Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Nasihat Ibu pada putrinya


__ADS_3

Mobil Dannis berhenti seketika, ketika menabrak pembatas jalan. Beruntung dirinya dan pejalan kaki tersebut tidak apa-apa, tapi mau tidak mau ia harus berurusan dengan pihak berwajib.


Setelah menyelesaikan urusannya, sepanjang perjalanan pulang Dannis merutuki dirinya sendiri. Mungkin ini yang dinamakan karma, pikirnya. Karena membiarkan Aline di pingit seorang diri sedangkan dia asyik keluyuran.


Atau memang tujuan seseorang yang sebelum menikah itu harus di pingit dahulu, mungkin untuk meminimalisir hal-hal buruk di luar yang bisa mengganggu berlangsungnya acara pernikahan nanti.


Setelah sampai gedung Apartemennya dia langsung mampir ke barber shop yang ada di lobby untuk merapikan rambutnya, ia ingin tampil maksimal di hari pernikahannya yang tinggal dua hari lagi.



Keesokan harinya


Aline yang biasa bangun tengah hari selama di pingit, kini ia harus bangun pagi sekali karena harus melakukan perawatan tubuhnya. Karena siang harinya akan di adakan pengajian dan di lanjutkan acara siraman.


"Lama-lama kulitku bisa tipis dan mengelupas kalau begini terus Mi." gerutu Aline ketika sedang diluluri oleh pegawai salon yang merawat tubuhnya beberapa hari ini sejak ia di pingit.


"Nggak usah lebay sayang, kamu tuh calon pengantin harus terlihat cantik dan harum." ujar Nisa memberikan pengertian karena anaknya itu terus-menerus menggerutu.


"Kalaupun aku asem, Dannis tetap cinta." sahut Aline tak mau kalah.


"Iya habis itu kamu di tinggal selingkuh." celetuk Nisa.


"Nggak mungkin." Aline bersungut-sungut ketika mendengar perkataan Ibunya itu.


"Itulah bedanya pacaran dengan berumah tangga sayang, kalau pacaran cukup saling mencintai beres. Sedangkan berumah tangga, tidak bisa hanya mengandalkan cinta yang sewaktu-waktu bisa luntur jika tidak di jaga dengan baik."


"Memang cinta bisa luntur Mi ?" Aline jadi semakin penasaran bukannya cinta saja sudah cukup untuk menjadikan dua orang tinggal bersama.


"Tentu saja bisa, ingat kata pepatah rumput tetangga itu lebih hijau. Jadi kamu harus pintar-pintar jadi istri kalau tidak mau suamimu tergoda dengan wanita di luar."


"Mana bisa seperti itu Mi, kita kan saling mencintai." ucap Aline tidak terima.


"Sayang, dua orang yang tinggal bersama dalam jangka waktu yang lama bisa saja merasa bosan satu sama lainnya. Ketika seorang suami merasa bosan ia akan mencari hiburan di luar."


"Lalu Aline harus bagaimana Mi ?"


"Suami itu butuh 3K."


"Hah." Aline memutar bola matanya melihat Ibunya.


"3 Kepuasan, puaskan mata suamimu dengan selalu berdandan cantik di depannya, puaskan perutnya dengan memasak makanan kesukaannya dan ketiga puaskan dia di ranjang."


Mendengar kata ranjang Aline langsung bergidik ngeri, ia masih kepikiran ucapan Dannis beberapa hari lalu yang akan menggigit habis tubuhnya seperti Fergusso.


"Kamu kenapa sayang ?" tanya Nisa yang melihat anaknya itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Nggak Mi."


"Tapi tidak hanya itu, kamu jadi istri juga jangan manja dan banyak menuntut dan biasanya suami itu tidak terlalu menyukai istrinya yang terlalu posesif. Selalu curiga pada suami dan itu akan menimbulkan pertengkaran dan satu lagi jangan pernah berbicara dengan nada tinggi di hadapan suami."


"Karena laki-laki itu lebih dominan di otak kirinya jadi selalu berpikir menggunakan logikanya, beda dengan wanita lebih dominan otak kanannya jadi menilai sesuatu berdasarkan perasaannya. Jadi intinya setiap ada masalah selalu berkomunikasi dengan suami, jangan diam-diam saja karena suami tidak menggunakan perasaannya untuk berpikir dan tidak bisa menebak apa kemauan kita." lanjut Nisa lagi.


"Iya Mi."


"Percayalah suami itu lebih senang jika istrinya mengutarakan kemauannya dari pada harus di suruh menebak sendiri, karena otak laki-laki tidak akan mampu melakukannya."


