
"Kenapa Boss, nggak dapat jatah semalam ?" tanya Sam pagi itu ketika melihat Dannis nampak muram.
"Lebih dari itu."
"Kok bisa, lagi palang merah ?"
"Apa itu ?" tanya balik Dannis tak mengerti.
"Siklus bulanan wanita boss."
"Nggak."
"Biasanya boss selalu punya banyak cara untuk merayunya ?"
"Dia selalu menolak kalau ku dekati." ucap Dannis frustrasi.
"Alasannya ?"
"Dia bilang aku bau, sampai aku mandi berkali-kali dan paling mengenaskan aku harus tidur di sofa setiap malam." keluh Dannis mengingat beberapa hari ini sejak dari rumah sakit waktu itu, istrinya itu selalu menyuruhnya tidur di sofa.
"Memang ada kejadian apa sebelumnya boss ?" tanya Sam penasaran.
"Sejak dia bertemu Hannah di rumah sakit, dia berubah cuek padaku. Aku sudah menjelaskannya kalau kita hanya berteman bahkan aku sudah merayunya dengan berbagai cara tapi tidak berhasil, setiap kali ku dekati dia selalu muntah."
"Aline cemburu mungkin boss."
"Memang ada hubungan apa antara cemburu dan muntah." Dannis mendengus kesal.
"Jangan-Jangan Aline hamil boss."
"Dari mana kamu tahu, aku yang jadi suaminya saja tidak tahu." sentak Dannis.
"Searching dong boss, tanda-tanda hamil muda salah satunya perubahan suasana hati dan suka mual kalau mencium sesuatu yang baunya tajam." Sam menunjukkan artikel dalam ponselnya.
"Masa sih, tapi istriku merasa sedang tidak hamil." Dannis nampak serius membaca artikel di ponsel Sam.
"Boss itu jadi suami benar-benar tidak peka." cibir Sam.
Dannis mengusap wajahnya dengan kasar, ia mengingat beberapa hari yang lalu istrinya minta nasi padang dan juga makanan favoritnya fuyunghai tapi karena kesibukannya dia mengabaikan permintaan istrinya.
"Aku harus pergi." Dannis mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Sebentar lagi kita ada meeting bos."
"Kamu saja yang pimpin, istriku lebih penting." Dannis berlalu keluar dari ruangannya meninggalkan Sam yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
"Tahu gitu tadi tidak aku tunjukkan artikel sialan itu, lagi-lagi aku yang gantiin meeting. Kapan bisa ketemu Sofia, sudah beberapa hari ini dia jarang menghubungiku." gerutu Sam kemudian pergi meninggalkan ruangan bossnya itu.
Sesampainya di kantor Aline, tanpa permisi Dannis langsung berjalan menuju ruangan istrinya. "Bang bull, kamu disini ?" Aline yang sedang meeting bersama Sanjaya dan beberapa karyawan lainnya nampak terkejut ketika melihat pintu ruangannya tiba-tiba di buka.
"Shit, dia duduk berdekatan dengan laki-laki lain tapi kenapa tidak mual." gerutu Dannis dalam hati ketika melihat istrinya itu duduk bersebelahan dengan Sanjaya.
"Aku mau mengajakmu makan siang." sahut Dannis beralasan.
"Tapi ini baru jam sepuluh lewat." Aline melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah, aku akan menunggu di luar." Dannis berlalu keluar dan menutup pintunya lagi.
Aline yang merasa ada sesuatu dengan suaminya, ia segera mengakhiri meeting pagi itu. "Bang bull kamu kenapa ?" Aline menghampiri suaminya yang sedang duduk di luar ruangannya.
"Apa kamu masih mual ?"
"Nggak, ayo bicara di dalam saja !!" Aline mengajak suaminya masuk ke dalam ruangannya.
"Tadi pagi kamu mual-mual." ujar Dannis setelah berada di dalam ruangan tersebut.
"Tapi sekarang sudah nggak." Aline melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.
"Benarkah, apa aku boleh menciummu ?" pinta Dannis yang sangat merindukan sentuhan istrinya.
Tanpa menunggu jawaban Dannis segera mencium istrinya, ciuman yang ia nantikan dalam beberapa hari ini. "Apa kita akan melakukannya di sini ?" tanya Aline sembari tertawa ketika suaminya itu sudah melepaskan beberapa kancing bajunya.
