Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Buah Simalakama


__ADS_3

"Cleo." gumam Dannis ketika melihat siapa yang sudah menghubunginya.


"Siapa yang menelepon, kenapa tidak kamu angkat ?" tanya Aline karena melihat Dannis yang langsung mematikan ponselnya.


"Hanya urusan pekerjaan yang tidak penting." ujar Dannis beralasan.


"Benarkah ?" tanya Aline lagi.


"Iya sayang, hari ini aku akan merawatmu sampai sembuh." ujar Dannis.


"Aku tidak apa - apa, kamu bisa meninggalkanku sendiri." sahut Aline, ia tidak mau merepotkan orang lain apa lagi itu Dannis. Sangat berbahaya jika terlalu dekat dengan laki - laki itu pikirnya.


"Aku tidak suka di bantah sayang. Oke ?" Dannis menatap tajam gadis di depannya itu agar menuruti perkataannya.


"Baiklah." sahut Aline, lalu ia berusaha untuk beranjak dari ranjangnya.


"Kamu mau ngapain sayang ?" Dannis menahan Aline ketika ia mau berdiri.


"Aku, aku mau ke kamar mandi." ucap Aline dengan suara sedikit tercekat.


"Mau mandi ?" tanya Dannis memastikan.


"Bu - bukan." sahut Aline dengan terbata - bata.


"Duh, bagaimana bilangnya kalau aku mau pipis." batin Aline wajahnya sudah merona malu juga karena berusaha menahan buang air kecilnya.


"Jadi ?" tanya Dannis lagi dengan heran.


"Aku mau pipis." sahut Aline.


"Astaga sayang, bilang dari tadi dong." Dannis mengambil kantung infus kemudian menyerahkan pada Aline.


"Kamu mau ngapain ?" teriak Aline ketika Dannis meraih tubuhnya.


"Tentu saja membawa mu ke kamar mandi sayang." Dannis segera membopong gadisnya itu dan mendudukkannya di atas closet.


"Kamu ngapain masih di sini ?" tanya Aline, bagaimana ia bisa menyelesaikan urusannya jika laki - laki itu masih berdiri mematung di depannya.

__ADS_1


"Tentu saja menunggumu sayang."


"Dannisssssssss, kamu jangan mencari kesempatan." teriak Aline kesal.


"Lalu yang memegang infusnya siapa sayang ?" tanya Dannis dengan infus di genggamannya.


"letakkan saja disana !! Aline menunjuk hanger besi di atas kepalanya.


"Oke baiklah, aku tunggu diluar pintu. Kalau sudah selesai berteriak lah." ujar Dannis lalu ia keluar dari kamar mandi dan segera menutup pintunya.


Beberapa saat kemudian Aline sudah selesai dan membuka pintu, kini ia tampak segar setelah mencuci muka dan gosok gigi. Melihat ada tetesan air di kening Aline, Lagi - lagi Dannis menelan salivanya sendiri. Entah kenapa melihat itu ia langsung bergairah, ia membayangkan bagaimana mandi keringat berdua dengan gadisnya itu karena bercinta.


"Shit." batin Dannis.


Ia membopong Aline lagi dan mendudukkannya di sofa, lalu ia mengambil stand hanger untuk menggantung kantung infusnya.


"Sambil menunggu dokter, bagaimana kalau kita menonton ?" tanya Dannis.


"Boleh."


Dannis memilih beberapa film action dari actor idolanya. "Apa kamu menyukai ini." Dannis menunjukkan salah satu film Action pada Aline yang ada di layar led tersebut.


"Apa kamu menyukainya ?" tanya Dannis ketika melihat reaksi Aline.


"Tentu saja, aku sangat mengidolakannya." sahut Aline.


"Selera kita sama ya, sudah ku duga kamu pasti menyukai film bergenre action. Apalagi yang ini kamu pasti suka." ujar Dannis dengan senyum penuh maksud.


Kemudian mereka mulai menonton film tersebut, Aline yang sudah terbiasa menonton film action ia terlihat santai meski banyak adegan kekerasan. Mungkin kalau wanita lain sudah kabur atau bersembunyi di bawah bantal.


Ketika ada adegan panas, yang mempertontonkan pemeran utamanya sedang bercinta dengan kekasihnya. Aline nampak menegang, bagaimana tidak ia menyaksikan adegan tanpa sensor itu bersama seorang pria di sampingnya.


