
Setelah keluar dari Mansion Ayahnya, Dannis melajukan mobilnya dengan kencang, ia terus menerus mengumpat di balik kemudinya. Ia masih tidak menyangka kalau mantan kekasih dan sahabatnya itu tega menghianatinya.
Ia ingin sekali menemui Cleo dan meminta penjelasan, meski sudah lama kejadian itu berlalu tapi ia merasa di permainankan. Tetapi ketika teringat benda kecil yang di berikan oleh Ayahnya tadi, ia urungkan niatnya untuk pergi dan kini ia melajukan mobilnya ke Apartemennya sendiri.
Sesampainya di Apartemennya, Dannis segera menghidupkan laptopnya dan melihat apa isi dari flashdisk tersebut. Ketika melihat dengan teliti rekaman tersebut, Dannis nampak tersentak ketika melihat betapa terkejutnya Aline melihatnya sedang berpelukan dengan Cleo saat itu.
"Kenapa kucing kecilku bisa tiba-tiba disana, apa ini suatu kebetulan atau memang sudah di rencanakan ?" Dannis bertanya-tanya dalam hati.
"Apa karena ini, dia tiba-tiba meninggalkanku. Apa berarti dia juga menyukaiku ?" Batin Dannis lagi yang kini raut wajahnya terlihat berbinar.
"Aku harus segera memastikannya." Dannis beranjak dari duduknya, tanpa membersihkan dirinya terlebih dulu ia mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari Apartemennya.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kencang membelah jalanan malam itu, rasa amarah sekaligus bahagia ia rasakan saat ini.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari tiga puluh menit, kini Dannis sudah berada di depan pintu Apartemen Cleo. Setelah menekan bel beberapa kali, tak berapa lama si pemilik Apartemen membuka pintunya.
"Dannis ?" teriak Cleo terkejut disaat melihat Dannis sudah berdiri di depannya.
"Akhirnya tanpa ku kejar, kamu datang sendiri." batin Cleo girang dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Ayo masuk !!" ajak Cleo, dia menggeser tubuhnya agar laki-laki itu bisa masuk kedalam Apartemennya.
"Apa kamu merindukanku hmm ?" Cleo bergelayut manja di lengan Dannis.
"Lepaskan Cle !!" bentak Dannis dengan amarah, matanya menghunus tajam menatap wanita itu. Cleo yang menyadari kemarahan Dannis berangsur menjauh.
"Katakan padaku apa kamu sudah merencanakan ini semua, agar kekasih ku pergi meninggalkan ku ?" sentak Dannis hingga membuat Cleo mundur beberapa langkah, kini wajahnya terlihat memucat.
"Apa maksudmu aku tidak mengerti, Dannis." sahut Cleo mengelak.
"Apa aku harus menggunakan cara lain hah ?" kini emosi Dannis sudah tak terkontrol tangan kokohnya memegang kedua rahang Cleo dengan keras.
"Dannis sakit." Cleo meringis kesakitan tapi tak juga mengindahkan Dannis untuk melepaskan cengkeramannya.
"Katakan, apa aku harus membunuhmu baru mau mengaku !!" ancam Dannis.
Cleo nampak terkesiap, baru kali ini ia melihat kemarahan Dannis. "I-iya aku yang melakukannya, karena aku mencintaimu Dannis aku tidak mau kamu bersama wanita lain." ujar Cleo.
"Cinta ?" seketika Dannis tertawa nyaring.
__ADS_1
"Iya Dannis, aku masih sangat mencintaimu." sahut Cleo berusaha meyakinkan laki-laki itu.
"Kalau memang cinta, lalu ini apa ?" Dannis mengambil beberapa lembar foto dari saku celananya lalu melemparkan kearah Cleo.
"I-ini...." Cleo tersentak ketika melihat foto-foto intim dirinya dimasa lalu bersama Jordan sahabat Dannis.
"Pengkhianat seperti kamu memang pantas mati !!" mata tajam dan suara bariton Dannis begitu menakutkan sekarang bagi Cleo, seperti seekor singa yang siap menerkamnya hidup-hidup.
"Maafkan aku Dannis." Kini Cleo sudah bersimpuh memegang kaki mantan kekasihnya itu.
"Jangan berani-beraninya tangan kotormu itu menyentuhku !!" Bentak Dannis sehingga membuat Cleo menjauhkan tangannya. Kini wanita itu hanya bisa menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Aku beri waktu sampai besok untuk pergi dari sini, kalau masih mau bernapas jangan pernah muncul di hadapanku lagi !!" ucap Dannis penuh ancaman. Kemudian Ia berlalu pergi meninggalkan Apartemen tersebut.
