Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Menguntit


__ADS_3

"Dannis, kamu tidak akan meninggalkanku kan ?" tanya Cleo yang sedang duduk di ranjang rumah sakit.


"Istirahatlah, aku temani di sini !!" ucap Dannis singkat.


"Terima kasih." sahut Cleo dengan tersenyum penuh kemenangan karena rencananya telah berhasil, terlalu bodoh baginya kalau harus benar - benar melukai dirinya sendiri. Pernah berhubungan selama tiga tahun bersama laki - laki itu sebelumnya, membuatnya paham bagaimana sifat Dannis dan ini adalah langkah awal baginya untuk melangkah menjadi Nyonya Bryan.


Semalaman Dannis tidur di rumah sakit, entah kenapa dia tidak tega harus meninggalkan Cleo sendirian disana. Meski ia sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap wanita itu.


Sam sedikit mengerutkan keningnya saat melihat Dannis ke kantor dengan pakaian yang sama seperti kemarin. Ya kemarin setelah menjaga Aline seharian, Dannis kembali ke kantornya dan malamnya ia mampir ke Apartemennya Aline lagi membawakan makanan untuk gadisnya itu. Tetapi ketika ia mau kembali ke Apartemennya, Cleo menghubunginya.


"Semalam tidak pulang boss ?" tanya Sam yang berjalan beriringan dengan Dannis menuju lift khusus petinggi perusahaan.


"Bukan urusanmu." sahut Dannis cuek, ia tidak mungkin mengatakan semalaman menjaga Cleo di rumah sakit. Justru itu akan menjadi senjata Sam untuk bisa menghancurkan hubungannya dengan Aline yang kini sudah mulai ada kemajuan.


Sam hanya mendengus kesal mendengar jawaban Dannis, entahlah ia merasa akhir - akhir ini hubungannya dengan Dannis agak renggang. Ia merasa bossnya itu sedikit cuek padanya, biasanya mereka bisa leluasa membicarakan urusan pribadi tapi belakangan Dannis benar - benar tertutup.


Apa itu karena Aline, Pikir sam tapi ia sedikitpun tidak berpikir menjadikan Dannis sebagai rivalnya. Ia sekarang benar - benar murni menganggap Aline sebagai seorang sahabat setelah tahu bagaimana perasaan Aline terhadap Dannis.


Ketika berada di dalam lift, terdengar bunyi notifikasi di ponsel Sam. Laki - laki itu segera melihat siapa yang mengirim pesan sepagi ini. Raut wajahnya nampak berbinar dan itu tak luput dari perhatian Dannis yang melihat dari pantulan dinding lift.


"Iya halo, udah di kantor. oke baiklah nanti siang di Cafe xx ya aku tunggu." ucap Sam dengan senyum terus mengembang di bibirnya.


Dannis yang mendengar itu tampak suram di wajahnya, Apa itu Aline pikirnya. Setelah lift terbuka Dannis segera meninggalkan Sam yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Pagi tuan." sapa David ketika Dannis melewati mejanya.


"Kosongkan jadwalku siang ini." Dannis berhenti sebentar menatap sekretarisnya itu, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangannya.

__ADS_1


"Tapi tuan, siang ini anda ada meeting penting dengan Perwakilan dari Wali kota untuk membahas kontruksi gedung yang saat ini kita kerjakan." ujar David sambil mengekor di belakang Dannis.


"Atur ulang jadwalnya." sahut Dannis singkat.


"Baik tuan." David hanya bisa pasrah mendengar jawaban bossnya itu.


"Sial, apa dia mau main - main denganku." dengus Dannis dengan kesal. Saat ini ia benar - benar menganggap Sam sebagai rivalnya. Bagaimana tidak, ia sudah beberapa kali memergokinya mendekati Aline diam - diam di belakangnya.


Siang harinya Dannis sengaja datang lebih dulu ke restoran xx dimana ia mendengar Sam janjian dengan seseorang di telepon tadi pagi. Ia mencari tempat duduk yang paling aman dan penglihatannya dapat menjangkau ke seluruh pengunjung di Cafe tersebut.


