Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Positif ??


__ADS_3

"Kamu ?" Dannis tampak shock ketika melihat penampilan Aline yang tanpa mengenakan kacamata tebalnya.



"Ada apa ?" Aline mengucek matanya yang masih mengantuk, tak lama kemudian ia menyadari kalau sedang tidak menggunakan kacamata.


"Kacamataku." gumam Aline kemudian ia segera menutup pintu Apartemennya lagi dan meninggalkan Dannis yang masih berdiri mematung.


"Bodoh, bodoh." batinnya, ia beberapa kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mondar mandir didalam kamarnya, sepertinya rasa sakit di kakinya tiba - tiba hilang karena kepanikannya saat ini.


Tak lama kemudian bel Apartemennya berbunyi lagi. "Akhh kenapa aku bersikap seperti pencuri di rumahku sendiri." gumam Aline kemudian ia keluar dari kamarnya.


"Apa lagi ?" tanya Aline dengan ketus ketika melihat Dannis berdiri didepan pintunya.


"Jadi selama ini kamu mempermainkanku ?" ucap Dannis dengan geram.


"Maksud kamu ?" Aline tidak mengerti kenapa tiba - tiba pria di depannya itu marah - marah.


"Kenapa kamu sengaja menjadi dua gadis yang berbeda di depanku ?" ucap Dannis sambil mendekat kearah Aline.


"Eh stop, physical distancing !!" pekik Aline yang seketika membuat Dannis berhenti.


"Kamu pikir aku membawa virus, tidak lihat apa aku sehat bugar seperti ini." protes Dannis tidak terima.


"Jangan salah, orang sehat juga bisa jadi OTG." cibir Aline dengan kedua tangannya yang bersendekap.


"Apa itu ?" sepertinya Dannis tidak mengerti dengan kata - kata yang baru dia dengar.


"Orang tanpa gejala, itu sangat berbahaya dan bisa menulari." sahut Aline dengan tampang serius.


"Benarkah, bagaimana kalau kita karantina berdua ?" ucap Dannis juga dengan mimik serius.


"Enak saja, kamu jangan cari kesempatan." Aline mendengus dengan kesal menatap laki - laki di depannya itu.


"Tapi kalau aku OTG, kamu bisa jadi OTG juga." ucap Dannis masih dengan mimik serius.


"Mana mungkin, itu pasti hanya akal - akalan kamu saja."


"Bukannya kita kemarin sudah berciuman, bisa saja aku sudah menularimu." ucap Dannis dengan nada menakuti.


"Benarkah ?" Aline masih tampak termenung di depan pintu memikirkan ciuman Dannis kemarin, hingga tanpa sadar laki - laki itu sudah masuk ke dalam Apartemennya.

__ADS_1


"Tentu saja dan sepertinya aku juga agak sedikit demam." ucap Dannis yang sudah duduk di sofa, dalam hati ia begitu terkekeh sudah mengerjai gadis itu.


"Kamu tidak sedang membodohiku kan ?" ujar Aline ia segera duduk di sebelahnya Dannis.


"Tentu saja tidak, bukannya virus ini cepat sekali menular lewat cairan dan kita kemarin sudah berbagi cairan di mulut kita bukan." ujar Dannis dengan menahan tawa.


"Mana ada, kamu yang sudah menciumku dengan paksa lagipula kenapa bicaramu bar - bar begitu." ucap Aline kemudian ia beranjak dari duduknya dan pindah ke sofa lain, ia takut kalau pria itu akan tiba - tiba menerkamnya.


"Aku harus segera menelepon petugas medis." sambung Aline lagi, lalu ia mengambil ponselnya di atas meja.


"Buat apa ?"


"Tentu saja untuk memeriksa kita berdua, positif atau tidak."


"Lalu kalau hasilnya positif kamu mau di jemput oleh gugus covid dan di karantina di tempat yang sempit, setiap hari kita di suruh tidur tanpa berbuat apa - apa ?" lagi - lagi Dannis mencoba menakuti Aline.


"Ya tidak mau, bisa gila aku." Aline membayangkan bagaimana menjalani karantina seperti berada di dalam penjara.


"Makanya kita harus karantina mandiri selama empat belas hari ke depan." bujuk Dannis.


"Kita ?" Aline memicingkan matanya.


