Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Akad nikah


__ADS_3

"Aliiiiiiiiineeeee." teriak Nisa ketika melihat anaknya itu masih tertidur pulas padahal satu jam lagi acara akan di mulai.


"Apa sih Mi, ini masih pagi." ucap Aline masih dengan mata terpejam meski ibunya itu sudah menyingkap selimut yang menutupi badannya.


"Apa perlu Mami batalkan pernikahan kamu." ancam Nisa.


Mendengar perkataan Ibunya, Aline langsung loncat dari kasurnya. "Ini jam berapa Mi ?"


"Nih lihat sendiri." Nisa mengambil jam di atas nakas dan memberikan pada anaknya.


"Masih satu jam lagi Mami." sahut Aline santai, kemudian ia berlalu ke kamar mandi.


Nisa hanya menggelengkan kepalanya dengan geram, bagaimana bisa anak gadisnya itu begitu santai menjelang pernikahannya.


Sedangkan di hotel di mana acara akan di gelar, Dannis terlihat sangat gelisah. Acara akad nikah yang seharusnya sudah di laksanakan satu jam yang lalu, tapi sampai sekarang belum terlaksana.


Bahkan calon mempelai wanitanya pun belum ada tanda-tanda kemunculannya dan calon mertuanya itu susah sekali di hubungi padahal tamu undangan sudah mulai berdatangan.


"Saat ini aku begitu membutuhkan mu Sam." gerutu Dannis, jika ada Sam dia tidak akan merasa sefrustrasi seperti saat ini, karena sang asistennya itu pasti akan cepat mengatasi semua masalahnya.


"Kamu memanggil ku boss ?" tanya Sam yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Mendengar suara laki-laki yang begitu tidak asing di telinganya, Dannis segera membalikkan badannya. "Sam ?" Dannis terkejut dan tanpa ia sadari langsung memeluk asistennya itu.


"Sepertinya kamu sangat merindukan ku boss." celetuk Sam.


"Tentu saja, aku seperti orang bodoh di tempat asing seperti ini. Lagipula aku sudah menyuruhmu dari seminggu yang lalu ke sini, kenapa baru datang ?" protes Dannis.


"Menghandle semua pekerjaanmu itu, tak semudah yang kamu bayangkan boss." sahut Sam nampak mengeluh.


"Tentu saja, makanya kamu harus banyak belajar dariku." sahut Dannis sombong.


"Ngomong-Ngomong di mana calon mempelai wanitanya boss dari tadi aku tidak melihatnya ?"


"Itu masalahnya, dari tadi dia dan keluarganya tidak bisa di hubungi." Dannis mulai gelisah lagi, ia mengacak rambutnya yang sudah rapi.


"Boss, Jangan-Jangan Aline berubah pikiran dan kabur." celetuk Sam.


"Itu tidak mungkin Sam."


"Siapa tahu seperti di film-film, menjelang pernikahan pengantin wanitanya kabur." ucap Sam yang lolos begitu saja dari bibirnya dan itu membuat Dannis merasa geram.


"Kamu mau mati ya." Dannis mencengkeram kerah baju Sam dan bersiap melayangkan tinjuannya.

__ADS_1


"Bercanda boss, bercanda." ucap Sam terbata-bata.


"Maaf tuan, mengganggu. Mempelai wanitanya sudah datang, silakan anda keluar." ujar seseorang yang berdiri di ambang pintu.


Seketika Dannis langsung melepaskan cengkeraman tangannya. "Beruntung kamu kali ini." ucap Dannis pada asistennya itu.


"Tahu gitu aku tidak akan datang kemari, dasar boss nggak ada akhlaknya." gerutu Sam sambil merapikan penampilannya.


Sedangkan Dannis hanya terkekeh menanggapinya, kemarahannya barusan seakan lenyap ketika mendengar kedatangan calon istrinya itu.


"Bagaimana penampilanku ?" tanya Dannis memperlihatkan penampilannya dengan pakaian adat jawa, beskap hitam dengan motif bunga keemasan di bagian tengahnya.


"Sudah mantap boss, ayo segera keluar sebelum pengantin wanitanya keburu kabur." ledek Sam sembari menarik tangan bossnya itu.


"Ingat boss, kita sekarang sedang berada di negara dengan adat ketimuran. Jadi nanti setelah acara apa namanya boss, oh ya akad. Boss jangan main nyosor saja, itu tidak sopan." ujar Sam sembari jalan menuju Ballroom tempat di adakan acaranya.


