
"Bang bull." Aline membangunkan suaminya yang sedang terlelap tidur, tapi suaminya itu tak kunjung bangun.
"Sayang." Aline mengguncang tubuh suaminya lagi hingga terdengar lenguhan dari laki-laki yang masih menutup matanya itu karena rasa kantuk yang melandanya.
"Aku ingin makan mie." ucap Aline lagi dengan lirih takut suaminya marah.
"Kamu lapar lagi ?" Dannis melihat jam di atas nakas, baru menunjukkan pukul satu malam, itu berarti baru dua jam dia terlelap.
"Hmm, aku ingin makan mie instan tapi di dapur tidak ada."
"Aku sudah membuang semua, itu makanan tidak sehat untuk ibu hamil." Dannis mengingat sejak mengetahui istrinya hamil, ia membuang semua makanan instan yang tersimpan di kitchen set nya baik itu di Apartemennya atau di Mansion Ayahnya.
"Tapi aku kepingin." Aline mengiba, berharap suaminya itu mau membelikannya.
"Nggak sayang, kalau lapar akan ku suruh pelayan buatkan makanan yang lain." tolak Dannis.
"Aku cuma ingin makan mie."
Melihat istrinya mengiba, rasanya Dannis sangat tidak tega. "Apa kamu mau makan mie di chinese resto di ujung jalan sana ?"
"Kamu mau menemaniku ?" Aline terlihat girang.
"Apa sih yang nggak buat kamu sayang." Dannis menangkup kedua pipi istrinya lalu mengecup bibirnya.
Setelah itu ia bangkit dari ranjangnya, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Kemudian mengambil kaos rumahan di lemarinya.
"Bahkan hanya dengan penampilan seperti itu saja, kadar ketampanannya tak berkurang."
Aline melihat penampilan suaminya meski hanya mengenakan celana boxer dan rambut acak-acakan khas bangun tidur namun terlihat sangat tampan.
"Apa kamu terpesona dengan ketampanan ku ?" ledek Dannis ketika melihat istrinya tak berkedip menatapnya.
"Nggak, aku hanya memastikan kamu masih mengantuk atau tidak. Sangat berbahaya jika menyetir dengan keadaan mengantuk." sahut Aline beralasan.
"Benarkah, apa kamu sedikitpun tak terpesona denganku ?" Dannis melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya.
"Ayo, aku lapar !!"
"Sebentar, suamimu ini butuh upah sayang." Dannis masih belum melepaskan pinggang istrinya itu bahkan tubuh mereka kini saling menempel hingga tak ada celah sama sekali.
"Sama istrinya saja perhitungan." cebik Aline.
"Cium dulu, baru pergi." pinta Dannis yang sudah memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
Dengan ragu Aline memajukan bibirnya, mengecup bibir suaminya tapi ketika akan menyudahi kecupannya justru Dannis memegang tengkuknya dan memperdalam ciumannya.
Puas melum😘t bibirnya, kini lidahnya memaksa masuk untuk mengabsen barisan gigi di sana. Menyesapnya hingga membuat seluruh tubuhnya bergetar seperti terkena aliran listrik dan tangannya bermain-main di dua gundukan favoritnya.
Merasakan ada sesuatu yang menegang di bawah sana, ia cepat-cepat menyudahi permainannya. Karena kalau tidak, pertahanannya akan goyah dan menerkam istrinya saat itu juga.
Dannis melepaskan panggutannya, membiarkan istrinya menghirup oksigen sebanyak mungkin. Lalu tangannya mulai mengancingkan piyama tidur istrinya yang terlepas karena ulahnya tadi.
Setelah merapikan pakaiannya mereka bergegas keluar dari Mansion Ayahnya, Dannis mengemudikan mobilnya dengan kencang karena jalanan lumayan lenggang, hanya satu dua mobil yang lewat.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah resto kecil tapi selalu rame pengunjungnya meski sudah tengah malam. Mungkin karena satu-satunya resto Cina yang buka sampai pagi di daerah tersebut.
"Apa kamu mampu menghabiskannya sendiri sayang ?" Dannis tercengang ketika mie pesanan istrinya datang, seporsi besar mie panjang umur atau siu mie dengan saus kental kepiting dan telur puyuh di atasnya.
"Ini sangat nikmat." sahut Aline sembari memakan mie tersebut dengan sumpitnya.
Dannis terkekeh, rasa kantuk dan lelahnya langsung lenyap ketika melihat istrinya yang biasanya susah makan kini ia makan dengan lahap.
"Sepertinya baby kita sangat kelaparan sayang"
"Tentu saja, dia butuh makan untuk tumbuh." celetuk Aline dengan mulut penuh makanan. "Apa kamu mau ?"
