
"Pergi dari sini !!" perintah Dannis kepada Angel, ia sangat murka ketika asistennya Armand itu datang ke kantornya dan berusaha untuk menggodanya.
Bagaimana tidak, Dannis yang sedang bersandar di kursi dan memejamkan matanya tiba-tiba ada seorang wanita mengusap pipinya.
wanita itu tanpa permisi masuk ke dalam ruangan Dannis dengan pakaian rok span yang sangat pendek dan atasan blazer dengan dalaman tank top ketat yang hampir menumpahkan isi di dalamnya.
"Beraninya kamu menyentuhku, apa kamu sudah bosan hidup ?" teriak Dannis yang seketika membuat Angel ketakutan, tanpa sepatah katapun ia berlari keluar meninggalkan Dannis yang masih murka.
Beberapa hari ini Dannis memang terlihat kacau, dirinya selalu uring-uringan bahkan karyawan di kantornya banyak yang menjadi sasaran kemarahannya.
Bagaimana tidak, sejak dia dan istrinya memutuskan pulang ke Apartemen. Aline sama sekali tidak mau ia sentuh, bahkan tidak sengaja berdekatan pun istrinya selalu mual dan muntah dan setiap malam ia harus rela tidur di sofa.
Sepertinya ia mulai menyesal karena berharap istrinya itu untuk cepat-cepat hamil, karena ia belum begitu puas menikmati masa-masa bulan madunya.
Tubuh istrinya begitu candu baginya dan kini ia harus rela menahan hasratnya sampai waktu yang ia tak ketahui.
"Sam, kamu lagi di mana ?" tanya Dannis malam itu ketika akan pulang dari kantornya.
"Lagi jemput pacar boss." jawab Sam dari ujung telepon.
"Apa kamu bisa menjemputku juga, mobil ku sepertinya bermasalah."
"Bisa, tapi sama Sofia juga ya boss."
"Terserah." sahut Dannis lalu mematikan panggilannya.
Kemudian ia beberapa kali menendang mobilnya yang tiba-tiba ngadat, tak berapa lama mobil Sam datang tepat di hadapannya.
"Dari tadi boss ?" tanya Sam ketika baru turun dari mobilnya.
"Dari tahun kemarin." sahut Dannis geram lalu membuka pintu mobil penumpang.
Sam yang melihat kemarahan di wajah Dannis, langsung tersenyum jahil. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya.
Sam melirik Dannis yang sedang duduk di belakang dari kaca spion, nampak sedang termenung melihat keluar jendela.
"Sayang, habis ini mau makan apa ?" tanya Sam lirih sembari mengusap puncak kepala Sofia.
Dannis yang mendengar perkataan Sam, menoleh sekilas lalu membuang muka lagi menghadap jendela.
"Bagaimana kalau kita makan seafood aja." sahut Sofia dengan lirih bahkan setengah berbisik karena takut suaranya mengganggu Dannis.
"Apa sayang, aku nggak denger ?" Sam menarik Sofia agar mendekat kepadanya lalu mengecup puncak kepala Sofia.
__ADS_1
Dannis yang diam-diam melihat pemandangan di depannya itu sangat jengah dan itu tak luput dari pengawasan Sam yang sedari tadi melihatnya dari kaca spion.
"Sayang kamu apa-apaan sih, malu tahu di lihat Dannis dari belakang." bisik Sofia.
"Sudah ikutin saja permainan ku, ini sangat menarik." bisik Sam, ia terkekeh ketika melihat Dannis yang sedang duduk di belakang sangat kesal ketika melihatnya.
"Ini saatnya boss merasakan bagaimana sakitnya menjadi obat nyamuk." batin Sam sembari tertawa jahat di dalam hatinya.
"Sayang cium aku !!" perintah Sam.
"Nggak mau, aku malu sayang."
"Ya sudah kita undur saja tanggal pernikahan kita." ancam Sam sambil berbisik.
"Baiklah." Sofia yang sedari tadi bersandar di bahu Sam, langsung mengangkat kepalanya dan mengecup bibir kekasihnya itu.
Dannis yang melihat itu langsung murka. Bagaimana tidak, selain membahayakan karena mengemudi sambil berciuman meski ia juga sering melakukannya.
Ia juga merasa iri dengan Sam bisa bebas menyentuh kekasihnya, sedangkan dia jangankan menyentuh lewat di dekat istrinya saja, istrinya itu sudah mual-mual.
