
Ketika sedang berada di counter check-in, Dannis berkali-kali menoleh kebelakang berharap gadisnya itu datang untuk menahannya agar tidak pergi, tapi mustahil karena itu hanya akan terjadi di film-film yang ia tonton. Sedangkan dia saja pergi tanpa pamit.
Kini ia berdiri paling belakang untuk menunggu antrian, ia merasa begitu tak bersemangat. Nampak kesedihan tersirat di wajahnya, ketika kakinya akan melangkah maju tiba-tiba ada seseorang yang melingkarkan kedua tangan di perutnya dengan erat.
Dannis sangat mengenal tangan tersebut, kecil, putih dan halus. Tangan seseorang yang begitu ia rindukan. Apa ia sedang berkhayal, pikirnya.
"Ku mohon jangan pergi." ucap Aline ketika sedang memeluknya.
Dannis merasakan dingin di punggungnya, seperti air yang menelusup masuk kedalam kemejanya. Ia tahu gadis yang sedang memeluknya itu sedang menangis. Seketika ia berbalik badan untuk melihatnya.
"Sayang." Dannis setengah tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya. Ketika di ujung keputus asaannya, Tuhan masih berbaik hati memberinya kesempatan.
"Ku mohon jangan pergi." ucap Aline lagi lalu kembali memeluknya dengan erat.
"Sayang kenapa kamu bisa disini ?"
"Maafkan aku Dannis, aku tidak mau kamu pergi." Aline semakin mengeratkan pelukannya.
Dannis menjauhkan tubuh Aline agar bisa melihat wajahnya tapi kedua tangannya masih membelit pinggangnya. "Katakan padaku, apa kamu mencintaiku ?" hanya jawaban dari pertanyaan itu yang ingin dia dengar saat ini untuk mengubah keputusannya.
"Aku mencintaimu Dannis, sangat mencintaimu." Aline mengatakannya dengan menatap manik laki-laki itu, manik hazel dengan sorotan yang tajam.
Di rengkuhnya lagi wanita itu kedalam pelukannya, memeluknya dengan erat seakan tak ingin melepaskannya lagi. Kini ia benar-benar yakin cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang," ucap Dannis lirih tapi itu membuat Aline justru semakin mengeratkan pelukannya.
Tampak dari kejauhan sepasang mata laki-laki sedang mengawasinya, terlihat senyum kecil mengembang di bibirnya. "Kamu berhak bahagia Cil," setelah itu Dewa melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Kamu tidak akan pergikan ?" tanya Aline memastikan. Ia melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Dannis.
"Aku akan pergi jika bersamamu." sahut Dannis lalu mengecup bibir gadisnya itu sekilas setelah itu ia menggandeng tangannya untuk pergi dari sana sebelum semakin banyak orang yang memperhatikannya.
"Lalu penerbangan mu bagaimana ?" tanya Aline sembari berjalan menuju Basement di mana mobilnya terparkir.
"Lupakan, aku hanya ingin bersamamu dan tidak ingin yang lain." sahut Dannis tangannya masih terus menggenggam tangan kecil itu.
Sesampainya di parkiran mereka segera masuk kedalam mobilnya, "Aku kira kita sudah berakhir,"
"Dan kamu merelakan aku bersama dengan laki-laki lain." potong Aline.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu bahagia sayang, aku lihat kamu begitu dekat dengan laki-laki itu."
"Dewa sahabatku sebatas itu, tidak lebih." sanggah Aline.
"Baiklah aku percaya, aku akan segera melamarmu."
"Secepat itu ?"
"Tentu saja sayang, aku tidak mau pacaran. Aku ingin kita segera menikah agar kamu tidak bisa kabur dariku lagi." sahut Dannis kemudian ia mengangkat satu telapak tangannya untuk membelai pipi gadis yang sedang berada di depannya itu.
"Aku mencintaimu." ucapnya lagi sembari mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup bibir mungil itu, merasakan manis dan hangatnya bibir yang selama ini ia rindukan.
Tidak puas hanya dengan kecupan, ia mulai meluma*tnya dengan lembut, mencecapnya dan menyesapnya. Hingga saling bertukar lidah untuk mengeksplor kenikmatan di dalam sana.
Tokkkk
Tokkkk
Terdengar ketukan dari luar, hingga dua insan yang sedang menyalurkan kerinduannya karena berpisah beberapa waktu itu harus menghentikan aksinya. Mereka langsung melepaskan panggutannya dan segera merapikan dirinya.
