biji kacang." dokter Sarah menjelaskan dengan menunjuk layar monitor.


"Kamu hamil sayang." Dannis begitu bahagia, ia kecupi seluruh wajah istrinya lalu memeluknya dengan erat.


"Usianya sekitar enam minggu." ucap dokter Sarah lagi.


"Tapi kami menikah baru lima minggu dok." sela Dannis bingung.


"Jadi kamu pikir aku hamil duluan, jelas-jelas malam itu kamu yang belah duren." Aline mendengus kesal.


"Bukan begitu sayang." Dannis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lalu kamu pikir ini anak siapa, anak semut ?" Aline semakin terisak ketika suaminya meragukan anaknya.


"Maksudku bukan begitu sayang, dokter tolong jelaskan !!" Dannis mengiba pada dokter Sarah, ia paling tidak bisa melihat istrinya marah ataupun menangis.


"Begini tuan Dannis dan ibu Aline, usia kehamilan itu di hitung dari tanggal pertama haid bukan pertama kali melakukan hubungan intim. Berhubung istri anda pertama haid enam minggu yang lalu itu berarti usia kandungannya enam minggu juga, meski terlambat haid di bulan ini baru dua minggu." sahut dokter Sarah.


Mendengar penjelasan dokter Sarah, Dannis mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia sudah mengerti. Sedangkan Aline masih mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan suaminya.


"Maaf sayang, aku kan tidak tahu. Ini anakku bukan anak semut, ok." Dannis mengusap lembut perut istrinya.


Merasakan sentuhan hangat di perutnya, seketika Aline merasa senang. Sepertinya moodnya sangat cepat berubah-ubah.


"Kenapa bayiku sekecil itu dok ?" Aline melihat layar monitor dengan pandangan nanar.


"Bayi akan berkembang dengan bertambahnya usia kehamilan, untuk trisemester pertama usahakan banyak istirahat dan jangan mengangkat beban berat. Kurangi stres, karena bisa mempengaruhi pertumbuhan bayi di dalam kandungan." nasehat dokter Sarah.

__ADS_1


"Apakah boleh....." Dannis belum menyelesaikan perkataannya tapi dokter Sarah sudah memotongnya.


"Di trisemester pertama usahakan jangan berhubungan intim dulu, karena pada saat ini kandungan masih lemah dan rawan." sela dokter Sarah, sepertinya dokter tersebut sangat paham dengan isi otak Dannis.


Mendengar penjelasan dokter Sarah, Dannis langsung menghembuskan napas dengan kasar sepertinya ia harus berpuasa beberapa bulan ke depan.


Aline langsung menyunggingkan senyumnya tapi ketika melihat suaminya yang terlihat frustrasi, ia langsung memasang wajah datar.


"Ini resep vitamin dan obat penguat kandungan, untuk pemeriksaan selanjutnya bisa setiap bulan atau per tiga bulan." dokter Sarah menyerahkan selembar kertas pada Dannis.


"Ada yang mau di tanyakan lagi ?" ucapnya lagi.


"Setiap kali saya dekati, istri saya selalu mual. Apa itu ada hubungannya dengan kehamilannya juga dok ?" tanya Dannis penasaran.


"Itu faktor perubahan hormonal ibu hamil yang biasanya indera penciumannya akan semakin tajam, jadi usahakan jangan memakai parfum atau sabun yang beraroma tajam."


"Tapi kenapa kalau dekat dengan laki-laki lain nggak mual dok ?" sindir Dannis mengingat bagaimana tadi pagi istrinya duduk bersebelahan dengan Sanjaya.


"Itu karena ikatan emosional antara suami dan istri, dengan berjalannya waktu akan kembali normal seperti biasa." sahut dokter Sarah.


"Tuan Dannis, ini hasil foto usg nya." dokter Sarah menyerahkan selembar foto hitam putih tersebut pada Dannis.


Melihat bayinya yang hanya sebesar biji kacang Dannis nampak terharu, raut bahagia menghiasi wajahnya.


"Terima kasih dok, aku akan memberikan mu bonus." ucap Dannis dengan wajah berbinar.


Setelah itu mereka meninggalkan ruangan tersebut. "Terima kasih sayang aku tidak menyangka, Tuhan begitu cepat memberikan kita buah hati." Dannis menggandeng erat pinggang istrinya.


"Apa kamu bahagia ?" tanya Aline.


"Tentu saja, aku menginginkan banyak anak dari mu." sahut Dannis terkekeh.


Kemudian mereka melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit tersebut, tanpa mereka sadari ada seseorang yang merasa kecewa di tengah kebahagiaan mereka.

__ADS_1


"Kamu sungguh beruntung kak." batin Leon yang sedari tadi mengawasi mereka. Setelah Dannis dan Aline pergi, Leon masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya dengan kencang.


Sesampainya di Mansion Ayahnya, Leon segera masuk ke dalam kamarnya. Di ambilnya sebuah kotak besar di dalam lemarinya, setelah membuka kuncinya ia mengeluarkan semua isi di dalamnya.


Nampak begitu banyak foto Aline yang dia potret diam-diam semasa kuliah dulu. "Mungkin ini saatnya aku harus benar-benar merelakanmu, semoga kamu hidup bahagia dengan kakakku." gumam Leon.


Lalu ia membakar satu persatu foto-foto tersebut. "Kak Dannis pasti akan semakin membenciku jika mengetahui aku menyimpan foto istrinya, sudah bertahun-tahun aku begitu mencintaimu Al semoga rasa cintaku ini akan hangus juga bersama foto-foto ini." gumamnya lagi sembari membakar foto-foto tersebut.


Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar. "Siapa ?" tanya Leon sembari membersihkan lantai yang sudah di penuhi abu.


"Tuan besar memanggil anda untuk makan siang bersama." sahut pelayan di Mansion tersebut.


"Tunggu sebentar." ucap Leon, kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah berganti pakaian ia segera keluar dari kamarnya, ketika menuruni anak tangga ia mendengar canda tawa dari meja makan.


"Leon, cepatlah duduk ada berita bagus, sebentar lagi kamu akan menjadi uncle." ujar Tuan Nicholas dengan antusias.


"Kamu lagi hamil Al ?" tanya Leon pura-pura tidak tahu.


"Iya." sahut Aline dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Aku ikut bahagia." ucap Leon sembari melirik ke arah Dannis yang juga menatapnya datar tanpa ekspresi.


"Baiklah, ayo kita mulai makan siang aku sangat lapar." ujar Dannis yang membuat interaksi antara istri dan adik angkatnya itu terhenti.


"Makan yang banyak Nak, biar cucu kesayangannya Papa selalu sehat !!" ucap tuan Nicholas pada Aline sembari mengambil beberapa lauk dan menaruhnya di atas piring menantunya itu.


"Apa Papa sudah melupakan anak kandungmu sendiri ?" sindir Dannis yang berniat untuk menggoda Ayahnya.


"Tanpa Papa suruhpun kamu pasti akan menghabiskan semua makanan ini." cibir tuan Nicholas yang melihat hidangan di atas meja tersebut adalah makanan favorit Dannis.


Beliau sengaja menyuruh pelayannya untuk masak itu semua setelah mendapat telepon dari dokter Sarah yang mengabarkan tentang kehamilan menantunya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Ayahnya, Dannis nampak terkekeh. Meski ia kadang membenci Ayahnya perihal Ibunya, tapi ia sebenarnya juga sangat menyayangi Ayahnya itu.


"Cepatlah makan, setelah ini ada hal penting yang ingin Papa bicarakan dengan kalian bertiga." perintah tuan Nicholas dengan serius.


__ADS_2