Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Pikiran mesum


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan gadis ini hingga ia hampir mengalami gejala hypotermia ?" tanya dokter Edward menatap kearah Dannis yang terlihat panik.


Mendengar perkataan Edward, Dannis langsung merutuki dirinya sendiri karena tega membuat gadisnya itu menunggunya hingga sakit seperti sekarang.


"Aku tadi menemukannya sudah pingsan di lantai, apa dia akan baik - baik saja ?" ujar Dannis, ia tidak mungkin mengatakan karena gara - gara menunggunya di pantai hingga larut malam. Bisa - bisa sahabatnya itu mencemohnya sepanjang hari.


"Selain dehidrasi, sepertinya ia juga melewatkan makan malamnya hingga badannya menjadi lemah." ujar Edward.


"Benarkah ?" Dannis semakin merasa bersalah, ia menggenggam erat tangan Aline dan beberapa kali mengecup punggung tangannya.


"Pastikan ruangan ini dalam keadaan hangat, nanti sore aku kembali lagi." ujar Edward seraya mengambil tas kerjanya.


Setelah mengantar dokter Edward keluar, ia segera kembali ke kamar Aline. Lagi - lagi ia menyalahkan dirinya sendiri, ketika melihat gadisnya itu terlihat lemah dan pucat seperti tak teraliri darah.


Lalu ia naik keatas ranjang dan berbaring menghadap kearah Aline dengan kepalanya ia topangkan pada salah satu tangannya.


"Kenapa dia belum bangun juga." batin Dannis sembari mengelus pipi Aline dengan lembut lalu memperbaiki selimutnya hingga ke lehernya.


"Aku pernah mendengar kalau hypotermia bisa ditolong dengan metode skin to skin, tapi itu kalau sedang di gunung atau hutan. Ini posisi ada di ranjang yang ada justru aku tidak bisa mengendalikan diriku dan memperkosanya, shit." gerutu Dannis sambil mengacak rambutnya dengan frustrasi bagaimana bisa dia mempunyai pikiran mesum seperti itu disaat gadisnya sedang terbaring sakit.


"Tapi aku harus melakukannya demi keselamatannya, ya ini hanya demi keselamatannya tidak ada faktor lain." gumam Dannis meyakinkan dirinya sendiri sembari membuka kemejanya dan membuangnya begitu saja ke lantai, hingga kini ia hanya bertelanjang dada.


Setelah itu dia membuka selimut yang Aline kenakan, dengan ragu dia membuka kancing bajunya. Kancing pertama sudah terbuka dan itu membuat Dannis menelan salivanya sendiri. Lalu ia melanjutkan membuka kancing berikutnya tapi belum sempat terbuka Aline sudah mengerjapkan matanya.


Akkkkkkhhhh


Teriak Aline ketika melihat Dannis tampak bertelanjang dada dengan posisi begitu dekat dengan wajahnya.


"Ka - kamu mau apa ?" tanya Aline dengan menutup dadanya dengan kedua tangannya.


Dannis tampak salah tingkah, ia segera berdiri dan menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"A - aku hanya ingin memeriksamu karena badanmu sedari tadi menggigil. Kamu lihat, pendingin udara di sini aku buat hangat biar kamu tidak kedinginan malah aku yang kepanasan." ujar Dannis beralasan seraya mengipasi badannya dengan telapak tangannya.


"Benarkah ?" tanya Aline curiga lalu ia duduk bersandar di headboard ranjang tersebut dan itu membuat sedikit belahan dadanya terlihat karena kancing bajunya yang terlepas satu.


"Tentu saja sayang." ujar Dannis nampak menelan salivanya sendiri ketika melihat pemandangan di depannya itu.


"Tunggu, kenapa kamu bisa masuk kedalam sini dan kenapa aku di infus ?" Aline nampak bingung dengan keadaannya apa lagi melihat Dannis yang berada di dalam kamarnya.


"Kamu tadi pingsan, makanya aku memanggil dokter untuk memeriksamu." sahut Dannis masih dengan mencuri pandang bagian dada gadis yang ada di depannya itu.


"Benarkah ?" Aline mencoba mengingat kejadian tadi pagi selepas ia bangun tidur.


"Lalu kenapa kamu bisa masuk kedalam Apartemenku ?" seru Aline lagi.


