
Ehhmmm
Suara bariton Dannis yang ngebass mengagetkan dua orang yang sedang bercengkrama itu, seketika Aline menoleh untuk melihat pemilik suara yang amat ia kenal.
"Dannis, kamu sudah siap ?" Aline melihat suaminya sudah memakai pakaian kerja dan terlihat segar.
Dannis berjalan ke arah istrinya dan langsung mengecup keningnya. "Kenapa ninggalin aku ?" tanyanya sembari mendudukkan dirinya di kursi sebelah istrinya, pandangannya ke arah Leon sekilas lalu memalingkan wajahnya lagi ketika adiknya itu juga menatapnya.
"Kamu masih terlelap tidur tadi, jadi aku nggak tega bangunin kamu." sahut Aline beralasan.
Leon yang melihat interaksi kedua orang di depannya itu nampak raut ketidaksukaan. "Apa kamu begitu membenciku kak." batin Leon. Ketika akan beranjak dari duduknya, tuan Nicholas sudah berjalan ke arah mereka hingga membuat Leon mengurungkan niatnya.
"Apa sudah bisa di mulai sarapan paginya ?" tuan Nicholas mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya, terlihat raut bahagia menyelimutinya pagi ini. Senyum terus mengembang di bibirnya, ia benar-benar merasakan suasana sebuah keluarga.
"Bagaimana tidurnya Pa, nyenyak ?" tanya Aline.
"Sangat nyenyak sayang, kalau kalian mau tinggal di sini mungkin Papa akan jadi semakin awet muda." celetuk tuan Nicholas sembari terkekeh.
"Nggak bisa Pa, kami mau tinggal di Apartemen saja." tolak Dannis, bagaimana dia bisa bebas bermesraan dengan istrinya kalau harus tinggal di rumah Ayahnya yang di mana-mana banyak pengawal yang berjaga.
Aline yang melihat wajah serius suaminya, mengurungkan niat untuk membujuknya apalagi ia tahu mereka sedang mempunyai masalah keluarga yang sudah lama terjadi.
"Kami pasti akan sering menjenguk Papa dan menginap di sini kalau weekend, lagipula Mansion ini agak jauh dari kantor Dannis Pa." Aline mencoba untuk menenangkan Ayah mertuanya itu.
"Baiklah, nggak apa-apa Papa mengerti." sahut pria paruh baya itu dengan menyurutkan senyumannya, menampakkan raut kekecewaan di wajahnya.
Setelah menghabiskan sarapannya Dannis dan Aline segera berlalu meninggalkan Mansion tersebut.
"Bang bull, kenapa kita tidak tinggal di rumah Papa saja ?" tanya Aline ketika mereka baru keluar dari Mansion tersebut.
Dannis memutar bola matanya, ketika mendengar panggilan istrinya itu. "Whattt ?"
"Bang bule." sahut Aline nyengir.
"Sayang kau kira suamimu ini banteng."
"Maaf, jadi kenapa kita tidak tinggal di rumah Papa saja ?"
"Sayang di rumah Papa tidak bebas seperti di Apartemen."
__ADS_1
"Memang kamu mau bebas ngapain, ingat aku ini masih istri mu awas saja kalau ketahuan main perempuan akan ku remukkan senjatamu itu." ancam Aline dengan mempraktekkan dengan kedua tangannya.
Dannis yang sedang mengemudi mobilnya nampak kesusahan menelan salivanya sendiri ketika mendengar ancaman istrinya, apalagi ketika melihat gerakan tangan istrinya itu yang membuatnya langsung bergidik ngeri.
"Aku mana berani macam-macam sayang."
"Lalu kenapa kamu mau bebas, ingat kamu itu sudah mempunyai istri bukan pria lajang lagi ?" Aline terlihat geram.
"Astaga sayang." Dannis segera menepikan mobilnya.
"Aku bukannya bebas mau cari wanita lain, aku mau bebas karena tidak mau orang lain mencampuri urusan rumah tangga kita. Apalagi kalau aku sedang menginginkan mu setiap saat, aku tidak mau orang lain melihat kita melakukan itu." ujar Dannis dengan menatap lekat istrinya.
"Maksudnya apa, biar orang lain tidak melihat kita melakukan itu ?"
"Ya, ya misalnya kamu sedang memasak tapi aku sedang menginginkannya ya kita akan melakukannya saat itu juga di tempat itu." ucap Dannis ragu-ragu, takut istrinya akan menginterupsinya.
"Whattttt, dasar mesum, cabul." cebik Aline.
"Cabul sama istrinya sendiri halal sayang." goda Dannis.
