
"Bocil ?" Dewa nampak terkejut ketika melihat sahabatnya yang sudah lama ia rindukan berada di depannya.
"Jangkung ?" Aline mengerjap ngerjapkan matanya memastikan kalau laki-laki tampan di depannya itu adalah Dewa Barata sahabatnya.
"Ini beneran kamu Kung ?" Aline masih tidak percaya, sahabatnya yang dulu kurus, jangkung, hitam dan hidup pula kini berubah menjadi laki-laki tampan dan macho pastinya.
"iya ini gue, loe terpesona ya liat gue." ucap Dewa menggoda Aline yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kamu makan apa kung, badan kamu bisa sebesar ini." tanya Aline yang masih tak menyangka dengan perubahan sahabatnya itu.
"Makan gajah." celetuk Dewa dengan tersenyum nyengir.
"Issshhh, kamu ikh. kirain makan batu, lihat nih lengan kamu keras banget." sahut Aline sambil mentowel towel lengan Dewa yang berotot.
"Akhhh jadi mengingatkan pada seseorang." tambahnya lagi.
"Siapa, pria brengsek yang membuat loe berteriak teriak tadi ?" Dewa terlihat penasaran dengan tingkah absurd Aline yang membuatnya jadi perhatian banyak orang.
"Enggak penting, jangan di bahas. Kamu kenapa bisa di sini, bukannya kamu kapan hari tugas di Ibukota ?" tanya Aline.
"Baru sebulan, entahlah gue tiba-tiba ingin pindah kesini. Mungkin ini jalan dari Tuhan agar bisa bertemu dengan loe ?" ujar Dewa dengan tersenyum manis.
"Benarkah, jangan bilang kalau kita jodoh ?" ucap Aline yang lolos begitu saja dari mulutnya.
"Kalau loe mau." celetuk Dewa meski hanya bercanda tapi sebenarnya ia berharap sahabat sekaligus cinta pertamanya itu mau membuka hati untuknya.
"Noooooo." sahut Aline.
"Kenapa ?"
"Aku baru saja patah hati."
"Baru putus ?" tanya Dewa memastikan.
"Bagaimana mau putus, pacaran saja tidak." dengus Aline kesal, lagi-lagi ia meratapi betapa ironisnya kisah cintanya.
Seketika Dewa langsung tertawa nyaring. Bagaimana tidak, selain absurd sahabatnya itu juga masih saja polos seperti dulu. Ternyata waktu dan tempat tidak membuatnya berubah, pikir Dewa.
__ADS_1
"Kenapa kamu menertawakan aku, kesal nih ?" Aline mencebikkan bibirnya hingga membuat Dewa kembali tertawa, kali ini ia tertawa lebih nyaring hingga membuat beberapa pengunjung di sana pada melihat ke arahnya.
"Loe itu cantik-cantik tapi bodoh." Dewa menyentil dahi Aline hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aukkkkhhh sakit Kung, kamu itu tidak pernah berubah selalu saja menyentil dahiku." Aline berlalu meninggalkan Dewa sambil mengusap dahinya yang terasa panas.
"Hei jangan ngambek, ayo gue traktir makan sambil liat sunset !!" teriak Dewa sambil mengejar Aline yang sudah menjauh dari bibir pantai tersebut.
Mendengar kata sunset, seketika Aline langsung menghentikan langkahnya. "Dimana ?"
"Di Cafe itu !!" Dewa menunjuk Cafe yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"Okeyy, kamu yang bayar ya." ucap Aline sambil berjalan menuju Cafe tersebut.
"Tentu saja, duit gue kan banyak." celetuk Dewa.
"Sombong."
"Dan ganteng pastinya." sahut Dewa narsis yang seketika membuat mereka tertawa bersamaan.
🍁🍁🍁
"Dannis, kebetulan sekali kita bertemu. Apa kabar ?" tanya Cleo basa basi.
"Seperti yang kamu lihat." sahut Dannis dingin.
"Jadi kapan nih aku di kasih undangan pernikahanmu ?"
"Aku tidak jadi menikah."
"Kenapa, apa wanita itu meninggalkanmu ?" tanya Cleo dengan tampang yang ia buat sesedih mungkin.