"Shit, kalian mau cari mati." Dannis menendang kursi yang di duduki oleh Sam.
"Maaf boss kelepasan, aku suka tidak tahan kalau Sofia tiba-tiba menciumku rasanya ingin cepat-cepat ku bawah ke ranjang." ucap Sam terkekeh, dalam hati ia sangat puas sudah membalas dendam.
"I-iya aku akan tidur di Apartemen mu malam ini." sahut Sofia gugup, karena harus mengikuti permainan kekasihnya itu.
"Gemes banget deh calon istriku." Sam mengacak-acak rambut Sofia.
Dannis yang melihat itu langsung berdecak kesal, memalingkan wajahnya dan menghadap keluar.
Tak berapa lama mobil Sam sudah berhenti di basement Apartemennya Dannis dan Dannis segera keluar dan berlalu pergi tanpa sepatah katapun pada Sam.
Seketika Sam langsung tertawa girang di dalam mobil. "Jahat banget sih kamu, sudah tahu Dannis sedang moody karena nggak bisa menyentuh Aline. Kamu justru memanas-manasinya." protes Sofia.
"Ini nggak seberapa sayang, kamu tahu dulu mereka lebih parah daripada ini tapi aku sangat senang melihat kekesalan Dannis tadi." Sam masih nggak bisa menahan tawanya.
"Kamu nggak takut di pecat ?"
"Dia nggak akan bisa memecatku sayang, kita ini sudah seperti panci dan tutupnya nggak akan lengkap jika di pisah."
"Jangan kepedean."
"Kita dari kecil selalu bersama-sama bahkan sekolah pun juga sama-sama jadi Dannis nggak akan bisa berlama-lama marah padaku. Lagipula seandainya aku di pecat, aku masih punya investasi untuk kehidupan kita nanti. Kamu nggak usah khawatir."
__ADS_1
"Hmm." Sofia mengangguk dengan senyum manisnya.
"So, jadikan malam ini kamu menginap di Apartemen ku." goda Sam.
"No."
"Tadi katanya mau tidur di Apartemen ku."
"Aku hanya mengikuti permainan mu saja, lagipula aku ingin seperti Aline menyerahkan kesuciannya disaat sudah menjadi pengantin."
"Oke baiklah, sepertinya aku harus memajukan tanggal pernikahan kita." ucap Sam sembari tersenyum mesum menatap Sofia.
"Sudah ah antar aku pulang sekarang, sebelum kamu di damprak sama Mama."
"Iya baiklah." Mendengar kata Mama, Sam langsung melajukan mobilnya dengan kencang ia tahu bagaimana galaknya Ibunya Sofia.
Sesampainya di Apartemennya, Dannis melihat istrinya sedang duduk di sofa sembari makan buah. Aline memakai daster pendek dengan satu tali yang membuatnya terlihat sangat seksi di mata Dannis.
"Sayang kamu mau menggoda ku ya ?" tanya Dannis dari kejauhan karena ia tidak mau istrinya mual dan memuntahkan isi perutnya.
"Nggak." sahut Aline cuek.
Entah mengapa hanya dengan melihat istrinya saja, bagian tubuh bawahnya sudah sangat menegang padahal di kantor tadi ia di suguhi paha mulus dan dua gundukan yang hampir tumpah tapi ia malah merasa jijik.
Dannis segera masuk ke dalam kamar mandi, sepertinya ia harus bermain solo dan membuang calon adik baby yang sedang di kandung istrinya.
Tiga puluh menit kemudian, Dannis keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Aline yang melihat itu sedikitpun tak berpaling, ia sebenarnya sangat merindukan sentuhan suaminya tapi apa daya ia selalu mual jika dekat-dekat dengan suaminya.
"Kenapa sayang ?" tanya Dannis ketika melihat istrinya tak berkedip menatapnya.
"Nggak." Aline nampak merona malu karena ketahuan.
"Apa kamu merindukan ku, aku juga sangat merindukan mu sayang."
"Bagaimana kalau besok kita menginap di tempat Papa ?"
"Kamu mau kesana ?"
"Iya, aku merasa sangat sehat kalau di sana." Aline mengingat tidak pernah muntah ketika tinggal di rumah mertuanya.
"Baiklah, tapi besok kita ke dokter dulu ya."
"Untuk apa inikan belum waktunya ?" tanya Aline.
__ADS_1
"Untuk bertanya ke dokter Sarah apa boleh aku menengok baby kita." sahut Dannis dengan senyum penuh arti.