Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Segala cara


__ADS_3

Hari mulai sore tapi Aline belum juga beranjak dari kediaman tuan Nicholas. Ia sedari tadi mencoba untuk bersikap konyol dan ceroboh, ia berharap lelaki tua itu akan semakin ilfil dengannya dan akan segera membatalkan perjodohannya.


Seperti tadi selepas makan siang. Ketika berjalan ke arah taman ia sengaja menyenggol sebuah guci tua kesayangan tuan Nicholas hingga pecah, tetapi lelaki tua itu tidak ada reaksi apapun.


Begitu juga ketika ia menemaninya bermain kartu dan catur, setiap kali menang ia akan bersikap tidak sopan dengan berteriak kegirangan di depan pria tua itu.


Bahkan ia juga menceritakan kalau dirinya tidak bisa memasak, suka bangun siang dan segala macam keburukannya. Namun reaksi tuan Nicholas hanya terkekeh.


Frustrasi, tentu saja. Segala ide sudah ia coba.


Kini Aline sedang berada di sebuah ruang baca bersama sang empunya rumah, ia tampak terpesona ketika melihat sebuah pigura besar yang berisikan foto seorang perempuan cantik yang berada di atas meja dekat dengan rak buku.


Tuan Nicholas yang sedari tadi memperhatikan Aline ia nampak tersenyum. "Dia mendiang istriku." ucapnya tanpa menunggu Aline bertanya.


"Berarti ini barang yang sangat berharga, bagaimana kalau aku sengaja menjatuhkannya mungkin beliau akan langsung marah." gumam Aline, ia terkikik dengan ide gilanya.


Kemudian Aline berjalan mendekati sebuah rak buku yang berada di dekat pigura tersebut, ketika akan meraih sebuah buku ia dengan sengaja menyikutnya hingga pigura tersebut jatuh ke lantai dan seketika langsung pecah.


"Upss, Maaf Om saya tidak sengaja." ujar Aline ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu menatap raut wajah tuan Nicholas.


"Ayo marah sekarang juga." batin Aline dalam hati, ia berharap laki - laki tua itu marah dan segera mengusirnya.


Tapi di luar dugaannya, pria tua itu justru mengkhawatirkan keadaannya. "Apa kamu tidak apa - apa Nak, ayo cepatlah menjauh biar pelayan yang akan membersihkannya." ujar Tuan Nicholas.


"Om tidak marah ?" tanya Aline ia nampak tercengang.


"Itu hanya pigura Nak, kalau pecah bisa di ganti dengan yang baru." ucap tuan Nicholas dengan lembut.


"Astaga aku harus berbuat apa lagi biar orang tua ini ilfil denganku." gumam Aline, ia nampak frustrasi mencari ide.


Kemudian ia lebih baik memutuskan untuk pulang sore itu.


"Om sepertinya saya harus segera pulang, sebelum hari mulai gelap." ucap Aline.


"Baiklah Nak, terima kasih sudah menemani Om hari ini." ujar Tuan Nicholas yang masih duduk di kursi bacanya.

__ADS_1


Setelah itu Aline melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


"Hanya kamu yang bisa membuat Dannis berubah Nak dan aku akan selalu memaafkan kecerobohan yang kamu buat, jadi jangan pernah berpikir untuk lari." gumam tuan Nicholas seraya tersenyum penuh arti menatap kepergian Aline.


🍁🍁🍁🍁


"Ayo aku antar pulang !" ucap Dannis ketika melihat Aline keluar dari Mansionnya tersebut.


"Saya bisa pulang sendiri tuan Dannis." sahut Aline ia melihat Dannis yang sedang bersandar di badan mobilnya.


"Tidak ada taksi yang bisa masuk ke area sini ?" teriak Dannis ketika Aline melewati mobilnya.


"Aku bisa jalan kaki untuk sampai jalan raya." Aline tetap melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan Dannis yang sudah membuka pintu mobilnya.


"Kalau mau di makan hewan buas silakan saja." sahut Dannis kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan segera menstarternya.


Seketika langkah Aline terhenti. "Beneran ada hewan buas disekitar sini ?" Aline melihat sekitar Mansion tersebut yang di kelilingi oleh pohon - pohon besar dan rimbun, seketika ia langsung bergidik.


