Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Di culik ?


__ADS_3

"Bodoh, kenapa kamu mengacaukan rencana ku ?" Armand sangat geram ketika Angel mengadu padanya sore itu.


"Maaf aku sudah lancang menemuinya tanpa memberitahu mu dahulu, aku pikir tuan Dannis akan mudah ku tangani." sesal Angel.


"Dannis pasti akan semakin membenciku, kamu tahu cuma dia yang bisa menolongku karena beberapa bank sudah menolak pengajuan kita." Armand nampak frustrasi, ia mengacak rambutnya dengan kasar.


"Maafkan aku." Angel berjalan mendekati Armand dan langsung memeluknya, karena biasanya laki-laki di depannya itu akan luluh ketika ia memeluk dan mencumbunya.


"Pergilah dan renungkan kesalahan mu !!" Armand menahan tangan Angel dan sedikit mendorongnya.


Mendapatkan penolakan, Angel merasa kecewa dan langsung pergi meninggalkan ruangan Armand.


"Baru kali ini Armand menolakku, aku jadi penasaran seperti apa istri Dannis hingga laki-laki itu juga sedikitpun tak melirikku." gumam Angel ketika sudah berada di meja kerjanya.


.


.


.


Hueeekkk


Aline segera berlari ke kamar mandi ketika merasa mual di perutnya, sudah beberapa hari ini setiap bangun tidur ia selalu mual dan muntah.


Dannis yang sedang tidur di sofa, langsung terbangun ketika mendengar istrinya muntah-muntah. Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan mencoba memijat tengkuk istrinya.


"Sayang, pergilah kamu membuatku semakin mual !!" pinta Aline hingga membuat Dannis berangsur menjauh, ada perasaan kecewa ketika istrinya menolaknya.


Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dan duduk di sofa lagi, mengusap wajahnya dengan kasar menandakan saat ini ia sedang frustrasi.


"Bagaimana sudah enakan ?" tanya Dannis ketika melihat istrinya baru keluar dari kamar mandi.


"Rasanya lebih baik." Aline mengambil air hangat di dispenser lalu segera meminumnya.


"Maaf ya gara-gara mengandung anakku, kamu jadi tersiksa begini."


"Nggak apa-apa, aku menikmatinya kok." Aline tersenyum pada suaminya, meski wajahnya terlihat sangat pucat.


Melihat istrinya yang selalu berusaha untuk ceria dan tidak pernah mengeluh, membuat Dannis sangat bersyukur. Karena istrinya itu tidak merasa tertekan atau sedih dengan keadaannya sekarang.


"Aku mandi dulu ya, pagi ini ada meeting." Dannis bangkit dari duduknya kemudian berlalu ke kamar mandi.


Setelah itu Aline bergegas ke dapur untuk membuatkan suaminya sarapan pagi, dia membuat sandwich tuna kesukaan suaminya.


"Sayang, kenapa nggak istirahat saja aku bisa sarapan di kantor." Dannis yang baru keluar dari kamarnya langsung mencari istrinya ke dapur.


"Nggak apa-apa aku ingin perut kamu terisi sebelum ke kantor." ucap Aline sembari mendorong piring berisi sandwich ke depan mejanya.


"Kamu nggak sarapan juga ?" Dannis melihat istrinya hanya duduk saja sembari memperhatikannya makan.


"Nanti, setelah kamu pergi ke kantor."

__ADS_1


"Maaf ya gara-gara aku...."


"Nggak apa-apa." potong Aline, ia merasa tidak enak karena setiap waktu suaminya itu selalu menyalahkan dirinya sendiri padahal mual di awal trisemester peetamabadalah sebuah kewajaran dan banyak wanita hamil di luar sana juga mengalaminya.


Selepas sarapan, Dannis bersiap-siap untuk pergi ke kantornya. "Nanti aku akan pulang lebih awal, setelah itu kita akan pegi ke dokter lalu ke rumah Papa." ucap Dannis ketika akan berangkat ke kantor.


"Iya."


"Apa hari ini aku boleh bertemu Sofia, aku ingin menemaninya untuk fitting baju ?" pinta Aline.


"Nanti aku suruh sopir kantor untuk mengantar mu."


"Tapi aku bisa bawa mobil sendiri."


"Aku nggak suka di bantah, oke ?"


"Hmm."


"Baiklah, aku pergi dulu ya." Dannis ingin sekali mencium dan memeluk istrinya sebelum berangkat tapi ia segera urungkan niatnya, ia tidak mau kalau istrinya akan mual karena perbuatannya.


"Hati-hati sayang." ucap Aline ketika mengantar suaminya keluar Apartemen, setelah suaminya berlalu pergi ia masuk kembali.


