Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Berpisah itu berat


__ADS_3

"Sayang, apa itu di pingit ?" tanya Dannis sore itu, ketika Aline sedang berdiri di depan meja rias untuk merapikan rambutnya karena ulahnya tadi.


"Sebelum menikah, calon mempelai wanita akan dikurung di dalam rumah selama beberapa hari dan tidak boleh bertemu orang luar." sahut Aline.


"Termasuk aku ?"


"Yes, tepat sekali." kini Aline memutar badannya dan berhadapan dengan laki-laki itu.


"Kalau aku kangen bagaimana ?" tanya Dannis lagi.


"Derita loe." Aline langsung melepaskan tangan Dannis yang membelit di pinggangnya itu lalu berjalan kearah nakas untuk mengambil tasnya.


"Sayang nggak bisa gitu dong." Dannis mengikuti langkah Aline yang berjalan kesana kemari seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


"Ini salah satu adat di negeri ini Dannis dan kita sebagai warga negara yang baik dan cinta tanah air harus melestarikannya." sahut Aline yang kini sedang duduk di tepi ranjang untuk memakai heelsnya.


"Sini biar aku bantu !!" Dannis duduk berjongkok dan mengambil sepatu heels di tangan Aline lalu segera memakaikan pada kakinya yang jenjang serta mulus dan itu membuatnya menelan salivanya berkali-kali.


"Aku bisa mati kalau dalam sehari tidak bisa bertemu denganmu sayang." ucapnya merajuk.


"Jangan lebay deh, buktinya waktu itu bisa."


"Itu karena hubungan kita belum jelas sayang dan sekarang aku semakin takut kehilanganmu."


"Aku cuma di dalam rumah Dannis, tidak kemana-mana."


"Tapi aku takut kamu akan berubah pikiran sayang, bahkan sekarangpun kamu bersikap biasa saja menghadapi pingitan itu."


"Jadi kamu meragukan ku ?"


"Iya."


"Kenapa ?"


"Sebelumnya aku adalah orang yang brengsek sayang, aku takut dalam satu minggu ini kamu berubah pikiran dan membatalkan pernikahan kita." Dannis menggenggam kedua tangan Aline, terlihat kekhawatiran di wajahnya.


"Aku mencintaimu Dannis, sangat mencintaimu. Kita hidup itu maju ke depan bukan mundur ke belakang. Jadikanlah masa lalu itu sebagai pelajaran, sebagai alarm hidup kita ketika akan melakukan kesalahan." tutur Aline kemudian memeluk laki-laki yang masih duduk berjongkok di depannya itu.


"Terima kasih sayang."

__ADS_1


"Aku berjanji pada diriku sendiri, kalau di mata dan pikiranku hanya akan ada dirimu seorang. Meski ada 72 bidadari yang turun dari surga untuk menggoda ku, aku takkan berpaling sedikitpun. Karena kamu telah membuatku menjadi seseorang yang lebih baik lagi, tidak hanya ragamu yang cantik tapi hatimu juga begitu cantik dan mulia sayang." batin Dannis dalam hati.


"Baiklah aku harus segera pulang, sebelum bu menteri mencariku lagi." Aline melepaskan pelukannya lalu beranjak dari duduknya yang juga di ikuti oleh Dannis.


"Ayolah sayang sebentar saja, aku masih belum mau berpisah." Dannis menarik Aline dan membawa ke pelukannya dan lagi-lagi ia membelitkan kedua tangannya agar gadisnya itu tidak bisa kabur.


"Cuma satu minggu, ok." Aline mencoba meyakinkan laki-laki di depannya itu.


"Apa kita akan teleponan setiap hari ?"


"Nggak boleh."


"Jadi selama satu minggu kita lost contact ?" tanya Dannis terkejut.


"Kamu bisa menghubungi pak RT atau bu Menteri kan ?"


"Hah siapa lagi mereka ?"


"Papa dan Mami." sahut Aline nyengir.


"Dasar anak bandel, baiklah cium aku dulu baru aku ijinkan keluar dari sini !!"


"Muachh." Aline mencium dahinya.


"Muachh, muachh. sudah kan ?" Aline mencium kedua pipinya.


"Ini belum sayang." Dannis menunjuk bibirnya dengan senyum menyeringai.


"Dasar mesum." ucap Aline lalu sebuah kecupan mendarat di bibir Dannis.


