Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Bertemu Cleo


__ADS_3

Sore itu setelah pulang kerja, Aline memacukan kendaraannya dengan kencang menuju Apartemennya Sofia. Sesampainya disana, ia memencet bel beberapa kali tapi tak kunjung di buka oleh sahabatnya itu.


"Sial nih bocah, giliran aku butuh curhat susah banget di hubungi. Mobilnya masih ada di bawah, apa dia lagi tidur ya ?" gerutu Aline sambil mondar mandir di depan pintu Apartemennya Sofia.


"Di telepon enggak di angkat juga, aku langsung masuk aja kali ya." batin Aline dalam hati.


Karena ia mengetahui passcode Apartemen tersebut, tanpa pikir panjang ia langsung menekan beberapa angka. Setelah pintu terbuka ia bergegas untuk masuk.


"Duh kenapa remang - remang begini, belum bayar listrik apa dia." gerutu Aline ketika melihat Apartemen Sofia yang minim pencahayaan.


"Spada"


"Ada orang tidak ?"


"Woy, Sopi'ah !!"


Aline yang masih di ambang pintu berteriak - teriak. Karena tidak ada sahutan, lalu ia melangkahkan kakinya masuk kedalam. Ketika baru beberapa langkah tiba - tiba kakinya tersandung sepatu. Entah sepatu siapa, tapi sepertinya sepatu laki - laki. Pikirnya. Karena penasaran, ia segera mencari stop kontak untuk menyalahkan beberapa lampu di sana.


"Sepatu siapa ini, apa dia diam - diam masukin laki - laki ?" Aline bertanya - tanya dalam hati.


Dengan perasaan penasaran bercampur kesal Aline segera menuju kamar Sofia. Ketika sampai di depan pintu kamar tersebut ia mendengar suara - suara aneh, suara yang bikin mupeng bagi yang mendengarnya.


"What. Ini Apartemen Sofia bukan sih." Aline menajamkan telinganya lagi untuk memastikan pendengarannya.


"Aukkkkhhhh."


"Sayang sakit, pelan - pelan."


"Iya, seperti itu enak." Terdengar suara Sofia dari dalam kamar.


"Astaga, bulu kudukku berdiri guys. Sepertinya jiwa jombloku meronta - ronta." Aline jadi merinding sendiri mendengar dua insan yang saling mendesah dan berteriak di dalam kamar tersebut.


"Tidak, Ini tidak boleh di biarin. Bagaimana bisa dia belum menikah tapi sudah ajeb - ajeb duluan." gerutu Aline ia sudah seperti orang yang memergoki kekasihnya sedang berselingkuh.


Dengan amarah bercampur emosi ia mundur beberapa langkah untuk memasang kuda - kuda dan tak menunggu lama dengan kekuatan penuh ia langsung menendang pintu tersebut hingga roboh.


Brakkkkkkkk


"Aliiiiiiine, kamu sedang ngapain ?" teriak Sofia emosi, Pandangannya nanar ketika melihat pintu kamarnya yang sudah tak berbentuk.


"Kalian berdua sedang apa didalam kamar ?" teriak Aline tak kalah nyaring.


Ia melihat Sofia dan Sam sedang duduk di Sofa dengan pakaian yang masih lengkap membalut tubuh mereka, tak seperti yang Aline bayangkan sebelumnya.


"Kamu pikir, kami sedang ngapain Aline ?" ujar Sam penuh sindiran.

__ADS_1


"Aku pikir, kalian sedang..." Aline nampak menautkan kedua telunjuknya tanpa melanjutkan perkataannya.


"Astaga, sepertinya kamu sudah terkena virus mesumnya Dannis." ucap Sofia kesal.


"Lalu kenapa kalian berduaan disini ?" Aline mencoba untuk membela diri, meski saat ini ia merasa sangat malu.


"Aku sedang pijitin dia Aline, tadi Sofia habis terpeleset di kamar mandi dan kakinya terkilir." kali ini Sam yang menimpali.


"Iya maaf." Aline melangkahkan kakinya kearah Sofia dan langsung memeriksa kaki sahabatnya itu yang terlihat bengkak.


"Lagipula pintu itu tidak dikunci, kamu bisa langsung membukanya tanpa harus menendangnya." ucap Sofia lirih.


"Iya maaf, nanti aku suruh orang untuk memperbaikinya." Aline nampak menyesal.


"Eh, sebentar. Kenapa Sam bisa disini, apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku ?" tanya Aline penuh selidik.


"Kami sudah jadian." ucap Sam tanpa ragu.


"Benarkah, sejak kapan ?" Aline merasa tidak terima karena merasa kedua sahabatnya itu diam - diam main belakang.


"Beberapa hari yang lalu." ucapnya Sofia dengan nyengir.


