Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
kemarahan Wira


__ADS_3

Malam itu Armand sedang berada di dalam Club, memikirkan perusahaannya yang hampir bangkrut membuatnya begitu frustrasi. "Hai, bro." sapa Leon yang tiba-tiba duduk di depannya.


Armand hanya memperhatikan wajah Leon sekilas lalu menyesap lagi gelasnya yang berisi alkhohol.


"Sendirian saja ?" tanya Leon lagi.


"Seperti yang kamu lihat."


Kemudian Leon memanggil pelayan dan memesan sebotol whiskey. "Kamu mau mabuk juga ?" tanya Armand yng sedikit tak percaya, yang ia tahu sahabatnya itu jarang sekali menyentuh alkhohol apalagi sampai mabuk.


"Aku lagi senang." sahut Leon.


"Maksud kamu ?" Armand mengerutkan keningnya.


"Lagi senang saja." jawab Leon ambigu, kemudian ia meneguk minumannya lagi langsung dari botolnya.


"Bro, hentikan. Jika kamu ada masalah, katakan ? jangan seperti ini, kamu bukan seperti yang ku kenal." teriak Armand sembari menahan botol whiskey tersebut.


"Lepaskan, aku sedang bahagia." Leon mulai merancau.


"Shit, aku kesini mau hilangin stres justru kamu bikin stres." gerutu Armand yang melihat Leon sudah hampir mabuk.


"Aku mau menikah bro." rancau Leon lagi setengah sadar.


"Jangan bicara sembarangan bro, kamu mau nikah sama siapa kekasih saja tidak punya."


"Sama Aline, aku akan menikahinya. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia, tidak ada perselingkuhan, anak-anak kita akan rukun tidak ada permusuhan seperti kak Dannis dan aku."


Arman hanya menggelengkan kepalanya, dia tahu sahabatnya itu belum bisa mengikhlaskan Aline bersama kakaknya.


"Ayo ku antar pulang !!" Armand memapah Leon dan membawanya keluar dari club tersebut.


Kemudian Armand mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju Apartemennya Leon yang jarang sekali di tempati, karena memang Leon membeli Apartemen tersebut diam-diam dari Ayahnya. Leon akan menempatinya jika sedang ingin menyendiri dan hanya Armand yang tahu tempat itu.


Armand tidak mungkin membawanya pulang karena tuan Nicholas pasti akan marah besar jika mengetahui anaknya mabuk berat seperti saat ini.


"Lepaskan bro aku bisa masuk sendiri !!" ujar Leon ketika Armand baru membuka pintu Apartemen tersebut yang ternyata lampunya sudah nyala semua sebelumnya, Armand mengerutkan keningnya heran tapi ia langsung menepis pikirannya mungkin sebelumnya Leon sudah menempatinya.


Kemudian Armand beranjak pergi setelah memastikan sahabatnya itu masuk dan menutup Apartemennya kembali.


.


.


.


Dannis yang dari kemarin mencari istrinya , ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya semalaman. Ia rela jika harus tidur di sofa setiap malam asal ada istrinya yang menemaninya.


"Sayang kamu di mana ?" gumam Dannis pagi itu.

__ADS_1


Sudah dari kemarin Aline tak kunjung pulang, Dannis begitu frustrasi mencarinya. Nampak lingkaran hitam di matanya, menandakan bahwa ia semalam tidak tidur.


Ia merasa gagal menjadi suami karena tidak bisa menjaga dan melindungi istrinya. Selama ini ia merasa tidak pernah mempunyai musuh, mungkin ada beberapa pesaing bisnisnya tapi mereka selalu bersaing secara positif.


"Bro, apa sudah ada kabar dari kepolisian ?" tanya Dannis ketika menghubungi Sam melalui ponselnya.


"Belum ada boss." sahut Sam dari ujung telepon.


"Kamu kosongnya jadwalku hari ini, aku akan mencari istriku lagi !!" perintah Dannis.


"Baik boss, aku akan menemanimu." sahut Sam lalu menutup teleponnya.


Dannis segera keluar dari Apartemennya, sepertinya ia sudah melupakan mandi dan makan. Di pikirannya hanya ada Aline dan Aline saja.


Sesampainya di lobby, ternyata Sam sudah menunggunya. "Nggak mandi dulu boss ?" tanya Sam yang melihat Dannis masih memakai kemeja kemarin dengan bau rokok yang menyengat.


"Bagaimana aku bisa memikirkan diriku sendiri, sedangkan aku tidak tahu bagaimana keadaan istri dan anakku sekarang." Dannis nampak frustrasi.