Tak berapa lama terlihat Sam sedang menggandeng seorang perempuan menuju meja yang sudah ia pesan sebelumnya dan itu tidak luput dari perhatian Dannis yang mengawasi dari balik buku menu yang sengaja ia rentangkan untuk menutupi wajahnya.


"Bukannya itu Sofia, teman Aline." Dannis sedikit tersentak ketika melihat Sam tanpa malu memeluk Sofia yang sedang duduk di sebelahnya itu, bahkan laki - laki itu beberapa kali mencium puncak kepalanya.


"Jadi selama ini aku sudah salah paham ?" Batin Dannis, ia merasa menyesal karena akhir - akhir ini selalu mengkambing hitamkan sahabatnya itu karena tersulut cemburu.


Setelah Sam dan Sofia pergi dari Cafe tersebut, Dannis baru beranjak dari duduknya. Sekarang ia benar - benar yakin hubungan Sam dan Aline murni sahabat sesuai yang selama ini mereka katakan.


"Dannis kamu ngapain disini ?" tanya Aline ketika melihat Dannis baru keluar dari mobilnya.


"Mengajakmu makan siang." ucap Dannis dengan senyum simpul di wajahnya.


"Astaga, ini jam berapa tuan ?" tanya balik Aline.


"Tapi aku belum makan." kali ini wajah Dannis sedikit mengiba, dia memang belum makan siang karena terlalu sibuk menguntit Sam.


"Kamu tidak ganti kemeja ?" Aline memicingkan matanya ketika melihat Dannis memakai kemeja yang sama seperti kemarin.

__ADS_1


"Semalam ada teman kecelakaan, jadi aku menunggunya di rumah sakit." ucap Dannis.


"Astaga, ya sudah kamu pulang sana. Aku masih banyak kerjaan di kantor gara - gara kemarin libur." perintah Aline.


"Temani aku ya." pinta Dannis.


"Kamu kan bisa pulang sendiri." celetuk Aline sekilas matanya menatap mobil Dannis.


"Sebentar saja, setelah itu aku antar lagi ke kantor." pinta Dannis lagi dan itu membuat Aline berubah pikiran.


"Baiklah. Tapi enggak pake lama ya, jam makan siang segera habis." cerocos Aline sambil masuk kedalam mobil Dannis.


"Enggak janji." ucap Dannis lirih dengan senyum menyeringai.


Tak lama kemudian mereka sudah berada di Apartemen Dannis. sambil menunggu Dannis selesai mandi, Aline membuatkan omelet keju untuk makan siangnya. Karena hanya ada telur dan keju yang tersedia di dapurnya itu.


Hampir tiga puluh menit Aline menunggu di meja makan tapi laki - laki itu tak kunjung datang, kemudian ia mencoba mengetuk pintu kamarnya beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari dalam. Karena pintu tidak di kunci, Aline memberanikan diri untuk masuk. Ini adalah kali kedua dia masuk kedalam kamar Dannis.


"Astaga, aku sudah menunggunya sedari tadi. Dia enak tidur." gerutu Aline ketika melihat Dannis yang tidur terlelap dengan pakaian lengkap. Sepertinya ia sudah mandi karena sudah berganti kemeja.


Aline berjalan mendekat, ia mengamati wajah Dannis yang sedang tidur dengan napasnya yang berhembus teratur. Melihat bulu - bulu halus yang tumbuh di wajah laki - laki itu, membuat Aline tanpa sadar sudah meraba dengan tangannya.


Hingga membuat Dannis mengerjapkan matanya karena merasa ada sentuhan lembut di wajahnya. " A - aku hanya mau membangunkan mu saja." ucap Aline gugup ketika Dannis membuka matanya.


"Aku senang kamu melakukannya." ucap Dannis masih memegang telapak tangan Aline yang masih menempel di pipinya.


"Apa kita akan melanjutkannya ?" tanya Dannis dengan senyum penuh maksud.

__ADS_1


"A - apa ?" tanya Aline yang merasa sangat gugup saat ini, merutuki kebodohan tangannya yang sudah lancang menyentuh pipi Dannis.


Dannis langsung menarik tangan Aline yang seketika membuat gadis itu jatuh ke atas dadanya.


__ADS_2