
"Sepertinya kamu adalah gadis yang sudah membuatnya melupakan cinta pertamanya, meski ia sudah kembali." ujar Edward yang membuat Aline sedikit mengernyitkan keningnya.
Dannis yang mendengar itu langsung menatap tajam pada sahabatnya itu yang sedang sibuk melepaskan jarum infus di punggung tangan Aline.
"Oh." ucap Aline datar tanpa ekspresi, tapi kenapa hatinya terasa sesak ya ketika mendengar cinta pertama Dannis telah kembali.
Dulu Sam pernah bercerita kalau Dannis berubah menjadi playboy karena cinta pertamanya tiba - tiba meninggalkannya dan sekarang wanita itu telah kembali apa dia akan kembali bersatu, Memikirkan hal itu membuat hati Aline terasa nyeri.
"Baiklah kakak ipar, ini resep vitamin yang harus kamu minum. Senang bertemu denganmu." ujar Edward seraya menyerahkan selembar resep pada Aline.
"Aku berada di pihakmu kakak ipar, kalau dia macam - macam kasih tahu saja aku. Akan ku buat remuk tulangnya." lanjut Edward setengah berbisik pada Aline.
Dannis yang sedari tadi melihat interaksi antara Aline dan sahabatnya itu tampak sangat geram, ingin sekali ia cepat - cepat menendang laki - laki itu keluar dari Apartemen ini.
"Hey sudah selesai kan, ayo cepat keluar dari sini !!" perintah Dannis seraya menarik Edward dengan paksa.
"Dasar teman enggak beradab, kalau kamu sampai menyia - nyiakannya aku siap untuk menjaganya." ujar dokter Edward dengan sengaja menggoda sahabatnya itu, ia tahu kalau Dannis benar - benar sudah jatuh cinta pada Aline.
"Coba saja kalau berani, kamu pulang hanya tinggal nama." ujar Dannis dengan geram.
Dokter Edward hanya terkekeh mendengar ancaman Dannis, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Apartemen tersebut.
Tak berapa lama setelah mengantar dokter Edward keluar, Dannis kembali lagi masuk kedalam.
"Sekarang aku sudah sehat. Kamu tidak berencana nginap di sinikan ?" Aline berdiri dengan bersendekap menatap Dannis yang berjalan ke arahnya.
"Kalau kamu mengijinkan, kenapa enggak." sahut Dannis enteng.
"Mimpi." ucap Aline sinis kemudian ia berjalan melewati Dannis untuk keluar dari kamarnya.
"Astaga nih kucing kecil, sebentar baik sebentar galak. Untung saja aku cinta." batin Dannis ia merasa gemas dengan tingkah gadisnya itu.
"Sayang kamu kenapa ?" tanya Dannis sambil berlalu mengikuti Aline keluar kamar.
"Tidak, sekarang pulanglah !!" Aline berteriak sambil berjalan ke dapur.
"Kamu mengusirku ?"
"Iya."
__ADS_1
"Baiklah." ucap Dannis lalu masuk kembali kedalam dalam kamar.
Tak lama kemudian, Dannis keluar lagi dengan mengenakan kemeja dan celana kerjanya tadi pagi.
"Aku pulang." ujar Dannis tak bersemangat. Ia menghampiri Aline yang sedang duduk di meja makan, berharap gadis kecilnya itu menahannya untuk tidak pulang. Entahlah ketika bersama Aline, ia merasa enggan untuk berpisah.
"Ya pulang saja sana, jangan pernah kembali lagi !!" teriak Aline kesal.
"Oke baiklah." sahut Dannis kecewa lalu ia pergi meninggalkan Aline yang masih duduk di kursinya.
"Dasar tidak pengertian, pasti dia mau menemui kekasihnya." gerutu Aline dalam hati tadinya ia merasa lapar, tapi kini ia tiba - tiba kenyang mendadak. Kemudian ia berlalu ke kamarnya lagi.
Beberapa jam setelah itu Aline masih berada di dalam kamarnya, ia terus - menerus menggerutu tidak jelas dengan segala pikiran negatifnya terhadap Dannis, membayangkan laki - laki itu sedang Dinner bersama kekasihnya membuatnya frustrasi. Segala umpatan ia lontarkan.
