
Sore itu Aline baru pulang dari cabang kantornya yang berada di Pulau tersebut, ia terlihat termenung dari balik kemudinya. Memikirkan perkataan Sam dan Sofia yang tadi pagi ia hubungi.
Kedua sahabatnya itu menceritakan kejadian yang sebenarnya di Cafe waktu itu dan mereka berharap agar dirinya mau memaafkan Dannis dan bisa menerimanya kembali.
"Aku memang sudah memaafkanmu dan sampai sekarangpun aku masih sangat mencintaimu Dannis, tapi kalau harus menerimu kembali hatiku sangat berat. Aku takut ketika kita sudah menikah nanti akan ada Cleo-Cleo lain yang mengganggu hubungan kita." gumam Aline sambil terus mengemudikan kendaraannya.
Disaat focus dengan kemudinya, tiba-tiba ia merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya. Mau tidak mau dia segera menepikan kendaraannya untuk melihatnya.
"Astaga kenapa bisa kempes, perasaan tadi baik-baik saja." gerutu Aline yang melihat salah satu ban belakangnya kempes.
"Masa iya cantik-cantik begini harus ganti ban sendiri." gerutu Aline terkekeh.
"Coba sajalah." Aline segera mengambil roda cadangan, dongkrak serta kunci roda.
Beruntung hari ini dia memakai sneakers, jadi ketika mengendorkan baut-baut tersebut ia tinggal menginjak kunci roda dengan sepatunya. Setelah itu ia memasang dongkrak dan segera mengganti rodanya dengan yang baru.
"Oke kelar, di kira laki-laki doang yang bisa."
Disaat membereskan peralatannya tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan kendaraannya. Aline nampak terkejut ketika melihat siapa yang baru saja keluar dari mobil itu.
"Sayang." teriak Dannis, ia berjalan mendekat ke arah Aline dan langsung memeluknya dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu." ucap Dannis yang masih enggan melepas pelukannya.
Aline masih merasakan debaran dan kehangatan yang sama ketika laki-laki itu memeluknya, kalau boleh ia ingin sekali membalas pelukannya untuk meluapkan rasa rindu yang selama ini ia tahan tapi lagi-lagi egonya mengalahkan hatinya.
Ia dorong dengan kuat laki-laki itu dan segera menjauh darinya. "Dannis kamu ngapain ada disini ?" tanya Aline tanpa melihatnya.
"Tentu saja karena aku merindukanmu, sayang." ujar Dannis.
"Kita tidak punya hubungan apa-apa Dannis, jadi berhenti memanggilku seperti itu. Sekarang pergilah, aku tidak mau bertemu denganmu !!" jawab Aline, ketika mengingat Dannis berpelukan dengan mantan kekasih itu membuat dia begitu kesal. Meski ia sudah tahu kalau itu semua ulah Cleo.
"Aku minta maaf sayang, semua yang kamu lihat itu hanya salah paham. Aku sangat mencintaimu, katakan kamu juga mencintaiku kan ?" Dannis mencoba untuk meyakinkan Aline tapi tiba-tiba ada seseorang yang menahan pundaknya dari belakang.
__ADS_1
"Maaf jika saya mengganggu, sepertinya Aline tidak nyaman dengan kedatangan anda. Jadi tolong pergi dari sini !!" ucap Dewa dengan tegas.
"Apa laki-laki ini yang membuat Aline selalu murung ?" Dewa bertanya-tanya dalam hati ketika melihat laki-laki di depannya itu.
"Jangan ikut campur, saya sedang ada urusan dengan kekasih saya ?" ujar Dannis menantang tangannya sudah mengepal siap untuk melayangkan tinjuannya. Sepertinya ia sudah tidak perduli dengan seragam yang di pakai oleh laki-laki di depannya itu, karena bagi Dannis saat ini gadisnya yang paling penting.
"Pergilah Dannis !!" Aline mencoba untuk melerai kedua pria di depannya itu.
"Katakan sayang, kamu juga mencintaiku kan ?" tanya Dannis lagi, ia bersikukuh tidak akan menyerah.