🍁🍁🍁
Malam itu juga Dannis langsung berangkat menuju sebuah Negara dimana mendiang Sang Ibu di lahirkan, meski ia mempunyai seorang Ibu yang asli Indonesia tapi ia belum pernah menginjakkan kakinya disini.
Setelah melalui penerbangan hampir 18 jam, kini untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sebuah Bandara Internasional dimana gadis pujaannya tinggal di kota tersebut.
Ia langsung menuju Apartemen Ayahnya, karena sebelumnya Tuan Nicholas memang sering melakukan perjalanan bisnis ke negara ini. Setelah membersihkan dirinya ia bergegas keluar Apartemennya dan melajukan mobilnya menuju rumah gadisnya itu.
Ia beberapa kali memencet bel tersebut dan tak lama kemudian terlihat seorang laki-laki dengan kumis tebal mengintip di celah gerbang.
Dannis yang mengerti bahasa Indonesia meski tidak fasih langsung mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Ada Aline Pak ?" tanya Dannis.
"Mas Bule apanya mbak Aline ?"
"Saya pacarnya Pak."
"Masa sih pacarnya, kenapa tidak langsung telepon saja. Jangan-Jangan ini modus kejahatan jaman sekarang mengincar rumah yang di tinggalkan oleh pemiliknya." guman security tersebut.
"Mbak Aline nya sedang tidak ada di rumah." ujar security tersebut dengan tegas.
"Kira-kira kapan datang Pak ?"
"Saya tidak tahu." jawab security tersebut lalu meninggalkan Dannis yang masih tak bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
Karena hari sudah mulai gelap, Dannis masuk ke dalam mobilnya. Ia akan menunggu disana, pikirnya.
Hampir tiga jam Dannis menunggu, tapi belum juga ada seseorang yang keluar maupun masuk dari rumah tersebut. Ia masih tidak menyerah bahkan ia akan menginap di dalam mobilnya kalau perlu.
Dengan sebatang rokok di tangannya, matanya terus mengawasi setiap sudut rumah yang bercat putih dan orange itu.
Keesokan harinya
"Pak, itu mas bule kenapa masih disana ?" tanya Bik ART yang bekerja di rumah Aline, pagi itu ketika sedang menyapu halaman rumah tersebut.
"Aku juga tidak tahu Buk, katanya sih mencari mbak Aline." jawab Pak security berkumis tebal itu.
"Emangnya bapak tidak kasih tahu, kalau mbak Aline sedang tidak ada di sini ?"
"Sudah, tapi Dia bersikukuh mau menunggu."
"Duh, itu pasti pacarnya mbak Aline Pak. Udah ganteng romantis pula sampai rela menunggu semalaman. Kalau ibuk masih muda, ibuk juga mau sama mas bule itu. Ya ampun, itu bulu lengan sama dadanya kenapa bisa lebat begitu. Apalagi bulu-bulu yang lain ya, gemes deh." ujar Bik ART sampai hampir ngeces melihat penampilan Dannis dengan kemeja yang ia gulung sampai siku dan ia biarkan tiga kancingnya terlepas hingga menampakkan dadanya.
"Ibuk yang mau, tapi mas Bulenya yang ogah sama ibuk." Ujar Pak Security berkumis tebal itu yang sekaligus suami dari Bik ART tersebut, lalu ia berlalu menemui Dannis yang masih bertahan di luar gerbang.
"Mas Bule beneran pacarnya mbak Aline ?" tanya Security itu memastikan lagi.
"Iya Pak." sahut Dannis yang sedang bersandar di badan mobilnya.
"Mbak Aline nya sedang di Pulau K."
"Apa Bapak tahu alamatnya ?"
"Saya tahu sih Mas tapi...." Security tersebut belum menyelesaikan perkataannya tapi Dannis sudah memberinya beberapa lembar uang kertas berwarna merah tepat di depan matanya.
"Mas Bule sangat pengertian sekali, tapi jangan beritahu Mbak Aline ya kalau saya yang kasih alamatnya." ujar Security tersebut dengan riang, lalu ia memberikan secarik kertas pada Dannis.
Setelah mengetahui alamat Aline di Pulau K, Dannis segera melajukan mobilnya ke Apartemennya dan segera bersiap menuju Pulau tersebut.
"Iam coming, baby."
.
NB : Maaf ya gengs untuk para readers kesayangan yang minta bonus part atau up lebih dari satu, Othor tidak bisa memenuhi. Karena selain sibuk di real life, Othor cuma penulis pemula, amatiran, abal-abal, bla bla bla.... yang intinya Othor tidak bisa 🤣🤣 Othor bukanlah Penulis yang jago seperti yang lainnya, yang sejam nulis kelar. So, thanks gengs 😘🤗🤗 masih setia membaca cerita ku yang sangat receh ini jangan lupa saran dan kritiknya.
__ADS_1