
Hari kelima di pingit Aline mulai gelisah, ia terlihat mondar-mandir di kamarnya. "Perasaan di pingit nggak gini-gini amat deh, apa memang Papa sengaja mengerjai aku. Bahkan pegang ponsel saja nggak boleh" gerutu Aline sembari melangkahkan kakinya kesana kemari.
Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar kamar, ia berharap bisa bernegoisasi dengan orang tuanya untuk menyudahi acara pingit-memingitnya.
"Mi, sampai kapan Aline di kurung seperti burung gini. Burung saja terbang masa Aline nggak." rengek Aline pada Ibunya siang itu.
"Kalau kamu bisa terbang, Mami sudahi pingitnya."
"Mana bisa." cebik Aline kesal.
"Nah itu ngerti."
"Jadi sampai kapan Mi ?" tanya Aline lagi.
"Sampai besok sayang, lusa kan kamu sudah nikah."
"Kalau Dannis diam-diam selingkuh bagaimana Mi, Aline mau ke Apartemennya dan pergoki dia selingkuh atau tidak." Aline mencoba untuk memprovokasi Ibunya.
"Itu berarti dia bukan laki-laki yang baik sayang." sahut Nisa santai.
"Issssh, pinjam ponsel Mi !!"
"Nggak sayang."
"Perasaan di pingit nggak gini-gini amat Mi, ini abad 21 bukan jaman batu." gerutu Aline dengan nyaring.
"Mami bilang nggak, ya nggak sayang."
"Aline cuma mau main sosmed Mi, bukan untuk telepon Dannis." ucap Aline merengek.
"Mami pelit." ucapnya lagi kemudian ia berlalu pergi karena tidak ada tanggapan dari Ibunya, justru wanita yang masih terlihat muda dan cantik itu tengah sibuk merajut.
__ADS_1
Di dalam kamarnya lagi-lagi Aline berjalan mondar-mandir, entah kenapa sedari tadi perasaannya tidak enak. Kini pikirannya sudah bercabang kemana-mana bahkan pikiran negatifnya sudah mendominasi kepalanya.
"Awas saja kalau berani main perempuan, akan ku remukkan senjata andalannya itu." gerutu Aline sembari menendang samsak yang berada di depannya.
"Enak banget, aku yang di pingit dia asyik bermain di luar. Dia nggak merasakan apa kalau aku sedang mengkhawatirkannya." gerutunya lagi sambil mengarahkan tinjuannya pada samsak yang tidak bersalah yang selalu ia jadikan obyek kekesalannya.
Sedangkan di tempat lain Dannis sedang berada di tempat gym yang berada tak jauh dari Apartemennya. Ia nampak sangat berkeringat, sepertinya hari ini ia bekerja keras untuk menyempurnakan penampilannya saat hari pernikahannya nanti.
Tanpa ia sadari, terlihat seorang wanita cantik memperhatikannya dengan lekat sedari tadi. Wanita itu nampak menelan salivanya beberapa kali ketika melihat tubuh Dannis yang di penuhi oleh keringat.
Wanita tersebut adalah seorang model di kota itu, yang berwajah cantik, tubuh proposional dan tinggi semampai. Ia juga salah satu customer di tempat gym tersebut.
"Butuh minum tuan, sepertinya anda sangat haus ?" wanita tersebut menghampiri Dannis yang sedang duduk, ketika mengulurkan botol air mineral ia sedikit membungkukkan badannya hingga membiarkan separuh dadanya yang besar itu terekspos.
"Tidak nona, saya bawa minum sendiri." tolak Dannis, tanpa sengaja matanya melihat dua buah gundukan wanita tersebut yang hampir tumpah dari tempatnya karena saking ketatnya tank top yang ia kenakan.
Dannis buru-buru mengalihkan pandangannya dan langsung beranjak dari duduknya, bagaimanapun juga dia adalah laki-laki normal bahkan laki-laki normal di seluruh dunia ini pasti akan senang dengan pemandangan gratis di depan matanya itu.
"Tidak, saya bawa sendiri." sahut Dannis mengacuhkan lalu ia melangkah meninggalkan wanita tersebut.
"Tunggu tuan !!" sepertinya wanita tersebut tak patah arang, bahkan ia kini sudah meraih lengan Dannis untuk menghentikannya.
