
"Sayang, aku tinggal sebentar tidak apa-apa kan ?" ucap Dannis ketika baru selesai menerima panggilan dari Sam, kini mereka sudah berada di Mansion tuan Nicholas.
"Aku hampir melewati kematian ku tapi kamu sudah mau pergi lagi, lagipula aku sudah tidak mual lagi, aku bisa menghirup aroma tubuhmu." Aline mengendus kemeja suaminya memastikan kalau dirinya sudah tidak merasakan mual lagi.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin pergi sayang, tapi aku harus melakukannya demi dirimu." batin Dannis, ia menghela napas panjangnya.
Sebenarnya ia ingin sekali menemani istrinya, apalagi sudah hampir sebulan ini dia sama sekali tidak pernah menyentuhnya tapi ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan Leon. Karena ia tidak mau di kemudian hari akan ada kejadian yang sama lagi.
"Sayang aku cuma sebentar, aku janji segera kembali." pinta Dannis, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya.
Melihat Aline yang memalingkan muka karena kesal, Dannis semakin gemas. Ia langsung menelusupkan kepalanya pada curuk leher istrinya.
"Bang bule sakit." teriak Aline sembari meronta dari pelukan suaminya, Dannis bukannya menciumnya tapi justru menggigit lehernya hingga kemerahan.
"Habis kamu menggemaskan sayang."
"Ya sudah pergi sana !!" Aline mendorong tubuh suaminya, tapi bukannya menjauh tapi Dannis justru semakin merapatkan badannya.
"Tapi senyum dulu baru aku pergi." pinta Dannis, ia tidak mungkin meninggalkan istrinya dalam keadaan marah, bisa-bisa nanti malam ia tidur di luar.
Aline yang nggak rela suaminya pergi, ia hanya tersenyum masam, tapi itu justru membuat Dannis lagi-lagi merasa gemas dan tak menunggu lama ia langsung melum*t bibir istrinya dengan rakus.
Dannis seperti mendapat siraman air es di tengah gurun pasir, hampir sebulan ia tidak bisa menyentuh istrinya kini badannya terasa bergetar nikmat ketika bibir mereka saling bersentuhan, menyesapnya dan mengul*mnya hingga beberapa saat.
Lalu Dannis segera melepaskan panggutannya, ia merasa miliknya sudah sangat menegang dan terasa sesak. Kalau tidak ia hentikan, ia takut tidak bisa menahannya lagi dan pasti akan menerkam istrinya saat ini juga.
Di usapnya dengan lembut bibir istrinya itu yang terlihat bengkak karena ulahnya barusan. " Jadi aku boleh pergi kan ?" tanya Dannis sembari menatap manik istrinya.
__ADS_1
Aline mengangguk dengan sedikit bibir terangkat, bagaimana pun juga suaminya adalah seorang CEO pasti banyak pekerjaan yang harus dia urus jadi Aline sedikit memberikan toleransi.
"Aku janji akan cepat pulang dan kita lanjutkan lagi nanti." ucap Dannis menggoda.
Setelah mendapatkan persetujuan istrinya, Sore menjelang malam itu Dannis segera meninggalkan Mansion Ayahnya dan melajukan mobilnya dengan kencang menuju kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, Dannis segera mencari keberadaan asistennya itu yang terlihat sedang duduk menunggunya bersama Armand.
"Kenapa nggak nunggu nanti malam saja sih boss melakukan itu, tega benar biarin kita menunggu seperti ini." protes Sam ketika melihat Dannis berjalan ke arahnya dengan rambut acak-acakan.
"Kamu pikir puasa sebulan itu enak, selagi di tawari makanan enak kenapa nggak kita makan." ujar Dannis sarkastis, ia sengaja menggoda Sam.
Dannis yakin selama ini Sam belum pernah melakukannya dengan Sofia, apalagi sepertinya pernikahan mereka akan sedikit tertunda karena masalah ini.
Dannis semakin ingin mengerjai Sam, karena hampir sebulan ini sahabat sekaligus asistennya itu dengan sengaja bermesraan dengan Sofia di depannya.