"Aku tidak mencintaimu Dannis, aku sudah mencintai orang lain jadi tolong pergilah dari sini !!" teriak Aline.
"Kamu pasti sedang berbohongkan ?" Dannis tersentak ketika mendengar kata-kata gadisnya itu.
"Aku sudah mencintai orang lain. Aku mencintai Dewa, dia orang yang kuncintai." Aline melangkahkan kakinya ke arah Dewa dan memegang lengannya.
"Anda sudah dengarkan, jadi tolong jangan buat keributan disini kalau tidak saya bisa membawa anda ke kantor." Gertak Dewa dengan tegas.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku sayang dan matamu itu tidak bisa membohongiku, akan ku pastikan itu." Teriak Dannis kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan dengan kencang meninggalkan tempat itu.
"Tidak apa-apa Cil, kita kan teman harus saling membantu." ucap Dewa.
"Seandainya benar kau mencintaiku, aku pasti akan sangat bahagia Cil tapi sayang bukan aku orangnya." batin Dewa dalam hati, ia mencoba untuk berbesar hati.
"Terima kasih Kung." ucap Aline dengan tersenyum simpul.
"Apa dia laki-laki itu Cil ?" tanya Dewa memastikan kalau pria itulah yang membuat sahabatnya patah hati.
"Hmmm."
"Kenapa loe bohongi hati loe sendiri ?" tanya Dewa masih tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
"Sudahlah Wa jangan di bahas lagi enggak penting." ucap Aline mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Cil."
"Apa sih Kung, aku sedang tidak mau membahasnya." Dengus Aline kesal.
"Cil, wajah loe kenapa cemong semua ?" tanya Dewa terkekeh.
"Ini." Aline menunjukkan kunci roda yang sedari tadi ia pegang.
"Astaga, dari dulu loe tidak pernah berubah. Bisa tidak loe itu menjadi wanita yang normal saja." Dewa merasa heran dengan wanita di depannya itu yang selalu saja melakukan hal-hal diluar nalar.
"Memang aku tidak normal ?" tanya Aline lalu mengerucutkan bibirnya.
"Kamu itu seperti mempunyai dua gender tahu enggak." celetuk Dewa yang tidak bisa menahan tawanya.
"Dasar sahabat lucknut." Aline langsung menoyor Dewa.
"Astaga, sepertinya pangkatku ini tidak ada artinya di matamu." gerutu Dewa sambil terus tertawa.
Setelah membereskan peralatan yang Aline gunakan untuk mengganti ban, mereka langsung meninggalkan tempat itu dengan mobilnya masing-masing karena hari sudah mulai gelap.
Sedangkan Dannis sekarang ini sudah berada di hotel tempatnya menginap, memikirkan perkataan Aline yang sudah mencintai orang lain membuatnya frustrasi.
Jika Laki-laki itu bukanlah Dewa mungkin Dannis takkan sefrustrasi sekarang, karena hanya laki-laki itu yang selama ini membuatnya merasa cemburu. Mengingat bagaimana intensnya mereka setiap waktu berkirim pesan melalui email.
Keesokan harinya
Jarum Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, Aline baru membuka matanya. Beruntung ini tanggal merah jadi ia tidak harus ke kantor, karena semalam ia benar-benar tidak bisa tidur nyenyak karena merasakan pergolakan batinnya.
Setelah membersihkan dirinya dia melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya, sayup-sayup ia mendengar suara tawa dari taman belakang. Karena penasaran, kemudian ia segera keluar kamarnya untuk melihat.
"Astaga, kenapa dia ada disini ?" batin Aline ketika melihat Dannis sedang bercanda gurau dengan Ayahnya.
.
__ADS_1
NB : Sebenarnya malam ini Othor libur up dulu, karena seharian ini sangat sibuk tapi demi readers kesayangan, jadi nulis kilat ini. jadi maaf kalau ceritanya amburadul dan banyak typo karena tanpa revisi dan langsung setor saja.