"Sayang, jangan tinggalkan aku berpisah itu berat !!" Dannis masih enggan melepas pelukannya.


"Dannis, jangan seperti bayi dong sudah sore ini."


"Aku akan menjadi bayi tua yang selalu menempel padamu."


"Aku mau pulang sayang."


"Kamu tadi bilang apa, katakan sekali lagi ?"

__ADS_1


"Sayang."


"Aku mau mulai sekarang kamu memanggilku seperti itu."


"Enggak mau ah, aku akan memanggilmu mas bule, bang bule, kang bule, aa bule apalagi ya..."


"No"


"Panggil sayang ok."


"Baiklah sayang, aku pulang sekarang ya."


"Apa mau ku antar ?"


"Aku bawa mobil sendiri." sahut Aline seraya melangkahkan kakinya keluar Apartemen.


"Sayang, apa aku boleh mengundang Dewa di pernikahan kita ?" tanya Aline ketika sudah berada di luar Apartemen.


"Boleh asal bukan tiba-tiba dia yang jadi mempelai laki-lakinya."


"Bercandamu tidak lucu, ya sudah aku pulang ya." pamit Aline kemudian berlalu pergi meninggalkan Dannis yang masih tak bergeming dari tempatnya.


Setelah dirasa Aline sudah menghilang dari pandangannya, Dannis segera masuk kedalam Apartemennya. Ia merasa menjadi manusia yang paling bahagia di muka bumi ini, perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Ia tidak menyangka akan menjadi seorang suami, mempunyai keluarga kecil dan anak-anak di dalamnya. Karena sebelumnya ia sama sekali tak memikirkan hidupnya, melihat orang tuanya yang penuh dengan kepura-puraan terlihat romantis di luar padahal berantakan di dalamnya.


"Seminggu ini aku pasti akan merindukan mu sayang." gumam Dannis seraya melihat fotonya bersama Aline yang ia ambil tadi.


"Baiklah dalam seminggu ini, aku akan menghabiskan waktuku di gym, membuat otot-otot tubuhku lebih sempurna dan di malam pertama nanti aku akan membalasmu sayang bagaimana nanti kamu akan berteriak minta ampun." batin Dannis ia masih merasa sangat kesal, bagaimana bisa ada aturan di pingit segala. Ia pasti akan sangat berat menjalaninya, sedangkan gadisnya itu terlihat biasa saja sungguh sangat menyebalkan. Pikirnya.


Jangankan satu minggu, satu hari pun ia tak kuat menahan rindu. Ternyata benar apa kata Dilan rindu itu berat. Aline yang tadinya nampak biasa saja, setelah hari ke tiga ia begitu merindukan calon suaminya itu.


Ia selalu mencoba berpikir positif kalau Dannis tidak akan berbuat macam-macam disaat tanpanya, kadang ia memohon pada kedua orangtuanya untuk menghubungi Dannis tapi mereka selalu beralasan kalau Dannis baik-baik saja.


Begitu juga dengan Dannis, ia selalu memohon pada kedua calon mertuanya itu untuk bertemu Aline tapi Austin tetap bersikukuh akan menjalankan adat yang sudah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang dan tidak bisa di langgar.


Sebenarnya di pingit tidaklah serumit itu, tapi Austin sengaja membuatnya rumit agar anak dan calon mantunya itu menghargai apa arti kebersamaan dan perpisahan sekaligus dan untuk menguji bagaimana perasaan mereka masing-masing jadi di kemudian hari mereka akan menghargai setiap waktu yang mereka miliki.


.

__ADS_1


.


NB : Hallo gengs kesayangan, mau curcol nih. Biasanya kalau bangun tidur Othor suka senyum-senyum sendiri lihat comment lucu kalian, tapi ketika melihat rate bintangnya aku tuh langsung speechless 😭. Gara-gara gladi resiknya bang bule, rate bintangnya yang tadi masih 5.0 langsung turun 4.8 dalam semalam, sedih aku tuh berasa nggak ada yang menghargai karya ku padahal juga nggak hot banget. Jadi kalau masih sayang sama Othor tolong bantu di rate bintang 5 ya gengs. Biar tidak semakin jeblok dan Othor jadi semangat juga nulisnya. thanks u all 🙏🏻🙏🏻 peyuk atu-atu 🤗🤗


__ADS_2