Kemudian ia berjalan ke arah mobilnya, tapi belum sempat masuk ia di kagetkan dengan suara bass yang memanggilnya lalu ia berbalik badan lagi.


"Dannis ?"


"Apa yang sudah terjadi dengan keponakan ku ?" sentak Wira dengan geram, ia mencengkeram kerah Dannis dan siap melayangkan tinjuannya.


"Om tahu ?" Dannis terkejut, kalau om Wira tahu berarti mertuanya juga pasti tahu. Pikirnya, lalu ia menatap curiga Sam.


Mendapat tatapan sinis dari Dannis, Sam langsung berusaha menjelaskan. "Maaf boss aku yang menelepon tuan Wira tadi pagi, siapa tahu beliau tahu teman-teman Aline dan kita bisa mengeceknya kesana."


Kemudian Dannis menceritakan kejadian yang sebenarnya dan menunjukkan rekaman cctv tersebut.


"Maaf Om, saya sudah lalai menjaga istri saya." ucap Dannis dengan rasa penyesalan.


"Kamu memang nggak pecus jadi suami." cibir Wira geram.


"Maaf Om."


"Jika terjadi apa-apa dengan Aline, kamu orang pertama yang akan ku habisi." ancam Wira.


"Maaf Om." ucap Dannis tak berkutik.


Sam yang mendengar perkataan Wira langsung menelan salivanya dengan kasar, ternyata posisi Dannis sebagai CEO di perusahaannya tidak ada gunanya jika berhadapan dengan laki-laki di depannya itu.


Tak berapa lama nampak Armand berjalan mendekat ke arah Dannis berada. "Bro, bisa kita bicara sebentar ?" ucap Armand dengan wajah lesu.


"Ada apa, aku sedang ada urusan penting ?"


"Tapi masalah ku juga penting bro, ini terakhir kalinya aku memohon padamu. Tolonglah beri suntikan dana pada perusahaan ku atau kita lanjutkan kerja sama kemarin." pinta Armand dengan mengiba.


"Istriku menghilang dan sampai sekarang belum ketemu."

__ADS_1


"Apa, sejak kapan ?"


"Kemarin siang, dia di bawa oleh seorang pria entah pergi kemana."


Seketika Armand mengingat kejadian tadi malam di Club bersama Leon, apa mungkin Leon yang melakukannya. Pikir Armand.


"Bro, apa mungkin Leon yang melakukannya ?" ucap Armand sedikit ragu.


"Apa maksud kamu ?" tanya Dannis geram.


Kemudian Armand menceritakan kejadian di Club semalam hingga ia mengantar Leon yang sedang mabuk ke dalam Apartemennya.


"Antarkan aku kesana !!" perintah Dannis, meski ia tidak sepenuhnya mempercayai perkataan Armand.


Setelah itu mereka bersama-sama pergi menuju Apartemennya Leon.


.


.


.


Pagi itu Leon terbangun dengan merasakan kepalanya yang pening karena pengaruh alkhohol semalam.


"Sudah bangun boss ?" tanya seorang pria berkepala botak tersebut ketika melihat Leon yang sudah duduk di sofa.


"Bagaimana keadaan wanita itu ?" tanya Leon.


Kemudian si botak itu memberikan rekaman cctv yang ada di kamar tersebut.


"Astaga, sepertinya ia bersiap-siap untuk menghabisiku." Leon terkekeh ketika melihat Aline sedang berlatih taekwondo di dalam kamar.


Sejak kemarin Leon belum berani bertemu dengan Aline, ia masih memantapkan hatinya untuk bertemu dengan wanita pujaannya itu.


"Apa dia sudah makan ?"


"Dia makan sangat banyak boss." sahut pria berkepala botak itu dengan memainkan senjata api di tangannya.


"Jangan membuatnya takut, dia wanitaku." teriak Leon sembari menatap senjata api tersebut.


"Saya terpaksa melakukannya boss, kalau tidak dia akan menyerangku. Wanitanya boss sedikitpun tidak ada rasa takut."


"Maka dari itu aku bertahun-tahun menyukainya, aku ingin hidup dan mati bersamanya." ucap Leon sinis.


Kemudian ia bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai membersihkan dirinya dia melangkahkan kakinya menuju kamar Aline.


Di bukanya pintu kayu bercat putih itu, lalu masuk ke dalam. Ia melihat Aline sedang makan. "Al ?" panggil Leon yang seketika membuat Aline terbelalak.


"Leon, apa yang sedang kamu lakukan disini. Apa kamu yang menculikku ?" pekik Aline.

__ADS_1


"Tenang Al, kalau tidak senjataku ini bisa melukai bayimu itu ." ucap Leon dengan memainkan senjata api di tangannya.


__ADS_2