
Dannis terlihat geram ketika melihat layar cctv di bagian Cafetaria kantornya. Ia melihat Aline yang sudah menyelesaikan makan siangnya, bukannya langsung ke ruangannya justru ia tampak asyik mengobrol dengan Sam dan Leon.
Kemudian ia segera beranjak dari kursi kerjanya lalu bergegas melangkahkan kakinya menuju Cafetaria tersebut, dimana salah satu tempat yang selama ini ia tidak pernah menginjakkan kakinya disana. Hingga membuat para karyawan yang sedang makan siang di tempat itu nampak terkejut dengan kedatangan bossnya yang tiba - tiba.
"Aku menggaji kalian bukan untuk menemani calon istriku ngobrol." teriak Dannis dengan suara baritonnya yang seketika membuat beberapa pengunjung nampak terkejut begitu juga dengan Leon dan Sam.
"Boss disini ?" tanya Sam heran lalu ia segera berdiri dari duduknya karena melihat kemarahan bossnya itu.
Tanpa berkata - kata lagi Dannis menatap tajam Sam dan adiknya Leon. Sehingga membuat kedua laki - laki itu dan beberapa pengunjung Kantin tersebut langsung melipir keluar dari tempat tersebut.
"Dannis, kenapa kamu galak sekali. Mereka jadi ketakutankan ?" ujar Aline yang masih duduk di kursinya.
"Apa kamu masih mau tetap disini ?" tanya balik Dannis dengan kesal.
"Iya tidak." sahut Aline seraya beranjak dari duduknya, ia sedikit takut karena baru kali ini melihat Dannis semarah itu tanpa ia ketahui penyebabnya.
Lalu Dannis menarik tangan Aline dan segera membawa gadisnya itu kedalam ruangan kantornya.
"Dannis, lepaskan sakit tahu !!" Aline merasakan pergelangan tangannya terasa panas karena laki - laki itu memegangnya terlalu erat.
Setelah sampai di dalam ruangannya, Dannis melepaskan tangan Aline tapi ia masih menatapnya dengan tajam.
"Ka - kamu marah ?" tanya Aline terbata - bata ia sambil memundurkan badannya, karena laki - laki di depannya itu menatapnya dengan penuh amarah apa lagi dengan jarak yang sedekat itu.
Semakin Aline mundur, Dannis semakin melangkah maju hingga badan Aline menabrak meja kerja di belakangnya. "Jangan menguji kesabaranku !!" ucap Dannis seraya menghimpit gadis kecilnya itu.
"A - aku tidak mengerti maksud kamu ?" tanya Aline ketakutan karena wajah Dannis begitu dekat dengannya, bahkan hembusan napas laki - laki itu begitu terasa di wajahnya
"Kamu sengaja membuatku cemburu ?" sentak Dannis, kali ini tangan satunya memegang rahang Aline dengan kuat.
Aline hanya menggelengkan kepala tanpa bisa berkata - kata dan air matanya kini sudah menggenang di sudut matanya.
Dannis langsung mencium bibir mungil itu dengan pelan, menyesapnya dan melahapnya dengan lembut hingga membuat seluruh badan Aline terasa bergetar seperti ada sengatan listrik.
"Kenapa dia melakukannya dengan lembut ?" Aline bertanya - tanya dalam hati karena tadi ia melihat Dannis yang di penuhi amarah, tapi ketika menciumnya ia melakukannya dengan sangat lembut.
Setelah puas menciumnya, Dannis melepaskan panggutannya lalu di tatapnya wajah Aline yang kini sudah tampak merah merona. Kemudian ia segera merengkuhnya kedalam dekapannya.
__ADS_1
"Maaf." ucap Dannis yang masih memeluk gadis itu dengan erat.
Aline hanya mendongakkan wajahnya menatap Dannis, tanpa menyahutinya. Karena ia tidak mengerti laki - laki itu minta maaf untuk apa.
"Aku mohon jangan membuatku cemburu lagi." ucap Dannis lagi
"Cemburu ?" tanya Aline tidak mengerti.
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Sam ataupun Leon." ujar Dannis ia masih menatap Aline dengan intens dan kedua tangannya masih memeluk erat pinggang gadisnya itu.
"Tapi Sam dan Leon itu temanku." sahut Aline dengan mencebikkan bibirnya.
"Tapi mereka tidak menganggapmu sebagai teman sayang." ucap Dannis.
