Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Misi pertama, gagal ?


__ADS_3

"Beneran kamu positif Al ?" tanya Sofia dari ujung telepon malam itu.


"Belum tahu, tapi kemarin laki - laki mesum itu sudah menciumku dan dia sepertinya ada gejala juga jadi kita memutuskan untuk karantina mandiri."


"Kalian sudah berciuman ?" teriak Sofia dengan nyaring, hingga Aline segera menjauhkan ponselnya. Karena suara Sofia terdengar begitu memekikkan telinganya.


"I - iya, tapi dia yang tiba - tiba menciumku." sahut Aline dengan muka yang memerah karena malu.


"Jadi kalian karantina berdua ?" teriak Sofia lagi dari seberang telepon.


"Astaga, bisa tidak jangan berteriak." seru Aline, ia mendengus dengan kesal.


"Oh my God, semoga setelah karantina kalian tidak hanya berdua tapi sudah bertiga." ujar Sofia sambil terkekeh kemudian ia segera mematikan panggilannya sebelum sahabatnya itu memakinya.


"Bertiga ?"


"Maksudnya ?" Aline tampak tidak mengerti dengan ucapan Sofia.


"Ah bodo amat." batinnya lagi, kemudian ia beranjak dari duduknya dan segera keluar dari kamarnya.


Akhhhhh


Aline berteriak histeris ketika melihat Dannis yang hanya mengenakan celana boxer tanpa memakai bajunya, hingga perut six-packnya terpampang nyata di depannya bahkan bulu - bulu dadanya tampak menggoda.


"Astaga, kamu merusak mata suciku saja. Sana pakai bajumu !! " seru Aline seraya menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Kalau di rumah saja, aku sudah terbiasa seperti ini sayang." celetuk Dannis tanpa merasa berdosa.


"Jangan memanggilku seperti itu !!" sahut Aline tanpa melihat Dannis.


"Katanya kamu mau aku belajar menjadi suami yang baik, jadinya aku memulai dengan menyayangi mu." ujar Dannis, lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Aline yang masih berdiri mematung.


"Cih, playboy kadal." gumam Aline.


"Ka - kamu mau apa ?" pekik Aline ketika makhluk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna menurutnya itu sudah berada di depannya.


"Kamu harus terbiasa sayang. Karena kalau kita sudah menikah nanti, kamu akan melihatku setiap hari seperti ini bahkan mungkin lebih dari ini." ujar Dannis sambil terkekeh, ia sedikit menunduk untuk menatap wajah gadisnya yang sudah merah merona.


"A - Aku harus mengambil air putih." Aline langsung berlalu pergi ke dapur, setelah mengambil air putih ia segera masuk kedalam kamar dan menguncinya.

__ADS_1


"Astaga, bisa runtuh imanku kalau seperti ini terus." batin Aline dalam hati, ia memegang dadanya yang sudah berdebar - debar tak beraturan.


Sedangkan Dannis yang memang sudah terbiasa bertelanjang dada di rumahnya hanya tertawa gemas melihat kepolosan gadisnya itu.


Aline adalah gadisnya yang imut dan polos seperti anak kucing, pikirnya. Karena kadang ia penurut tapi kadang juga galaknya minta ampun, "Sangat menggemaskan." gumam Dannis sambil mengulum senyum melihat kepergian Aline.


Keesokan harinya


"Misi pertama dimulai, jiayo Aline." seru Aline, ia sedang menyemangati dirinya sendiri.


Hari ini ia sengaja bangun siang dan akan bermalas - malasan sepanjang hari. Agar Dannis berpikir ulang lagi kalau mau menikah dengan dirinya yang notabennya cewek pemalas, pikirnya.


Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, ia baru keluar kamar dengan penampilan yang berantakan khas bangun tidur bahkan mungkin bau naga masih khas tercium dan tidak lupa kacamata tebalnya sudah bertengger di hidung mancungnya.


"Baru bangun sayang ?" tanya Dannis. Lagi - lagi laki - laki itu bertelanjang dada dengan handuk yang tersampir di pundaknya, sepertinya ia baru selesai berolah raga.


Melihat pria di depannya itu yang tampak mempesona dengan tetesan keringat yang masih membasahi tubuhnya membuat Aline menelan salivanya berkali - kali.


