Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Khilaf ???


__ADS_3

Dannis menarik tangan Aline yang seketika membuatnya jatuh ke atas dadanya. "Dannis, aku tidak bisa bernapas." teriak Aline ketika laki - laki itu memeluknya dengan erat.


"Uhukkkk, kamu mau membuatku mati." Aline terbatuk - batuk yang membuat Dannis seketika membalikkan badannya, hingga gadisnya itu sekarang berada di bawahnya.


Jantung Aline berdetak dengan kencang ketika Dannis semakin mendekatkan wajahnya. " Aku benar - benar mencintaimu sayang." ucap Dannis lirih dengan menatap manik gadisnya itu.


Ingin sekali ia menerkam gadis yang berada di bawah kungkungannya saat ini, menghirup wangi tubuhnya yang selalu memabukkan. Menikmati setiap jengkal tubuhnya, ******* habis bibir ranumnya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher itu hingga menjadikannya miliknya seutuhnya. Tetapi Dannis segera menekan gairahnya, ia tidak mau gara - gara napsu liarnya gadisnya itu jadi membencinya.


Ia akan melakukannya ketika sudah sah, memastikan kalau gadisnya itu juga sudah benar - benar mencintainya dan pada saat itu tiba ia akan meraih surga duniawi yang penuh cinta bersamanya.


Dannis segera menjauhkan tubuhnya, lalu ia beranjak berdiri. " Aku mandi sebentar, oke ?" ucapnya sembari berlalu pergi ke kamar mandi.


"Bukannya dia sudah mandi ?" tanya Aline dalam hati, ia segera duduk dan bersandar di headboard ranjang. Ia merasa lega karena Dannis sudah bisa mengendalikan dirinya. Kalau tidak, mungkin ia akan khilaf.


"Khilaf ?"


Aline mengacak - acak rambutnya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan, bagaimana bisa ia berpikiran seperti itu. Sepertinya otak sucinya sudah terkontaminasi oleh kemesuman Dannis.


"Astaga nyebut Aline, nyebut." batin Aline dalam hati.


Dua puluh menit kemudian Dannis keluar dari kamar mandi, wajahnya nampak segar setelah menuntaskan gairahnya di dalam kamar mandinya. Ia hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan di bawah pusarnya. Perutnya yang terlihat kotak - kotak dan bulu - bulu dadanya yang sudah melambai - lambai minta di belai. Membuat Aline menelan ludahnya dengan kasar.


"Cobaan apa lagi ini Tuhan." batin Aline.


"Masih di sini sayang, mau melihatku ganti baju ?" goda Dannis dengan senyuman menyeringai di bibirnya.


"Nooooooo." Aline segera beranjak dari ranjangnya dan berlari keluar.


Dannis terkekeh melihat tingkah gadisnya itu yang sangat menggemaskan, menurutnya. Lalu ia segera mengganti kemejanya dengan yang baru dan meletakkan kemeja sebelumnya di atas ranjang sebagai teman tidurnya nanti malam, pikirnya. Kerena ia sangat menyukai aroma wangi Aline yang menempel di kemejanya tersebut.

__ADS_1


Aline yang berada di meja makan ngos - ngosan sendiri, merutuki pikiran mesumnya yang tiba - tiba terlintas di otaknya. Mungkin ini akibat sudah berusia 22 tahun lebih tapi masih jomblo.


Dannis yang baru keluar dari kamarnya nampak mengerutkan keningnya ketika melihat Aline yang sedang menunggunya di meja makan. "Ini sudah dingin, lebih baik kamu makan di luar saja." Aline melihat omelet di atas piring yang sudah sangat dingin, melihatnya pun ia sudah tidak selera.


"Tidak apa, aku suka makanan dingin. Bahkan kopi saja aku lebih suka yang dingin dari pada yang masih panas." sahut Dannis seraya menggeser piring tersebut ke hadapannya dan mulai memakannya.


Dannis memakannya dengan lahap, apa ini yang di namakan dengan cinta. Apapun itu jika orang yang kita cintai yang membuatnya rasanya akan lebih nikmat.


