
"Ternyata nikah gini amat ya." keluh Aline merasa tak bersemangat.
"Memang kenapa, kamu nggak ada pikiran untuk berceraikan ?" ucap Sofia yang lolos begitu saja dari bibirnya.
"Masha Allah, amit-amit deh baru juga sebulan nikah." Aline mengetuk meja beberapa kali.
"Terus kenapa, harusnya kamu bersyukur mempunyai suami tampan, tajir dan menjadi idola para wanita." dengan antusiasnya Sofia menceritakan bagaimana sosok Dannis yang sangat populer.
"Aku bersyukur dia begitu mencintaiku, tapi dia juga begitu posesif. Setiap kali aku melanggar larangannya dia akan menghukumku hingga lelah." keluh Aline.
"Whatttt lelah, memang kamu di suruh ngapain. Nyangkul ?"
"Iya nyangkul di ranjang." seloroh Aline hingga membuat Sofia cekikikan.
"Itu mah nyangkul enak, lagian nih ya sudah kewajiban sebagai istri kali kamu melayaninya daripada dia menyalurkan pada wanita lain." Sofia mencoba menakuti sahabatnya.
"Kalau itu sampai terjadi, akan ku remukkan dia." ancam Aline.
"Btw seposesif apa suamimu, jadi pingin di posesifin deh." Sofia nampak gemes.
"Dia melarangku untuk ngobrol dengan laki-laki manapun bahkan bertemu klien untuk meeting pun dia sudah curiga dan sampai rumah dia akan menghukum ku sampai lelah." keluh Aline.
"Ikhhh so sweet, mau dong di posesifin bang Jago." Sofia terlihat gemes sendiri dengan pikirannya.
Aline yang mendengar perkataan sahabatnya itu langsung menoyornya. "Berani ?" ancam Aline.
"Bercanda Al, lagipula sudah ada yang posesifin aku kok."
"Makanya buruan nikah sana biar tahu lelahnya di posesifin." celetuk Aline.
"Gimana mau nikah, belum ada yang ngajakin nikah."
"Lalu Sam ?"
"Jangan bicarakan dia." ucap Sofia ketus.
"Memangnya kenapa, kalian putus ?"
"Akhir-akhir ini kami jarang bertemu, dia selalu bilang sibuk." Sofia terlihat kecewa.
"Maaf ya, mungkin Dannis terlalu banyak memberikan Sam pekerjaan. Aku akan bicarakan pada suamiku nanti." Aline merasa tidak enak hati.
"Bukan masalah itu, dia mungkin nggak benar-benar cinta sama aku. Kalau dia cinta pasti akan seperti suamimu yang selalu mengejarmu meski sedang sibuk, aku capek kejar dia terus." keluh Sofia.
"Makanya jadi wanita jangan terlalu agresif, sekali-kali kita harus jual mahal."
"Aku akan mencobanya dengan tidak menghubunginya lagi."
__ADS_1
"Buat dia yang mengejarmu, jangan temui dia, jangan telepon dia. Berpura-pura lah untuk sibuk hingga tidak ada waktu buat dia." ujar Aline memberikan saran.
"Apa aku bisa, sehari tidak mendengar suaranya saja sudah sangat kangen." Sofia merasa tidak yakin dengan ide sahabatnya itu.
"Astaga, rugi ngomong sama tembok." cebik Aline yang merasa semua nasehatnya di patahkan hanya demi satu kata yaitu kangen.
"Iya aku akan mencobanya."
"Bukan mencobanya tapi harus di lakukan pe'a." Aline merasa gemas sendiri.
"Ya sudah aku mau balik kantor lagi." ucapnya lagi sembari bangkit dari duduknya tapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit.
"Kamu kenapa Al." Sofia langsung beranjak dari duduknya ketika melihat sahabatnya itu mendesis.
"Nggak tahu tiba-tiba pusing." Aline mendudukkan badannya kembali.
"Nih minum !!" Sofia menyodorkan botol air mineral.
"Terima kasih." Aline meminum air mineral yang di berikankan oleh Sofia.
"Mau ku antar ke dokter ?" ajak Sofia yang merasa khawatir dengan keadaannya sahabatnya itu.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja." tolak Aline.
"Kamu yakin tapi kamu terlihat sangat pucat ?" Sofia nampak khawatir.
