
"Aku sudah cukup mengalah Pa, sekarang aku tidak akan melakukan itu lagi. Jika Aline tidak bisa hidup bersamaku maka ia akan mati bersamaku." ucap Leon dengan pistolnya yang menekan ke kepala Aline.
"Leon, lepaskan istriku !! perintah Dannis dengan murka.
"Dia milikku kak."
"Jangan kurang ajar kamu, aku menyesal kenapa tidak dari dulu aku melemparmu ke jalanan." pekik Dannis.
"Bahkan di saat istri dan bayimu sedang berada di ambang kematian, kamu masih begitu arogan kak." Leon tersenyum sinis.
"Jaga ucapan mu Brengsek !!"
Melihat kemarahan Dannis, Leon semakin menekankan senjata tersebut ke kepala Aline hingga Aline meringis kesakitan.
"Aku memang brengsek kak, laki-laki brengsek ini yang sudah bertahun-tahun menginginkan perhatian dari kakaknya tapi apa yang dia dapat hanya makian." Leon mulai terisak.
"Kalau bisa memilih aku juga tidak mau lahir dari hasil perselingkuhan kak, lalu di mana salahku. Apa Tuhan menciptakan ku hanya untuk di salahkan. Aku begitu menyayangimu kak, di dunia ini hanya dirimu dan Papa yang ku miliki tapi kenapa sedikitpun kamu tidak bisa melihat ketulusan ku." ucapnya lagi.
Melihat tangan Leon yang bergetar karena emosi, Aline segera memukul tangan Leon hingga pistol tersebut terlempar jauh. Lalu ia menendang laki-laki tersebut hingga tersungkur jatuh.
Dannis yang melihat itu segera merangsek maju dan menghajar Leon secara membabi buta untuk meluapkan emosinya.
"Sayang, kamu bisa membunuhnya." Aline memeluk suaminya dari belakang agar ia berhenti memukul Leon lagi.
Merasa ada sentuhan hangat dari seseorang yang sudah dari kemarin ia rindukan, Dannis langsung berbalik badan dan memeluk erat istrinya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja, apa ada yang terluka ?" Dannis memeriksa keadaan istrinya, memastikan kalau wanita kesayangannya itu baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja Dannis, tapi adik kamu yang sedang tidak baik-baik saja." Aline merasa iba dengan keadaan Leon, bukan hanya karena bekas pukulan suaminya tapi lebih ke keadaan dia selama ini.
Dannis menatap Leon dengan ekspresi datar tak terbaca, tapi bukan ekspresi emosi seperti tadi. "Lupakan, dia pantas mendapatkannya." ujar Dannis seraya membawa Aline menjauh dari sana.
Selang beberapa saat, beberapa polisi datang untuk mengamankan Leon yang sudah tidak berdaya karena pukulan Dannis.
"Aku senang kamu menyentuhku kak, meski itu berupa pukulan." Leon tersenyum menatap Dannis ketika akan di bawa oleh para polisi tersebut.
Berjalan melewati tuan Nicholas, Leon menatap sinis Ayahnya kemudian ia di bawa pergi oleh para aparat kepolisian tersebut.
__ADS_1
"Ini semua salah Papa." ucap tuan Nicholas setelah Leon pergi meninggalkan Apartemen tersebut.
Lalu beliau berjalan mendekati Aline dan Dannis. "Maafkan Papa Nak." ucapnya dengan rasa menyesal.
"Semua sudah berlalu Pa, Aline sudah memaafkan Leon." ucap Aline.
"Sayang ?" ucap Dannis tak terima.
"Dannis, ku mohon maafkan lah Leon. Dia sangat menyayangimu." ujar Aline nampak memohon.
Dannis diam tak bergeming, entah terbuat dari apa hati istrinya itu. Padahal Leon sudah hampir mencelakainya tapi dia sedikitpun tidak ada rasa marah maupun dendam, justru dengan lapang memaafkan.
"Leon hanya korban sayang, dia melakukan itu semua karena dia hanya ingin kamu menganggapnya adik." Aline menatap manik suaminya itu.
"Sayang ku mohon ?" ucapnya lagi.
"Nanti kita bicarakan di rumah ya, sekarang kita harus segera ke dokter. Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita." ucap Dannis.
"Baiklah." sahut Aline pasrah.
"Sayang kamu baik-baik saja ?" Wira mendekati Aline dan langsung memeluknya.