Dannis yang merasa ada sentuhan di lengannya langsung berbalik badan dan menatap tajam wanita tersebut, mendapatkan tatapan yang mematikan bukannya takut justru wanita itu tersenyum manis.
"Tuan, namaku Bella. Aku adalah seorang model terkenal di kota ini." Bella mengulurkan tangannya berharap laki-laki macho di depannya itu menyambutnya.
"Saya tidak tertarik." lagi-lagi Dannis mengacuhkannya.
"Tuan, apa kamu pernah jatuh cinta pada pandangan pertama ?" tanya Bella lagi sebelum laki-laki di depannya itu berbalik badan lagi.
Mendengar perkataan wanita tersebut, tampak ada senyum di wajah Dannis. Ia mengingat bagaimana ia pertama kali bertemu Aline dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, meskipun setelah itu ia selalu mengingkari perasaannya.
__ADS_1
"Tentu saja." sahut Dannis yang sudah menyurutkan senyumnya dan kini hanya ada aura dingin dan tak bersahabat yang terpancar di wajahnya.
"Aku juga sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan anda tuan." ucap Bella dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
"Maaf nona saya sudah mempunyai istri dan saya sangat mencintai istri saya."
"Aku rela jika jadi yang kedua, aku akan membuat mu bahagia bahkan aku bisa memuaskan mu di ranjang." sahut Bella tanpa malu.
"Saya tidak tertarik."
"Benarkah, aku adalah seorang model terkenal bahkan pengusaha muda di kota ini banyak yang mengantri agar bisa menjadi kekasihku."
"Dan ku pastikan dari segi fisik, aku jauh lebih sempurna dari istri mu di rumahkan." ucapnya lagi dengan angkuh dan percaya diri. Karena yang ia tahu kebanyakan istri-istri bule yang tinggal di indonesia itu jauh dari standar fisiknya yang menurutnya sangat sempurna.
Dannis yang merasa wanita itu sudah merendahkan gadisnya terlihat sangat geram. "Meskipun istri saya bukan seorang model, tapi istri saya sangat cantik juga terkenal dan pastinya tidak murahan."
"Oh ya, bukan model tapi terkenal. Apa saya tidak salah dengar ?" Bella nampak tersenyum mengejek, karena sejauh ini yang ia tahu dialah satu-satunya wanita cantik yang terkenal di kota itu dengan followers ratusan ribu.
"Tentu saja, di kota ini siapa yang tidak kenal pewaris tunggal perusahaan Grand Gunawan Corps." ucap Dannis sambil berlalu pergi meninggalkan wanita tersebut yang masih nampak terpaku di tempatnya.
Dannis bukannya membanggakan kekayaan calon mertuanya itu, toh di negaranya dia juga orang kaya tapi ia begitu tidak rela jika calon istrinya itu di rendahkan oleh siapapun. Bahkan seandainya Aline berasal dari keluarga kurang beradapun ia pasti akan tetap mencintainya dan membelanya.
"Apa dia suaminya Aline Gunawan teman sekolahku, bagaimana aku bisa bersaing dengan gadis yang pura-pura cupu itu bahkan perusahaan ayahku mungkin bisa hancur dibuatnya. Lebih baik aku tidak cari perkara dengan meraka toh masih banyak pria yang mengejarku." batin Bella dalam hati.
Sedangkan Dannis yang sudah keluar dari tempat tersebut, kini sedang melajukan mobilnya untuk pulang. Entah kenapa terbesit perasaan bersalah pada calon istrinya itu, harusnya ia ikut di pingit juga tapi ia justru keluyuran dan membiarkan wanita lain menggodanya.
Ketika ia sedang merutuki dirinya sendiri, tiba-tiba ada seseorang yang melintas di depan mobilnya. Seketika ia membanting setirnya untuk menghindari pejalan kaki tersebut dan brukkkkk......
Bersambung..
.
__ADS_1
NB : Duh bang bule bandel amat sih, jadi pengen peyuk eh 🤭. okeyyy gengs kesayangan thanks ya yang udah bantu ngerate bintang lima, semoga tidak ada jempol2 jahil lagi eh, maksudnya doakan Othor agar tidak ketularan mesumnya bang bule jadi nulisnya bisa benar 🤣🤣 sampai jumpa besok di kewongnya bang bule 😍