Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Kencan ??


__ADS_3

Ketika berada di lobby kantor, Dannis berpapasan dengan Aline yang juga akan keluar dari kantornya.


"Kamu ?" Aline mengerutkan dahinya ketika Dannis tiba - tiba menggandeng tangannya.


"Mau makan siang ?" tanya Dannis sambil berjalan keluar dari kantor tersebut.


"Kamu ngapain disini ?" tanya balik Aline yang masih bingung dengan keberadaan Dannis di kantornya.


"Mau mengajakmu kencan." ucap Dannis yang seketika membuat Aline berhenti dari langkahnya.


"Anggap saja ini kencan pertama kita." ujar Dannis lagi sambil menarik tangan Aline menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


Dannis segera membukakan pintu untuk gadisnya itu, setelah itu ia memutari mobilnya lalu masuk dan duduk di balik kemudi.


"Mau kemana ?" tanya Aline masih bingung dengan ajakan Dannis yang tiba - tiba.


"Duduk saja dengan manis, pasti kamu akan menyukai tempatnya." ucap Dannis sambil melajukan kendaraannya.


Tak berapa lama kemudian Dannis sudah memarkirkan mobilnya di sebuah Cafe dipinggir pantai.


Setelah Aline keluar dari mobilnya, Dannis langsung menggandengnya dengan erat menuju Cafe tersebut.


"Astaga." ucap Aline ketika melihat seluruh pemandangan laut yang terlihat dari dalam Cafe.


"Kamu suka ?" tanya Dannis seraya melihat Aline yang nampak terpesona dengan pemandangan di depannya itu.


"Hmmm, tidak terlalu buruk." sahut Aline.


"Baiklah kamu mau makan apa ?" tanya Dannis lagi seraya menyerahkan buku menu.


Ketika Aline sedang memilih - milih menu, tiba - tiba ada seorang wanita yang menghampiri meja mereka.


"Hai tampan, lama tidak berjumpa ?" Wanita itu menyentuh bahu Dannis dan ketika akan mendaratkan kecupannya Dannis sudah menahannya terlebih dahulu.


"Jaga sikapmu ?" ucap Dannis dengan tegas, hingga membuat wanita tersebut memicingkan matanya.


"Wow, apa dia wanita barumu ?" ujar wanita itu seraya memandang Aline dengan sinis.


"Dia calon istriku." ucap Dannis dengan tegas.


Mendengar ucapan Dannis, seketika wanita itu tertawa nyaring. "Becandamu sangat tidak lucu Dannis, apa seperti ini caramu menghindariku. Kamu tahu, aku sangat merindukan permainan ranjangmu." ujar wanita tersebut dengan sedikit berbisik tapi bisa kedengaran oleh Aline yang sedari tadi bersikap cuek dengan membaca buku menu.


"Pergilah dari Sini Carmen !!" sentak Dannis dengan tegas hingga membuat wanita itu sedikit bergeser.

__ADS_1


"Kamu becandakan Dannis ?" ucap wanita itu yang di ketahui bernama Carmen, ia sedikit terkejut karena yang ia tahu selama ini Dannis selalu bersikap lembut padanya.


Brakkkkkkk


Aline segera menggebrak meja hingga membuat Dannis dan wanita tersebut tampak terkejut.


"Nona apa anda tidak mempunyai harga diri sebagai seorang wanita ?" ucap Aline dengan wajah datar.


"Harga diri, aku adalah seorang putri bangsawan." ucap wanita itu dengan angkuh.


"Seorang bangsawan tidak akan menggoda calon suami orang, murah sekali anda sebagai wanita." ucap Aline mengejek.


"Kau ?" wanita itu sudah melayangkan tamparannya tapi Aline segera menahannya.


"Saya ingatkan jangan pernah mengganggu calon suami saya !!" ucap Aline dengan menghempaskan tangannya hingga wanita tersebut tampak terhuyung.


Wanita itu menatap tajam pada Dannis maupun Aline kemudian ia berlalu pergi dari sana.


Dannis hanya bisa menatap takjub pada Aline, ia merasa hatinya berbunga - bunga ketika gadis kecilnya itu mengakuinya sebagai calon suaminya.


"Kamu hebat sayang." ucap Dannis.


"Kamu jangan terlalu kepedean ya, aku melakukannya karena menjaga harga diriku dan aku ralat kata - kata calon suami tadi. Karena sampai kapanpun kita tidak akan menikah." ujar Aline seraya menatap Dannis yang sedari tadi tersenyum lebar.