"Aku masih mau hidup." lalu ia berbalik lagi dan segera membuka pintu belakang mobil Dannis.


Kemudian Aline turun lagi dan pindah ke depan, kali ini ia tak banyak berkomentar karena nyawanya lebih penting pikirnya.


Ketika melihat Aline duduk di sebelahnya, Dannis tampak tersenyum menyeringai karena sudah berhasil mengerjai gadis tersebut.


Kemudian Dannis mulai melajukan mobilnya, ia sesekali melirik gadis yang berada di sebelahnya itu yang tampak memejamkan matanya. Entah sedang tidur atau memang pura - pura tidur.


"Di mana rumah kamu ?" Dannis mencoba memecahkan keheningan di dalam mobilnya, dia juga tidak mau berputar putar tanpa arah tujuan.


Aline diam membisu dengan mata masih terpejam di balik kacamata tebalnya, sepertinya ia enggan sekali untuk menyahut.


Entah kenapa saat ini ia sangat membenci laki - laki di sebelahnya itu. Apa lagi ketika ia mengingat kejadian tadi siang, ketika laki - laki itu menciumnya dengan paksa di kamarnya.


"Baiklah kalau begitu kamu akan ku ajak pulang ke Apartemenku." ujar Dannis lagi dengan senyum menyeringai.


Seketika Aline langsung membuka matanya, "Antar aku ke kantor saja, mobilku masih ada disana !" sahut Aline pandangannya lurus ke depan tanpa melihat Dannis yang sedang menatapnya dari balik kemudi.

__ADS_1


"Jadi kamu akan pulang ke Apartemenku ?" tanya Dannis lagi.


"Ck. Aline berdecak kesal, " belok kiri." ucap Aline kemudian, ketika melihat jalan simpang tiga di depannya.


"Berhenti di depan Apartemen itu." ujar Aline menunjuk ke arah Apartemennya.


"Kamu tinggal di Apartemen itu juga ?" tanya Dannis lagi, raut wajahnya tampak terkejut.


"Hmmm." sahut Aline singkat kemudian ia mencoba membuka pintu mobil yang masih terkunci secara otomatis.


"Wow kenapa bisa kebetulan ya, pantas saja waktu itu kamu cepat sekali mengantar obatnya." ucap Dannis kemudian ia melajukan mobilnya lagi masuk ke dalam area Apartemennya.


Lagi - lagi Aline hanya mendengus kesal tanpa menghiraukan perkataan Dannis.


"Di lantai berapa kamu tinggal ?" tanya Dannis lagi setelah keluar dari mobilnya dan ia berjalan mengikuti Aline yang sudah mendahuluinya.


"Bukan urusanmu, berhentilah mengikutiku !" sentak Aline menatap tajam Dannis.


"Hey nona apa kamu tidak berterima kasih padaku karena sudah mengantarmu, paling tidak beri aku air putih aku sangat haus." ujar Dannis.


"Kamu bisa minum di Apartemenmu sendiri." ucap Aline dengan ketus.


"Apa aku tidak boleh tahu dimana calon istriku tinggal." Dannis mendekati Aline dengan senyum menyeringai.


Sumpah demi apapun rasanya ia ingin sekali menjambak rambut laki - laki di depannya itu. "Siapa yang mau menikah denganmu ?" Aline bertanya dengan ketus.


"Tentu saja kamu." sahut Dannis dengan enteng.


Aline menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. "Aku tidak mau." kemudian tanpa menghiraukan Dannis lagi ia melangkahkan kakinya menuju lift.


"Hey calon istri tunggu !" Dannis berlari kecil untuk mengejarnya.


"Kamu mau apa lagi ?" Aline berteriak nyaring pada Dannis tanpa mempedulikan orang lain yang juga sedang menunggu lift terbuka.


Hingga beberapa orang yang melihatnya tampak memicingkan matanya. "Maaf kita sedang ada masalah rumah tangga." celetuk Dannis ketika beberapa orang tersebut menatapnya.

__ADS_1


"Ayo sayang jangan buat keributan di sini." ujar Dannis lalu ia menggandeng Aline untuk menjauh dari lift tersebut.


__ADS_2