
"Sayang, kenapa baby King nggak kita kasih susu formula saja. Nanti aku akan membelikannya yang terbaik dan termahal." ucap Dannis ketika melihat istrinya sedang duduk di bangsal rumah sakit dan sedang menyusui bayinya.
"Kenapa memangnya, asi ku cukup lancar dan banyak setelah dokter Sarah memberikan formula pelancar asi ?" tanya Aline tak mengerti.
"Ya itu sayang, aku ti-tidak mau berebut dengan bayiku." sahut Dannis sedikit gugup, tapi kemudian ia tersenyum jahil.
Seketika Aline langsung melotot padanya. "Benar kata Opa, kamu itu suami cabul." sungut Aline, beruntung malam itu hanya ada mereka bertiga dalam ruangan tersebut, setelah kedua orang tuanya dan kakek neneknya berpamitan pulang.
"Ya mau bagaimana lagi sayang aku sudah tidak tahan mau mencobanya, sejak kamu melahirkan itu mu semakin besar. Sepertinya tanganku ini sudah tidak muat lagi." ucap Dannis dengan memperagakan tangannya seakan sedang meremas sesuatu.
"Bang bull, dasar bayi tua." jerit Aline nyaring hingga membuat baby King yang tadinya tertidur kini membuka matanya dan menangis karena kaget.
"Sayang kamu membangunkan anak kita." tegur Dannis lalu mengambil bayinya dari gendongan Ibunya.
"Iya maaf, habis kamu jengkelin." cebik Aline.
"Kancingkan baju mu sayang, sebelum aku menenggelamkan kepala ku di sana !!" ucap Dannis sembari melirik belahan dada istrinya yang terekspos karena beberapa kancing bajunya terlepas.
"Cabul." sungut Aline yang membuat Dannis terkekeh sembari menyiumi baby King.
Tak berapa lama baby King tidur dalam gendongan Ayahnya, kemudian Dannis menaruhnya di box bayi dan bersamaan itu datanglah seorang perawat yang akan membawa baby King ke ruang perawatan bayi.
"Apa bayiku tidak boleh tidur di sini saja sus ?" tawar Aline.
"Ini sudah prosedur dari rumah sakit ini bu." ucap seorang perawat sembari menatap sang pemilik rumah sakit tersebut.
"Sayang, kamu kan pemilik rumah sakit ini apa tidak bisa gitu membiarkan anak kita tidur di sini ?" Aline memohon pada suaminya.
"Aku hanya pemilik sayang tapi bukan dokter, dokter membuat peraturan itu pasti punya tujuan tertentu." ucap Dannis beralasan.
"Benar bu apa yang di katakan tuan Dannis, kami sengaja memisahkan ibu dan bayinya di malam hari, agar Ibu bisa istirahat total biar mempercepat penyembuhan." ucap perawat tersebut menjelaskan.
Pada akhirnya, Aline membiarkan bayinya di bawa oleh perawat tersebut keluar dari ruangannya.
"Tidak ada King, sangat sepi." ucap Aline hampa.
__ADS_1
"Kamu tidak menganggapku ada sayang ?" tanya Dannis ketika berjalan ke arahnya setelah mengantar baby King keluar.
"Bukan itu, tidak ada suara tangisan lagi seperti tadi."
"Baiklah, bagaimana kalau kita ganti suara tangisan baby King dengan suara desahan kamu saja." Dannis tersenyum jahil pada istrinya.
"Jangan macam-macam, aku masih masa nifas." ancam Aline.
"Iya aku tahu harus menunggu 40 hari kan, baru ulerku ini bisa masuk lagi ke sarangnya."
"Nah itu kamu tahu."
"Tapi membuat kita saling mendesah kan tidak harus melakukan itu sayang." kini Dannis sudah naik ke bangsal Aline, ranjang rumah sakit itu lumayan besar dan lebar.
"Kamu mau ngapain, nanti ada perawat masuk ?" Aline mendorong muka suaminya ketika mau menciumnya.
"Nggak apa-apa sayang, ini akan memacu adrenalin kita. Lagipula aku sudah bertanya pada perawat yang jaga, perlu beberapa jam lagi untuk mengganti infusmu jadi mereka tidak akan masuk."