Aline merutuki dirinya sendiri, kenapa tak terpikirkan olehnya kalau akan ada adegan seperti itu. Biasanya ia tak mempermasalahkan adegan tersebut jika nonton sendiri atau bersama sahabatnya Sofia, tapi kali ini ia menonton dengan seorang predator wanita yang ia ragu laki - laki di sebelahnya itu sudah tobat apa belum.


"Astaga sial, lebih baik aku fokus menonton tanpa menoleh kearahnya. Ini pasti yang membuat dia senyum - senyum tadi sebelum menontonnya." gerutu Aline dengan kesal dalam hati.


Aline sedikit menggeser duduknya agak menjauh dari Dannis tapi sialnya stand hanger infusnya berada di sebelah laki - laki itu. Apa dia sengaja supaya dirinya tidak bisa menjauhinya, pikir Aline.

__ADS_1


Terpaksa Aline duduk diam seperti patung di samping Dannis, menyaksikan adegan demi adegan yang membuatnya sedikit menegang.


Dannis yang melihat gadis di sebelahnya itu diam tanpa ekspresi sedikit mengernyitkan dahinya, apa gadisnya itu tidak normal pikirnya. Karena dulu sebelum ia benar - benar bertobat setiap kali mengajak jalangnya menonton adegan seperti itu, ia pasti sudah di buat kewalahan oleh reaksi jalangnya tersebut.


"Shit, kenapa dia sama sekali tak bereaksi." batin Dannis, ia memijit keningnya karena menahan gairahnya ketika menonton adegan film tersebut.


Tak berapa lama film sudah habis, Aline hanya menampakkan ekspresi datar. Lain halnya dengan Dannis, pria itu nampak mengacak rambutnya dengan frustrasi. Sepertinya rencananya menjadi buah simalakama baginya, bagaimana tidak ia sengaja mengajak gadisnya itu nonton film dewasa berharap ia sedikit bisa mencumbunya dan ternyata reaksinya hanya biasa saja. Sungguh menyakitkan, pikir Dannis.


"Aku sepertinya gerah, apa aku boleh numpang mandi ?" tanya Dannis


"Mandilah di kamar sebelah, di sana ada pakaian Papa kamu bisa meminjamnya." sahut Aline.


"Baiklah." sahut Dannis lalu bergegas keluar dari kamar tersebut.


Satu jam kemudian Dannis masuk kedalam kamar Aline lagi, ia hanya mengenakan celana boxer pendek tanpa baju.


"Astaga Dannis, pakaian Papa itu ada satu lemari kenapa kamu tidak memakainya." teriak Aline, melihat laki - laki di depannya itu hanya memakai boxer ayahnya saja hingga memperlihatkan perut kotak - kotak dan dada bidangnya dengan bulu yang lebat itu membuatnya kesusahan menelan salivanya sendiri.


"Kamu tahu sendirikan, aku tidak terbiasa memakai pakaian kalau dirumah." jawab Dannis tak mau kalah.


"Tapi ini rumahku." teriak Aline.


Ketika mereka berdebat terdengar suara bel dan Dannis segera melihat siapa yang datang.


Dokter Edward tampak memicingkan matanya ketika melihat penampilan Dannis yang baru saja membukakan pintu untuknya. "Kamu sedang tidak macam - macam dengan orang sakit kan ?" tanya Edward curiga.


"Hampir dan sayangnya ada si pengacau datang." sindir Dannis seraya mempersilahkan dokter sekaligus sahabatnya itu untuk masuk kedalam.


"Halo nona cantik, bagaimana keadaanmu apa sudah baikan ?" tanya Edward yang berjalan mendekat kearah Aline yang sedang duduk di sofa.


"Sudah baikan dok, terima kasih sudah merawat saya." ujar Aline dengan senyum manisnya.


"Tidak masalah kakak ipar." sahut Edward.


Dannis yang melihat Aline tersenyum manis pada Edward merasa sangat cemburu, bagaimana tidak karena ketika bersamanya gadisnya itu selalu saja mengajaknya berdebat.


"Sepertinya kamu adalah gadis yang sudah membuatnya melupakan cinta pertamanya, meski ia sudah kembali." lanjut Edward yang membuat Aline sedikit mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


NB : Silakan di bully geng ya tidak apa - apa, ini adalah resiko karena mengambil pemeran utama laki - laki playboy. Jalan ceritanya masih panjang ini hanya awal permulaan saja. Lebih baik playboy disaat lajang ya geng dari pada ****** setelah nikah wkwkwk.


__ADS_2