Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Dua laki-laki absurd


__ADS_3

Tiga hari setelah menikah, Dannis dan Aline memutuskan untuk meninggalkan hotel dan kembali ke rumah Ayahnya, kediaman Austin Gunawan. Sebelum pulang ke Jerman, mereka berencana menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.


"Eh ada mbak Aline." Sapa pak security ketika membuka gerbang.


"Mami sama Papa ada pak ?" tanya Aline dengan senyum manisnya.


"Ada mbak, ibu sama tuan ada di dalam." sahut security tersebut.


Ehhmmm


Dannis berdehem ketika melihat security berkumis tebal tersebut, perasaannya masih jengkel mengingat pertama kali datang ke rumah itu.


"Mas bule." ucap security itu agak nggak enak hati, ini adalah pertemuan kedua mereka.


"Masih kerja disini Pak ?" tanya Dannis yang masih berdiri di gerbang.


"Masih mas bule." sahut security tersebut dengan kikuk, merasa akan di hakimi.


"Kirain sudah berhenti, karena setiap saya kesini, bukan bapak yang jaga."


"Mungkin saya sedang libur mas."


"Sayang, kalau kita punya karyawan tapi mata duitan bagaimana ?" Aline yang merasa di tanya oleh Dannis langsung berbalik badan dan menghampirinya lagi.


"Kalau nggak merugikan perusahaan ya biarin saja." sahut Aline yang masih tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.


Security yang mendengar itu langsung pucat pasi. "Tapi kalau orang itu menjual info pada orang asing bagaimana ?" tanya Dannis lagi.


"Ya harus di pecat." ucap Aline lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.


Security tersebut makin pucat dan berkeringat dingin, setelah kepergian Aline, security yang berkumis tebal itu segera mendekati Dannis. "Mas Bule, saya minta maaf soal waktu itu yang sudah membiarkan mas bule menunggu semalaman."


"Nggak apa-apa pak, justru karena bapak menjual info ke saya jadi saya bisa bertemu dengan istri saya."


"Jadi saya nggak di pecat mas ?"


"Tentu saja nggak pak, saya cuma mau ngerjain bapak tadi." sahut Dannis terkekeh kemudian berlalu pergi.


"Dasar bule kampret." gerutu pak security.


Dannis yang samar-samar mendengar perkataan security tersebut kemudian menghampirinya lagi. "Bapak jual terompet ?"


"waduh"


"Eh nggak mas bule, tadi anak saya minta di belikan terompet."


"ini buat bapak." Dannis menyerahkan beberapa lembar uang pada security tersebut.

__ADS_1


"Nggak usah mas bule."


"Ini buat anak bapak."


"Nggak usah mas, beneran."


"Saya tidak suka di bantah." ucap Dannis tegas.


"Baik mas bule terima kasih."


"Sepertinya telinganya mas bule minta di korek." batin security tersebut seraya melihat Dannis yang berlalu pergi meninggalkannya.


Sedangkan Aline yang masuk ke dalam rumah duluan, segera mencari kedua orang tuanya.


"Sayang kamu di sini ?" Austin yang baru menuruni anak tangga segera memeluk anaknya itu.


"Kenapa kamu sendirian, mana suami mu ?"


"Masih di luar Pa lagi ngobrol sama pak security."


"Apa dia baik padamu, kamu tidak di apa-apain kan sama dia. Katakan sama Papa, nanti Papa yang akan menghajarnya ?" tanya Austin posesif.


"Tentu saja saya apa-apain Pa, dia kan istri saya." Dannis yang baru masuk ke dalam rumah tersebut langsung menimpali Ayah mertuanya itu.


"Kamu apakan anak saya, baru jadi suaminya dua hari saja berani macam-macam ?" Austin murka, ia mencengkeram kerah baju menantunya itu.


"Astaga Papa, tolong lepaskan suamiku !!" Aline sudah kalang kabut ketika Ayahnya sudah siap melayangkan tinjuannya.


"Apa, jadi kamu sudah memukulnya sampai dia berteriak ?" tanya Austin dengan kesimpulannya sendiri.


"Sayang, kamu apain anak menantu kita ?" Nisa yang baru turun dari tangga bergegas melerainya.


"Dia bilang sudah membuat putri kita berteriak-teriak, dia pasti sudah memukulnya. Lepaskan aku sayang, aku akan menghajar menantu nggak tahu diri ini." ujar Austin yang ingin memukul Dannis tapi Nisa sudah memegang tangannya.


