Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Selamatkan salah satunya


__ADS_3

"Maaf tuan Dannis, untuk menyelamatkan istri dan anak anda, kami terpaksa harus segera melakukan tindakan operasi. Karena selain pendarahan istri anda juga mengalami hipertensi, sepertinya istri anda habis mengalami shock berat." ucap dokter Sarah yang baru saja keluar dari ruangan di mana Aline di periksa.


"Apa anak dan istri ku baik-baik saja, Mam ?" tanya Dannis dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Kami tidak bisa memastikan, kami akan berusaha sebaik mungkin tapi kemungkinan terburuk, kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya saja." ucap dokter Sarah dengan ragu.


"Saya mohon lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya, Mam. Jika harus memilih tolong selamatkan istri saya." pinta Dannis dengan mengiba.


"Baik, kalau begitu saya permisi dulu." ucap dokter Sarah kemudian kembali masuk ke dalam ruangannya tersebut.


"Dannis, maafkan aku. Tidak seharusnya aku tadi minta kamu buat jemput aku." ucap dokter Hannah.


"Pergilah Hannah, aku sedang ingin sendiri !!" Dannis terduduk di kursi lalu mengusap wajahnya dengan kasar, kini ia mengerti bagaimana pentingnya kejujuran, seandainya dari awal dia jujur sama istrinya, ini pasti tidak akan terjadi.


"Baiklah, aku pinjam mobilmu dulu. Leon pasti akan mengerti dengan keadaanmu." ucap dokter Hannah, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Dannis yang masih terlihat sangat frustrasi.


Sejak sebulan terakhir ini, Dannis memang banyak menghabiskan waktunya bersama Leon adiknya. Karena sebelumnya sudah beberapa kali Leon mencoba mengakhiri hidupnya, tapi sejak Dannis lebih memperhatikannya Leon mulai mempunyai semangat hidup.


Hari ini adalah hari ulang tahun Leon, Dannis dan dokter Hannah berencana memberikan Leon sebuah kejutan. Sejak Leon di rawat di rumah sakit Jiwa, dokter Hannah lah yang selalu merawatnya.


Sebenarnya dari dulu dokter Hannah sudah menyukai Leon, tapi sayangnya Leon terlalu terobsesi dengan Aline. Itu yang membuat dokter Hannah sedikit tidak menyukai Aline, atau lebih tepatnya merasa iri karena dua pria tampan dari keluarga Bryan semuanya menyukai Aline.


"Dannis, bagaimana keadaan putri Papa ?" tanya tuan Leon ketika baru datang.


"Masih dalam ruang operasi Pa." ucap Dannis tak bersemangat.


"Papa sudah menghubungi mertua kamu, mungkin sebentar lagi sampai. Kebetulan mereka memang akan terbang kesini sebelumnya."


"Mereka pasti akan marah sama Dannis Pa, karena Dannis tidak bisa menjaga Aline dengan baik." sesal Dannis, ada rasa takut di hatinya jika Ayah mertuanya akan memisahkan dirinya dengan istrinya nanti.

__ADS_1


"Kamu tenang dulu, bagaimanapun juga Papa yang salah. Apapun yang terjadi Papa akan selalu bersama mu." ucap tuan Nicholas dengan menepuk bahu Dannis beberapa kali.


Tiga jam kemudian, dokter Sarah keluar dari ruang operasi tersebut dan langsung menghampiri Dannis dan tuan Nicholas.


"Mam, bagaimana keadaan istriku, apa baik-baik saja, lalu bagaimana dengan bayi kami ?" Dannis memberondong beberapa pertanyaan pada dokter Sarah.


Dokter Sarah yang melihat tuan Nicholas berdiri di sisih Dannis, beliau hanya menganggukkan kepalanya. Sejak kematian Ibunya Dannis sahabat karibnya, dokter Sarah sedikit membenci laki-laki paruh baya itu.


"Istri dan anak anda selamat tuan Dannis, tapi......." Dokter Sarah menghentikan ucapannya, ada perasaan tidak enak di hatinya.


"Istriku kenapa Mam, katakan !!" sentak Dannis dengan mencengkeram erat kedua lengan dokter Sarah.


"Karena tekanan darahnya yang sangat tinggi, istri anda mengalami kejang dan koma." ucap dokter Sarah dengan wajah yang pucat pasi.