"Kalau bibirmu seperti itu aku jadi ingin menciummu deh sayang." ucapnya lagi dengan tatapan mesum.
Dannis menciumnya dengan rakus dan menuntut, ia tak membiarkan istrinya itu untuk menolak bahkan kini bibirnya sudah turun ke lehernya dan memberinya gigitan-gigitan kecil disana.
"Dannis stop, apa kita akan melakukannya di mobil ini !!" Aline mendorong suaminya ketika laki-laki itu sudah membuka beberapa kancing bajunya.
"Tentu saja tidak sayang." sahut Dannis lalu melajukan mobilnya dengan kencang menuju Apartemennya.
Sesampainya di Apartemennya, Dannis segera melanjutkan aksinya yang belum kelar di dalam mobil tadi.
Hingga siang hari ia baru beranjak dari tubuh istrinya, itupun karena Sam meneleponnya dan menyuruhnya ke kantor untuk meeting.
"Aku ke kantor dulu ya sayang, nanti ku usahakan pulang cepat." ujar Dannis setelah memakai pakaiannya kembali.
Di kecupnya kening istrinya yang sudah hampir terlelap tidur karena kelelahan, di ambilnya kunci mobilnya lalu melangkah keluar dari Apartemennya dan bergegas pergi ke kantor.
Ketika meeting sedang berlangsung, Dannis nampak tersenyum sendiri ketika mengingat percintaannya dengan istrinya tadi. Sepertinya moodnya hari ini benar-benar bagus, bahkan ketika salah satu karyawannya membuat kesalahan ia memaafkan begitu saja padahal biasanya dia akan menyemprotnya habis-habisan.
"Boss." panggil Sam.
__ADS_1
"Ada apa ?" sahut Dannis yang baru mendudukkan dirinya di kursi kerjanya setelah menyelesaikan meetingnya sore itu.
"Nanti malam Armand mengajak kita meeting di club."
"Apa bisa kamu saja yang datang, aku sudah janji dengan Aline akan pulang cepat ?" pinta Dannis.
"Armand maunya boss yang datang." sahut Sam.
"Ya baiklah."
Malam harinya Dannis baru beranjak dari kursi kerjanya setelah menyelesaikan tumpukan berkas yang menggunung. Setelah mendapat ijin dari istrinya ia dan Sam bergegas menemui Armand yang sudah menunggunya di Club tempat biasa mereka nongkrong.
Setelah sampai di Club tersebut, Dannis dan Sam segera pergi ke ruangan vvip. Ketika membuka ruangan tersebut ia melihat sahabatnya itu sudah berada di sana bersama dua orang wanita cantik
"Sorry bro telat, banyak kerjaan di kantor." ucap Dannis ketika baru mendudukkan dirinya di sofa.
"Bagaimana tidak telat, kamu tengah hari baru ke kantor. Sepertinya mempunyai istri membuat mu menjadi malas." cibir Armand tapi itu justru membuat Dannis terkekeh.
"Makanya menikah biar..." Dannis belum menyelesaikan perkataannya tapi Armand sudah menyelanya.
"....biar tahu menjadi orang yang malas dan bodoh." sela Armand penuh sindiran.
"Apa kamu tidak tertarik, mereka adalah model yang sedang naik daun dan menjadi primadona di Club ini ?" tawar Armand dengan melihat kedua wanita yang duduk di samping kiri dan kanannya itu.
Kedua wanita itu terlihat cantik dan menggoda dengan riasan tebal dan baju yang kekurangan bahan, hingga membuat kedua gundukan kembarnya hampir menyembul keluar tapi Dannis sedikitpun tak berminat.
Dannis menatapnya dengan sinis. "Kita di sini meeting bro, bukan untuk bersenang-senang."
"Ayolah bro, apa kamu tidak merasa bosan. Bukannya dulu kamu selalu tidak puas dengan satu wanita ?" bujuk Armand.
Mendengar perkataan Armand, Dannis langsung meradang. Ia menarik kerah baju laki-laki itu dan bersiap melayangkan tinjuannya, Sam yang juga berada di sana langsung melerai mereka dan menyuruh kedua wanita seksi tersebut untuk keluar.
"Lebih baik kita batalkan kerja sama kita." ucap Dannis geram.
"Sorry bro, tadi cuma bercanda. Aku tidak tahu kalau kamu sangat mencintai istrimu." ucap Armand.
"Aku sudah tak berminat." sahut Dannis kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut yang di ikuti oleh Sam.
"Shit." gerutu Armand.
__ADS_1