
"Sayang." seru Nisa ibunya Aline yang baru saja membuka pintu Apartemennya, Nisa tampak kaget melihat Anak gadisnya sedang duduk berdua dengan seorang laki - laki.
Sedangkan Austin ayahnya Aline hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi apapun.
"Kalian sedang apa berduaan malam - malam begini ?" teriak Nisa dengan menatap tajam Dannis dan Aline secara bergantian
"Ki - kita tidak sedang ngapa - ngapain Mi." sahut Aline dengan gugup.
"Iya kan ?" Aline menatap tajam Dannis agar mengiyakan ucapannya, karena laki - laki itu sedikitpun tidak terlihat gugup ataupun takut.
"Aukhhhh, sakit sayang." teriak Dannis, ia meringis kesakitan ketika Aline mencubit pinggangnya.
"Bahkan kamu memanggilnya dengan sebutan sayang, fix pasti kalian sudah berhubungan diam - diam dibelakang kami." ujar Nisa dengan geram, tanpa mendengar penjelasan dari mereka ia sudah menyimpulkan sendiri.
"Mami sudah salah paham." sahut Aline.
"Pa, ayo segera kita nikahkan mereka !!" kali ini Nisa menatap suaminya yang sedari tadi hanya diam saja.
"Pa, kita tidak punya hubungan apa - apa. Aku masih muda, aku belum mau menikah." Aline tampak mengiba pada Ayahnya.
"Sayang, tapi aku mau kita segera menikah. Kamu tidak akan membuatku jadi bujang lapukkan ?" kali ini Dannis memprotes sanggahan Aline.
"Itu urusanmu Pak tua, pokoknya aku tidak mau menikah dengan playboy seperti kamu." seru Aline dengan sinis.
"Tapi aku sudah berubah sayang." Dannis masih keukeh untuk membujuk gadis kecilnya itu.
"Sudah - sudah, ini sudah malam. Dannis, kembalilah ke Apartemenmu. Besok pagi kita bicarakan ini." Kali ini Austin menimpali dengan suara tegasnya hingga membuat Dannis diam tak berkutik.
"Baik Om, tante. Kalau begitu saya kemasi barang - barang saya dulu." ujar Dannis kemudian ia berlalu ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian setelah Dannis kembali ke Apartemennya, Austin dan istrinya segera menginterogasi anak gadisnya itu.
"Aline beneran Pa, tidak ada hubungan apapun dengan laki - laki itu. Kita hanya karantina bersama tidak lebih dari itu." ujar Aline mencoba untuk menjelaskan pada kedua orangtuanya.
"Bagaimanapun tinggal satu atap dengan orang yang bukan suami kamu itu tidak boleh." sahut Austin dengan tegas.
"Maaf Pa, Dannis hanya kawatir meninggalkan Aline sendirian." ucap Aline lirih.
"Lebih baik kita nikahkan saja Pa." celetuk Nisa, ia tampak kecewa dengan ulah anak gadisnya itu.
__ADS_1
Walaupun ia berniat untuk menjodohkan mereka, tapi bukan berarti mereka bisa tinggal serumah meski dengan alasan karantina. Ini pasti hanya akal - akalan Dannis untuk memperdaya putri kecilnya itu. Pikirnya.
"Ma, Aline tidak punya hubungan apapun dengannya." Aline masih memohon pada Ibunya itu.
"Papa tidak akan menikahkan mereka." sahut Austin dengan tegas.
"Beneran Pa, Papa memang yang terbaik." seru Aline seraya memeluk Ayahnya itu.
"Tapi ada syaratnya." sergah Austin lagi.
"Apa Pa ?" tanya Aline dengan senyum yang mulai menyurut.
"Berkencanlah kalian selama satu bulan, kalian bisa jalan dan mengenal satu sama lain jika selama sebulan kamu tidak juga menyukainya Papa tidak akan memaksamu untuk menikah." ujar Austin.
"Benarkah Pa, jadi Papa tidak akan memaksaku untuk menikah seperti di novel - novel itu ?" tanya Aline dengan antusias.
"Novel ?" tanya Austin dengan mengerutkan dahinya, sepertinya ia tidak mengerti dengan maksud anaknya itu.