"Apa, siapa yang koma ?" teriak tuan Austin Gunawan ketika melangkahkan kakinya ke arah mereka.


"Austin tenanglah." tuan Wira berusaha menenangkan sahabat sekaligus mantan bossnya itu.


"Seperti yang kami jelaskan sebelumya pada tuan Dannis, kalau Nyonya Aline mengalami hipertensi berat. Menyebabkan kejang sesaat lalu tak sadarkan diri, tim dokter kami sudah memeriksanya dan menyatakan kalau beliau mengalami koma. Sedangkan bayi nya harus kami tempatkan di inkubator karena perkembangan paru-parunya belum sempurna tapi sejauh ini sangat sehat." ujar Dokter Sarah menjelaskan sedetail mungkin,


"Apa aku boleh melihat istriku, Mam ?" pinta Dannis.


"Setelah kami memindahkan ke ruang ICU, baru boleh di jenguk tapi hanya satu orang."


"Baik, Mam."


"Baik kalau begitu, saya permisi." ucap dokter Sarah kemudian berlalu meninggalkan mereka.


"Bagaimana ini bisa terjadi, bukankah baru sebulan lagi Aline akan melahirkan ?" tanya tuan Austin dengan menatap tajam pada Dannis.

__ADS_1


"Ini semua salah saya Pa, karena ketidakjujuran saya membuat Aline menderita seperti ini." jawab Dannis.


Kemudian Dannis menceritakan semua kejadian ketika mulai Aline di culik, sampai ia harus diam-diam menemui Leon tanpa sepengetahuan Aline.


"Selain karena saya ingin menebus kesalahan saya pada Leon, saya juga tidak ingin membuat Aline semakin trauma jika mengingat Leon. Meski Aline berusaha untuk bersikap baik-baik saja di depan saya, tapi sejak peristiwa penculikan itu Aline masih sering mengigau ketakutan disaat tidur." ucap Dannis sendu.


"Kamu tahu, Aline walaupun di luar kelihatan kuat tapi di dalam dia sangat rapuh, dia dulu lahir baru menginjak usia tujuh bulan di kandungan. Dulu jantungnya sangat lemah dan waktu itu dokter mengatakan jangan sampai membuatnya shock karena alam bawah sadarnya akan cepat meresponnya." ucap Austin dengan menerawang bagaimana keadaan Aline sewaktu bayi dulu.


"Maafkan saya Pa, Mi." Dannis terlihat sangat menyesal dengan menatap Austin dan Nisa bergantian.


"Dari awal aku sudah tidak setuju kamu menikah dengan cucuku." ujar Tuan Michael yang berjalan beriringan dengan nyonya Celine mendekat ke arah mereka.


Laki-laki yang hampir berumur 80 tahun itu masih terlihat sangat sehat dan berwibawa dengan tatapan tajam ke arah Dannis.


"Kakek ?" Dannis terkejut.


"Andai saja waktu itu aku tidak terkena lockdown di Barcelona, kamu tidak bakal bisa menikah dengan cucuku. Kamu sama seperti Ayah mu perusak hati wanita." ucap tuan Michael dengan menatap sekilas ke arah tuan Nicholas.


"Paman, semuanya sudah berlalu. Tolong jangan ungkit masa lalu, Dannis dan Aline saling mencintai." ucap tuan Nicholas tampak mengiba.


Tuan Michael lah yang mengenalkan Ibunya Dannis pada tuan Nicholas saat itu, tapi sejak Ibunya Dannis meninggal, tuan Michael seakan memutus hubungan dengan tuan Nicholas, tapi tidak dengan Austin baginya tuan Nicholas sudah seperti kakak kandung sendiri.


"Pa, ku mohon jangan perkeruh masalah. Lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Aline dan bayinya." ucap tuan Austin menengahi.


"Setelah Aline sadar nanti, lebih baik kamu berpisah dengan cucuku." ucap tuan Michael tegas hingga membuat semua orang yang ada di sana menatap tak percaya pada laki-laki tua itu.


.


.

__ADS_1


Readers 👱‍♀️ : Astaga tuan pengacau datang 😤😤


Othor 👶 : Mendekati ending Othor hanya ingin reuni 🙄🙄


__ADS_2