Lalu ia pergi ke dapur, ia biasanya akan memulai sarapan ketika Dannis sudah tidak ada. Karena jika ada suaminya itu ia akan langsung mual ketika mencium aroma tubuhnya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, ia segera membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu Sofia.


Satu jam kemudian ia selesai bersiap-siap, kemudian ia keluar dari Apartemennya untuk menunggu sopir yang akan mengantarnya di lobby.


"Ikuti aku, kalau tidak peluru ini akan menembus janinmu !!" bisik laki-laki tersebut.


Aline terkesiap, ia ingin melawan tapi laki-laki tersebut sudah menekan pinggangnya dengan senjata apinya. Bergerak sedikit saja mungkin pria tersebut langsung menarik pelatuknya, apalagi sejak hamil ia merasa tak bertenaga dan akhirnya ia hanya bisa mengikuti laki-laki tersebut masuk ke dalam mobilnya.


"Kalian mau apa ?" tanya Aline ketika melihat ada beberapa pria di mobil tersebut.


"Tenang lah nona kami hanya menjalankan perintah boss."


"Aku tidak mengenal boss mu." teriak Aline.


"Buat wanita ini diam, aku tidak mau ada petugas yang curiga." ucap laki-laki yang sedang duduk di balik kemudi.


Lalu pria yang sedang duduk di sebelahnya Aline, langsung mengambil sapu tangan yang sudah di semprot dengan obat tidur dan langsung membekap mulutnya.Beberapa detik kemudian Aline sudah tak sadarkan diri.


.


.


.


"Kenapa ada di sini, bukannya tadi pagi aku suruh kamu untuk mengantar istriku pergi ?" tanya Dannis siang itu ketika baru kembali dari meeting bersama Sam.


"Maaf tuan, saya sudah menunggu nyonya Aline sampai siang tapi beliau nggak ada." sahut sopir kantor tersebut.

__ADS_1


"Apa kamu yakin istriku nggak ada ?"


"Benar tuan, hampir tiga jam saya menunggu di lobby Apartemen."


"Kemana dia ?" Dannis mengambil ponsel di saku celananya dan langsung menelepon istrinya.


"Shit, kenapa ponselnya nggak aktif." Dannis berkali-kali menghubungi Aline tapi ponselnya tersebut selalu di luar jangkauan.


"Apa kita cek ke Apartemen saja boss ?" ujar Sam yang ikut khawatir ketika melihat kecemasan di wajah Dannis.


"Baiklah." dengan langkah cepat Dannis melangkah menuju mobilnya yang di parkir tak jauh dari sana.


Kemudian Sam melajukan mobilnya dengan kencang menuju Apartemennya Dannis. Sesampainya di Apartemen, Dannis segera berlari menuju lift. Perasaannya mulai tidak enak, ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


"Sayang." panggil Dannis ketika baru membuka pintu.


"Sayang."


"Sayang."


Dannis mencari setiap sudut Apartemennya tapi tak kunjung menemukan istrinya, ia hanya mencium wangi parfum istrinya saja disana.


"Istriku nggak ada Sam, apa kamu sudah menghubungi Sofia ?" Dannis nampak frustrasi.


"Sudah boss, Sofia juga sedang menunggunya dari tadi."


"Shit, kemana dia."


"Bagaimana kalau kita cek cctv di bawah ?"


"Ya kamu benar, ayo." Dannis langsung meninggalkan Apartemennya dan pergi menuju ruangan security yang ada di lobby.


Sesampainya di ruangan security tersebut, Sam langsung minta rekaman cctv hari itu.


"Astaga, ini bukannya Aline boss ?"


"Shit, siapa pria itu ?" Dannis geram ketika Aline nampak akrab dengan seorang pria bahkan pria tersebut terlihat memeluk pinggang Aline.


"Apa istriku selingkuh ?" ucapnya lagi.


"Jangan mengambil kesimpulan sendiri boss, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi bisa jadi Aline di culik." sanggah Sam.


"Kamu lihat mereka pergi berdua dan masuk ke dalam mobil itu." Dannis semakin murka.


"Sepertinya mereka tidak hanya berduaan boss, karena mereka duduk di kursi penumpang dan pasti di depannya ada sopir. Boss lihat, Aline sedikit di dorong." Sam menunjuk rekaman cctv tersebut.


"Shit, kenapa kasar sekali dia tidak tahu apa istriku sedang hamil."


"Lebih baik kita lapor polisi saja boss." saran Sam yang langsung di setujui oleh Dannis.


.

__ADS_1


Aline di culik siapa hayooo 😁😁 yang benar dapat peyukan dari Othor 🤗🤣🤣


__ADS_2