"Iya cerita di novel Pa, menikah karena perjodohan. Jadi setelah menikah mereka membuat sebuah kesepakatan. Bahwa setelah satu tahun menikah mereka akan bercerai, tapi belum satu tahun mereka sudah saling jatuh cinta." ujar Aline dengan antusias, ia menceritakan salah satu novel favoritnya.
"Astaga sayang, kebanyakan berhalu kamu. Papa dulu pernah menikah selama lima tahun tapi tidak juga jatuh cinta." ujar Austin seraya mengacak - acak rambutnya anaknya.
"Sudah - sudah sekarang beristirahatlah Nak ini sudah malam !!" ujar Nisa setelah melihat jam di dinding.
"Baiklah." Aline beranjak dari duduknya, setelah mencium kedua orang tuanya ia segera pergi ke kamarnya.
Setelah anak gadisnya itu pergi, kini tinggal Austin dan Nisa yang masih berada di ruang tamu tersebut.
"Pa, bukannya Papa kemarin yang ngotot ingin menjodohkan mereka ?" tanya Nisa ia merasa penasaran akan perubahan suaminya.
"Aku sudah menyelidiki semua tentang Dannis, beberapa tahun belakangan ini dia banyak mempermainkan banyak perempuan." ujar Austin dengan datar.
"Astaga Pa, kenapa baru bilang." Nisa tampak terperanjat mendengar ucapan suaminya.
"Lalu kenapa Papa biarin anak kita untuk berkencan dengan pria itu selama sebulan ?" tanya Nisa lagi.
"Tapi Papa yakin Dannis sudah berubah sejak mengenal anak kita." sahut Austin dengan tegas.
"Seyakin itu ?" Nisa nampaknya masih bimbang.
__ADS_1
"Kamu meragukan suamimu ini, Hmmm ?" sahut Austin seraya menatap istrinya itu dengan lembut.
"Bukan begitu." sahut Nisa.
"Aku yakin dia tidak akan mengecewakan Papa maupun tuan Nicholas, tapi itu tergantung anak kita. Papa tidak mau mereka menikah karena perjodohan tapi harus saling mencintai seperti kita dulu." ujar Austin dengan memandang istrinya itu.
🍁🍁🍁
Keesokan harinya
"Duduklah !!" perintah Austin kepada Dannis ketika laki - laki itu mengunjungi kantornya siang itu.
Ini adalah kali pertama Dannis menginjakkan kakinya di kantor Austin, di mana Aline juga bekerja disana.
"Maaf Om sebelumnya. Jika Om menyuruh saya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya pada anak Om, saya sangat siap. Saya akan menikahinya." ujar Dannis dengan serius.
"Saya tidak akan meminta kamu untuk bertanggung jawab." ucap Austin dengan tegas.
"Tapi Om..." Dannis belum menyelesaikan perkataannya tapi Austin sudah menyelanya.
"Aline anak saya satu - satunya, saya ingin dia menikah dengan orang yang dia cintai dan juga mencintainya." ujar Austin.
"Saya mencintainya Om." sahut Dannis dengan serius.
"Tapi anak saya ragu dengan kamu." ucap Austin seraya menatap Dannis dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Saya tahu Om, beberapa tahun terakhir ini saya sudah banyak membuat banyak kesalahan dan sejak bertemu dengan Aline saya sudah menyadarinya Om." ujar Dannis, ia mencoba untuk berkata jujur. Karena dia yakin Laki - laki di depannya itu bukan orang sembarangan, pasti beliau sudah menyelidiki tentangnya. Pikirnya.
"Saya kasih kamu waktu satu bulan untuk meyakinkan anak saya, jika kamu tidak bisa. Tolong jangan ganggu dia lagi !!" ujar Austin dengan tegas.
"Baik Om, saya mengerti." ucap Dannis kemudian berpamitan untuk pulang.
"Saya yakin kamu tidak akan mengecewakan saya ataupun Ayah kamu." ucap Austin ketika Dannis sudah membuka pintu untuk keluar dari ruangan tersebut, hingga membuat laki - laki itu berbalik badan dan menatapnya lagi.
"Saya janji Om." ucap Dannis dengan tegas, lalu ia meninggalkan ruangan tersebut.
Ketika berada di lobby kantor, Dannis berpapasan dengan Aline yang juga akan keluar dari kantornya.
"Kamu ?" Aline mengerutkan dahinya ketika Dannis tiba - tiba menggandeng tangannya.
__ADS_1