"Nggak sayang, aku minum teh herbal ini saja." Dannis menyesap secangkir teh bunga krisan hangat.
Setelah menghabiskan seporsi besar mie, Aline mengajak suaminya untuk pulang. Sepertinya ia benar-benar sangat kenyang hingga baru saja duduk di dalam mobilnya, ia sudah terlelap.
Ehhmmm
Suara deheman tuan Nicholas mengagetkan Dannis yang akan naik tangga. "Pa."
"Darimana tengah malam begini ?"
"Istriku lapar Pa, dia ingin makan mie."
"Tidak bagus udara malam untuk wanita hamil, besok-besok jangan ulangi lagi." gerutu tuan Nicholas.
"Baik Pa." sahut Dannis lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
Ini yang Dannis tidak suka tinggal di Mansion tersebut, karena Ayahnya sangat cerewet menurutnya dan mungkin besok ia akan mengajak istrinya untuk pulang ke Apartemennya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Dannis merebahkan istrinya di ranjangnya lalu menyelimutinya. Kemudian ia melepas kaos yang melekat di badannya, lalu masuk ke dalam selimut dan memeluk istrinya dengan erat dan tak menunggu lama ia ikut juga terlelap.
"Apa kamu yakin, kita akan pulang ke Apartemen ?" tanya Aline keesokan harinya ketika sedang sarapan bersama.
__ADS_1
"Iya sayang, jarak Apartemen dan kantor tidak terlalu jauh jadi aku bisa setiap hari menjagamu dan menemanimu makan siang." sahut Dannis beralasan.
"Padahal aku betah tinggal disini, lagipula di sini ada Papa yang menemaniku makan siang." Aline melihat Ayah mertuanya yang sedang menikmati sarapannya.
"Tidak apa-apa ikuti kata suamimu, lain kali kalau ada waktu kalian bisa menginap disini lagi." ucap tuan Nicholas menimpali, meski beliau berat hati.
Karena sejak anak dan menantunya itu menginap di kediamannya, Mansion tersebut nampak ada tanda-tanda kehidupan karena sifat cerianya Aline membuat tempat tersebut terlihat ramai.
Sedangkan Leon, seperti biasa ia hanya diam menyaksikan karena keberadaannya di sana sudah seperti bayangan bagi Dannis. Entahlah dari dulu sejak kedatangannya ke Mansion tersebut Dannis sudah menunjukkan sikap tidak sukanya.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Dannis berangkat ke kantornya tapi terlebih dulu ia mengantar istrinya itu ke Apartemennya.
"Kalau kamu kesepian di sini, kamu bisa main ke kantor ku." ucap Dannis ketika sudah berada di Apartemennya.
"Iya nggak apa-apa, aku akan istirahat saja. Sekarang pergilah ke kantor."
"Baiklah." ucap Dannis lalu mengecup bibir istrinya dan setelah itu ia berangkat ke kantornya.
Hueeekkk
Aline berlari ke kamar mandi, perutnya begitu terasa mual. Padahal beberapa hari menginap di Mansion mertuanya dia sama sekali tidak merasakan mual.
Setelah keluar dari kamar mandi, ia terlihat pucat dan lemas. Ia tidak mungkin menghubungi suaminya, karena takut mengganggu pekerjaannya. Aline merebahkan dirinya di ranjang dan mencoba untuk istirahat, ia akan berusaha menikmati setiap momen kehamilannya meski itu berat sekalipun.
.
.
"Sudah beberapa hari tapi belum ada kabar dari tuan Dannis. Apa aku ke kantornya saja untuk menanyakannya lagi ?" ucap Angel asistennya Armand.
"Kita tunggu beberapa hari lagi."
"Kamu bilang tuan Dannis menyukai wanita Asia sepertiku, bagaimana kalau aku merayunya sedikit. Selama ini tak ada seorangpun yang bisa menolak pesonaku terutama kamu." Angel mulai duduk di pangkuan Armand.
"Tapi istrinya lebih cantik darimu."
"Tapi aku lebih pintar di ranjang."
"Aku tidak yakin Dannis menyukai mu, karena wanita-wanita yang pernah berkencan dengannya adalah para wanita bangsawan di negeri ini."
"Aku akan mencobanya ?" Angel membuka beberapa kancing kemeja Armand.
"Lebih baik kamu urungkan niatmu, kita tunggu beberapa hari dulu." Armand menahan tangan Angel ketika akan meraba dada bidangnya, kemudian ia beranjak dari duduknya.
__ADS_1
.
Maaf ya gengs baru bisa up, beberapa hari ini sangat sibuk. Siapa yang kangen sama Othor peyuk atu-atu 🤗 ayo comment biar tambah semangat up nya.