
"Hey, disini yang akan menjadi calon suaminya siapa ?" sentak Dannis dengan geram hingga menghentikan langkah Leon dan Aline yang sudah berjalan mendahuluinya.
"Tinggalkan kami Leon, ada yang harus ku bicarakan dengan wanita ini !" Dannis menatap tajam Leon hingga membuat adiknya itu berangsur pergi meninggalkannya.
"Ayo ikut aku !" Dannis menarik paksa tangan Aline tapi dengan kuat Aline menghempaskannya.
"Enggak mau." Aline tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri.
Dannis merasa geram lalu ia langsung membopong tubuh Aline dan membawanya menaiki tangga menuju kamarnya di atas. Setelah pintu kamarnya terbuka, ia hempaskan tubuh Aline ke atas ranjangnya.
Kemudian ia menindih tubuh gadis itu dan segera melahap bibir mungilnya yang selalu tampak menggoda baginya, Aline meronta dengan kuat tapi tenaganya kalah kuat dengan laki - laki itu. Ia mencoba untuk menggigit bibir Dannis tapi tak berhasil, lalu ia terpaksa menendang aset berharganya hingga laki - laki itu berteriak kesakitan.
"Akhhh, beraninya kau menendangnya. Apa kamu mau seumur hidup tidak mempunyai keturunan." sentak Dannis ia masih meringis kesakitan.
"Siapa suruh berani kurang ajar sama aku, lagi pula siapa juga yang mau punya anak denganmu." Aline mencibir laki - laki yang terduduk di depannya itu.
"Aku mau dan kamu akan menjadi ibu dari anak - anakku." ujar Dannis sambil berlalu ke kamar mandi.
"Aku tidak mau. Bukannya kita sama - sama saling benci, kenapa tidak kita batalkan saja perjodohan ini." Aline berteriak ketika Dannis meninggalkannya begitu saja.
"Hey jangan menjilat ludahmu sendiri, kamu sudah tidur dengan banyak perempuan aku tidak sudi menikah denganmu tuan." teriak Aline dengan kesal.
Ia menggedor - gedor pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat itu, karena tidak ada respon lalu ia menendang pintu tersebut beberapa kali hingga kakinya terasa sakit. Dengan perasaan jengkel kemudian ia pergi meninggalkan kamar tersebut.
Di dalam kamar mandi Dannis terkekeh ketika mendengar kemarahan Aline dari balik pintu tersebut. "Ngeri sekali kalau dia marah, bisa - bisa setelah menikah nanti rumahku bisa roboh kalau aku sering buat kesalahan." gumamnya.
Kemudian ia bergegas mengguyur badannya dengan air dingin, entah kenapa setiap berada di dekat Aline gairahnya langsung naik. Padahal sudah beberapa bulan ini banyak wanita yang menggodanya tapi ia sama sekali tidak berselera.
__ADS_1
Hingga setiap kali dia menginginkan, ia selalu menuntaskannya di dalam kamar mandi dengan membayangkan sekretarisnya yang cupu itu sebagai objek fantasinya. Mungkin ini gila pikirnya karena hatinya tidak sejalan dengan logikanya, tapi pada kenyataannya ia telah melakukannya selama beberapa bulan ini.
"Wangi tubuhnya dan sorot matanya kenapa begitu sama, apa mereka wanita yang sama. Apa jangan - jangan Aline adalah wanita itu, aku harus segera mencari tahu." gumam Dannis ia tampak termenung di bawah guyuran air.
Beberapa saat kemudian, Dannis keluar dari kamarnya. Ia sudah mengganti pakaian kerjanya dengan yang baru, dengan lengan kemejanya ia gulung ke atas hingga menampakkan bulu - bulu di lengannya yang membuatnya tambah seksi dan macho.
Ketika baru menuruni anak tangga, ia mendengar gelak tawa dari taman belakang. Kemudian ia bergegas melangkahkan kakinya kesana.
Ehhmmm
Suara bariton Dannis mengagetkan mereka yang sedang berada di taman yaitu tuan Nicholas, Leon dan Aline yang tampak sedang bermain kartu.
Aline nampak terpanah ketika melihat penampilan Dannis, selain karena tubuhnya yang besar dan tinggi. Otot tubuhnya juga tampak menyembul dari balik kemeja yang ketat.
