
Dannis yang takut istrinya cemburu langsung membawa istrinya untuk duduk di sofa dan segera mengenalkan pada tamunya.
"Sayang, kenalkan ini dokter Maria." ucap Dannis.
Dokter Maria segera berdiri dan mengulurkan tangannya, kemudian Aline membalas jabat tangan bule cantik itu.
"Dokter Maria ini tunangannya Armand, dia dokter spesialis kandungan. Armand menyuruhnya kesini untuk mengirim undangan pernikahannya dan ada beberapa hal yang perlu ku konsultasikan padanya juga." ujar Dannis menjelaskan sebelum istrinya itu salah paham.
"Konsultasi, bukannya kita sudah konsultasi dengan dokter Sarah sayang ?"
"Iya aku tahu sayang, apa salahnya jika kita cari second opinion..." Dannis belum menyelesaikan perkataannya tapi dokter Maria sudah memotongnya.
"Benar bu Aline, tuan Dannis sangat mengkhawatirkan kesehatan anda, tapi sudah saya jelaskan padanya kalau untuk berhubungan intim tidak masalah, asal di lakukan dengan pelan dan itu tidak akan melukai bekas operasi caesar anda." ucap dokter Maria tanpa basa-basi.
"Panggil saya Aline saja dok, umur saya masih 24 tahun." pinta Aline dengan raut wajah merona karena bisa-bisanya suaminya itu bicara masalah intim bersama wanita itu meski ia seorang dokter sekalipun.
"Baiklah Aline, senang mengenalmu." ucap dokter Maria dengan ramah.
"Sorry bro ganggu, di mana calon istriku ?" ucap Armand yang baru masuk dalam ruangan Dannis.
"Ada nyonya Dannis juga di sini." ucap Armand lagi.
"Sayang." ucap dokter Maria pada Armand ketika laki-laki itu berjalan mendekatinya.
"Baiklah sepertinya kita harus pergi sayang, kamu tidak mau kan jadi obat nyamuk di sini." sindir Armand sembari melihat ke arah Dannis dan Aline dengan senyum jahilnya.
Setelah mereka berpamitan dan meninggalkan ruangan tersebut kini tinggal Aline dan Dannis yang berada di sana.
"Sayang, kenapa tidak memberitahu kalau mau datang kemari ?" tanya Dannis sembari mendudukkan dirinya di sebelah istrinya.
"Biar bisa memergoki suamiku sedang apa dan dengan siapa di dalam kantornya."
"Astaga sayang, aku nggak mungkin macam-macam. Aku tadi hanya konsultasi saja sama dokter Maria."
"Kalian terlihat akrab, memang sudah pernah bertemu sebelumnya ?" tanya Aline curiga.
"Beberapa kali, kamu tahu kan aku menginvestasikan sebagian uangku pada perusahaan Armand. Setiap kami mengadakan meeting calon istrinya itu ikut. Karena dokter Maria sangat cemburuan."
"Tentu saja cemburuan, bukannya Armand itu seperti kamu seorang Casanova."
"Bahkan aku sudah melupakan masa lalu sialan itu sayang, sekarang sudah ada istriku yang cantik ini jadi mau cari yang seperti apalagi. Kamu wanita yang sempurna yang di kirim Tuhan buat aku yang pendosa ini."
"Maaf aku belum bisa sepenuhnya mempercayai mu."
"Aku mengerti, dengan berjalannya waktu aku akan membuktikan kalau aku akan menjadi suami yang setia."
"Terima kasih." ucap Aline sembari masuk dalam pelukan suaminya.
"Justru aku yang selalu khawatir padamu sayang."
"Kenapa ?" tanya Aline ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.
"Kamu tahu, jika kamu berjalan di luar sana sendirian. Orang tidak akan percaya kalau kamu sudah menikah dan punya anak. Kamu seperti seorang gadis kuliahan. Aku khawatir akan banyak laki-laki yang ingin memilikimu di luar sana."
"Kamu tidak mempercayaiku ?"
__ADS_1
"Aku percaya, tapi juga waspada. Umurku sudah tidak muda lagi hampir 35 tahun. Aku takut kamu nanti bosan sama aku dan mencari pria yang lebih muda."
"Astaga sayang, aku bukan wanita seperti itu. Aku hanya ingin kamu cintai dan kamu lindungi. Aku ingin menggantungkan hidupku padamu jadi tolong jangan pernah sakiti atau hianati aku." pinta Aline.
"Aku juga akan menggantungkan hidupku padamu, jika kamu meninggalkan ku mungkin aku akan mati."
"Aku mencintaimu Dannis."
"Aku juga lebih dan lebih mencintaimu sayang." ucap Dannis kemudian mengecup bibir istrinya itu.
"Apa aku boleh melakukannya ?"
"Di sini ?"
"Di dalam sayang." ucap Dannis dan langsung membopong istrinya masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Ia rebahkan istrinya di atas ranjang dengan pelan. "Apa kamu akan membiarkan Papa menonton kita ?" ucap Aline terkekeh.
"Maunya sih seperti itu, tapi Papa sudah terlalu tua untuk menikah lagi." sahut Dannis lalu ia berjalan ke arah cctv dan langsung mematikannya.
Kemudian ia menanggalkan seluruh pakaian yang menempel di badannya dan membuangnya ke sembarangan arah hingga kini ia nampak polos di depan istrinya.