"Apa kamu bilang, Leon sudah ketergantungan narkoba ?" tanya Dannis tidak percaya setelah mendengar penjelasan Armand.
"Dia juga menderita bipolar akut dan dia akan menjalani rehabilitas narkoba di rumah sakit kejiwaan. Karena emosinya saat ini sangat membahayakan bagi dirinya dan orang lain." ucap Armand.
Mendengar penjelasan Armand, terbesit perasaan bersalah di hati Dannis. Benar kata istrinya, Leon hanya korban dari perilaku orang tuanya dan sejak kematian Ibunya hingga kini Dannis selalu membenci adik tirinya itu.
Dannis memejamkan matanya sesaat, menghembuskan napas panjangnya. Dia mulai merasa menyesal dan janji pada dirinya sendiri untuk ke depannya akan berusaha memperlakukan Leon seperti layaknya seorang adik.
"Di mana dia sekarang ?" tanya Dannis.
"Apa kamu mau melihatnya ?" tanya balik Armand.
__ADS_1
Dannis mengangguk kan kepalanya, kemudian mengikuti langkah kaki Armand yang sudah berjalan di depannya.
"Untuk sementara, akan di tempatkan di sel ini. Setelah mendapat persetujuan dari mu maka dia akan di pindahkan ke pusat rehabilitasi di rumah sakit kejiwaan." ucap Armand sembari melihat Leon yang sedang duduk di sudut dinding dengan pandangan kosong.
"Aku akan segera mengurusnya." ucap Dannis lalu segera meninggalkan tempat tersebut, melihat keadaan Leon seperti itu diam-diam ia merasa sangat bersalah.
Setelah mengurus segala prosedur di kantor polisi tersebut, Dannis segera melajukan mobilnya untuk pulang. Waktu sebentar yang ia janjikan pada istrinya, ternyata tidak tepat waktu bahkan kini ia hampir tengah malam baru pulang.
Dannis membuka pintu kamarnya, terlihat istrinya sudah tidur pulas. Sepertinya ia harus puasa lagi malam ini. Ia segera membersihkan dirinya, setelah itu ia bersandar di headboard ranjang di sebelah istrinya dengan memangku laptopnya.
"Shit, berani sekali dia memeluk dan mencium istriku. Sedangkan aku saja sebagai suaminya, sudah hampir sebulan tidak pernah menyentuhnya." gerutu Dannis ketika melihat isi rekaman yang di berikan oleh Sam tadi sewaktu habis dari kantor polisi.
"Baiklah, aku memaafkan mu kali ini. Anggap saja ciuman adik pada kakak iparnya." Dannis berusaha untuk berpikir positif, kemudian ia mematikan laptopnya dan segera masuk ke dalam selimut. Ia rengkuh tubuh istrinya, lalu ia masukkan ke dalam pelukannya.
"Besok kamu harus mendapatkan hukumanmu sayang, karena sudah membiarkan laki-laki lain menyentuh mu." gumam Dannis sembari mengusap lembut pipi istrinya.
"Atau hukuman mu akan ku cicil sekarang." gumamnya lagi sembari meletakkan kepala istrinya di atas bantal.
Kemudian ia singkap selimut yang menutupi tubuh istrinya bagian atasnya, dengan lincah Dannis melepaskan kancing piyama istrinya hingga piyama tersebut terbuka dan menampakkan dua gundukan favoritnya.
Melihat itu gairahnya langsung naik, tak menunggu lama ia langsung menikmati dua gundukan yang sudah sebulan ini dia rindukan.
Aline yang notabene nya suka tidur ngebo, hanya sesekali menggeliat dan melenguh karena perbuatan tak senonoh suaminya itu.
Setelah puas dengan kegiatannya, Dannis segera mengancingkan kembali piyama istrinya. Setelah sebelumnya ia memandangi hasil karyanya dengan senyum kepuasan.
Ia sudah tidak sabar menunggu bagaimana reaksi istrinya saat bangun tidur besok pagi, kemudian ia memeluk istrinya dan memejamkan matanya untuk tidur meski ia merasa tersiksa karena miliknya sudah menegang dan sesak minta di keluarkan.
__ADS_1