
"Bagaimana kalau gue cinta sama loe Dan minta loe menjadi istri gue ?" tanya Dewa dengan serius.
"Kung, bercanda mu enggak lucu tahu." Aline terkekeh mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Liat mata gue Al, apa gue sedang bercanda !!" Dewa menatap Aline dengan serius.
"Kung.." Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi sahabatnya itu sudah menyelanya.
"Gue cinta sama loe Al." ujar Dewa lalu ia menyentuh tangan Aline yang berada diatas meja.
"Se-sejak kapan Wa ?" tanya Aline tak percaya.
"Sejak dulu, sejak baru mengenal loe. Gadis cupu yang sangat cerewet," sahut Dewa. Ia nampak tersenyum ketika mengingat pertama kali mereka bertemu di kelas 10 di sebuah sekolah Negeri di Surabaya.
Aline masih tak percaya kalau Dewa sahabatnya itu menyukainya bahkan dari dulu.
"Wa, aku.."
"Gue tahu Al, gue terlambat mengatakannya. Karena sekarang loe sudah mencintai orang lain," sela Dewa ada rasa kecewa ketika ia mengatakan itu.
"Bukan begitu Wa, kita sama-sama tahu kalau kita berbeda keyakinan. Aku tahu bagaimana taatnya kamu, aku tidak mau hanya karena aku kamu mengkhianati leluhurmu. Begitu juga denganku," tutur Aline.
Dewa mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimanapun juga yang dikatakan Aline benar. Dia tidak bisa menghapus takdirnya yang di tuliskan padanya sejak dia lahir.
"Maafkan gue Cil," ucap Dewa kemudian.
"Untuk apa minta maaf Wa, kamu enggak pernah salah ?"
"Gue terlalu egois. Demi perasaan gue sendiri, gue hampir merampas kebahagiaan loe."
"Apa maksudmu Wa, aku enggak ngerti ?"
"Katakan sama gue dengan jujur, sebenarnya bagaimana perasaan loe sama laki-laki itu ?"
"Dannis ?"
"Iya."
"Aku enggak tahu Wa."
"Loe cintakan sama dia ?"
__ADS_1
"Aku enggak tahu Wa."
"Jangan bohongi hati mu sendiri Al, kalau tidak kamu akan menyesalinya."
"Aku enggak ngerti Wa kamu ngomong apa ?"
"Kemarin Dannis menemuiku, dia bilang sudah menyerah dan menitipkan loe pada gue dan siang ini dia akan kembali ke Jerman."
"Apa ?"
"Gue enggak tahu perasaan loe ke dia seperti apa, tapi yang gue lihat dia benar-benar cinta sama loe."
Aline terlihat meneteskan air matanya tanpa bisa berkata-kata, mendengar kepergian Dannis hatinya terasa begitu nyeri.
"Loe jangan bodoh Al, tidak semua kesempatan datang dua kali. Hilangkan ego loe, kalau memang loe cinta kejarlah dia !!" bentak Dewa, ia merasa heran kenapa sahabatnya itu begitu keras kepala.
Aline hanya bisa terisak di depan sahabatnya itu. "Aku mencintainya Wa, kenapa dia tidak bisa menungguku sebentar saja." kini dia merasa sangat menyesal.
"Kejar dia Cil, gue akan dukung loe. Apapun yang terjadi gue akan tetap jadi sahabat loe sampai kapanpun !!" Dewa mencoba menyemangati sahabatnya itu.
"Terima kasih Wa, jam berapa pesawatnya berangkat ?"
"Aku akan mengejarnya Wa." Aline segera beranjak dari duduknya.
"Apa perlu gue antar ?" tanya Dewa yang juga beranjak dari duduknya.
"Aku bisa sendiri Wa, terima kasih." Kemudian Aline segera berlalu meninggalkan Cafe tersebut.
Sambil mengemudi Aline tak henti-hentinya menangis, ia menyesali keegoisannya. Bagaimana kalau laki-laki yang ia cintai itu sudah pergi meninggalkannya, memikirkan hal itu membuat napasnya seakan tercekat.
Ia melajukan mobilnya dengan kencang, sesekali ia melirik jam di pergelangan tangannya berharap Tuhan masih berbaik hati untuk mempertemukan mereka kembali.
