
"Pergilah Dannis, aku tidak mau melihatmu !!" jerit Aline.
Dannis bergeming meskipun Aline mendorongnya, ia tetap memeluk istrinya dengan erat tak perduli Aline meronta dan memukuli dadanya.
"Percaya lah sayang aku tidak selingkuh." ucap Dannis, kemudian ia menjelaskan semuanya mulai dari dia diam-diam menemui Leon dan kejadian membungkus kado di dalam mobil waktu itu, ia berharap istrinya mau mengerti.
"Aku percaya kamu tidak selingkuh, tapi memberi mu sedikit pelajaran sepertinya menarik." gumam Aline.
"Aku tidak mempercayai mu, pergi lah !!" jerit Aline lagi.
"Aline." Nisa menggelengkan kepalanya ketika melihat anaknya yang sangat keras kepala.
"Aku mohon sayang, percayalah. Aku harus bagaimana, apa aku harus mencium kakimu biar kamu percaya." Dannis menyingkap selimut istrinya yang menutupi kakinya, lalu ia angkat salah satu kali istrinya tapi Ibu mertuanya langsung menegurnya.
"Dannis apa yang kamu lakukan, Aline kamu jangan semena-mena sama suami kamu." tegur Nisa.
"Aline tidak pernah menyuruhnya Mi, dia yang mau melakukannya sendiri. Lagipula tiap malam dia juga mencium setiap jengkal tubuh Aline dari atas hingga bawah jadi apanya yang salah." cebik Aline tanpa ia sadari kedua orang tuanya sudah melotot padanya.
"Itu lain lagi ceritanya sayang, kalau sedang berdua itu urusan kalian tapi jika kamu membiarkan suamimu mencium kakimu di depan kami itu sama saja kamu sudah merendahkannya." tegur Nisa lagi.
Aline tersentak ketika mendengar ucapan Ibunya kemudian dia merutuki dirinya sendiri. " Tidak apa-apa Mi, saya rela melakukan apapun asal Aline tidak meminta cerai." ucap Dannis.
"Siapa yang minta cerai ?" sungut Aline.
"Kamu tadi menyuruh ku pergi."
"Aku hanya menyuruh mu pergi bukan minta cerai." teriak Aline lagi.
"Jadi kita tidak jadi bercerai sayang ?" Dannis menangkup kedua pipi istrinya dan mengecupi bibirnya berkali-kali.
Ehmmmm
Austin berdehem ketika melihat anak dan menantunya itu sudah mulai bertingkah. "Kami keluar dulu, sepertinya Mami kamu belum makan dari tadi." ucap Austin sembari menggandeng istrinya dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.
"Lepaskan, bang bull. Aku masih marah nih !!" Aline meronta tapi Dannis bergeming, ia tetap memeluk istrinya dengan erat.
"Kamu tahu, aku seperti orang gila ketika melihatmu satu minggu ini tidak bangun-bangun. Jadi mulai saat ini aku tidak akan melepaskanmu, aku akan membawa mu kemana pun aku pergi."
"Termasuk ke toilet ?" ucap Aline.
"Ya termasuk itu."
__ADS_1
"Akhhh kamu gila, mana bisa seperti itu."
"Aku takut kamu akan meninggalkan ku sayang, jadi sebelum itu terjadi aku akan menempel padamu terus."
"Kamu lebay deh, kalau kamu nempel aku terus bagaimana kerjaan kamu. Aku dan anak kita nggak mau mati kelaparan."
"Jangan khawatir sayang, tabunganku nggak akan habis tujuh turunan."
"Kamu itu seperti Papa." ucap Aline.
"Sama bagaimana sayang, aku lebih muda lagipula aku bule sedangkan Papamu bermata sipit."
"Sama sombong dan songongnya." ucap Aline terkekeh.
"Nakal ya istriku." Dannis mencubit hidung istrinya.
"Kamu tahu, aku sangat merindukan ini." ucapnya lagi sembari mengusap bibir istrinya yang basah dengan ibu jarinya, kemudian ia berikan kecupan lembut.
Aline yang juga sangat merindukan suaminya, ia membalas kecupan suaminya dengan sebuah lumat😘n kecil. " Aku juga merindukan mu." ucap Aline setelah melepaskan panggutannya tapi Dannis justru menekan tengkuknya dan memperdalam ciumannya.
