Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Pulang Kampung


__ADS_3

"Dannis, jika kamu membaca pesanku ini. Itu berarti aku sudah pergi jauh dari negara ini. Terima kasih sudah memberiku pengalaman yang sangat berharga, tapi maaf aku membatalkan perjodohan kita. Semoga kamu bisa hidup bahagia dengan wanita yang mencintaimu, selamat tinggal."


Dannis yang baru keluar dari kantornya malam itu, terlihat shock ketika baru membaca pesan dari Aline. Ia berkali - kali menghubungi ponsel Aline tapi selalu tidak aktif, ini pasti bercanda. Pikirnya.


Ia segera melajukan mobilnya ke Apartemennya. Sesampainya disana, ia bergegas menuju ke lantai paling atas di mana Aline tinggal. Berkali-kali ia memencet bel tapi tak kunjung di buka, sayangnya gadis itu sudah merubah passcodenya kalau tidak dia sudah langsung masuk kedalam.


"Dimana kamu sayang." gumam Dannis.


Tak lama kemudian ponsel Dannis berdering, setelah melihat siapa yang menghubunginya ia segera menjawabnya.


"Ya bro." jawab Dannis.


"Boss, kamu sudah tahu Aline pulang ke negaranya ?" tanya Sam dari ujung telepon.


"Jadi benar dia pergi ?" tanya Dannis memastikan.


"Aku sudah mengecek ke Airport, satu jam lalu pesawatnya take off."


"Shit." teriak Dannis.


"Apa kalian ada masalah sebelumnya ? tanya Sam memastikan.


Karena tidak mungkin Aline pergi begitu saja, padahal sebelumnya ia melihat sahabatnya itu sangat bahagia dengan keputusannya untuk menerima pinangan Dannis.


"Tidak ada." jawab Dannis.


"Ya sudah boss tenang saja, besok kita bicarakan lagi." ujar Sam lalu mematikan teleponnya.


Kemudian Dannis melangkahkan kakinya menuju lift. Bukan Apartemennya yang ia tuju, tapi ia berlalu ke basement di mana mobilnya di parkir.


"Shit, kenapa jadi seperti ini. Apa kamu benar-benar tidak menyukai ku, kenapa kamu pergi disaat aku sangat mencintaimu Aline. Kenapa ?" gerutu Dannis sambil memukul kemudinya beberapa kali.


Lalu ia melajukan mobilnya dengan kencang menuju sebuah Bar yang cukup elit di kota itu. Dengan menghabiskan beberapa gelas wine mungkin akan menenangkannya, pikirnya.


Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam bar tersebut, di pesannya sebotol wine pada seorang bartender. Gelas demi gelas ia meneguk minuman tersebut hingga ia merasakan sangat mabuk.


"Dannis, kamu sudah mabuk jangan minum lagi !!" ucap seorang perempuan sexy, ia merebut gelas yang Dannis pegang.


"Biarkan Aku minum." rancau Dannis.

__ADS_1


"Kenapa kamu seperti ini Dannis, lupakan wanita itu. Ada aku yang mencintaimu." ucap Cleo dengan memeluk Dannis yang sedang mabuk.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang terus memperhatikan mereka dengan sesekali mengambil gambarnya.


"Ayo kita pulang, kamu sudah sangat mabuk !!" ajak Cleo dengan membopong Dannis yang di bantu oleh salah satu security di Bar tersebut.


Sesampainya di parkiran, Cleo berencana akan membawanya ke Apartemennya. Karena ia tidak mengetahui Apartemen dimana Dannis sekarang tinggal dan ia juga tidak mungkin mengantarnya ke rumah tuan Nicholas.


Lebih baik ia membawanya ke Apartemennya dan menikmati tidur bersama dengannya yang memang selama ini ia inginkan.


Ketika baru membuka pintu mobilnya, Cleo di kejutkan oleh suara seorang laki-laki yang berjalan mendekatinya. "Mau kamu bawa kemana Dannis ?" tanya Sam dengan menatap tajam wanita di depannya itu.


"Di-dia mabuk aku mau mengantarnya pulang." Cleo mendadak gugup karena dia tahu sedang berhadapan dengan laki-laki macam apa itu Sam, dia bisa melakukan apapun bahkan terhadapnya.


"Apa kamu tahu tempat tinggalnya ?" tanya Sam sinis.


"A-aku akan membawa ke rumah Ayahnya."


