
Dannis yang melihat istrinya memeluk laki-laki lain terlihat sangat geram, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mau mengacaukan resepsi pernikahannya yang di siapkan oleh mertuanya dengan susah payah.
"Aku sangat merindukan mu Wa, kenapa kamu tidak pernah menghubungi ku ?" tanya Aline setelah melepas pelukannya.
"Gue tidak ingin menggangu calon istri orang." sahut Dewa dengan senyum meledek.
"Brengsek, mereka seperti sepasang kekasih yang lama tidak bertemu." batin Dannis geram dengan mengepalkan tangannya.
Melihat wajah Dannis yang tak bersahabat, Dewa langsung menghampirinya. "Selamat ya bro, semoga kalian bahagia." ucap Dewa dengan menyunggingkan senyumnya.
"Tentu saja kami bahagia, karena kami saling mencintai, ya kan sayang ?" Dannis memeluk Aline dengan erat hingga membuat istrinya itu meringis kesakitan.
"Baiklah, gue harus pamit karena ada tugas negara." Dewa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Wa, sering-sering hubungi aku ya." pinta Aline sebelum sahabatnya itu pergi dan itu membuat Dannis semakin kesal lalu pergi meninggalkannya.
"Dannis." teriak Aline, ketika melihat suaminya pergi tapi laki-laki itu tak mengindahkannya.
"Sayang, punggungmu kenapa merah-merah begitu. Apa kamu di gigit nyamuk ?" tanya Nisa ketika melihat putrinya yang sedang berjalan melewatinya.
"Yang mana Mi, Aline nggak bisa lihat ?"
Nisa langsung mengambil ponselnya dan memotretnya. "Nih lihat !!" Nisa menyerahkan ponsel tersebut.
"Astaga bang bule, kamu bikin malu saja." batin Aline geram.
"Sepertinya di gigit nyamuk Mi, karena sedikit gatal." sahut Aline beralasan.
"Ya sudah nanti sebelum tidur di oles dulu dengan salep."
"Iya Mi, Aline cari Dannis dulu ya Mi."
Kemudian Aline berjalan ke arah suaminya yang terlihat sedang mengobrol dengan rekan bisnis ayahnya, meskipun pesta tersebut diadakan di ballroom hotel tapi konsepnya seperti pesta kebun jadi kedua mempelai bisa berbaur dengan tamu undangan.
"Dannis, kenapa kamu meninggalkanku ?" bisik Aline.
Dannis yang masih merasa kesal, sedikitpun tak menghiraukan istrinya. Justru ia masih tetap mengobrol dengan rekan bisnis Ayahnya.
"Harusnya aku yang marah, kenapa jadi dia yang marah." gerutu Aline yang masih tak menyadari kesalahannya.
Beberapa saat kemudian pesta telah usai, setelah berpamitan dengan keluarga besarnya kini Aline dan Dannis berjalan memasuki kamar hotelnya.
"Bang bule tunggu, jangan laju-laju jalannya." Aline terlihat kesusahan berjalan dengan gaun yang lumayan panjang.
__ADS_1
Dannis yang berjalan di depannya sama sekali tidak menghiraukannya, ia masih kesal ketika mengingat istrinya itu berpelukan dengan Dewa.
"Bang bule, kamu kenapa sih dari tadi diam."
Dannis tetap mengabaikannya, setelah sampai di depan pintu kamar hotel ia segera masuk, melepaskan jasnya dan melemparnya ke atas sofa.
"Bang bule, aku ada salah apa ?" Aline menghampiri suaminya yang sedang berdiri di depan jendela melihat pemandangan kota yang berada jauh di bawahnya.
Dannis tetap diam membisu, meski merasa tidak tega tapi ia berharap istrinya itu peka dan menyadari kesalahannya.
"Sayang, maaf. Tolong katakan salahku apa ?" Aline memeluk suaminya dari belakang nampak lelehan kristal di pipinya dan menembus kemeja suaminya.
Dannis merasakan dingin di punggungnya, ia tahu istrinya itu sedang menangis.
"Aku tidak suka kamu memeluk laki-laki lain apalagi di depanku." ucap Dannis yang masih berdiri memunggunginya.
"Maaf." Aline semakin mengeratkan pelukannya, ia menyesali perbuatannya yang tidak bisa menjaga perasaan suaminya.
Dannis melepaskan kedua tangan istrinya yang membelit pinggangnya, lalu ia berbalik badan untuk melihat wajah istrinya yang masih berurai air mata.
"Aku sangat cemburu." ucap Dannis sembari menghapus air mata di pipi istrinya itu.
"Maaf." ucap Aline sembari menatap manik suaminya itu.
"Jangan ulangi lagi ya." Dannis menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan kokohnya. Sejurus kemudian ia sudah melum😘t bibir ranum itu dengan rakus.