"Astaga itu bulu dada kenapa seakan melambai - lambai minta di sentuh. Duh, sepertinya otakku mulai konslet nih." Aline memukul - mukul pelan kepalanya.


"Kamu kenapa sayang ?" Dannis menatap heran pada gadis di depannya itu.


Kemudian ia segera berlalu ke dapur untuk membuat sarapan yang sudah terlewat beberapa jam yang lalu.


"Siapa yang masak." gumam Aline, ketika ia melihat pancake dengan lelehan madu yang terhidang di atas meja makan.


"Cuma itu yang bisa ku masak, sepertinya aku harus segera menyuruh Sam untuk belanja bahan makanan." ucap Dannis ketika melihat Aline sudah berada di meja makan.


"Kelihatan enak sekali." gumam Aline, ia memegang perutnya yang keroncongan sepertinya cacing di perutnya sudah salto sana sini minta makan.


"Maaf ya, aku belum mandi tapi sudah makan." ujar Aline sambil meletakkan pancake kedalam piringnya.


"Bahkan kalau tidak sedang bekerja begini aku sangat malas mandi, aissssh bau." ujar Aline lagi kali ini ia sambil mencium salah satu ketiaknya. Ia berharap laki - laki di depannya itu akan ilfil padanya.


"Tidak apa sayang, nikmati hari liburmu. Tidak mandipun kamu tetap cantik." ucap Dannis seraya mengusap lembut puncak kepala Aline.


"Hah, kenapa dia tidak ilfil." batin Aline dalam hati.


"Kamu tidak sarapan ?" tanya Aline ketika melihat Dannis yang sedang duduk di depannya itu hanya minum air mineral.

__ADS_1


"Sudah dari tadi pagi sayang." sahut Dannis.


"Aku mandi dulu ya." sambungnya lagi, kemudian ia berlalu ke kamarnya.


"Misi pertama, gagal." gerutu Aline.


Beberapa saat kemudian terdengar suara bel. Aline yang baru saja menyelesaikan makannya segera membuka pintu.


"Sam." seru Aline, ia kelihatan senang ketika bertemu dengan sahabatnya itu.


"Hai Al. Bagaimana kabarmu, Dannis bilang kamu positif ya ?" tanya Sam dari balik face shieldnya bahkan ia juga memakai masker dan sarung tangan.


"Aku baik, kamu membawa apa ?" Aline melihat beberapa paper bag di tangan laki - laki itu.


"Siapa yang datang sayang ?" Dannis sudah berada di belakang Aline, lagi - lagi ia bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer. Sepertinya ia baru selesai mandi karena aroma maskulinnya sampai menusuk ke hidung Aline.


"Boss ?" Sam terlihat sangat terkejut melihat penampilan bossnya, apalagi penampilan Aline yang tampak acak - acakan siang itu.


"Kamu sudah bawa barang sesuai dengan pesananku Sam ? tanya Dannis, ia melihat beberapa paper bag yang Sam letakkan di lantai.


"Sudah boss."


"Apa kalian semalam... " Sam belum menyelesaikan perkataannya tapi Dannis sudah menyelanya.


"Tentu saja." sela Dannis, ia sengaja ingin membuat Sam cemburu. Karena ia tahu kalau Asistennya itu menaruh hati pada Aline.


"Benarkan sayang ?" tanya Dannis seraya memandang Aline dengan tersenyum manis.


"Apa ?" tanya Aline tidak mengerti dengan arah pembicaraan kedua laki - laki tersebut.


Dannis hanya mengulum senyum melihat wajah polos gadisnya itu, "Sekarang pergilah Sam, ku serahkan perusahaan padamu sampai dua minggu ke depan karena aku mau karantina mandiri bersama calon istriku !!" perintah Dannis sambil melingkarkan tangannya ke bahu Aline.


"Baik boss." sahut Sam, ia menatap nanar Aline kemudian berlalu pergi dengan perasaan kecewa.


"Lepaskan !!" Aline menghempaskan tangan Dannis yang melingkar di bahunya.


"Jangan suka menyentuhku sembarangan !!" seru Aline lagi kemudian ia berlalu ke kamarnya.


"Apa benar kamu sudah menyukai Sam ?" tanya Dannis dalam hati, ia tampak kecewa.

__ADS_1


Ketika berbicara dengan Sam, gadisnya itu selalu tersenyum manis tapi ketika bersamanya selalu bersikap jutek. Pikirnya.


__ADS_2