
"Pergilah dari sini !!" perintah Aline pada Dannis ketika mereka sedang sarapan bersama keesokan harinya.
"Tapi kenapa, bukannya sisa karantina kita masih ada beberapa hari lagi ?" tanya Dannis, ia nampak terkejut ketika gadis di depannya itu tiba - tiba mengusirnya.
"Aku bisa karantina sendiri tanpa harus kamu temani." jawab Aline dengan ketus.
"Apa karena masalah kemarin ?" tanya Dannis lagi, matanya masih menatap intens gadis yang sedang duduk di depannya itu.
"Aku tidak mau kejadian kemarin akan terulang lagi." sahut Aline dengan sinis.
"Aku minta maaf." ucap Dannis.
"Aku sudah memaafkanmu, jadi setelah ini pergilah dari sini !!" perintah Aline lagi.
"Aku mohon jangan seperti ini. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi, tapi biarkan aku disini sampai masa karantina kita berakhir." Dannis tampak mengiba, ia tidak rela jika harus meninggalkan Aline dalam keadaan marah itu akan semakin memperburuk hubungan mereka.
"Ck." Aline berdecak dengan kesal kemudian tanpa sepatah katapun ia beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Dannis yang masih ingin bicara banyak dengannya.
Dannis yang melihat kepergian gadis kecilnya itu nampak kecewa. Sudah berhari - hari tinggal satu atap bersamanya, ia sama sekali belum mampu menaklukkan hatinya. Bahkan gadis itu sekarang mungkin sangat membencinya, karena akibat ulahnya kemarin.
Ia menyadari perbuatan masa lalunya yang sering bermain - main dengan beberapa wanita yang mungkin membuat Aline begitu jutek terhadapnya dan kini ia sangat menyesalinya.
Beberapa hari sejak kejadian itu, mereka saling menghindar. Aline akan keluar dari kamarnya ketika sudah mendengar Dannis masuk ke dalam kamarnya.
Begitu juga dengan malam ini ketika Dannis sedang berada di dalam kamarnya, Aline segera keluar dari kamarnya untuk mengambil makanan yang ia pesan lewat online.
Ia bergegas membawanya ke meja makan lalu segera memakannya, karena perutnya sedari tadi sudah keroncongan. Ketika sedang asyik menikmati makanannya, terdengar suara dering ponsel.
"Kenapa dia meninggalkannya disini ?" gumam Aline ketika melihat ponsel Dannis berada di atas meja makan tak jauh dari tempatnya ia duduk.
"My Love ?" gumam Aline lagi, ketika melihat nama si penelepon yang tertera di layar ponsel Dannis.
"Apa itu kekasihnya ?" tanya Aline dalam hati, ada sedikit rasa sesak ketika ia memikirkannya.
Karena mendengar deringan ponsel yang lumayan nyaring dari luar kamarnya, Dannis segera keluar dan mencari ponselnya.
__ADS_1
Ia ingat sudah meninggalkan ponselnya di dapur sore tadi dan ia bergegas untuk mengambilnya. Ketika melihat Aline berada di meja makan, seketika ia menghentikan langkahnya.
"Aku mau mengambil ponselku." ucap Dannis ketika pandangan mereka bertemu.
Aline hanya diam saja tanpa menjawab apapun, kemudian ia beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamarnya setelah ia menaruh peralatan makannya di wastafel.
"Cleo ?" Dannis tampak tercengang ketika ia melihat siapa yang sedari tadi menghubungi ponselnya.
"Berani - beraninya dia muncul setelah sekian lama pergi." gerutunya dalam hati.
Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan dapur, "Apa kucing kecilku juga melihatnya ?" batinnya dalam hati ketika lewat depan pintu kamar Aline yang sudah tertutup.
Ketika sampai di kamarnya, Dannis segera menghubungi Sam.
"Sam, tolong kamu cari tahu keberadaan Cleo. Sepertinya nomor ponselnya sudah aktif kembali !!" perintah Dannis ketika menghubungi Sam Asistennya.
"Kamu sudah mengacaukan hidupku selama ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu." gumam Dannis, ia merebahkan badannya diatas ranjang lalu pandangannya kosong kearah langit - langit kamarnya.
