
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Dannis baru keluar dari Apartemen Cleo. Setelah wanita itu tenang dan Dannis berjanji akan menemuinya lagi, maka wanita itu mengijinkannya untuk pergi.
Sambil mengemudi ia mencoba menelepon Aline beberapa kali, tapi lagi - lagi ponselnya masih tidak aktif.
"Apa kamu marah sayang, kenapa ponselmu belum juga aktif." gumam Dannis. Ia melihat jam di pergelangan tangannya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa saat kemudian ia sudah memarkirkan mobilnya di Cafe tepi pantai dimana ia sudah membuat janji dengan Aline tadi sore. "Bukannya itu mobil Aline dan Sam." batin Dannis ketika melihat mobil yang ia kenal terparkir tak jauh darinya.
Ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam Cafe tersebut. Matanya menjelajahi seluruh ruangan mencari gadisnya itu, tapi ia tak kunjung menemukannya. Kemudian ia berjalan ke balkon yang langsung terhubung dengan bibir pantai.
Ia melihat dua sosok orang yang sangat ia kenal disana, meski posisi mereka sedang memunggunginya. Mereka terlihat mesra seperti sepasang kekasih pikir Dannis, karena Aline terlihat menyandarkan kepalanya di bahu Sam.
Dannis sangat geram melihat pemandangan yang tak jauh di depannya itu, ia merasa kecewa. Lalu ia memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya
Kring
Kring
Terdengar bunyi ponsel, Aline yang masih terlelap tidur ia segera membuka matanya. Lalu diambilnya ponsel disampingnya ia tidur.
"Iya hallo." jawab Aline sepertinya ia merasakan badannya lemas dan tak bertenaga.
"Apa kamu tidak apa - apa ?" tanya Sam dari ujung telepon. Ia sepertinya sangat khawatir karena semalam waktu mengantarnya pulang, gadis itu dalam keadaan sangat pucat.
"Tidak apa - apa." sahut Aline lirih.
"Apa perlu aku kesana ?" tanya Sam lagi.
"Tidak Sam. Kamu buruan kerja gih." tutur Aline.
"Baiklah kalau ada apa - apa hubungi aku ya !!" ujar Sam lalu ia menutup panggilannya.
Aline merasa sangat haus dan badannya juga menggigil, ketika akan beranjak dari ranjangnya tiba - tiba kepalanya terasa berputar pandangannya berangsur buram dan ia langsung tak sadarkan diri.
🍁🍁🍁
__ADS_1
"Boss ada ?" tanya Sam ketika ia berada di meja David sekretarisnya Dannis.
"Ada, tapi sepertinya lagi moody. Beliau berpesan tidak mau di ganggu." ujar David dengan lirih.
"Tapi aku harus menyerahkan ini." sahut Sam sambil menunjukkan beberapa dokumen di tangannya.
"Coba saja." ucap David, ia tidak mau banyak berkomentar lagi.
Lalu Sam mencoba mengetuk ruangan Dannis, tapi sudah beberapa kali mengetuk tak ada sahutan dari dalam.
Sam yang tak sabaran langsung saja masuk, karena ia memang sering melakukan hal itu. Ketika masuk Sam sedikit terkejut karena Dannis sedang minum wine sepagi ini.
"Siapa yang mengijinkan kamu masuk ?" tanya Dannis dingin, ia sedang duduk di sofa dengan sebatang rokok di tangannya. Rambutnya tampak acak - acakan.
"Aku membawa berkas hasil meeting kemarin." sahut Sam lalu ia meletakkan berkas tersebut di meja kerja Dannis.
"Apa ada masalah ?" tanya Sam lagi lalu ia berjalan kearah Dannis tapi ketika mau duduk, Dannis justru mengusirnya.
"Pergilah dari sini, aku malas melihatnya mu !!" ujar Dannis dengan menahan emosinya.
"Aku tidak mengerti maksudmu apa ?" tanya Sam heran dengan sikap Dannis terhadapnya.
"Aku masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan mu." sahut Sam tak kalah sinis.
"Sudah tahu dia milikku, tapi kamu masih saja mengejarnya." ujar Dannis sinis.
Sam mulai mengerti arah pembicaraan boss sekaligus sahabatnya itu, tapi justru ia nampak geram dengan laki - laki di depannya itu.