Dannis melajukan mobilnya dengan kencang menuju Apartemennya, tadinya ia ingin mengajak istrinya ke rumah sakit untuk memastikan kehamilannya, tapi karena ulah istrinya di kantor tadi kini ia harus meredamkan gairahnya terlebih dahulu.
Sesampainya di Apartemennya, Dannis segera membawa istrinya ke kamarnya tapi tiba-tiba Aline merasa mual dan berlari ke kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa lagi, tadi di kantor baik-baik saja ?" Dannis memijat tengkuk istrinya.
"Bang bull jangan dekat-dekat, aroma tubuh mu bikin aku mual." Aline mendorong suaminya agar menjauh.
Mendapat penolakan lagi dari istrinya, Dannis merasa frustrasi. Sepertinya ia harus segera mandi air dingin untuk meredakan sesuatu yang menegang di bawah sana.
"Bang bull mau kemana ?" tanya Aline ketika suaminya membuka pintu kamarnya.
"Mau mandi di kamar sebelah."
"Bukannya tadi pagi sudah mandi." gumam Aline kemudian ia merebahkan dirinya di ranjang.
Beberapa saat kemudian Dannis masuk ke dalam kamarnya, ia melihat istrinya sedang tiduran di ranjangnya.
"Sayang, sebaiknya kita ke dokter sekarang." ujar Dannis sembari memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Kamu nggak kerja ?" tanya Aline ketika melihat suaminya hanya memakai pakaian santai.
"Nggak, aku akan membawa mu ke dokter."
"Tapi aku hanya mual biasa, mungkin asam lambungku naik."
"Aku tidak suka di bantah, oke ?" Dannis menatap tajam istrinya.
"Baiklah." ujar Aline pasrah.
"Sayang, aku nggak mau terjadi apa-apa denganmu. Kamu beberapa hari ini selalu mual." ujar Dannis mencoba memberi pengertian pada istrinya.
Setelah itu mereka segera pergi ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Dannis segera menuju ke ruangan dokter ginekologi.
"Bang bull, kenapa kita ke dokter kandungan ?" Aline menahan tangan suaminya ketika akan membuka pintu ruangan tersebut.
"Aku ingin memeriksakan baby kita sayang."
"Darimana kamu tahu aku sedang hamil ?"
"Feeling seorang ayah." ucap Dannis tegas.
"Bang bull." Aline menarik tangan suaminya lagi.
"Kenapa lagi sayang ?" Dannis merasa gemas dengan istrinya yang sedari tadi sudah menguji kesabarannya.
"Kenapa tidak daftar dulu baru antri seperti mereka ?" Aline melihat beberapa ibu hamil sedang menunggu di ruang tunggu.
"Rumah sakit ini punyaku sayang, siapa yang berani menyuruhku antri ?" ujar Dannis lalu segera masuk ke dalam.
Mendengar perkataan suaminya, Aline hanya bisa merutukinya dalam hati.
"Selamat siang tuan Dannis, senang melihat anda di sini." sapa dokter perempuan setengah baya itu, sepertinya beliau sangat senang mendapat kunjungan dari sang pemilik rumah sakit tersebut.
"Dok, sepertinya istri saya sedang hamil karena beberapa hari ini selalu mual dan muntah." ucap Dannis tanpa basa basi.
"Aku nggak hamil Dannis, jangan bikin malu." bisik Aline.
"Sudah diam, sekarang berbaringlah biar dokter Sarah memeriksa mu !!" perintah Dannis.
Melihat interaksi sepasang suami istri di depannya itu, Dokter Sarah nampak terkekeh. "Kalau boleh tahu kapan terakhir haid ?" tanya dokter Sarah.
"Haid saya sering tidak teratur dok, kalau nggak salah sekitar enam minggu yang lalu."
"Itu berarti waktu kita menikah, kamu sedang masa subur sayang." celetuk Dannis tanpa rasa sungkan sedikitpun.
__ADS_1
Aline memutar bola matanya tak percaya, lalu menatap tajam Dannis. Bagaimana suaminya bisa mengerti seluk beluk perempuan bahkan bisa menebak kalau dia sedang hamil, pikirnya.
"Sebelumnya, kamu tidak pernah menghamili wanita lain kan ?" bisik Aline.