Karena Aline tidak mau mengganggu acara orangtuanya yang sedang melakukan tour keliling dunia bersama Oma dan Oppanya, tuan Michael dan nyonya Celine yang sudah melakukannya terlebih dahulu.
"Kalau sampai hari ini nggak ada kabar dari mu, mungkin Om sudah menghubungi orangtuamu." Ujar tuan Wira sembari melirik sinis Dannis.
"Maafkan saya tuan Wira. Karena kesalahan saya, membuat menantu dan cucu saya hampir celaka." ucap tuan Nicholas, beliau menatap tuan Wira dengan rasa penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa tuan Nicholas, semua sudah berakhir." sahut tuan Wira. Kemudian beliau mengajak tuan Nicholas berlalu keluar dari Apartemen tersebut.
"Bro, terima kasih ya. Kalau tidak ada kamu entah bagaimana keadaan istriku." Dannis menghampiri Armand yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Tidak masalah bro, kita sudah berteman dari kecil sudah seharusnya saling menolong dan aku harap kamu bisa memaafkan Leon. Dia melakukan itu hanya ingin mencari perhatianmu." sahut Armand.
"Sebagai ucapan terima kasihku, kita akan lanjutkan kerja sama kita dan aku juga akan memberikan suntikan dana ke perusahaanmu."
"Terima kasih bro." Armand memeluk Dannis, ia merasa begitu bahagia padahal sebelumnya ia sudah pesimis dan menyerah.
__ADS_1
"Lebih baik kita pergi dari sini." ucap Dannis seraya menggandeng istrinya keluar dari tempat tersebut.
"Sam, bawakan aku salinan rekaman yang di bawa oleh petugas tadi. Aku ingin tahu, apa saja yang sudah Leon perbuat pada istriku." perintah Dannis sembari berjalan menuju lift.
DEG
Jantung Aline berdetak lebih cepat ketika mengingat rekaman tersebut, bagaimana kalau Dannis melihat Leon sudah menciumnya.
"Baik boss." ucap Sam.
Kemudian mereka masuk ke dalam lift, setelah sampai lobby mereka mulai berpisah. Sam di temani Armand pergi ke kantor polisi sedangkan Dannis dan istrinya pergi menuju rumah sakit.
"Sayang, kamu mau kan memaafkan Leon ?" ucap Aline sembari menatap lekat suaminya yang sedang fokus mengemudi.
"Aku sedang tidak ingin membahas itu sayang, okey ?" ucap Dannis dengan lembut, ia menatap istrinya sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
Mendengar perkataan suaminya, Aline nampak kecewa kemudian ia diam menatap lurus ke depan.
Sesampainya di rumah sakit, Dannis dan istrinya segera masuk ke ruangan dokter Sarah. "Selamat sore tuan Dannis ?" sapa dokter Sarah ketika melihat pemilik rumah sakit tempat dia bekerja masuk ke dalam ruangannya.
"Sore Mam, bisa tolong periksa keadaan istriku. Dia sedikit shock karena suatu hal, aku takut akan mengganggu bayinya." ucap Dannis pada dokter setengah baya itu.
"Baiklah bu Aline silakan naik ke atas ranjang !!" perintah dokter Sarah, kemudian ia bangkit dari duduknya dan mulai memeriksa Aline.
"Bayi kalian baik-baik saja, detak jantungnya juga normal, perkembangannya cukup bagus." ucap dokter Sarah.
"Tapi istri saya lebih sering muntah Mam."
"Itu wajar di trisemester pertama, sepertinya Ibu Aline juga sudah bisa mengatasinya."
"Lalu apa boleh..." Dannis belum menyelesaikan perkataannya tapi dokter Sarah sudah memotongnya.
"Sebenarnya di trisemester pertama belum boleh berhubungan badan, karena janin masih lemah tapi kalian bisa mencobanya tapi harus sangat pelan dan lembut." potong dokter Sarah, ia selalu tahu apa yang ada di dalam otak Dannis.
Karena dokter Sarah adalah sahabatnya mendiang Ibunya Dannis, jadi beliau sudah menganggap Dannis seperti anak sendiri.
Dannis yang mendengar perkataan dokter Sarah, nampak sangat girang. Sepertinya ia akan mengakhiri puasanya. "Kamu selalu bisa di andalkan Mam." ucap Dannis senang.
__ADS_1
Sedangkan Aline sudah merona malu karena tingkah suaminya itu, yang tak sungkan membahas masalah ranjang dengan orang lain. Meski dengan seorang dokter sekalipun.