"Kalau kamu tidak becus menjaganya, lepaskan dia !! sentak Sam dengan emosi.
"Apa maksud kamu ?" tanya Dannis kini ia beranjak dari duduknya dan siap melayangkan pukulannya.
"Aku tahu kamu semalam bersama wanita itu kan, lalu kamu membiarkan Aline menunggumu hingga larut malam." ujar Sam dengan sinis.
"Jadi dia menungguku ?" tanya Dannis lagi.
"Ya dia menunggu laki - laki brengsek sepertimu hingga tubuhnya menggigil karena kedinginan." ucap Sam.
__ADS_1
Dannis merasa menyesal, laki - laki macam apa dirinya sampai tega membiarkan gadis yang ia cintai menderita karenanya. Tanpa mendengarkan Sam lagi, Dannis langsung mengambil kunci mobilnya dan segera pergi meninggalkan Sam yang masih emosi.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Apartemennya, di tengah perjalanan dia beberapa kali mengumpat dan memukul stir mobilnya untuk melampiaskan kebodohannya.
Tak lama kemudian ia sudah sampai Apartemennya dan segera memarkirkan mobilnya, dengan setengah berlari ia menuju lift.
Setelah sampai di depan pintu Apartemen Aline, ia beberapa kali memencet bel tapi gadis itu tak kunjung membukanya. Padahal ia tadi melihat mobil Aline masih terparkir di tempatnya.
Dannis semakin gelisah, ia mencoba menghubungi ponsel Aline tapi sama sekali tidak ada jawaban.
"Akhhh bodohnya aku, sepertinya aku masih mengingat passcodenya." Dannis mencoba mengingat passcode Apartemen Aline yang dia lihat diam - diam ketika mengantar Aline beberapa hari lalu.
Dannis nampak menekan beberapa nomor yang sepertinya cocok karena pintu Apartemen tersebut langsung terbuka. Ia segera masuk kedalam Apartemen tersebut.
"Sayang." panggil Dannis, ia menjelajah keseluruh ruangan tersebut.
"Apa dia di kamarnya ?" gumam Dannis lalu ia mengetuk pintu kamar Aline, berkali - kali ia mengetuk tapi tak ada sahutan dari dalam.
"Sayang." panggil Dannis lagi, ia mencoba memutar kenop pintu tapi sepertinya tidak di kunci kemudian ia langsung masuk kedalam.
"Astaga sayang." teriak Dannis ketika melihat Aline terbaring pingsan di lantai.
Dannis langsung membopong Aline ke ranjang dan segera menyelimutinya. "Kenapa badan mu dingin sekali ." ujar Dannis dengan panik lalu ia segera menelepon dokter keluarganya.
Beberapa saat kemudian dokter yang Dannis panggil sudah datang, dokter tersebut segera memeriksa keadaan Aline.
"Apa dia gadis yang kau ceritakan waktu itu ?" tanya dokter itu yang di ketahui bernama Edward. Selain sebagai dokter keluarga Bryan, Edward juga sahabat Dannis.
"Iya, bagaimana keadaannya ?" tanya Dannis tak sabar.
"Dia harus segera di infus, bisa kamu carikan sesuatu yang bisa untuk menggantung kantung infus ini." ujar Edward.
"Baiklah." Mata Dannis menjelajahi seluruh kamar untuk mencari sesuatu yang bisa ia pakai untuk menggantung kantung infus tersebut.
Matanya tertuju pada stand hanger besi yang berada di pojok kamar tersebut, lalu ia mengambil sebuah jas yang tergantung disana. Ia nampak tidak suka ketika melihat jas dan aroma parfum yang ia kenal, tapi saat ini bukan waktunya untuk memperdebatkannya karena saat ini keselamatan gadisnya itu jauh lebih penting.
Dannis segera meletakkan stand hanger itu di samping ranjang Aline dan dokter Edward segera menggantung kantung infus disana.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, apa dia baik - baik saja. Apa lebih baik di rawat di rumah sakit saja ?" Mendengar pertanyaan Dannis yang beruntun membuat dokter Edward memijit keningnya.
"Apa yang terjadi dengan gadis ini hingga ia hampir mengalami gejala hypotermia ?" tanya dokter Edward menatap kearah Dannis yang terlihat panik.