Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Aku akan menunggu


__ADS_3

"Apa kamu masih mencintai mantan kekasihmu ?" Aline mencoba untuk bertanya pada laki - laki yang sedang duduk di depannya itu. Karena beberapa hari lagi, ia harus membuat keputusan menikah dengan Dannis atau tidak. Kalau boleh jujur saat ini mungkin ia sudah mulai mencintai laki - laki itu, tapi ia harus memastikan bagaimana perasaan Dannis yang sesungguhnya.


"Tidak." ucap Dannis tegas.


"Kenapa ?" Aline menatap manik Dannis untuk mencari sebuah kebohongan disana.


"Terlalu bodoh jika kita menantikan sesuatu yang tidak jelas selama lima tahun." Dannis tersenyum sinis.


"Bukannya gara - gara dia kamu jadi seperti ini, sepertinya kamu sangat mencintainya hingga membuatmu terluka dan melampiaskan dengan mengencani wanita - wanita itu." ucap Aline dengan penuh sindiran.


"Entahlah, dulu aku kecewa karena dicampakkan begitu saja. Tapi setelah aku mengenal seseorang, aku mulai menyesali kebodohanku selama ini." ucap Dannis dengan menatap intens gadis di depannya itu.


"Seseorang ?" Aline mengerutkan dahinya.


"Iya seseorang, seorang gadis kecil dan galak." celetuk Dannis dengan menahan senyumnya.


"Siapa ?" Aline memicingkan matanya melihat laki - laki di depannya itu.


"Tentu saja kamu sayang." Dannis mencubit hidung Aline hingga nampak kemerahan.


"Aukkkkhhh, sakit." Aline meraba hidung mancungnya itu yang terasa pedis.


"Kenapa aku, memang sejak kapan kamu menyukaiku ?"


"Mungkin sejak pertama kali kita ketemu di Airport waktu itu." Dannis nampak tersenyum kecil ketika mengingat kejadian hampir empat tahun yang lalu ketika pertama kali bertemu Aline di Changi Airport.


"Benarkah, Apa aku harus percaya. Setelah melihatmu beberapa kali kencan dengan banyak wanita ?"


"Karena dulu aku belum yakin dengan perasaanku, lagi pula waktu itu kamu menghilang cukup lama. Setelah beberapa tahun kamu baru muncul kembali, tapi dengan sikap galakmu itu kamu selalu menolakku."


"Tentu saja aku menolak pria playboy sepertimu, aku tidak mau hidupku di bayang - bayangi oleh pelakor." ucap Aline dengan ketus.


"Tapi aku sudah berubah sayang, aku sudah tidak pernah menyentuh mereka lagi."


"Sejak kapan ?"


"Sejak beberapa hari kamu menjadi sekretarisku."


"Alasannya ?"

__ADS_1


"Entahlah, mata polosmu itu mengingatkanku pada gadis kecil yang menolakku berkali - kali. Sejak saat itu aku mulai tidak tertarik dengan wanita - wanita yang mengejarku. Kamu tahu saat itu aku seperti sedang jatuh cinta pada dua gadis, ternyata kalian orang yang sama." ujar Dannis terkekeh.


"Bukannya kamu tidak menyukaiku, bahkan kamu menolak perjodohan itu."


"Awalnya, aku merasa gengsi mengakui perasaanku pada gadis cupu sepertimu waktu itu. Apa kamu tahu, setelah aku pergi meninggalkanmu. Aku merasa sangat bersalah dan aku memutuskan kembali lagi ke restoran itu, tapi justru aku melihat kamu bermesraan dengan Sam." tutur Dannis ada semburat kekecewaan di wajahnya ketika ia mengatakan itu.


"Jadi dia kembali waktu itu." batin Aline dalam hati.


"Aku tidak bermesraan dengannya, dia hanya selalu ada ketika kamu tidak memperdulikan ku." celetuk Aline sinis.


"Dan mulai sekarang aku akan selalu ada buat kamu."


"Aku tidak yakin."


"Apa seseorang yang berdosa sepertiku ini tidak layak mendapatkan kesempatan darimu ?" tanya Dannis.


"Entahlah, jujur aku masih takut kamu akan mengecewakanku."


"Aku janji tidak akan pernah mengecewakan mu lagi." ujar Dannis bersungguh - sungguh ia menggenggam kedua tangan gadis yang sedang duduk di depannya itu.


