
Siang itu Dannis mendapat kabar dari asistennya kalau perusahaannya sedang dalam keadaan tidak baik dan Ayahnya juga sedang jatuh sakit. Sepertinya ia harus segera membuat keputusan, ia tidak bisa mengabaikan perusahaan yang sudah di bangun Ayahnya dengan susah payah akan hancur begitu saja.
Sepertinya selama ia meninggalkan negaranya banyak pesaing bisnisnya memanfaatkan dengan mencoba menyerang perusahaannya.
Pada akhirnya di sinilah dia sekarang berada, sebuah Cafe di pinggir pantai dimana Aline dan Dewa biasanya menghabiskan waktu bersama.
Dia sedang menunggu seseorang, seseorang yang ia datangi tadi sore di kantornya dan mereka sepakat malam ini akan bertemu di Cafe tersebut.
"Malam bro." Sapa Dannis ketika melihat Dewa jalan ke arahnya.
"Sorry bro, telat." sahut Dewa sembari mendudukkan dirinya di kursi.
"Tidak masalah, ayo pesan dulu mau kopi atau apa ?" Dannis melambaikan tangannya pada pelayan yang kebetulan sedang melihat ke arahnya.
"Coffee lattenya satu ya mbak !!" ujar Dewa pada waitress tersebut.
"Sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu waktu kamu, tapi ada sesuatu yang penting ingin saya bicarakan denganmu." ucap Dannis memulai pembicaraannya.
"Santai saja bro, gue sedang tidak bertugas." sahut Dewa.
"Mungkin besok saya akan kembali ke Jerman." ucap Dannis sambil sesekali menghisap rokok di tangannya.
"Oh iya kah, apa Aline juga tahu ?" tanya Dewa.
"Tahu atau tidak mungkin sudah tidak penting baginya." jawab Dannis kali ini ada kesedihan di matanya dan itu tak luput dari perhatian Dewa.
"Apa kamu sudah menyerah ?" tanya Dewa lagi.
"Dalam hidup ini tidak ada kata menyerah bagiku, tapi memaksakan kehendak itu juga tidak baik." sahut Dannis lalu menyesap wine di gelasnya.
"Tapi kamu mencintainya kan ?"
"Meskipun saya mencintainya tapi tak harus juga memilikinya, kalau dia sendiri tidak mencintaiku." sahut Dannis dengan senyum masamnya.
"Maaf bro, gue tidak bisa katakan kalau Aline juga cinta sama loe. Karena gue juga cinta sama dia." gumam Dewa dalam hati.
"Ya gue paham, maaf tidak bisa banyak bantu." ucap Dewa.
"Saya hanya ingin titip Aline, tolong jaga dan bahagiakan dia !!" pinta Dannis meskipun ia sangat berat untuk mengatakannya.
"Aline gadis yang mandiri tapi kadang juga manja. Dia sedikit keras kepala dan suka tidak teratur makannya." tambahnya lagi, Dannis nampak sedikit tersenyum ketika mengingat kebersamaan mereka dulu.
"Sepertinya loe tahu banyak tentangnya ?" tanya Dewa dengan senyum masamnya.
__ADS_1
"Kalau kita sedang jatuh cinta pada seorang wanita, maka apapun itu akan menjadi daya tarik kita." sahut Dannis.
"Btw kapan loe berangkat bro ?"
"Mungkin besok siang."
"Apa loe tidak ingin bertemu dengannya untuk terakhir kalinya ?"
"Lebih baik tidak, saya takut jika melihatnya tidak akan bisa melepasnya." ucap Dannis.
"Kenapa loe cepat sekali menyerah ?"
"Perusahaan sedang bermasalah, saya tidak mungkin tinggal disini terus."
"Ya gue ngerti." sahut Dewa kemudian terdengar ponselnya berdering lalu ia segera menjawab panggilan tersebut.
Setelah selesai berbicara di telepon, Dewa segera pamit pada Dannis karena ada urusan mendadak kemudian ia berlalu pergi dari Cafe tersebut.
Dannis masih tak bergeming dari duduknya, bahkan ia kini sudah memesan satu botol wine di mejanya. Ketika ia sedang menikmati minumannya, nampak seorang wanita seksi menghampiri mejanya.
"Sendirian saja mister ?" tanya wanita tersebut ia langsung mendudukkan dirinya di sebelah Dannis.
"Seperti yang kamu lihat." ucap Dannis tanpa menghiraukan wanita di sampingnya itu.
Dannis terlihat menghisap rokoknya lalu ia mematikannya di dalam asbak, setelah itu ia meminum wine di dalam gelasnya sampai habis. Lalu ia beranjak dari duduknya. "Maaf nona saya tidak tertarik." ucap Dannis kemudian ia berlalu keluar dari Cafe tersebut.