"Dasar laki - laki tidak peka, harusnya dia mengerti perasaan perempuan, kalau dia memang benar - benar cinta. Kalau wanita bilang pulanglah itu tandanya ia keberatan kalau prianya pulang, kalau bilang tidak suka itu artinya suka. Dia mana ngerti seperti itu, bodohnya aku sudah menyukai laki - laki playboy seperti itu." gerutu Aline dengan lirih lalu ia memukul samsak yang ada di depannya itu beberapa kali, sepertinya karena emosi membuatnya tiba - tiba sangat bertenaga.
"Dannis brengsek." Ia melesatkan pukulannya dengan keras.
"Playboy kadal."
"Penipu."
Dannis yang sedari tadi berdiri di pintu, ia tampak senang ketika mendengar kalau gadisnya itu juga menyukainya, meski mengatakannya bercampur dengan umpatan.
"Dannis, se - sejak kapan kamu berdiri di sana ?" Aline nampak kaget ketika ia berbalik badan dan melihat Dannis sudah berdiri di pintu kamarnya.
"Apa dia mendengar semuanya ?" Aline bertanya - tanya dalam hati.
"Lumayanlah bisa mendengar ocehan dan umpatan kamu." ujar Dannis terkekeh.
"Ka - Kamu ngapain kesini, ini Apartemenku jangan seenaknya bisa keluar masuk." teriak Aline gugup.
"Aku membawakanmu makan malam, ayo makan !!" perintah Dannis sambil berjalan menuju meja makan yang di ikuti oleh Aline di belakangnya.
"Sejak kapan kamu menyiapkan ini semua ?" Aline melihat beberapa menu kesukaannya di meja makan.
"Sejak kamu memaki - makiku." celetuk Dannis sembari menaruh piring di hadapan Aline.
"Sepertinya besok aku harus segera mengganti passcode Apartemenku." batin Aline.
__ADS_1
"Ayo makanlah yang banyak, biar tenagamu pulih kembali dan tambah semangat memaki - maki Aku lagi." sindir Dannis dengan senyum penuh ledekan.
Aline tak menghiraukan, ia lebih fokus untuk menghabiskan makanannya karena sedari sore ia merasa sangat kelaparan.
"Pelan - pelan makannya tidak akan ada yang minta makananmu." ujar Dannis ketika melihat gadisnya itu makan begitu lahap.
"Aku pikir kamu tadi dinner dengan kekasihmu." ucap Aline lirih nyaris tak terdengar.
"Apa, kamu mengatakan sesuatu ?"
"Ti - tidak." celetuk Aline dengan mulut penuh makanan.
Beberapa saat kemudian setelah menyelesaikan makan malamnya, Dannis nampak mencuci peralatan bekas makan mereka.
"Biarkan saja nanti aku yang nyuci, kamu pulang saja !!" ujar Aline yang masih duduk di kursinya.
"Sudah diam aja, aku bisa sendiri." ucap Dannis tangannya masih sibuk membilas piring di bawah kucuran air wastafel.
Aline yang sedang duduk di meja makan sedari tadi terus mengawasi kegiatan laki- laki itu, hatinya begitu terenyuh ketika melihat seorang CEO rela melakukan pekerjaan rumah seperti itu. Entahlah hatinya begitu berbunga - bunga, apa ini yang dinamakan cinta. Pikirnya, ia juga masih bimbang dengan perasaannya.
"Kenapa bengong ?" tanya Dannis sembari jalan mendekatinya.
"Tidak." Aline nampak tersenyum pada laki - laki di depannya itu.
"Kamu cantik kalau tersenyum." ujar Dannis, mungkin baru kali ini ia melihat gadisnya itu tersenyum manis padanya dan itu membuat hatinya berdesir.
"Jadi selama ini aku tidak cantik ?" tanya Aline dengan sinis.
"Apapun itu kamu tetap cantik sayang."
"Benarkah ?"
"Iya." Dannis mencubit hidung Aline dengan gemas.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu ?" tanya Aline dengan mimik serius.
"Apa ?"
"Apa kamu masih mencintai mantan kekasihmu ?" Aline mencoba untuk bertanya pada laki - laki yang sedang duduk di depannya itu, karena beberapa hari lagi ia harus membuat keputusan harus menikah dengan Dannis atau tidak. Kalau boleh jujur saat ini mungkin ia sudah mulai mencintai laki - laki itu, tapi ia harus memastikan bagaimana perasaan Dannis yang sesungguhnya.
__ADS_1