Ketika kedua mata mereka bertemu, Aline segera membuang muka ke sembarang arah.
"Kamu sudah datang, ya sudah ayo kita makan siang !" tuan Nicholas menoleh kearah Dannis kemudian mengajak Aline dan Leon untuk segera beranjak dari duduknya.
"Apa Om mau saya ambilkan ini ?" Aline menyendok daging kuah yang berada di depannya.
"Boleh, itu termasuk makanan kesukaan Om." tuan Nicholas tampak senang melihat Aline yang begitu perhatian padanya.
"Benarkah, saya juga sangat menyukainya." Aline tersenyum manis menatap laki - laki tua itu, tapi tatapan berubah sendu ketika menatap Dannis yang juga saat itu sedang menatapnya dengan intens.
"Aku juga mau Al !" kini Leon mengangkat piringnya agar Aline mengambilkan daging kuah tersebut.
"Baiklah ini, apa kurang ?" tanya Aline.
"Sudah - sudah, sepertinya kak Dannis juga mau ini makanan favoritnya." Leon menatap kakaknya itu yang sedari tadi melihat gerak gerik Aline.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku sedang tidak menginginkannya." ujar Dannis dengan suara dingin, kemudian ia mengambil menu lainnya. Sebenarnya ia menginginkan makanan itu tapi melihat interaksi antara Aline dan adiknya ia jadi tak berselera.
Beberapa saat kemudian setelah menyelesaikan makan siangnya, tuan Nicholas beranjak dari tempat duduknya.
"Kembalilah ke kantor, karena Aline akan tetap disini. Ia akan menemaniku sampai sore, benarkan Nak ?" ujar Tuan Nicholas pada Dannis yang masih duduk di kursinya. Lalu beliau menatap Aline yang tampak tersenyum manis padanya.
"Iya kak, biar Leon yang akan mengantarnya nanti." Leon tersenyum menatap kakaknya itu.
"Aku tidak ada kerjaan di kantor, jadi aku tetap disini." Dannis menatap Aline kemudian ia menatap adiknya itu. " Ayo ikut aku, ada beberapa pekerjaan yang ingin ku bicarakan denganmu." Dannis menyuruh adiknya untuk mengikutinya ke ruang kerjanya.
Sebenarnya setelah makan siang ini dia ada meeting di kantornya, tapi ia membatalkannya demi mengawasi Aline di rumahnya. Dia juga sengaja menyuruh adiknya untuk membantu pekerjaannya agar tidak selalu menempel pada gadis itu.
Sedangkan Aline bersama tuan Nicholas berjalan menuju ke taman belakang, sepertinya mereka akan melanjutkan permainan kartunya.
"Apa Om bisa bermain catur ?" tanya Aline, sepertinya ia sudah sangat bosan bermain kartu karena dari tadi kalah melulu.
"Tentu saja, kamu bisa ?" tanya tuan Nicholas balik.
"Kalau catur saya sangat jago Om." Aline tampak membanggakan dirinya sendiri, karena dulu sewaktu masih di bangku sekolah dia sering mengikuti turnamen catur nasional.
"Baiklah, ayo kita coba !" tuan Nicholas mengambil bidak catur yang ia simpan di bawah meja, sepertinya ia sering memainkannya.
Beberapa saat kemudian, Aline tampak bersorak ria seperti anak kecil yang menang dalam permainan.
"Yes, skakmat." teriak Aline, sepertinya sopan santun terhadap orang yang lebih tua yang di ajarkan oleh kedua orang tuanya mendadak hilang. Ia tampak lonjak - lonjak di depan lelaki tua itu.
Tuan Nicholas tampak terkekeh, melihat tingkah calon menantunya itu. Sepertinya mereka sangat menikmati kebersamaan hari ini.
"Lain kali kamu harus sering - sering ke sini untuk menemaniku bermain catur, karena baru kali ini aku di kalahkan." ujar Tuan Nicholas terkekeh.
__ADS_1
Tanpa Aline sadari sedari tadi Dannis tampak mengawasinya dari balkon atas, laki - laki itu tak henti - hentinya tersenyum melihat tingkahnya.