Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Kecurigaan seorang istri


__ADS_3

Enam bulan kemudian


Setelah lima bulan berlalu dari kejadian penculikan yang di lakukan oleh Leon, Aline merasa hidupnya sangat sempurna. Mempunyai seorang suami yang begitu sayang padanya dan kini kehamilannya sudah menginjak delapan bulan lebih dan perkiraan dokter bulan depan dia akan melahirkan.


Begitu juga dengan Sofia, dia juga sudah menikah dengan Sam sebulan setelah kejadian penculikan itu. Sedangkan Armand perusahaannya mulai bangkit berkat bantuan Dannis.


Tapi sebulan terakhir ini Aline merasakan ada yang beda dengan suaminya, Dannis lebih sering pulang terlambat bahkan berangkat kerja pun kadang lebih awal. Meskipun sikapnya sedikit pun tidak berubah padanya tapi kebiasaan suaminya itu membuat Aline mulai curiga.


Bahkan suatu kali dia pernah menelepon kantornya Dannis, tapi asistennya bilang kalau suaminya itu selalu pulang tepat waktu tapi kenapa sampai rumah lebih sering larut malam padahal jarak kantornya dan Mansion Ayahnya hanya tiga puluh menit kalau tidak macet.


"Sam dimana suamiku ?" tanya Aline sore itu ketika menelepon Sam.


"Kenapa kamu nggak menelepon ke ponselnya saja ?" tanya balik Sam dari ujung telepon.


"Kalau di angkat, aku nggak akan telepon kamu Sam."


"Sepertinya Dannis sedang meeting, kamu kepengen apa nanti ku belikan ?"


"Nggak ada." ucap Aline kemudian mematikan teleponnya sepihak.


"Dalam sebulan ini, sepertinya Sam yang lebih perhatian padaku daripada suami sendiri." gerutu Aline.


Bagaimana tidak, dalam sebulan ini setiap kali Aline menginginkan sesuatu pasti Sam yang akan memenuhinya dengan Alasan Dannis sedang sibuk.


"Apa aku sudah tidak cantik lagi, bahkan sekarang aku terlihat gendut." gumam Aline ketika berdiri di depan cermin, mungkin karena baby nya berjenis kelamin laki-laki jadi auranya pun lebih maskulin.


"Lihat saja kalau ketahuan selingkuh, aku akan benar-benar meninggalkan mu." gumam Aline, setelah melihat jam di atas nakas kemudian dia keluar dari kamarnya.


Ketika Aline menuruni anak tangga satu demi satu, dia melihat Dannis yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. "Sayang, kamu tadi mencari ku ?" tanya Dannis yang sedikit berlari ke tengah tangga lalu meraih tangan istrinya dan menuntunnya menuruni anak tangga.


"Bagaimana aku bisa menuduh mu selingkuh, kalau kamu selalu perhatian seperti ini." gumam Aline.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telepon ku ?"


"Aku sedang meeting sayang."


"Kenapa Sam nggak ikut meeting juga ?" Aline mencoba menyelidik.


"Ya Sam ada pekerjaan lain." ucap Dannis sedikit gugup.


"Kenapa kamu gugup ?"


"Sayang kamu apaan sih."


"Kamu nggak selingkuh kan ?" Aline langsung to the point rasanya nggak sabar kalau harus main teka-teki terus.

__ADS_1


"Astaga sayang, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu."


"Karena kamu lebih sering pulang terlambat atau berangkat lebih awal, aku menelepon asistenmu tapi kamu setiap hari selalu pulang tepat waktu. Kamu kemana ?" protes Aline.


Dannis mengusap wajahnya dengan kasar, ternyata tindakannya tak biasa dalam sebulan terakhir ini di rasakan oleh istrinya juga padahal dia sudah mencoba untuk menutupinya rapat-rapat.


"Aku nggak berbuat aneh-aneh sayang apalagi selingkuh." ucap Dannis jujur.


"Kalau aku pulang lambat itu karena ada undangan bisnis dengan kolega." ucapnya lagi mencoba meyakinkan istrinya.


"Kamu nggak bohong kan, kalau kamu ketahuan selingkuh aku akan meninggalkan mu dan di saat itu nggak akan ada maaf lagi buatmu." ancam Aline.


Mendengar ancaman istrinya, Dannis nampak bergidik ngeri. "Aku mana berani sayang, kamu sudah cukup sempurna buatku." Dannis mengecupi wajah istrinya yang selalu membuatnya candu setiap saat.


"Aku lapar, apa kamu mau buatkan nasi goreng untukku ?"


"Tentu saja sayang." Dannis mengajak istrinya ke dapur, lalu ia menggulung lengan kemejanya sampai siku kemudian mulai mengambil beberapa bahan di dalam lemari pendingin.