"Sepertinya tuan Dannis sudah tidak sabaran." ucap Aline sembari terkekeh.
"Sudah hampir tiga bulan aku menahannya sayang."
"Aku kan sudah bilang dari satu bulan lalu, aku siap."
"Aku tidak ingin menyakitimu, tapi kali ini aku janji akan melakukannya dengan pelan." ucap Dannis yang saat ini sudah mengungkung tubuh istrinya.
Hingga sore hari Dannis baru beranjak dari tubuh istrinya, entah berapa kali mereka merasakan pelepasannya hingga tubuh mereka tak berdaya dan langsung tertidur sambil berpelukan.
.
.
.
Lima tahun kemudian
Surabaya siang itu sangat panas, Aline yang sedang menggendong bayi perempuannya nampak melangkahkan kakinya menuju sekolah taman kanak-kanak untuk menjemput King.
"Mama." teriak King ketika melihat Ibunya baru memasuki gerbang sekolahan.
"Sudah pamitan sama bu guru sayang ?"
"Sudah Ma, adik Kristal bobo Ma ?" King nampak berjinjit untuk melihat adik perempuannya yang baru berusia empat bulan.
"Iya adiknya bobo, ayo kita pergi ke kantor Papa." ajak Aline.
"Asyik ke kantor Papa." teriak King.
Kemudian dengan di antar sopir mereka pergi ke kantor barunya Dannis. Sudah setahun terakhir ini, setelah Austin memutuskan untuk pensiun ia menyerahkan perusahaan pada Aline.
Dan sejak saat itu Dannis dan Aline memutuskan untuk pindah ke Surabaya, Dannis membawa sebagian asetnya untuk membuat perusahaan barunya di sini sembari mengurus perusahaan mertuanya yang sudah di percayakan padanya.
__ADS_1
Laki-laki berusia hampir 40 tahun itu terlihat semakin tampan dan dewasa, ia tersenyum lebar ketika dari kejauhan melihat jagoan kecilnya dan istri tercintanya berjalan mendekat ke arahnya.
"Jagoan Papa." Dannis menggendong anak laki-lakinya itu lalu mengecupinya, setelah itu ia menurunkannya lagi.
"Gadis kecilnya Papa." ucapnya lagi sembari menciumi pipi gembul Kristal yang berada di dalam kereta.
"Dan ini istri tercintaku." Dannis mengecup bibir istrinya beberapa kali, ia tidak pernah perduli dengan pandangan karyawannya yang lalu lalang di lobby kantornya.
Dannis tetaplah Dannis kapanpun dan dimanapun berada sifat mesumnya tak pernah hilang, tapi itu ia lakukan hanya pada istrinya seorang. Aline yang sudah akan menginjak usia 30 tahun, penampilannya semakin dewasa dan cantik dan itu membuat Dannis semakin tergila-gila dan sangat posesif padanya.
Setelah menjelang sore, Aline menyuruh pengasuh anaknya itu untuk membawa anak-anaknya pulang. Sedangkan dia mungkin akan menemani suaminya menyelesaikan pekerjaannya.
Bagaimanapun juga, Aline merasakan kasihan pada suaminya karena harus mengurus perusahaannya juga jadi dia sebisa mungkin selalu menemani dan menyemangatinya.
"Apa belum selesai sayang, perlu bantuan ?" tanya Aline ketika melihat suaminya masih sibuk dengan tumpukan berkas-berkasnya.
"Sebentar lagi, ayo sini !!" Dannis menepuk pahanya agar istrinya duduk.
"Apa aku tidak mengganggumu ?"
"Justru aku senang kalau kamu sering ke kantor, karena bisa menghilangkan rasa jenuhku." ucap Dannis sembari menciumi tengkuk istrinya dan sebelah tangannya sudah menyelusup ke dalam bajunya.
Sebuah erangan yang lolos dari bibir Aline membuat Dannis langsung membawa istrinya itu ke dalam kamar yang ada di dalam ruangan kerjanya itu.
"Aku sudah membooking tiket untuk honey moon kita bulan depan." ucap Dannis setelah mereka melakukan penyatuannya.
"Honeymoon lagi ?" tanya Aline yang masih dalam pelukan suaminya.
"Iya, aku ingin setiap tahun kita melakukan itu dan kali ini aku sudah meluangkan waktu lebih lama dari sebelumnya."
"Lalu anak-anak ?"
"Biar Papa Austin dan Mami Nisa yang menjaganya, toh liburan kita kali ini juga ide dari mereka."
"Lalu perusahaan ?"
"Ada orang-orang hebat yang membantu ku sayang."
"Baiklah aku mau."
"Kamu senang ?"
"Hmm." Aline semakin mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih sudah menjadi istri yang hebat." ucap Dannis.
"Terima kasih juga sudah menjadi ayah dan suami yang selalu mengutamakan kami." sahut Aline.
"Aku sangat mencintaimu Dannis." ucapnya lagi.
"Aku juga sangat dan sangat mencintaimu Sayang." ucap Dannis sembari mengecup kening istrinya sangat lama menandakan ia begitu mencintai dan menyayanginya.
.
.
__ADS_1
Akhirnya novel recehku yang kedua ini ending ya guys, terima kasih buat semua readers kesayangan yang sudah mendukung karya ku dari awal, thanks banget nuhun semuanya 🤗🤗🤗 lanjut di sesion 2 ya dengan judul "TEMAN TAPI MENIKAH ( Putri untuk King ) sudah update.