"Kenapa kamu tidak karantina sendiri di Apartemen kamu ?" teriak Aline tidak terima kalau harus berbagi tempat tinggal dengan pria mesum itu.


"Kita harus saling membantu dan mengawasi, apa kamu mau mati sendirian di dalam sini ?" Dannis mencoba untuk meyakinkan Aline, agar ia bisa membalasnya karena sudah mempermainkannya selama ini. Pikirnya.


"Baiklah." ucap Aline dengan pasrah, sepertinya otaknya yang cemerlang tiba - tiba menjadi bodoh ketika berhadapan dengan Dannis yang licik.


"Yes." batin Dannis dalam hati ia tampak menyeringai dengan lebar.


"Kamu kenapa girang begitu ?" tanya Aline curiga.


"Tentu saja aku bisa kerja dari rumah, tanpa harus bangun pagi." sahut Dannis beralasan.


"Dasar pemalas." celetuk Aline seraya berjalan ke kamarnya.



"Aku belum makan siang, apa kamu mau membuatkanku makan ?" Perintah Dannis ketika melihat Aline baru keluar dari kamarnya.


"Kalau mau makan buat sendiri, aku bukan pembantumu." gerutu Aline.

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu harus belajar menjadi istri yang baik." ujar Dannis yang masih duduk di sofa.


"Memangnya kamu sudah belajar menjadi suami yang baik ?" Aline menghentikan langkahnya dan melotot kearah Dannis.


"Tentu saja, kalau aku tidak baik dan tampan. perempuan di luar sana tidak akan mengejarku." ucap Dannis dengan narsis.


"Percuma tampan kalau penyakitan." ucap Aline dengan lirih sambil berjalan ke dapur.


"Siapa yang penyakitan ?" teriak Dannis lalu ia beranjak dari duduknya dan mengikuti Aline.


"Tentu saja kamu. Kamu sudah banyak berhubungan dengan banyak wanita memang kamu tidak takut terinfeksi." sahut Aline seraya mengoles beberapa roti dengan selai nanas kesukaannya.


"Aku bukan pria bodoh yang bisa membahayakan diriku sendiri, lagipula buat apa ada pengaman dijual bebas." celetuk Dannis sambil mengambil roti yang sudah di olesi selai oleh Aline.


"Sial sekali wanita yang akan menjadi istri mu nanti." cibir Aline.


"Hey, di luar sana banyak wanita yang bangga bisa berkencan denganku." seru Dannis dengan mulut penuh makanan.


"Itu mereka, bukan aku." teriak Aline kemudian ia masuk lagi ke dalam kamarnya dengan membawa piring berisi roti.


"Lihat saja dalam empat belas hari kedepan, kamu akan aku taklukkan." gumam Dannis yang masih duduk di meja makan.


Beberapa saat kemudian bel pintu berbunyi, Dannis yang masih berada di meja makan segera beranjak dan membuka pintu.


"Tuan ini barang - barang yang anda suruh bawa kesini." ujar david sekretaris baru Dannis, ia menyerahkan sebuah koper berukuran besar.


"Beritahu Sam, aku sedang karantina mandiri bersama calon istriku jadi jangan menggangguku." perintah Dannis dengan tegas.


"Apa anda positif tuan ?" tanya sekretaris itu seraya mundur beberapa langkah.


"Eh. Tentu saja, sekarang pergilah !" perintah Dannis lagi kemudian ia masuk kedalam dengan membawa kopernya.


"Kamu tidak berniat untuk tinggal disini selamanya kan ?" tanya Aline ketika melihat ukuran koper yang menurutnya sangat besar.


"Kalau iya kenapa, lagipula kita berdua pada akhirnya juga akan menikah." Dannis berjalan mendekatinya.


"Kamu mau apa ?" teriak Aline, ia segera menutup mulut dengan tangannya takut kalau Dannis akan menyerangnya lagi.


"Anggap saja kita berdua sedang latihan menjadi suami istri." ucap Dannis kemudian berlalu meninggalkan Aline yang masih berdiri mematung.


"Astaga bahaya sekali laki - laki ini, bisa - bisa setelah empat belas hari perutku yang positif. Aku harus membuatnya ilfil terhadapku dalam empat belas hari kedepan, hingga ia dengan sendirinya menolak perjodohan ini." batin Aline dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2