"Bukan perkara sulit bagiku." sahut Dannis sembari memalingkan mukanya, karena melihat pemandangan di depannya itu membuatnya tegang seketika.


"Shit, aku rasanya tak sanggup menahan cobaan ini." batin Dannis.


"Ada apa dengannya ?" tanya Aline dalam hati.


Dannis melangkahkan kakinya ke dapur sambil mengumpat beberapa kali, hanya karena melihat sedikit belahan dada Aline ia langsung sangat bergairah. Padahal kemarin Cleo sempat menggodanya tapi ia sedikitpun tidak bereaksi.


"Shit." umpatnya lagi.


Lalu ia menuju lemari pendingin untuk mencari bahan membuat bubur, ia nampak kebingungan karena belum pernah membuat bubur sebelumnya.


"Bagaimana cara membuatnya, selama ini aku hanya bisa masak mie." gerutu Dannis ketika membuka kulkas dan melihat beberapa bahan makanan di dalam sana.


Dannis segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu ia melihat tutorial masak bubur di internet. Melihat banyaknya cara tutorial membuat bubur, ia menjadi frustrasi sendiri.


Lalu matanya tertuju pada kemasan oatmeal yang ada di atas meja. "Aku akan membuat ini saja, meski cuma bubur gandum kalau buatnya dengan cinta pasti rasanya akan lebih enak." gumam Dannis lalu ia segera membuat semangkok bubur gandum dan segelas susu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia masuk kembali ke dalam kamar Aline dengan nampan di tangannya. Ia melihat Aline sedang tiduran sambil main ponsel dan bajunya sudah terkancing sempurna.


"Sayang duduklah, aku akan menyuapimu. Aku sudah membuatkan bubur spesial buat kamu !!" perintah Dannis lalu duduk di tepi ranjang.


"Spesial apanya itu cuma bubur gandum biasa." ujar Aline ketika melihat semangkok bubur gandum di tangan Dannis.


"Beda sayang, ini buatnya pake cinta." Dannis mengambil sesendok bubur lalu menyuapinya.


"Meski cuma bubur instan, tapi kalau dia yang buat dan nyuapi rasanya memang enak." batin Aline.


"Bagaimana, enakkan ?" tanya Dannis ia melihat Aline makan dengan lahap.


"Biasa saja, karena aku kelaparan makanya ku habiskan." ucap Aline sinis.


"Maaf ya gara - gara aku kamu jadi seperti ini." ujar Dannis sambil mengelap bibir Aline menggunakan tisu.


"Tidak usah di bahas, tidak seharusnya aku mempercayai janji playboy sepertimu." sahut Aline masih dengan sikap sinisnya.


"Kemarin sore setelah habis meeting, aku ada sedikit urusan penting. Aku sudah mencoba menghubungimu beberapa kali tapi tidak aktif, karena cuaca mendung juga jadi aku pikir kamu akan memutuskan untuk pulang sendiri." ujar Dannis.


"Setelah urusanku beres, aku menghubungi mu lagi tapi ponselmu masih tidak aktif. Aku sangat khawatir jadi aku putuskan untuk pergi ke Cafe itu tapi ternyata sudah ada Sam yang menemanimu." ujar Dannis lagi dengan raut kecewa mengingat bagaimana kedekatan Aline dan sahabatnya itu.


"Jadi ia mengkhawatirkan aku ?" tanya Aline dalam hatinya.


"Kamu mau memaafkan aku kan ?" tanya Dannis seraya menatap intens gadis di depannya itu yang masih diam membisu.


Aline hanya mengangguk, entah kenapa hatinya jadi luluh ketika mendengar penjelasan Dannis. Apa lagi laki - laki itu sudah merawatnya dari pagi, apa ini yang di namakan cinta. Entahlah dirinya juga masih bimbang dengan perasaannya.


Dannis segera merengkuh Aline ke dalam dekapannya, ia begitu bersyukur gadisnya itu mau mengerti keadaannya saat ini. Apa mungkin Aline mulai menyukainya, pikir Dannis.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara ponsel Dannis berdering. Ia segera melihat siapa yang menghubunginya. "Cleo." gumam Dannis.

__ADS_1


__ADS_2