"Apa ini sudah kamu rencanakan sebelumnya ?" tanya Sam penuh selidik.


"Aku tidak mengerti maksudmu, aku hanya menemukan dia sedang mabuk di dalam dan aku hanya berniat membantunya." sahut Cleo beralasan.


"Pak tolong pindahkan laki-laki itu kedalam mobil saya !!" Sam mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan memberikannya pada Security yang tadi memapah Dannis.


Setelah Dannis berpindah kedalam mobilnya, Sam segera melajukan kendaraannya menuju Apartemen dimana Dannis tinggal.


"Dasar bodoh, kenapa kamu merusak dirimu sendiri seperti ini." gerutu Sam ketika melihat Dannis dari balik kaca spion yang sedang tak sadarkan diri di kursi belakang.


Sebenarnya Sam tadi sudah berada di dalam Apartemennya, setelah baru pulang dari Airport untuk mengecek keberadaan Aline. Tiba-tiba ia merasa kepikiran dengan Dannis, karena yang ia tahu setiap kali ada masalah Dannis selalu melampiaskannya dengan alkhohol.


Jadi dia berinisiatif mencari Dannis di sebuah Bar dimana mereka biasanya nongkrong, karena sedari tadi telepon Dannis selalu tidak aktif.


Ketika baru memarkirkan mobilnya, beruntung ia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal dengan susah payah memapah seseorang yang sedang mabuk. Lalu dengan cepat ia menghampiri wanita tersebut.


🍁🍁🍁


Aline yang sedang berada di dalam pesawat, terlihat sangat sedih. Sedari tadi air matanya tak berhenti mengalir. Mengingat kejadian di Cafe tadi pagi membuat hatinya nyeri.


"Seperti ini kah rasanya patah hati, sangat sakit Tuhan. Kenapa disaat aku mulai mencintainya tapi dia justru menghianatiku." gumam Aline dengan terisak, kemudian ia memejamkan matanya hingga tertidur.

__ADS_1


Setelah menempuh hampir 18 jam penerbangan, kini untuk pertama kalinya Aline menginjakkan kakinya di tanah air setelah empat tahun lebih ia berada di negeri orang.


"Aku rindu udara ini, orang-orang ini dan suasana di kota ini." ucap Aline ketika baru keluar dari bandara Juanda di kota Surabaya.


Ia segera memesan taksi online dari aplikasi di ponselnya, ia sengaja tidak memberitahu keluarganya karena ingin memberikan kejutan kepada mereka.


Setelah kurang dari satu jam menempuh perjalanan, kini ia sudah sampai di sebuah kawasan elit perumahannya yang bergaya eropa.


"Assalamualaikum, Mami." sapa Aline dari balik gerbang, ia menekan bel beberapa kali.


"Spada"


"Woy, ada orang tidak ?" teriak Aline dari luar gerbang karena tak kunjung ada orang yang keluar dari dalam rumah tersebut. Sepertinya empat tahun di negeri orang tak menghilangkan sikap anak suroboyoan yang sedikit nyablak.


Nampak seorang security yang baru dari dalam rumah, berjalan tergopoh goboh melihat siapa yang sudah berteriak teriak tidak sopan.


"Mbak Aline ?" tanya security itu memastikan penglihatannya apa benar wanita cantik yang ia lihat dari balik gerbang itu adalah anak dari tuan besarnya.


"Iyo Pak, ini Aline." sahut Aline dengan bahasa medok khas suroboyoan.


"Astaga mbak Aline, kenapa tidak memberitahu kalau mau pulang. Biar sopir yang menjemput ?" ujar Security tersebut sambil mendorong gerbang.


"Enggak apa-apa Pak."


"Sini biar saya yang bawa kopernya." tawar security tersebut.


"Wes rapopo Pak, Aline bisa sendiri."


"Tapi tuan Austin sama Bu Nisa, enggak ada di rumah mbak Aline."


"Memang kemana mereka ?" tanya Aline penasaran.


"Ke Kalimantan tadi pagi."


"Yo wes lah, Aline masuk dulu pak capek." sahut Aline sambil berjalan dengan menarik kopernya.


Sesampainya di kamarnya Aline segera membersihkan dirinya, setelah itu ia mengambil ponsel di dalam tasnya dan segera mengganti dengan nomor yang baru.


"Selamat datang kehidupan baruku." ujar Aline.

__ADS_1


__ADS_2