Sejak istrinya hamil, Dannis banyak belajar memasak makanan Indonesia. Karena istrinya itu hanya mau makan kalau ada menu Indonesianya.


Aline yang melihat suaminya dengan lincah memotong bahan makanan, nampak senyum mengembang di bibirnya. "Kamu memang sangat sempurna, pasti banyak wanita di luar sana yang mengejarmu."


"Apa aku sangat mempesona ?" tanya Dannis ketika melihat istrinya itu sedari tadi memandangnya.


"Jangan kepedean, mataku memang melihat mu tapi pikiranku ada di tempat lain." sanggah Aline.


"Aku tidak memikirkan laki-laki lain." cebik Aline.


"Lalu mikirin siapa ?"


"Mikirin kamu."


"Nggak ada, lagipula laki-laki mana yang mau sama wanita gendut seperti ku."


"Yang gendut itu cuma perutmu saja sayang, tahu tidak kamu itu seperti busung lapar." ucap Dannis yang lolos begitu saja dari bibirnya.


"Tega sekali kamu menghinaku." teriak Aline kemudian berlalu pergi meninggalkan Dannis yang masih dengan penggorengan di tangannya.


"Salah lagi." gumam Dannis, kemudian dia buru-buru menyelesaikan masakannya.


Aline yang berada di kamarnya nampak menangis. "Dasar suami nggak ada akhlaknya tega sekali mengatakan itu, sudah bosan apa." gumam Aline.


Sejak hamil, Aline memang sangat sensitif. Apalagi sekarang perutnya yang sudah sangat besar, Ia merasa dirinya sangat gemuk.


Padahal benar yang di katakan suaminya tadi, dia seperti busung lapar hanya perut dan dadanya saja yang membesar. Sedangkan tubuh bagian lainnya normal seperti sebelum dia hamil.

__ADS_1


Tapi namanya perempuan tidak akan merasa sempurna jika perutnya tidak rata, begitu juga dengan Aline sepertinya saat ini dia sedang mengalami krisis percaya diri.


"Sayang ayo makan." Dannis masuk kamar dengan membawa sepiring nasi goreng yang masih panas.


"Makan aja sendiri." Aline menggeser duduknya dan memunggungi suaminya.


"Baby kita lapar sayang." bujuk Dannis.


"Suapin !!" perintah Aline, mencium aroma nasi goreng buatan suaminya tersebut membuat moodnya sedikit membaik.


"Maaf ya, tadi aku salah ngomong tapi bagiku kamu itu wanita paling cantik di dunia." ucap Dannis sembari menyuapi istrinya itu.


"Jangan merayuku, kamu pasti ada maunya dan sepiring nasi goreng ini pasti nggak gratis kan ?"


"Kamu pengertian sekali sayang, jadi nanti malam kamu mau di atas atau di bawah." goda Dannis yang seketika membuat Aline merona, meski hampir setiap hari melakukannya dengan suaminya ia masih merasa malu kalau di ajak membahas masalah itu.


"Aku mau di samping." sahut Aline ngasal.


"Jadi kamu mau gaya samping ?" Dannis terkekeh, ia merasa gemas ketika melihat pipi istrinya memerah karena malu.


"Bang bull apaan sih, mandi sana !!" Aline mendorong suaminya agar menjauh darinya.


"Baiklah setelah mandi kita akan melakukan gaya samping sayang." kelakar Dannis sembari berlalu ke kamar mandi.


Selepas mandi, Dannis langsung mengungkung istrinya itu. Meski istrinya sedang hamil besar tak membuat gairahnya menyurut bahkan semakin hari ia semakin candu dengan istrinya.


Setelah bermandikan peluh, Dannis segera membersihkan dirinya di kamar mandi dan membiarkan istrinya terlelap karena kelelahan.


Setelah keluar dari kamar mandi, Dannis segera menuju balkon dan menelepon seseorang. "Sampai kan maafku padanya, malam ini aku harus menemani istriku di rumah."


"Tapi kamu sudah janji akan datang, dia pasti akan kecewa." sahut seorang wanita dari ujung telepon.


"Besok pagi-pagi aku akan kesana." ucap Dannis lagi.


"Baiklah, tapi bawakan kue kesukaannya."


"Iya." sahut Dannis lalu mematikan panggilannya.


Setelah itu Dannis masuk ke dalam kamarnya, kemudian merebahkan badannya di samping istrinya.


"Maafkan aku sayang."


Ia kecup kening istrinya kemudian merengkuhnya dan membawanya ke dalam pelukannya dan tak lama ia ikut terlelap.


.

__ADS_1


.


Mudah-mudahan sebentar lagi ending ya guys, udah mau tahun baru nih. Othornya mau liburan sekaligus liburin otak dulu biar nggak on terus kayak bang bule 😁🤣🤣


__ADS_2