Beberapa saat kemudian. Setelah menyelesaikan makan siangnya yang terlewat, mereka segera beranjak dari tempat duduknya. Aline berjalan terlebih dahulu, tapi belum sempat membuka pintu Apartemennya. Dannis sudah memanggilnya hingga ia berbalik badan. "Sayang, kamu mau keluar dengan penampilan seperti itu ?" Dannis menahan senyumnya ketika melihat penampilan gadis di depannya itu.


"Memang ada yang salah dengan penampilanku ?" Aline memperhatikan kemeja dan celana bahan yang membalut tubuhnya, baik - baik saja pikirnya.


Dannis menarik tangannya dan menuntunnya kedepan cermin yang ada di ruang tamu. "Apa kamu mau, orang - orang diluar sana mengira kita habis ngapa - ngapain ?" ujar Dannis.


Aline nampak terkejut melihat rambut gelombangnya yang begitu acak kadut, ia mengambil sisir di dalam tasnya dan segera merapikannya.



Aline yang melihatnya sedikit tidak nyaman, ia langsung mencebikkan bibirnya. Dannis yang menyadari perubahan sikap Aline, ia segera menggandeng tangannya dan berbisik. " Aku cuma milikmu sayang." bisik Dannis sembari melangkahkan kakinya menuju mobilnya.


🍁🍁🍁


Setelah mengantar Aline kembali ke kantornya, Dannis segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Karena tadi, Cleo menghubunginya minta di jemput.


"Sayang, kamu kemana saja seharian. Aku sendirian di rumah sakit." rengek Cleo dengan manja ketika sudah berada di dalam mobil.


"Aku sibuk kerja Cle, berhentilah menyebutku seperti itu. Kita sudah tidak punya hubungan apa - apa lagi dan aku akan segera menikah, tolong mengertilah !!" kali ini Dannis berusaha untuk tegas.


"Apa tidak ada sedikitpun harapan buatku ?" tanya Cleo dengan mengiba.

__ADS_1


"Tidak." ucap Dannis dengan tegas.


"Aku akan mengantarmu pulang ke Apartemen, setelah itu aku akan balik kerja." lanjut Dannis lagi sambil melajukan mobilnya.


Beberapa saat kemudian,setelah memastikan Cleo masuk ke dalam Apartemennya. Dannis segera kembali ke kantornya.


"Sial, aku sudah hampir menghilangkan nyawaku sendiri tapi kamu masih menolakku." gerutu Cleo dengan kesal. Lalu ia mengambil ponsel di dalam tasnya.


Ia mencari sebuah nomor kontak Aline di ponselnya yang dia ambil diam - diam dari ponsel Dannis kemarin malam, ketika laki - laki itu menemaninya di rumah sakit.


Flash back on


Malam itu ketika Dannis sedang terlelap di sofa rumah sakit, Cleo diam - diam turun dari ranjang dengan membawa kantung infusnya berjalan mendekati Dannis.


Cleo meraih ponsel Dannis yang ia genggam saat tidur, kebetulan passwordnya masih ia ingat yaitu tanggal lahir mendiang ibunya. Matanya langsung terbelalak ketika melihat wallpaper seorang wanita di ponsel tersebut.


Kemudian ia beralih ke galeri memastikan kalau masih ada foto dirinya disana, sekali ketukan jarinya berpuluh - puluh foto wanita yang ada di wallpaper itu yang muncul dengan berbagai gaya.


Cleo nampak begitu geram, ingin sekali ia menghancurkan ponsel di tangannya sekarang juga. Tetapi di depan Dannis, ia tidak mau bersikap frontal. Karena ia tahu Dannis sangat menyukai wanita yang polos dan apa adanya.


Dibuka kontak di ponsel tersebut, ia mencari - cari nama kontak gadis tersebut. "Aline cintaku." gumam Cleo ketika melihat nama kontak dan foto profil yang sama dengan wallpaper di ponsel tersebut.


"Sial." umpat Cleo dengan amarah.


Setelah mengirim kontak Aline ke ponselnya, ia segera mengembalikan ponsel tersebut ke genggaman Dannis kembali.


Flash back off


"Kalau Dannis tidak mau meninggalkan mu, maka aku yang akan membuatmu meninggalkannya." gumam Cleo dengan tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2