"Aku jadi penasaran berapa banyak wanita yang sudah kamu kencani dan sepertinya tanganku ini sekali - kali butuh olah raga ?" ucap Aline dengan sinis.


"Sayang, aku sudah berubah dan aku tidak akan membiarkan tanganmu itu untuk melakukan kekerasan lagi." tutur Dannis seraya memegang tangan gadisnya itu.


"Apa masih sakit ?" tanya Dannis lagi seraya mengusap lembut tangan Aline yang tampak merah karena menggebrak meja tadi.


"Tidak." ucap Aline dengan ketus.


"Sayang, dia hanya wanita dari masa laluku. Hubungan kami dulu hanya sebatas have fun." tutur Dannis ia berusaha menjelaskan agar Aline mau mempercayainya.


"Aku tidak peduli dan sepertinya aku sudah tidak berselera makan disini." ucap Aline seraya beranjak dari duduknya, hatinya terasa panas ketika Dannis membahas wanita lain.


"Apa kamu mau makan di tempat lain ?" tanya Dannis, ia mencoba membujuk gadis kecilnya itu.


"Aku mau makan di Cafetaria perusahaan kamu." sahut Aline.


"Apa kamu yakin, mau makan disana ?" tanya Dannis lagi, kali ini ia menghentikan langkah Aline.


"Tentu saja, kenapa kamu gugup seperti itu. Apa ada yang kamu sembunyikan ?" tanya Aline seraya memandang Dannis dengan intens.

__ADS_1


"Bukan begitu sayang, kamu boleh kok kapanpun ke kantorku."


"Ya sudah Ayo !!" sahut Aline seraya berjalan meninggalkan Dannis yang masih berdiri di tempatnya, entah apa yang sedang di pikirkan laki - laki itu. Raut wajahnya langsung berubah pucat ketika Aline memintanya untuk ke kantornya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di lobby kantor Dannis. Aline yang biasa bersikap cuek, kini ia dengan sengaja menggandeng Dannis dengan mesra dan itu membuat Dannis heran bercampur senang.


Banyak karyawan kantor disana yang saling berbisik ketika melihat bossnya bergandengan mesra dengan seorang wanita. Karena selama ini meski rumornya sebagai cowok playboy, Dannis sama sekali tidak pernah menunjukkan kemesraan di depan umum.


"Kakak ipar." Panggil Leon dengan berteriak sehingga sebagian karyawan yang berada di lobby tersebut seketika melihat interaksi antara adik dari bossnya itu dan wanita yang sedang bersama bossnya.


"Leon, kamu disini ?" tanya Aline seraya berjalan kearah Leon dan meninggalkan Dannis yang terlihat sedang mengobrol dengan beberapa karyawannya.


"Kamu ngapain disini ?" tanya balik Leon.


"Aku lapar." sahut Aline.


"Kamu kira tempat ini restoran." seru Leon sambil tertawa.


"Apa kamu mau menemaniku makan di Cafetaria atas ?"


"Kamu tahu darimana tempat ini ada Cafetarianya ?" tanya Leon lagi.


"Aku dulukan pernah kerja disini."


"Benarkah ?" Leon tampak terkejut.


"Ayo aku sudah lapar !" sahut Aline seraya menarik tangan Leon agar mengikutinya berjalan.


Dannis yang sedari tadi mengawasinya, tampak ada kekecewaan di raut wajahnya.


Tak lama kemudian Mereka sudah berada di Cafetaria bersama Sam yang juga kebetulan sedang makan siang disana.


"Apa kabar Al ?" Sam sedikit canggung ketika bicara dengan gadis di depannya itu, ini pertama kali mereka bicara sejak terakhir bertemu di Apartemennya bersama Dannis.


"Aku, baik dong. Sepertinya kamu yang sedang tidak baik." ucap Aline, ia melihat sahabatnya itu yang terlihat muram.


"Aku ?" tanya Sam sepertinya ia tidak mengerti dengan ucapan Aline.


"Iya kamu, kamu sepertinya sedang patah hati ya ?" tanya Aline dengan mulut penuh makanan.


"Iya nih kak Sam, tidak pernah lihat pacaran tapi sudah patah hati saja. Jangan - jangan dia pacaran dengan makhluk halus lagi." celetuk Leon yang seketika membuat Aline tertawa.


Dan seketika Sam juga ikut tertawa, sepertinya kedatangan Aline membuat moodnya membaik. Mereka saling bercanda seperti teman yang lama tidak pernah bertemu, tapi tanpa mereka sadari sedari tadi Dannis sudah mengawasinya dengan penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2