Saling menyesap dan melum😘t hingga suara desahan lolos dari bibir Aline ketika suaminya mulai menyusuri lehernya dengan bibirnya lalu satu tangannya sudah menyusup ke dalam baju dan meremas salah satu gundukan favoritnya.
Ehhmmm
"Oma, Opa ?" teriak Aline, wajahnya terlihat merona karena malu.
"Minggir, pria cabul." ucap tuan Michael dengan menatap tajam Dannis yang sedang berdiri di sebelah ranjang istrinya.
"Aiyoo cucu Oma apa sudah sehat, Oma sangat merindukan mu." nyonya Celine memeluk erat Aline.
"Opa juga sangat merindukan mu sayang." tuan Michael bergantian memeluk Aline.
"Katakan selama tidak ada Opa di sisimu siapa yang berani menyakitimu, akan Opa habisi." ujar Tuan Michael sembari melirik pada Dannis.
"Nggak ada Opa, semuanya menyayangi Aline, termasuk suami Aline. Ya kan sayang ?" Merasa kakeknya kurang menyukai suaminya, Aline menyuruh Dannis untuk mendekat dan langsung merangkul lengan kekarnya.
"Tentu saja aku sangat mencintai dan menyayangimu sayang." Dannis menunduk dan mencium puncak kepala istrinya yang sedang duduk di bangsal, ia melirik tuan Michael yang sedang menatapnya tak suka.
"Astaga sepertinya orang tua satu ini sedang cemburu padaku." Dannis berdecak dalam hati sembari melihat tuan Michael.
"Sayang, lihat siapa yang datang." ucap Nisa antusias ketika baru membuka pintu dan menyuruh suaminya masuk dengan mendorong sebuah box tidur bayi.
__ADS_1
Setelah sampai di depan bangsal Aline, Nisa segera menggendong cucunya dan memberikannya pada anaknya.
"Ini anak Aline Mi ?" Aline terharu, matanya berkaca-kaca ketika melihat bayi mungil yang berada di gendongannya.
"Sayang lihat baby kita." ucap Aline pada suaminya.
"Buah cinta kita sayang." sahut Dannis sembari mencium bayinya.
Seakan tahu sedang berada dalam gendongan Ibunya bayi mungil itu yang tadinya sedang tidur pulas langsung membuka matanya lebar dan mengusap-usap dada Ibunya dengan hidungnya.
"Sepertinya dia minta asi sayang." ujar Nisa.
Melihat Aline yang akan menyusui bayinya, semua orang yang ada di sana langsung menjauh dan duduk di sofa di ruangan vvip tersebut, kecuali Nisa dan Dannis yang enggan beranjak.
Aline segera melepaskan kancing bajunya dan mulai memberikan asi pada bayinya, melihat bayinya menyusu Dannis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya hari-hari berikutnya aku akan berebut susu dengan anakku."
Ehhmmm
Ehhmmm
Tuan Michael dan Austin yang melihat wajah Dannis tanpa ekspresi langsung berdehem, seakan-akan mereka tahu apa yang sedang Dannis pikirkan saat ini.
"Jadi akan di beri nama siapa jagoan kecil kita ?" ucap Austin.
"Bagaimana kalau Jet Li, dia akan menjadi jagoan." usul tuan Michael.
"Wajahnya saya banget kek, tidak cocok kalau namanya Jet Li." ucap Dannis tidak setuju dan itu langsung membuat tuan Michael cemberut.
"Bagaimana kalau Justin, namanya hampir mirip denganku dia pasti akan menjadi laki-laki tampan, jenius dan kaya tentunya seperti kakeknya." kali ini Austin yang mengusulkan nama untuk cucunya.
"No." jerit Aline.
"Aku Ibunya aku yang memberi nama." ucapnya lagi.
"Baiklah, jadi siapa namanya sayang ?" ucap Nisa Ibunya.
"Aku akan memberinya nama dengan nama mendiang kakakku, namanya King." Aline tersenyum, kakaknya pasti akan bahagia di atas sana. Pikirnya.
"King Bryan." Dannis menambahkan nama keluarganya sembari melirik ke arah tuan Michael yang selalu menatap tak suka padanya.
__ADS_1
"Kakak mu pasti sedang tersenyum bahagia sayang." ucap Nisa berkaca-kaca mengingat mendiang anak laki-lakinya itu.
"Kita juga harus bahagia sayang, kamu sudah berjanjikan tidak akan menangis lagi." ucap Austin lirih sembari merengkuh istrinya dan memeluknya dengan erat.