"Kamu selalu saja cari kesempatan." cebik Aline.
"Nikmatilah sayang, kamu juga merindukan sentuhan ku kan." ucap Dannis sembari menyusuri leher jenjang istrinya dan itu membuat Aline meloloskan desahannya.
"Ck, merusak mood saja." gerutunya sembari beranjak dari sisih istrinya.
Aline yang sudah di buat kacau oleh suaminya dan dengan napas tersengal karena gairahnya yang sudah on, segera merapikan bajunya yang berantakan.
Dannis melangkahkan kakinya untuk membuka pintu yang tadi dia sengaja kunci. "Maaf tuan, ini pompa asi untuk Ibu Aline beserta botol yang sudah steril." perawat tersebut menyerahkan pompa asi pada Dannis.
"Siapa ?" tanya Aline ketika melihat suaminya berjalan ke arahnya.
"Perawat menyerahkan ini." Dannis memberikan pompa asi tersebut pada istrinya.
"Apa perlu aku bantu sayang."
"No, kamu bukannya membantu justru menghabiskan." tolak Aline.
"Lagipula aku memompanya nanti saja, setelah asiku benar-benar penuh." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Baiklah sekarang tidurlah, aku tidak akan mengganggumu lagi."
"Tidak mengganggu tapi kamu menempel begini, bagaimana aku bisa tidur." protes Aline.
"Sudah diam, aku hanya memelukmu." protes Dannis tangannya memeluk istrinya dari belakang dengan erat.
Aline pasrah, tapi ia juga merasa gelisah tidak bisa tidur. "Jangan gerak-gerak terus sayang, kamu akan membangunkan ulerku." tegur Dannis.
Dan benar saja, tak lama kemudian Aline merasakan sesuatu yang keras menggesek pinggulnya. "Iya aku diam." sahut Aline.
Dannis terkekeh tapi juga beringsut menahan gairahnya. "Sayang, kamu bisa tidak membantu ulerku biar tidur lagi."
"Jangan macam-macam, kamu tega cabulin istri mu yang baru operasi." tolak Aline, sebenarnya ia tidak tega melihat suaminya itu, tapi luka bekas operasi nya masih terasa nyeri hingga ia tidak bisa bergerak bebas.
"Baiklah." ucap Dannis lalu beranjak dari sisih istrinya kemudian ia berlalu ke kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian Dannis keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya sudah tertidur pulas. Ia kecup kening istrinya kemudian membetulkan selimutnya.
Sepertinya malam ini ia memutuskan untuk tidur di sofa, jika satu ranjang dengan istrinya ia takut akan khilaf. Tubuh istrinya itu begitu candu baginya, entah berapa lama dia harus bermain solo seperti tadi.
Keesokan harinya
Masih pagi banget Aline sudah bangun, melihat sisih ranjangnya yang kosong ia segera mencari suaminya. Melihat Dannis yang tidur di sofa, ia nampak kecewa tapi ia juga memaklumi alasan suaminya.
Selepas perawat melepaskan jarum infus di tangannya, ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu ia sedikit berdandan agar wajahnya tidak pucat, kenaikan berat badannya yang tak begitu banyak membuatnya terlihat langsing seperti sebelum melahirkan.
Memakai dress putih tanpa lengan membuatnya terlihat lebih fresh. "Astaga kenapa istriku cantik sekali, apa kamu bersiap untuk pulang, hmm ?" ucap Dannis dengan memeluk istrinya dari belakang sembari menciumi tengkuk istrinya.
"Bang bull geli." protes Aline tapi suaminya itu tak mengindahkannya bahkan kini bibirnya sudah menyusuri leher jenjang istrinya.
Ehemmmm
Suara deheman tak membuat Dannis melepaskan istrinya itu, meski Aline sudah meronta.
"Apa kalian sengaja menyuruh kami menonton adegan 21+ kalian ?" ucap Armand yang sedang berdiri di ambang pintu bersama Angel.
.
__ADS_1
.
Sebelum ending Othor mau membuat sedikit cerita-cerita romantis antara bang bule dan mbak Aline 🤗🤗🤗 biar happy ending, semangat readers kesayangan