Mendengar perkataan Cleo, Dannis langsung membulatkan matanya. "Kenapa kamu bisa tahu ?" tanya Dannis curiga.
"E-enggak, nebak saja. Kenapa dia meninggalkan mu ?" ujar Cleo terbata bata.
"Bukan urusanmu." sahut Dannis sambil beranjak dari duduknya tapi Cleo buru - buru menahannya.
"Ayolah Dannis, kita kan berteman. Paling tidak habiskan makan siangmu dulu." Cleo melihat makanan yang Dannis makan baru setengahnya saja.
__ADS_1
Dannis kembali lagi duduk dan mulai memakan makanannya kembali. "Kamu tidak makan ?" tanya Dannis ketika melihat wanita yang berada di depannya itu hanya diam menatapnya.
"Aku akan makan jika kamu mau menemaniku."
"Cepatlah, aku akan segera kembali ke kantor."
"Baiklah." Cleo nampak senang lalu ia segera memesan makanannya.
"Dannis, apa nanti malam kamu ada waktu. Bagaimana kalau kita pergi ke Minions Cafe, kita bisa lihat life music disana ?" ajak Cleo. Ia ingin membuat laki-laki itu mengenang masa-masa indah mereka dulu, berharap hubungan mereka yang retak bisa di perbaiki lagi.
"Aku tidak ada waktu Cle." jawab Dannis singkat.
"Kamu tahu, sejak beberapa hari yang lalu kita kesana aku tidak menyangka tempat itu sama sekali tidak berubah seperti lima tahun yang lalu. Seperti cintaku padamu Dannis tidak pernah berubah." ujar Cleo.
"Cle, kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Kita tidak bisa dan tidak akan mungkin bersama lagi." ucap Dannis dengan tegas.
"Aku sudah selesai, aku mau kembali ke kantor." tambahnya lagi seraya beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Cleo yang masih tak bergeming dari duduknya.
Cleo terlihat sangat geram, ia bertekad akan mengejar Dannis lagi bagaimanapun caranya. Meski Dannis masih bersikap dingin padanya, paling tidak sekarang dia mempunyai kesempatan untuk mendekatinya lagi. Pikirnya.
Dan tanpa Cleo maupun Dannis sadari sedari tadi ada sepasang mata dan telinga yang terus mengawasi dan mencuri dengar pembicaraan mereka.
Beberapa hari kemudian
Setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang dia perintahkan untuk mengawasi Dannis, tuan Nicholas yang kini sedang berada di ruang kerjanya nampak sangat geram.
Bagaimana tidak, beberapa lembar foto yang di berikan oleh orang suruhannya semua tentang kebersamaan Dannis dan Cleo wanita yang dia usir beberapa tahun yang lalu.
"Anak bodoh." ujar tuan Nicholas dengan mencengkeram salah satu Foto yang ia pegang.
"Apa ada informasi lain ?" tanyanya lagi pada anak buahnya itu.
Salah satu anak buahnya itu menyerahkan sebuah benda kecil mirip flashdisk. "Ini apa ?" tanya tuan Nicholas.
"Setelah mendengar pembicaraan tuan Dannis dan nona Cleo di Restoran waktu itu, saya segera mengecek cctv di Minions Cafe. Karena sesuai dengan apa yang saya dengar, mereka sebelumnya pernah ke sana." ucap seorang pria yang sudah lama mengabdi pada tuan besarnya itu.
Tuan Nicholas segera melihat rekaman cctv tersebut di layar komputernya, ia terperanjat ketika melihat Aline yang berdiri di depan pintu masuk Cafe, ia nampak terkejut ketika melihat Dannis dan Cleo sedang berpelukan dan setelah itu terlihat Aline pergi meninggalkan Cafe tersebut.
Setelah melihat rekaman cctv tersebut, ia segera mengambil ponselnya di atas meja kerjanya. "Hey anak bodoh, kalau kamu tidak segera kesini dalam satu jam. Akan aku coret kamu dari daftar warisan." perintah tuan Nicholas pada Dannis melalui sambungan teleponnya.
__ADS_1
NB : okeyyy gengs yang kemarin2 tanya di mana Dewa, noh dah nongol tuh...jadi gimana Dewa atau Dannis 😉😉