"Tapi awas saja kalian macam - macam sebelum menikah !!" ancam Aline dengan mengepalkan kedua tangannya, yang membuat kedua sahabatnya itu memandangnya dengan ngeri. Pintu yang keras saja bisa Aline remukkan, apalagi dengan mereka. Pikir, Sam dan Sofia bersamaan.


"Tenang saja, aku akan segera menikahinya." ujar Sam yang membuat Sofia nampak tersipu malu.


"Lalu, kamu ada perlu apa tadi kesini ?" tanya Sofia.


"Aku sudah membuat keputusan."


"Apa ?" sahut Sam dan Sofia bersamaan.


"Aku sudah memutuskan untuk menerima perjodohan itu." ucap Aline.


"Benarkah, aku ikut bahagia. Aku lihat Dannis juga sudah banyak berubah." ujar Sam senang.


"Apa kamu mencintainya ?" tanya Sam memastikan lagi.


"Aku tidak tahu aku mencintainya atau tidak, tapi yang pasti aku tidak ingin jauh darinya." sahut Aline, wajahnya nampak berbinar ketika mengingat kebersamaannya bersama Dannis akhir - akhir ini.


"Fix, itu tandanya kamu sudah jatuh cinta." celetuk Sofia.


Mendengar perkataan Sofia, Aline nampak merah merona. Ia merasa senang kedua sahabatnya mendukung keputusannya.


Setelah dari Apartemennya Sofia, Aline segera melajukan mobilnya untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Ketika sedang dalam perjalanan, ponselnya beberapa kali berdering dari nomor yang tidak ia kenal. Aline segera menepikan mobilnya dan menjawab panggilan tersebut.

__ADS_1


"Iya hallo, dengan siapa ini ?" tanya Aline ketika menjawab panggilan tersebut.


"Apa kamu yang bernama nona Aline, pacarnya Dannis ?" tanya si penelepon dari seberang sana.


"Ini siapa ?" tanya Aline balik.


"Bisakah kita bertemu ?"


"Maaf, aku tidak punya waktu." ujar Aline singkat, ia mengira itu adalah mantan teman kencannya Dannis.


"Aku Cleo, kekasihnya Dannis dan cinta pertamanya."


Aline nampak terkejut ketika mendengar suara Cleo. "Kamu dapat nomorku dari mana ?" tanya Aline.


"Tentu saja dari Dannis, aku akan menceritakan lebih lanjut jika kita bertemu."


"Baiklah, temui aku di Cafe xx sekarang !!" sahut Aline lalu mematikan panggilannya.


"Aku tidak boleh terprovokasi, Dannis bilang sudah tidak ada hubungan dengan cinta pertamanya itu." batin Aline sambil melajukan mobilnya dengan kencang menuju Cafe xx.


Sesampainya di Cafe xx, Aline segera mencari tempat duduk kosong di pojok ruangan. Baru mendudukkan badannya tiba - tiba seorang wanita cantik bak seorang model menghampirinya.


"Nona Aline ?" sapa Cleo berdiri tepat di depan Aline duduk.


"Iya, apa anda yang menelepon tadi !!" tanya Aline memastikan.


"Iya, boleh aku duduk ?" ucap Cleo dengan lembut.


"Katakan apa yang kamu inginkan !!" ucap Aline to the point.


"Tolong jauhi Dannis, aku sangat mencintainya !!" ujar Cleo tampak mengiba.


"Kenapa tidak Dannis saja yang kamu suruh untuk menjauhiku ?" sahut Aline.


"Kamu hanya cinta sesaatnya, aku lah cinta sejatinya." ucap Cleo.


"Apa kamu yakin ?" Aline tersenyum sinis.


"Waktu itu kami sudah berhubungan selama tiga tahun, di saat kami akan menikah tuan Nicholas mengusir ku jauh dari negara ini. Selama lima tahun terakhir aku berusaha sangat keras agar bisa sepadan dengannya, tapi setelah aku kembali ada kamu di antara kami." ucap Cleo dengan terisak.


"Dannis bilang dia sangat mencintaiku." Aline bingung harus bagaimana menghadapi Cleo yang sedang menangis.


"Dannis hanya bimbang dengan perasaannya, kalau Dannis tidak mencintaiku untuk apa dia khawatir ketika aku sakit. Bahkan dia menjagaku semalaman di rumah sakit." ujar Cleo.


"Apa, jadi waktu itu dia menjaga wanita ini hingga tidak sempat berganti pakaian." batin Aline.

__ADS_1


"Kalau kamu masih tidak percaya padaku datanglah besok ke Cafe Minions, itu adalah tempat favorit kami. Ia sudah berjanji akan menemaniku disana." ujar Cleo sambil beranjak dari duduknya.


"Sebagai sesama wanita, aku harap kamu mengerti bagaimana perasaan dan perjuanganku selama ini." lanjut Cleo lagi dengan menepuk bahu Aline pelan, kemudian ia berlalu pergi dengan senyuman licik.


__ADS_2