"Papa sudah salah paham, Dannis tidak pernah memukulku Pa." ucap Aline mencoba untuk menenangkan Ayahnya.


"Lalu kenapa dia membuat mu berteriak-teriak ?"


Aline yang bingung harus menjawab apa langsung main mata dengan suaminya. "Maksud saya, Aline berteriak keenakan Pa." ujar Dannis absurd.


Aline yang mendengar perkataan suaminya, langsung berjalan mendekatinya dan seketika menginjak kakinya.


"Aduh sayang sakit, kamu memang berteriak keenakan kan saat kita melakukannya." Dannis meringis kesakitan ketika istrinya itu menginjak kakinya kedua kalinya.


"Nggak usah di jelasin juga kali bang buleee, kenapa suamiku absurd gini si Mi." ucap Aline dengan wajah merona karena malu, kemudian ia menarik tangan Ibunya untuk meninggalkan dua laki-laki absurd tersebut.


Austin langsung melepaskan cengkeraman ketika mengetahui maksud menantunya itu. "Oh begitu, apa dia berteriak kencang ?"

__ADS_1


"Tentu saja Pa."


"Tapi Papa nggak yakin, kamu sekuat Papa."


"Tentu saja saya sangat kuat Pa, kalau tidak mana mungkin anak Papa berteriak-teriak." sahut Dannis percaya diri.


Aline yang masih mendengar obrolan absurb dua orang laki-laki tersebut langsung berteriak kencang. "Papaaa, Bang buleeeeeeee."


"Ini urusan laki-laki sayang jangan ikut campur." ucap Austin lalu mengajak Dannis ke taman belakang.


"Tadi ngajak berantem, sekarang dibela." gerutu Aline sembari membantu ibunya menyiapkan makan siang.


Beberapa saat kemudian mereka makan siang bersama, Aline yang masih malu karena obrolan absurd Ayah dan suaminya hanya bisa makan sambil menunduk.


"Jadi besok malam kalian kembali ke Jerman ?" tanya Austin mulai memecah keheningan di meja makan tersebut.


"Ya Pa, hampir dua bulan saya meninggalkan perusahaan." sahut Dannis.


"Aline sebulan sekali pasti akan mengunjungi Papa dan Mami, Aline juga akan bantu Papa pantau perusahaan." Aline yang sedari tadi diam kini ikut menimpali.


"Papa belum tua sayang, masih mampu mengurus perusahaan. Sekarang tugas kamu cepat-cepat memberi kami cucu yang banyak." ujar Austin yang seketika membuat putrinya itu tersedak.


uhukkk


uhukkk


"Pelan-pelan sayang." Dannis segera mengambilkan segelas air putih.


"Tenang saja Pa, kami akan berusaha dengan keras supaya cepat memberi Papa cucu yang banyak." sahut Dannis yang membuat Aline lagi-lagi tersedak.


"Sayang kamu kenapa sih ?" Dannis mengangsurkan gelas pada istrinya.


"Tersedak bayi." sahut Aline kesal.


"Jadi kamu sudah nggak sabar punya bayi sayang, tenang saja Papa sudah memberiku tips bagaimana biar kamu cepat hamil." ujar Dannis.


Mendengar perkataan suaminya, Aline terlihat menelan makanannya dengan susah payah.


"Bagaimana bisa dengan mudahnya mereka membicarakan hal itu, nggak lama lagi pasti mereka akan membicarakan step demi step cara pembuatan bayi, lebih baik aku cepat pergi dari sini." gerutu Aline dalam hati.


Aline langsung bangkit dari duduknya. "Mau kemana sayang, makananmu belum habis itu ?" tanya Austin.


"Buat bayi Pa." sahut Aline sarkastis kemudian berlalu pergi ke kamarnya.


Austin dan Dannis seketika tertawa bersama, ketika melihat wajah Aline yang begitu kesal.


"Kalian memang keterlaluan, mertua dan mantu kenapa bisa samaan sih." ucap Nisa seraya bangkit dari duduknya ketika baru selesai menghabiskan makan siangnya.

__ADS_1


"Sama apanya sayang ?" seru Austin.


"Mesumnya." sahut Nisa sambil berlalu pergi meninggalkan dua laki-laki yang berbeda generasi tapi satu pemikiran itu.


__ADS_2