"Apa ?"
"Mereka berdua menyukaimu ?" ucap Dannis lagi.
"Itu tidak mungkin." seru Aline tidak percaya.
"Kamu jangan terlalu naif sayang, tidak ada kedekatan seorang laki - laki dan perempuan hanya sebatas teman pasti salah satu diantaranya menaruh perasaan." ujar Dannis.
"Tapi kenapa ?"
"Karena aku mencintaimu, aku tidak suka kamu akrab dengan laki - laki lain ." jawab Dannis dengan tegas.
"Bohong." sahut Aline.
"Tatap aku, apa aku sedang membohongimu ?" ujar Dannis seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Aline, agar gadisnya itu menatapnya balik.
Tapi ketika Dannis ingin kembali menciumnya, Aline segera memalingkan wajahnya. "Kamu selalu saja cari kesempatan." ucap Aline.
"Tapi kamu menyukainya kan ?" tanya Dannis lagi dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Enggak, mana ada. Kamu yang selalu tiba - tiba menciumku." sahut Aline dengan mencebikkan bibirnya dan itu membuat Dannis semakin gemas. Ia langsung mengecupnya bibir mungil itu sekali lagi, yang awalnya hanya sebuah kecupan kini berubah menjadi *******.
Aline yang terbawa suasana, ia membalas ciuman Dannis meski masih kaku ia mencoba mengimbanginya karena laki - laki itu juga melakukannya dengan lembut.
__ADS_1
Ketika mereka sedang Asyik dengan kegiatannya, tiba - tiba pintu ruangannya di ketuk.
Seketika Aline mendorong tubuh Dannis agar menjauh. "Ada yang datang." ucap Aline wajahnya terlihat merah merona.
"Biarkan saja." ucap Dannis ia sekarang duduk di kursi kerjanya dan menarik Aline agar duduk di pangkuannya.
Tak berapa lama setelah pintu di ketuk, David sekretarisnya Dannis membuka pintu dan masuk kedalam. "Maaf tuan mengganggu." ucap David sedikit canggung ketika melihat bossnya itu terlihat mesra.
"Kamu memang sangat mengganggu." sahut Dannis.
"Saya mau mengingatkan kalau tiga puluh menit lagi ada meeting." tutur David lagi.
"Astaga aku lupa." ucap Dannis
"Sayang, kamu tidak apa - apa kan aku tinggal sebentar. Hanya satu jam ?" ujar Dannis lagi.
"Iya pergilah, aku tunggu disini !!" ucap Aline ia melangkahkan kakinya menuju sofa.
"Baiklah, aku pergi dulu ya." Dannis berjalan keluar yang di ikuti oleh David, tapi baru sampai pintu ia kembali lagi.
"Apa lagi ?" tanya Aline, ia melihat Dannis berjalan ke arahnya.
"Ada yang ketinggalan." ucap Dannis dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Apa ?" Aline yang sedang duduk di sofa tampak tidak mengerti.
"Ini." Dannis membungkukkan badannya lalu ia mengecup dahi Aline, setelah itu dia berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Aline yang dapat kecupan mendadak tampak tersenyum sendiri, ia memegang jantungnya yang masih berdebar ketika mengingat ciuman panasnya tadi.
"Tidak, aku tidak mau terlena dengan sikap lembutnya. Bisa jadi itu triknya, dia itu playboy sejati tidak mungkin bisa berubah secepat itu." batin Aline dalam hati.
Kemudian dia beranjak dari sofa yang ia duduki tadi, lalu ia pindah ke kursi kerja Dannis. "Apa ini kursi baru, dan meja ini juga sepertinya baru. Ini berbeda seperti waktu aku kerja di sini dulu." gumam Aline.
"Cat ruangan ini juga sepertinya baru dan sofa itu juga berbeda dari yang dulu, kenapa dia mengganti semuanya buang - buang uang saja." gerutu Aline dalam hati. Ia memperhatikan seluruh ruangan yang sudah di renovasi total.
Ketika ia sedang memeriksa setiap barang yang ada diatas meja kerja tersebut, seketika matanya membelalak ketika melihat sebuah bingkai kecil yang berisi foto dirinya yang sedang tidur dengan mulut menganga.
__ADS_1
"Kurang ajar, untuk apa dia menaruh fotoku disini. Apa dia berniat mempermalukanku ?" ujar Aline dengan geram.