Hawa dingin dari pendingin ruangan tersebut tak membuat sepasang pengantin baru itu merasa kedinginan meski tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Bahkan tubuh mereka terasa panas oleh gairah yang mereka rasakan.
"Aku sangat mencintaimu sayang." ucap Dannis, nampak kabut gairah sudah menyelimuti matanya.
"Apa aku boleh melakukannya sekarang ?" tanyanya lagi.
Aline yang sudah di buat kacau oleh perbuatan suaminya itu, hanya bisa mengangguk karena memang tubuhnya juga sangat menginginkannya.
Dengan lembut Dannis melakukannya, ia tidak perduli dengan teriakan kesakitan dari bibir istrinya ketika miliknya sudah berhasil menembus kesuciannya.
Aline terlihat begitu kacau dan laki-laki itu sangat menyukainya, kini hanya ada lenguhan-lenguhan dan desahan dari bibir istrinya yang membuatnya semakin bergairah. Hingga mereka sampai pada titik kenikmatan.
"Terima kasih sayang, maaf sudah membuat mu sakit." ucap Dannis yang masih berada di atas tubuh istrinya.
"Apa kamu tidak berniat untuk melepaskan ku ?" tanya Aline yang masih merasakan milik suaminya itu.
"Kamu sangat nikmat sayang, apa aku boleh melakukannya lagi."
__ADS_1
"Kamu sangat menyebalkan." cebik Aline.
"Aku akan membuat mu merasakan kenikmatan sampai pagi sayang." Dannis mulai mengecup leher jenjang istrinya, menambah jejak-jejak kemerahan disana dan membiarkan miliknya masih terbenam di bawah sana.
Hingga menjelang dini hari, Dannis menyudahi permainannya. Meski ia belum merasa puas. Tubuh istrinya seakan menjadi candu baginya hingga membuatnya menginginkan lagi dan lagi. Tapi ia harus menuntaskan hasratnya, ketika melihat istrinya sudah kelelahan dan mungkin hampir pingsan karena perbuatannya dan kini mereka menutup dini hari itu dengan tidur saling berpelukan.
Keesokan harinya
Jarum Jam menunjukkan pukul sebelas siang, Aline mengerjapkan matanya ketika merasakan ada sentuhan-sentuhan di kulitnya.
"Sayang, kamu mau ngapain ?" tanya Aline ketika merasakan tangan suaminya sudah bergerilya kemana-mana.
"Tentu saja melanjutkan yang semalam sayang."
"Aku capek Dannis, bukannya semalam kamu sudah menggempurku habis-habisan."
"Kamu sudah terlalu lama tidur sayang, kamu tidak akan capek hanya karena mendesah."
"Tapi aku sangat capek."
Dannis tak mengindahkan rengekan istrinya, bahkan sekarang tangannya sudah berada di bawah sana memberikan sentuhan demi sentuhan hingga wanita itu melenguh beberapa kali.
"Apa kamu capek sayang, baiklah kita akan melakukannya nanti saja." ucap Dannis tapi tangannya masih bermain-main di beberapa area kesukaannya itu.
Aline yang merasakan gairahnya kembali, menatap sendu pada suaminya itu. "Kamu selalu membuatku terlihat bodoh." ucap Aline kesal.
"Katakan kamu menginginkan ku sayang !!"
Aline yang sudah merasa kacau karena perbuatan tangan jahil suaminya itu hanya bisa mengangguk.
"Kamu tidak akan pernah bisa menolakku sayang." secepat kilat Dannis mengungkung tubuh istrinya itu. Dan siang itu sebelum beranjak dari tempat tidurnya, mereka melakukannya lagi hingga melewatkan jam makan siangnya.
"Apa aku perlu menggendongmu ?" tanya Dannis ketika baru beranjak dari tubuh istrinya.
"No, aku bisa sendiri." Aline berjalan tertatih menuju kamar mandi.
"Tapi itu terlihat sakit sayang, bahkan cara jalanmu terlihat aneh."
Aline tidak menghiraukan perkataan suaminya yang hanya bisa membuatnya kesal. Sampai di kamar mandi ia begitu tercengang ketika melihat badannya yang sudah penuh dengan tanda merah dari atas hingga bawah. "Dia benar-benar seperti Fergusso." gumam Aline bergidik ngeri, ketika melihat dirinya dari pantulan cermin.
Sedangkan Dannis yang masih enggan beranjak dari kasur nampak kepuasan di wajahnya. Ia tidak pernah merasakan begitu candu pada tubuh wanita.
Dahulu setiap kali bermain dengan wanita, sekali main ia langsung merasa puas tapi ketika bersama istrinya bahkan sekali tidak cukup baginya. Ia menginginkannya lagi dan lagi, mungkin karena ia melakukannya atas dasar cinta dan halal tentunya.
__ADS_1
.
Othor sedang merinding disko nih, tapi bukan karena babang bule ya. Othor merinding menunggu jempol2 jahil mampir dimari 😬🤣🤠ampun dj.