
Setelah melihat kepergian Aline, Cleo tersenyum penuh kemenangan. Ternyata mudah baginya untuk memperdaya wanita itu, pikirnya.
"Lepaskan Cle, kamu jangan mengambil kesempatan !!" Dannis menarik paksa tangan Cleo dan mendorongnya agar menjauh darinya.
"Kenapa kamu kasar sekali ?" ucap Cleo.
"Kita sudah tidak ada urusan lagi, jadi jangan pernah menghubungiku lagi !!" ucap Dannis penuh ancaman, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Cafe tersebut.
"Aku yakin, tak lama lagi kamu akan mengemis padaku minta kembali." ucap Cleo dengan senyuman menyeringai di wajahnya.
Sesampainya di dalam mobil, Dannis segera melepaskan kemejanya. "Boss mau ngapain ?" tanya Sam heran dengan tingkah laki - laki yang duduk di sebelahnya itu.
"Tentu saja ganti kemeja, kamu enggak lihat." ucap Dannis seraya memakai kemeja yang baru ia ambil dari paper bag di kursi belakang mobilnya.
"Aku tidak suka mencium parfum wanita lain, selain kucing kecilku." lanjut Dannis lagi.
"Tidak suka, tapi mau juga di peluk." celetuk Sam penuh sindiran.
"Kamu pikir aku tidak jijik wanita itu memelukku, aku hanya ingin masalah cepat beres. Kamu tahu sendiri kan sifat Cleo dari dulu bagaimana ?" ujar Dannis yang tidak terima dengan ucapan sahabatnya itu.
"Terserah boss saja lah." sahut Sam.
"Tentu saja aku bossnya." ujar Dannis terkekeh.
Di tempat lain dengan langkah gontai, Aline turun dari mobilnya dan menyapa penjaga di Mansion tersebut. "Apa tuan Nicholas Bryan ada ?" tanya Aline pada kedua security yang berdiri di depan gerbang.
"Ada Nona, silakan masuk !!" ujar salah satu security itu dengan ramah, sepertinya mereka mengetahui kalau wanita yang ada di depannya itu adalah calon menantu di rumah tersebut.
Setelah pintu gerbang di buka, Aline segera masuk ke dalam. Ia melangkahkan kakinya menyusuri taman bunga yang terhampar luas di halaman rumah tersebut.
"Om." panggil Aline ketika melihat tuan Nicholas sedang membaca surat kabar di taman belakang.
"Astaga sayang, kamu mengagetkan Om saja." ujar Tuan Nicholas nampak senang melihat wanita di depannya itu.
"Apa kabar Om ?" tanya Aline dengan mencium tangan laki - laki tua itu.
"Seperti yang kamu lihat, Om sangat sehat. Hanya satu yang kurang ?"
"Apa itu Om ?" Aline mengernyitkan dahinya.
"Sepertinya Om ingin cepat mendapatkan seorang cucu." ujar Tuan Nicholas terkekeh.
__ADS_1
"Tempat produksi lagi tutup Om, pandemi." sahut Aline sambil tertawa yang di ikuti juga oleh tuan Nicholas.
"Apa kamu datang bersama anak nakal itu ?" tanya tuan Nicholas seraya mengedarkan pandangannya mencari anak sulungnya itu.
"Tidak Om, sepertinya Dannis sedang sibuk." sahut Aline dengan memaksakan senyumnya, sangat sakit hatinya jika mengingat kejadian di Cafe tadi.
"Dia tidak pantas di sebut sebagai anak, sama sekali tidak perduli dengan Ayahnya." gerutu tuan Nicholas.
"Aline akan temani Om hari ini, apa Om mau bermain catur atau kita bermain kartu saja ?" tanya Aline antusias.
"Kita bermain catur saja, Om rindu di kalahkan." celetuk tuan Nicholas dengan sombong.
"Baiklah, Om yang minta kalah ya." sahut Aline terkekeh lalu ia mulai menyusun bidak catur di atas meja.
Mereka mulai pasang strategi masing - masing untuk saling mengalahkan. Menit demi menit mereka bermain dan kini sudah hampir dua jam mereka masih fokus.
"Sekakmat." ujar Tuan Nicholas dengan senyum penuh kemenangan.
"Kalah lagi, sepertinya hari ini aku benar - benar jadi orang yang kalah." batin Aline dalam hati ia memandang nanar bidak catur di depannya itu.