"Tidak sopan bagaimana, masa cium istri sendiri tidak boleh." protes Dannis tidak terima.


"Boleh boss, kalau sudah berada di kamar jangan di tempat umum."


"Ribet amat."


"Terserah boss, kalau tidak mau di lempar sendal oleh penghulu." celetuk Sam sambil terkekeh.


Dannis segera duduk di kursi sebelahnya Aline. "Sayang, aku hampir tidak mengenalimu. Kamu sangat cantik sekali." bisik Dannis pada Aline.


"Terima kasih." sahut Aline lirih.


"Tapi aku tidak akan memaafkanmu, karena sudah membiarkan ku menunggu." bisik Dannis lagi.


"Maaf."


"Tunggu hukumanmu nanti." bisik Dannis lagi.


Ehmmmmm


Austin yang sedang duduk di depannya Dannis langsung berdehem, ketika melihat kedua pasangan pengantin itu nampak saling berbisik.


"Ingat boss, boleh cium tapi cuma di kening." bisik Sam yang duduk di belakangnya Dannis.


Setelah itu acara akad di mulai yang di pimpin langsung oleh Austin sebagai wali dari mempelai wanita. Dannis merasa tiba-tiba sangat gugup, tapi setelah berhasil membaca kalimat ijab kabul dengan satu kali tarikan napas dan mendengar para saksi mengucapkan kata sah. Ia merasa sangat bahagia, perasaan senang,lega dan terharu melebihi memenangkan tender ratusan miliar.


"Ingat boss." Sam berbisik lagi dari belakang.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang pengantin wanita boleh mencium tangan suaminya." ucap penghulu tersebut.


Aline segera mencium tangan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu, begitu juga Dannis ia terlihat mencium kening istrinya. Meskipun ia ingin sekali mencium bibir tipis berwarna merah seperti buah cherry itu, terlihat sangat manis dan nikmat pikirnya.


Tapi sedari tadi asistennya yang sedang duduk di belakangnya itu, memperingatkan dengan mentowel-towel punggungnya agar ia tidak melakukan apa yang sedang ada di pikirannya.


Setelah menjalani prosesi adat Jawa hingga sore hari, kini Aline dan Dannis sudah berada di kamar hotel untuk menunggu acara resepsi pernikahan yang akan di laksanakan malam harinya.


"Jadi sekarang kita sudah sah menjadi suami istri sayang ?" tanya Dannis memastikan karena sampai saat ini ia masih tidak percaya.


"Jadi menurutmu yang tadi itu mainan nikah-nikahan." celetuk Aline yang sedang berdiri di meja rias untuk membersihkan make up nya.


"Jangan marah sayang, aku masih tidak menyangka aja. Kamu tahu aku sangat merindukanmu." Dannis memeluk istrinya dari belakang, sembari menghirup aromanya dalam-dalam.


"Sayang, bagaimana aku bisa membersihkan make up ku kalau kamu seperti ini." protes Aline.


"Kenapa kamu tadi terlambat ?" tanya Dannis tanpa memperdulikan omelan istrinya.


"Aku bangun kesiangan." sahut Aline nyengir menatap suaminya itu dari pantulan cermin.


"Astaga sayang, bahkan aku dari subuh sudah bangun karena tidak sabar menunggu acara kita tapi kamu sedikitpun tidak memikirkan hal itu."


"Maaf sayang, aku capek banget setelah acara siraman kemarin."


"Sepertinya aku harus segera menghukum mu."


"Hah, apa ?"


"Tentu saja belah duren." ucap Dannis sarkastis.


Aline yang mendengar perkataan Dannis langsung berbalik badan. "Astaga bang bule, darimana kamu mendapatkan kata-kata seperti itu ?"


"Aku disini sudah satu bulan lebih sayang, tentu saja aku banyak belajar bahasa gaul disini."


"Lalu barusan itu artinya apa ?"


"Tentu saja malam pertama kita." ucap Dannis sembari memeluk pinggang istrinya itu.


Mendengar perkataan Dannis, wajah Aline sudah pucat pasi dan bergidik ngeri. "Apa kita akan melakukannya sekarang ?" tanya Dannis lagi yang semakin mengeratkan pelukannya hingga tidak ada celah di antara mereka.


.


NB : Hayo nungguin ya 😁 kali ini Othor akan belajar nulis yang benar biar nggak ada jempol2 jahil mampir lagi ups 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2