"Dannis, aku mohon jangan pergi dulu, tunggu aku. Aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu."
🍁🍁🍁🍁
Pagi itu Dannis bangun sangat pagi, bahkan mungkin semalaman ia tidak bisa tidur. Berpikir akan meninggalkan tempat ini, itu sama saja meninggalkan separuh jiwanya disini. Kali ini ia benar-benar merasa patah hati.
Ia menertawakan dirinya sendiri, dirinya yang dahulu seorang Casanova sejati kini patah hati hanya karena seorang gadis kecil sudah menolaknya. Gadis kecil yang lebih muda 10 tahun darinya tapi bisa menumbangkan seorang Casanova sepertinya.
Setelah sang mentari mulai beranjak dari peraduannya, Dannis beranjak dari duduknya ketika sesudah mematikan puntung rokok di dalam asbak.
__ADS_1
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa asap rokok maupun wine yang menemaninya dari semalam.
Tiga puluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi lalu segera memakai kemeja dan celana yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Setelah bersiap-siap ia segera keluar dari kamarnya untuk check-out. Meski penerbangannya baru dua jam lagi, ia memilih berangkat lebih awal. Berada di kamar hotel sendirian membuatnya semakin frustrasi.
Di pesannya taksi online untuk mengantarnya ke Airport, sepanjang perjalanan ia hanya fokus pada laptopnya untuk memantau perusahaannya. Tiba-tiba ia merasakan ada goncangan yang lumayan keras pada taksi yang ia tumpangi.
"Ada apa ini Pak ?" tanya Dannis ia melihat kerumunan orang di depan taksinya.
"Maaf mister saya tidak sengaja menyenggol motor di depan." sahut sopir tersebut nampak raut kekhawatiran di wajahnya lalu ia membuka pintu mobilnya.
Dannis yang merasa penasaran juga ikut keluar dari taksi tersebut, melihat apa yang sebenarnya terjadi. Beruntung pengendara motor tersebut tidak terluka hanya saja motornya yang sedikit rusak.
Karena keduanya tidak mau ada yang mengalah mau tidak mau mereka menyelesaikan di kantor polisi. Dannis yang buru-buru ke Airport harus menundanya sebentar karena ia harus menjadi saksi.
Setelah urusan di kantor polisi beres, Dannis segera memesan taksi online lainnya karena harus mengejar penerbangannya yang sebentar lagi take-off.
Sesampainya di airport Dannis segera melakukan check-in tapi sayangnya dia sedikit terlambat karena pesawatnya baru beberapa menit lalu take-off.
Mau tidak mau dia harus menunggu penerbangan berikutnya sekitar dua jam lagi. Kini ia hanya bisa menunggu untuk check-in berikutnya.
Sedangkan Aline yang sudah sampai Airport ia segera berlari ke arah keberangkatan internasional.
"Pak apa pesawat tujuan Jerman sudah berangkat ?" tanya Aline pada bagian informasi.
"Untuk tujuan Jerman yang transit di Changi Airport sudah berangkat lima belas menit yang lalu sedangkan yang transit di Jakarta sudah berangkat satu jam yang lalu." ujar petugas tersebut.
Seketika Aline merasa sangat tidak bertenaga, bahkan kakinya begitu lemas untuk melangkah. Ia terduduk di bangku yang berada di depan ruang informasi tersebut.
Tangisnya pecah seketika, ia merasa dadanya terasa sesak. Ia begitu merutuki kebodohannya, keegoisannya dan keras kepalanya.
Setelah agak tenang dia berusaha bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya dengan enggan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat yang ada di sana. Berharap ada sedikit keajaiban, meski itu mustahil. Pikirnya.
Ketika pandangannya mengarah kearah check-in, ia melihat seorang pria yang sedang berdiri di sana. Seorang pria yang sangat ia kenal meski sedang berdiri memunggunginya.
Setelah bernegosiasi dengan petugas di sana, ia segera berlari mendekat dan memeluk punggung pria tersebut. "Ku mohon jangan pergi."
.
NB : Aline main peyuk-peyuk aja kalau salah orang piye ??🤣🤣 Asyikkk sebentar lagi ada yang kewong 😛🤣🤣
__ADS_1