"Hmm." Aline memegang kepalanya yang terasa pening.
"Tek dung, kamu dapat dari mana kata-kata seperti itu ?" Aline terkejut ketika mendengar sahabat bulenya itu mengerti bahasa gaul di negaranya.
"Di ajarin sama temannya Mama yang baru pindah dari Indonesia, dia juga mengajariku banyak bahasa gaul lainnya."
"Apa ?" Aline penasaran karena biasanya bahasa gaul di negaranya suka di plesetin aneh-aneh.
"Anjay, mager, gabut, bucin, gercep, santuy........." Sofia nampak antusias ketika menyebutkan kata-kata yang baru di hafal.
Aline menelan salivanya ketika mendengar kata-kata yang akhir-akhir ini viral di negaranya.
"Masih ada lagi."
"Apa ?" Aline semakin penasaran.
"Kalau kita lagi kesal kita bisa bilang janc....." Sofia belum menyelesaikan perkataannya tapi Aline sudah memotongnya.
"Stop." potong Aline, mendengar perkataan Sofia membuat kepalanya semakin pening.
"Dasar bule sinting." gerutu Aline.
__ADS_1
"Kenapa, itu salah satu kata favoritku bahkan temannya Mama mengatakan itu setiap saat." protes Sofia.
"Bukannya kamu waktu kuliah dulu ada ambil kelas bahasa meski hanya sampai tingkat A2, lebih baik gunakan bahasa yang baik dan benar." keluh Aline.
"Tapi itu terlalu baku."
"Percaya lah jika kamu menggunakan kata-kata tersebut bukan pada tempatnya kamu pasti akan di lempar sandal orang." Aline meyakinkan sahabatnya agar tidak salah menggunakan kata-kata plesetan tersebut.
"Benarkah ?" tanya Sofia tidak percaya.
"Hmm." sahut Aline sembari memijat pelipisnya.
"Apa kepalamu sakit lagi, Jangan-Jangan kamu memang tek dung ?"
"Nggak mungkin lah baru juga sebulan nikah, lagipula aku tidak merasa mual seperti ibu hamil."
"Lalu apa kamu terlambat datang bulan ?" tanya Sofia memastikan.
"Tamu bulananku suka tidak teratur."
"Bagaimana kalau kita ke dokter, aku nggak tega lihat kamu pucat begini atau mau ku teleponkan suamimu ?"
"No, jangan telepon Dannis hari ini dia ada meeting penting. Lebih baik aku kembali ke kantor saja."
"Baiklah, mau ku antar ?"
"Aku cuma sakit kepala bukan lumpuh ya." cebik Aline sembari bangkit dari duduknya.
"Eh santuy boss, ya sudah kuy balik." sahut Sofia dengan bahasa gaulnya.
Kemudian mereka berlalu keluar dari Cafe tersebut, Sofia diam-diam mengikuti sahabatnya itu dari belakang. Setelah di lihat Aline aman sampai kantornya baru sofia pergi ke butiknya.
Di tempat lain Dannis sedang meeting dengan para dewan direksi, biasanya dia akan fokus meeting karena pada dasarnya dia tipe workaholic, tapi kali ini ia merasa tidak fokus ada perasaan tidak enak yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kenapa Boss, dari tadi sepertinya gelisah ?" tanya Sam ketika usai meeting.
"Nggak ada."
"Biasanya boss paling banyak menginterupsi tapi tadi anteng-anteng saja."
"Bukannya bagus kalau aku anteng, biasanya kalian sakit kepala kalau aku banyak protes."
"Sering-sering saja anteng seperti itu boss, kami sebagai karyawan pasti akan bersuka cita karena jarang kena marah sama boss."
"Dan perusahaan akan berduka cita." Dannis mendengus kesal.
Sam nampak terkekeh. "Nggak dapat jatah semalam boss ?" goda Sam yang melihat Dannis masih enggan beranjak dari duduknya, karena ia tahu sejak sahabatnya itu menikah moodnya tergantung dari istrinya.
__ADS_1
"Tidak ada alasan istriku untuk menolakku, bahkan kalau dia menolak pun pada akhirnya akan menyerahkan dirinya padaku." ujar Dannis dengan senyuman menyeringai.
"Dasar suami nggak ada akhlaknya." gerutu Sam tapi justru membuat Dannis terkekeh.