Lalu Dannis menurunkan kaca mobilnya, ia melihat dua orang security sudah berada di samping mobilnya.
Tanpa berkata-kata Dannis mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan langsung memberikannya pada seorang security tersebut.
"Kami akan segera pergi." potongnya lalu mulai melajukan kendaraannya.
Sedangkan Aline sudah terlihat sangat malu, wajahnya terlihat merah merona. Sepertinya saat ini ia ingin sekali menggali lubang dan masuk ke dalam sana.
"Memalukan." ucap Aline dengan menangkapkan kedua tangan di pipinya.
Dannis hanya terkekeh melihat tingkahnya, "Kita akan segera menikah sayang." hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk menenangkan gadisnya itu sembari mengacak rambutnya dengan lembut.
"Kita mau kemana ?" Aline melihat Dannis melajukan mobilnya ke jalan yang tak asing baginya.
"Tentu saja menemui orangtua mu dan melamarmu sayang." sahut Dannis melihat ke arahnya dengan kedua tangannya masih berada di kemudi.
"Sekarang ?"
"Iya sayang, apa kamu mau menunggu tahun depan ?"
__ADS_1
"Kapan pun aku akan menunggu."
"Dan aku takkan membiarkan mu menunggu lagi." ucap Dannis sembari meraih telapak tangan Aline dan mengecupnya beberapa kali, seakan tangan tersebut mengandung gula dan ia ingin merasakan manisnya lagi dan lagi.
"Aku masih belum mau mati Dannis, fokus lah menyetir." teriak Aline, ia segera menarik tangannya tapi laki-laki itu justru semakin kuat menggenggamnya dan kini Aline malah jatuh ke dalam pelukannya.
"Dannis, lepaskan !!" Aline mencoba untuk meronta dari pelukan Dannis, mengemudi sembari memeluk seseorang itu akan sangat membahayakan. Pikirnya.
"Diam sayang, kalau kamu banyak gerak aku tidak bisa mengemudi." ujar Dannis matanya masih fokus melihat jalanan tapi tangan satunya lagi sibuk membelai rambut Aline yang sekarang sudah berada di pelukannya dan sesekali ia mengecupnya.
"kamu sangat hangat." ucap lirih Aline.
"Tentu saja sayang, apalagi tidur sambil memelukmu pasti lebih hangat." sahut Dannis menggoda.
"Dasar mesum." Aline seketika mendorong dengan kuat tubuh laki-laki itu sampai terhuyung hingga membuat mobil yang ia kendarai sedikit oleng dan hampir menabrak pengendara lain.
"Woyyyy, bisa nyetir enggak." teriak pengemudi motor yang berlawanan arah dengannya.
"Astaga sayang, kamu mau kita sama-sama mati sebelum nikah." ujar Dannis.
"Biarin siapa suruh mesum." cebik Aline.
"Kamu pasti akan menyesal karena belum menikmati surga dunia bersama suami mu ini." ujar Dannis terkekeh.
"Dan kamu juga pasti akan menyesal, karena tidak jadi menyentuh gadis suci sepertiku." balas Aline tak mau kalah.
"Ya sudah Ayo ke KUA, aku jadi ingin cepat-cepat halalin kamu." sahut Dannis terkekeh.
"Tidak semudah itu Fergusso, kamu harus minta restu orang tuaku dulu." ucap Aline yang seketika membuat Dannis mengerem mobilnya mendadak, beruntung jalanan di area perumahan itu nampak sepi.
"Kamu tadi bilang apa sayang, jadi kamu menyamakan aku dengan anjingnya Si Marimar itu ?" Dannis semakin mendekatkan wajahnya dengan tatapan tajam seolah ingin menerkam gadis di depannya itu.
"Aku bercanda Dannis, jangan marah !!"
"Tunggu kita menikah ya, aku akan menggigit seluruh tubuhmu seperti Fergusso." sahut Dannis sambil melajukan mobilnya kembali.
Aline nampak kesusahan menelan salivanya sendiri, membayangkan kata-kata Dannis barusan membuatnya bergidik ngeri.
.
__ADS_1
NB : Thanks gengs masih setia dengan cerita ini. peyuk atu-atu 🤗🤗 Kalau ada waktu jangan lupa mampir ke lapak "Senyuman Fatimah" sudah ada visualnya di bab dua.