"Kalau kita sudah melakukan semuanya tapi suami tetap selingkuh ?"


"Itu namanya Laki-laki brengsek sayang, laki-laki seperti itu tidak pantas kita pertahankan."


"Mi, sakit nggak pertama kali melakukan itu ?" tanya Aline kemudian.


"Itu ?" tanya Nisa tidak mengerti.


"Iya itu Mi, ma-malam pertama." Aline terlihat sangat malu karena wajahnya sudah merah merona.


Nisa tersentak ketika mendengar perkataan anaknya itu, bagaimana ia bisa bercerita kalau dulu Ayahnya merenggut kesuciannya dengan cara memperkosanya. Anaknya itu pasti akan ketakutan.


"Kamu bisa membicarakan hal itu dengan suamimu nanti sayang, bagaimanapun juga untuk urusan itu, maksud Mami untuk urusan ranjang lebih baik kalian selalu berkomunikasi agar sama-sama tahu." tutur Nisa.


"Tapi Aline malu Mi."


"Issssh Mami."


"Asal kamu tahu sayang, laki-laki itu lebih suka kalau istrinya lebih agresif." celetuk Nisa.


"Benarkah Mi ?"


"Tentu saja, intinya apapun itu masalahnya selalu berkomunikasi dengan suami."


"Iya Mi terima kasih nasihatnya."


"Baiklah calon pengantin, setelah ini cepat bersiap karena pengajian akan di mulai." ucap Nisa kemudian ia meninggalkan anaknya itu yang masih melakukan perawatan tubuhnya.


.


.


"Astaga belum juga nikah, udah capek gini." gerutu Aline malam itu setelah menjalani ritual pengajian dan siraman. ia nampak membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya, sepertinya ia sangat lelah karena tak berapa lama terdengar hembusan napasnya yang teratur.


Sedangkan Dannis yang sedang memingit dirinya sendiri dari kemarin, ia terlihat sedang sibuk dengan laptopnya karena harus terus mengawasi perkembangan perusahaannya.

__ADS_1


Sesekali nampak senyum tersungging di bibirnya ketika mengingat pernikahannya besok, ia begitu merindukan gadisnya itu. Apalagi ketika mengingat obrolannya tadi siang di telepon bersama calon mertuanya itu ia semakin melebarkan senyumnya.


Bagaimana tidak, Ayah mertua itu menceritakan kalau anak gadisnya selalu merengek minta bertemu dengannya. Itu berarti tidak hanya dia yang merasa rindu tapi calon istrinya itu juga.


"Besok aku akan memakanmu sayang dan menggigitmu habis seperti Ferguso." batin Dannis masih dengan senyum mengembang di bibirnya.


Setelah pekerjaannya selesai, ia segera membaringkan dirinya di atas ranjang dan memejamkan matanya berharap malam cepat berlalu.


Keesokan harinya


tokkkk


tokkkk


Terdengar ketukan dari luar, Aline yang masih tidur hanya menggerakkan badannya kemudian tidur lagi.


Tak berapa lama pintu terbuka, nampak seorang ART segera membangunkannya. "Mbak Aline bangun." ART tersebut mengguncang badannya agar segera bangun.


"Iya bik, sebentar."


"Bangun mbak, sama ibu di suruh cepat mandi sebentar lagi orang salon datang."


"Iya bik, udah bangun nih."


"Jangan tidur lagi mbak, saya keluar nih."


"Iya bik." ucap Aline yang sedang duduk tapi masih sangat mengantuk.


Setelah ART itu pergi, ia merebahkan badannya lagi, menarik selimut dan tidur lagi.


Dua jam kemudian, Nisa melihat dua orang salon sedang duduk di depan pintu kamar Aline.


"Sudah selesai meriasnya ?" tanya Nisa.


"Be-belum buk."


"Loh ini satu jam lagi acara sudah di mulai."


"I-itu buk, mbak Aline nya belum membuka pintunya."


Kemudian Nisa mengetuk pintu tersebut, karena tidak ada sahutan ia langsung membuka pintunya.


"Aliiiiiiiiineeeee." teriak Nisa ketika melihat anaknya itu masih tertidur pulas padahal satu jam lagi acara akan di mulai.


.

__ADS_1


NB: Maaf ya guys cerita bab ini sangat membosankan, seharian Othor lagi demam jd writer block, nggak bisa mikir. Doakan besok sudah baikan jadi bisa nulis kewongnya bang bule dengan benar 😁😁 atau nggak libur sehari dulu.. okeyyy thanks readers kesayangan dimanapun kalian berada semoga slalu sehat..


__ADS_2