Sedangkan Aline yang sedang berada di kamarnya terlihat sangat kesal. Sejak melihat nama penelpon yang tertera di layar ponsel Dannis tadi, seketika ia menjadi emosi.
"Dasar playboy kadal, aku kira dia sudah mulai berubah ternyata masih sama seperti dulu." gumam Aline, ia memukul - mukul bantalnya.
Dia langsung menuju dapur, karena tadi piring bekas makannya belum ia bersihkan. "Dia sudah mencuri ciuman pertamaku, kedua, ketiga dan keempat, harusnya ku lakukan itu hanya untuk suamiku. Akhh bodoh, bodoh." gerutu Aline sambil mencuci peralatan makannya.
Tanpa ia sadari sedari tadi Dannis sudah mengawasi di sofa di depan tv."Apa dia sepolos itu, jangan - jangan apa yang di katakan oleh Sam benar." batin Dannis dalam hati.
Ehmmmmm
Dannis berdehem dengan keras hingga membuat Aline seketika berbalik badan. "Kau ?" seru Aline ketika melihat Dannis sudah duduk di sofa sambil menonton tv.
"Kenapa, kaget. Makanya jangan suka berbicara sendiri, syukur - syukur bukan hantu yang ikut nimbrung." ujar Dannis ketika Aline menatapnya.
"Hah, kamu bohongkan ?" Aline yang tadinya berdiri di cucian piring kini sudah berlari kearah Dannis berada.
"Bisa jadi, kalau hantunya sedang usil." ujar Dannis dengan mimik serius padahal dalam hati ia begitu terkekeh, ia mengingat kejadian di taman hiburan waktu itu. Bagaimana Aline sangat ketakutan ketika masuk dalam wahana kereta hantu.
__ADS_1
"Kamu tidak sedang bercandakan ?" tanya Aline lagi, kini ia sudah duduk di sebelahnya Dannis bahkan tangannya sudah memegang lengan Dannis sepertinya ia sedang ketakutan.
"Hei lepaskan, apa kamu tidak takut aku akan menerkammu ?" ujar Dannis dengan menahan tawanya.
"Ini lebih serius, kamu tidak sedang...." Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi lampu Apartemen tiba - tiba padam.
"Akhhhhhh, hantu." pekik Aline, seketika ia langsung memeluk Dannis.
"Tidak ada hantu sayang, tenanglah !!" ujar Dannis sambil menenangkan gadis di pelukannya itu. Sepertinya hari ini ia dapat durian runtuh wkwkwk...
"Kamu mau kemana ?" tanya Aline ketika Dannis akan beranjak dari duduknya.
"Aku akan mengambil ponselku." jawab Dannis seraya berdiri dari duduknya.
"Sudah tidak apa - apa, sebentar lagi pasti menyala lagi listriknya." ujar Dannis sambil mengacak lembut puncak kepala Aline.
Kini mereka sedang duduk di sofa dengan sedikit pencahayaan dari lampu ponsel. Meski Aline sudah tidak memeluknya seperti tadi, tapi posisi mereka masih duduk bersebelahan dan saling berdekatan tanpa ada celah.
"Apa kamu takut gelap ?" tanya Dannis untuk memecah keheningan di antara mereka.
"Tidak juga, hanya saja kamu sudah menakutiku duluan tadi." sahut Aline dengan mecebikkan bibirnya.
"Aku kan cuma bercanda tadi."
"Bercanda dari mana muka kamu serius begitu." gerutu Aline.
"Beneran itu cuma bercanda sayang." sahut Dannis sambil terkekeh.
"Berhenti memanggilku seperti itu, kita kan bukan pasangan kekasih !!" seru Aline.
"Makanya jadilah kekasihku !!"
"Enggak mau."
"Kenapa, apa aku tidak cukup baik buat mu ?" tanya Dannis dengan menatap Aline, begitu juga dengan Aline ia mendongakkan wajahnya untuk melihat keseriusan laki - laki yang sedang duduk disampingnya itu.
__ADS_1
"Kamu baik, tapi...." Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi tiba - tiba lampu menyala dan juga ada seseorang yang sudah membuka pintu Apartemennya.
"Sayang." seru Nisa ibunya Aline yang baru saja membuka pintu Apartemennya,Nisa tampak kaget melihat Anak gadisnya sedang duduk berdua dengan seorang laki - laki.