"Apa kamu mau menikah denganku ?" lanjut Dannis lagi dengan menatap lembut Aline.


"Aku akan menunggu." ucap Dannis dengan senyum manisnya.


"Baiklah, sudah malam. Kamu istirahatlah, aku akan pulang !!" Dannis beranjak dari duduknya, ia mengacak lembut puncak kepala Aline kemudian ia pamit untuk pulang.


Ketika sedang menunggu lift terbuka, terdengar ponselnya berdering. Dannis segera melihat siapa yang menghubunginya.


"Cleo." batin Dannis lalu ia menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa ?" jawab Dannis


"Sayang, kenapa kamu susah sekali di hubungi. Aku merindukanmu, apa kamu mau datang ke Apartemenku sekarang ?" ujar Cleo dari ujung telepon.


"Baiklah." ucap Dannis lalu ia menutup teleponnya, ia sudah membuat keputusan akan memberitahukan pada mantan kekasihnya itu bahwa dia akan menikahi wanita lain.


Tiga puluh menit kemudian, Dannis sudah berada di depan pintu Apartemen Cleo. Setelah memencet bel beberapa kali wanita itu langsung membuka pintunya, ia nampak menggunakan gaun seksi diatas lutut dan membiarkan kedua gundukan kembarnya terekspos setengah bagiannya.


Dannis melihat penampilan wanita di depannya itu dari atas hingga bawah, ia bukannya tergoda tapi tiba - tiba merasa jijik.

__ADS_1


"Ayo masuk sayang !!" ucap Cleo, ia memberi jalan agar Dannis segera masuk ke Apartemennya.


"Apa kamu minum ?" tanya Cleo dengan lembut.


"Tidak usah, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." ujar Dannis yang sudah duduk di sofa.


"Katakan saja !!" sahut Cleo ia menampakkan senyum terbaiknya.


"Aku akan menikah." jawab Dannis tegas.


"Benarkah, aku sangat siap. Lalu kapan kamu akan melamarku ?" tanya Cleo kini senyumnya semakin mengembang di bibir merahnya itu.


"Bukan denganmu Cle, aku akan menikahi gadis lain."


"Kenapa sayang, aku sangat mencintaimu. Bukannya dulu kamu juga mau melamarku, sekarang aku sudah siap." ucap Cleo kini senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya berangsur surut menampakkan kekecewaan.


"Lima tahun sudah berlalu Cle, perasaanku sudah kandas saat kamu tinggal pergi saat itu."


"Tapi aku pergi bukan karena kemauan ku Dannis, Ayah mu yang memaksaku." Cleo sudah tidak bisa membembendung air matanya lagi, ia menangis sejadi - jadinya


Inilah kelemahan Dannis, ia paling tidak bisa melihat wanita menangis. Ia segera merengkuh wanita di sampingnya itu dan memeluknya. "Mari kita akhiri ini semua, aku berharap kamu menemukan laki - laki yang bisa tulus mencintaimu." ujar Dannis sambil menepuk bahu Cleo beberapa kali.


"Aku tidak mau Dannis, aku hanya mau kamu." teriak Cleo, lalu ia beranjak dari duduknya.


"Lebih baik aku mati daripada berpisah denganmu." Lagi - lagi Cleo mengambil pisau buah diatas meja lalu menyayat pergelangan tangannya.


"Cle, apa yang kamu lakukan ?" Dannis segera merebut benda tajam tersebut dan melemparnya, ia melihat darah segar mengalir dari pergelangan tangan Cleo.


"Biarkan aku mati !!" teriak Cleo dengan isak tangisnya ketika Dannis sudah membopongnya keluar Apartemennya.


Dengan sigap ia membawa Cleo ke klinik terdekat, ia tidak menyangka ancaman Cleo beberapa hari yang lalu ia pikir hanya main - main ternyata wanita itu serius melakukannya.


Setelah sampai di rumah sakit, Cleo langsung di tangani oleh dokter. "Bagaimana dok keadaannya ?" tanya Dannis ketika dokter baru selesai membalut pergelangan Cleo.


"Lukanya tidak parah, hanya sedikit menggores kulitnya saja. Tapi sepertinya ia sangat butuh perhatian anda, karena emosinya sedang tidak stabil sekarang." jawab dokter tersebut.


"Baik dok, terima kasih.


"Dannis kamu tidak akan meninggalkanku kan ?" tanya Cleo yang sedang duduk di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2