"Apa kamu sedang ada masalah, Nak ?" tanya tuan Nicholas yang melihat anak gadis di depannya itu nampak sedih, sangat mustahil menurutnya kalau hanya sekedar kalah main catur lalu sesedih itu.
"Baru kali ini, Om mengalahkan ku." sahut Aline dengan memaksakan senyumnya.
"Kamu bisa memasak ?" tanya tuan Nicholas penasaran.
"Tentu saja, Om mau di masakin apa ?" tantang Aline.
"kita masak bersama - sama saja." sahut tuan Nicholas sembari beranjak dari duduknya.
Setelah hampir satu jam berjibaku di dapur, kini dua porsi Falscher Hase makanan khas negara tersebut sudah terhidang di meja makan. Makanan yang terbuat dari daging sapi cincang dan telur.
"ini sangat enak Om." ucap Aline ketika baru memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
Tuan Nicholas hanya tersenyum melihat gadis di depannya itu makan dengan lahap.
Setelah mereka menyelesaikan makannya, kini tuan Nicholas mengajak Aline berbincang di ruang baca.
"Aku tahu kamu kesini tidak sekedar ingin bermain dengan ku, sekarang katakan apa ada masalah ?" tanya tuan Nicholas membuka pembicaraan.
__ADS_1
Aline yang sedang membaca buku di tangannya nampak tersentak, bagaimana orang tua ini bisa tahu. Pikirnya.
"Om seperti paranormal saja." celetuk Aline yang membuat laki - laki tua itu terkekeh.
"Katakan saja Nak, Om akan mendengarnya !!"
Aline menarik napas panjangnya, sebelum ia membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan. "Sebenarnya Papa memberiku waktu sebulan untuk bisa lebih mengenal Dannis Om." ucap Aline.
"Ya saya tahu, lalu ?"
"Saya sudah memutuskan, Om." Aline berhenti sejenak, raut wajahnya menyiratkan kesedihan dan itu tidak luput dari pengawasan laki - laki tua itu.
"Maaf, saya harus membatalkan perjodohan ini." lanjut Aline lagi dengan menahan agar air matanya tidak menganak sungai.
"Apa ada alasan ?"
"Saya, saya tidak mencintai Dannis. Om." Aline berusaha untuk tegar dengan mencoba untuk tersenyum.
"Baiklah, Om tidak akan memaksa."
"Om tidak marah ?"
"Tentu saja tidak, Nak."
"Terima kasih Om. Saya berharap Om masih mau menjadi rekan bisnis Papa." ucap Aline memastikan, karena ia tidak ingin hubungan yang di bangun oleh Ayahnya selama berpuluh tahun dengan tuan Nicholas hancur karenanya.
"Kamu anak yang sangat berbakti Nak, aku bangga padamu."
"Terima kasih Om, untuk terakhir kalinya apa saya boleh memeluk Om ?" tanya Aline.
"Tentu saja, Nak. Kamu adalah putri kecilku." ujar Tuan Nicholas seraya merengkuh Aline kedalam pelukannya.
"Entah apa yang di lakukan anak bodoh itu, hingga kamu memutuskan hal ini. Aku tahu Nak, kamu juga mencintai Dannis." batin tuan Nicholas.
Setelah mereka berbincang - bincang. Kini Aline pamit untuk pulang, karena hari sudah beranjak sore.
"Tolong kamu awasi Dannis, apa saja yang dia lakukan. Segera laporkan pada saya." perintah tuan Nicholas ketika berbicara pada seseorang melalui telepon genggamnya.
"Dasar anak bodoh, kamu sudah menyia - nyiakan putri kecilku." batin tuan Nicholas sambil melihat Foto Dannis dan dirinya diatas meja kerjanya.
Sesampainya di Apartemennya, dengan langkah gontai Aline memasuki kamarnya. Ia tidak menyangka cinta pertamanya telah kandas sebelum di mulai, sungguh ironis. Pikirnya. Mungkin ini adalah resiko baginya jatuh cinta pada seorang playboy seperti Dannis, andai saja dia bisa mengatur hatinya agar tidak jatuh cinta pada laki - laki playboy itu. Mungkin sekarang dia tidak akan sesakit sekarang.
__ADS_1
Setelah merenungi kisah cintanya yang ironi, kini Aline beranjak dari duduknya. Ia segera mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir, lalu ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah koper besar.