Waktu menunjukkan pukul 12 malam, Dannis baru keluar dari Cafe tersebut dan kini ia melajukan mobilnya dengan kencang menuju sebuah rumah yang beberapa hari ini tidak ia datangi.
Dannis menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Aline, matanya mengawasi sebuah rumah bercat putih dan orange tersebut. Kini pandangannya tepat mengarah ke kamar yang berada di lantai dua itu.
Dari balik jendela ia melihat lampu kamar tersebut masih menyala, itu berarti pemilik kamar belum tidur. Dannis terus memandangi kamar tersebut berharap bisa melihat gadisnya itu untuk terakhir kali.
Hingga dua jam lamanya dia di sana, sampai ia melihat lampu kamar itu padam baru ia meninggalkan tempat itu.
"Selamat tinggal." gumam Dannis nampak sebulir air matanya jatuh dari sudut matanya ketika melihat kamar itu untuk terakhir kalinya Kemudian Ia mulai melajukan mobilnya.
Aline yang terlihat berdiri di depan jendelanya di tengah lampunya yang padam, ia juga nampak meneteskan air matanya melihat kepergian laki-laki itu entah apa yang sedang ia pikirkan.
Keesokan harinya
"Tidak semuanya orang baik akan selamanya baik, suatu saat ia pasti akan berbuat kesalahan. Berbeda dengan orang yang pernah bersalah tapi segera menyadarinya, ia pasti akan berpikir ulang sebelum membuat kesalahan yang sama." kata-kata dari Dewa beberapa hari yang lalu selalu terngiang-ngiang di pikiran Aline.
Haruskah dia menerima kembali Dannis atau harus melepaskannya, hatinya begitu bergejolak pagi itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar notifikasi di ponselnya, lalu ia segera meraih ponselnya di atas nakas. "Cil. Bisa ketemu sekarang, penting. Di tempat biasa ya." isi pesan dari Dewa.
"Meluncur." balas Aline, kemudian ia beranjak dari ranjangnya dan segera membersihkan dirinya. Setelah keluar dari kamar mandi ia segera bersiap-siap.
"Mau kemana sayang ?" tanya Nisa ibunya Aline.
"Ketemu Dewa Mi sebentar setelah itu langsung ke kantor." sahut Aline ketika berada di meja makan.
"Sepertinya semakin hari kalian semakin dekat, apa kalian menjalin hubungan ?" tanya Austin sambil memakan sarapannya.
"Kami cuma berteman Pa." sahut Aline.
"Mami juga setuju kok sayang kalau kalian mempunyai hubungan lebih dari itu." ujar Ibunya.
"Mi, kita cuma sahabatan. Lagipula kita juga berbeda keyakinan Dewa seorang Hindu yang taat, aku menyayanginya tapi sebatas sahabat." ujar Aline.
"Sayang sekali, padahal Papa juga menyukainya. Kamu pasti aman jika bersama dia." ujar Ayahnya.
"Lalu Dannis bagaimana sayang, apa tidak kamu pertimbangkan lagi ?" kali ini Ibunya yang bertanya.
"Entahlah Mi." sahut Aline kemudian dia beranjak dari duduknya, setelah berpamitan dengan orang tuanya ia segera melajukan mobilnya menuju Cafe di mana ia janjian bertemu dengan Dewa.
Sesampainya di Cafe tersebut ia segera menghampiri Dewa yang sudah menunggunya disana.
"Dari tadi Wa ?" tanya Aline ia segera mendudukkan dirinya di depan sahabatnya itu.
"Baru saja, ya baru dua cangkir kopi." sahut Dewa yang menunjukkan dua cangkir kopi yang sudah habis.
"Kamu jangan kebanyakan ngopi Wa, enggak baik buat kesehatan." ujar Aline.
"Loe perduli sama gue Cil ?"
"Tentu saja peduli."
"Loe sayang sama gue ?"
"Tentu saja Wa."
"Bagaimana kalau gue cinta sama loe Dan minta loe menjadi istri gue ?" tanya Dewa dengan serius.
.
NB : Mana nih timnya Bli Dewa ayo merapat, buat timnya babang bule jangan kecewa ya perjalanan masih sangat panjang dan banyak kejutan. So, thanks buat readers kesayangan 😘🤗 masih mau mendukung cerita ini. Jangan lupa saran dan kritiknya ya kalau ada kelebihan poin ngevote juga boleh, tapi kalau tidak juga enggak apa-apa. Oke thanks gengs.
__ADS_1