Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Jutek


__ADS_3

"Kamu tahu, kamu itu seperti Dewa. Dia juga selalu ada buatku." ujar Aline.


"Apa dia kekasihmu ?" tanya Sam penasaran, karena baru kali ini ia mendengar nama itu di sebut oleh Aline.


"Bukan, dia teman sekolahku." Aline tersenyum ketika mengingat sosok Dewa, seorang sahabat yang selama ini ia rindukan kehadirannya.


Mereka berbincang hingga larut malam, tapi tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka dari kejauhan.


"Dasar wanita murahan, setelah ku tolak beraninya dia menggoda adik dan sahabatku." Dannis mengepalkan tangannya ketika melihat keakraban antara Sam dan Aline.


DANNIS POV


Dengan emosi Dannis keluar dari restoran tersebut, ia segera membuka pintu mobilnya dan membantingnya dengan keras.


Ia lajukan kendaraannya dengan kencang meninggalkan restoran tersebut, tapi ketika di tengah perjalanan tiba - tiba ia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Aline sendirian.


Ia mengacak acak rambutnya dengan kasar, jika dia kembali menemui wanita itu maka itu akan menurunkan harga dirinya.


"Shit, kenapa wajah polosnya selalu memenuhi kepalaku." batin Dannis dalam hati.


Kemudian ia memutar balik kemudinya dan kembali menuju restoran tadi, dimana dia sudah meninggalkan Aline disana.


Ketika ia akan melangkahkan kakinya masuk kedalam restoran, ia melihat adiknya Leonel sedang asyik mengobrol dengan Aline yang masih terduduk di tempatnya tadi.


"Apa yang Leon lakukan di sana, apa mereka saling mengenal sebelumnya." gumam Dannis, kemudian dia mencari duduk agak jauh dari penglihatan mereka.


"Shit, kenapa mereka bisa seakrab itu." gerutu Dannis dalam hati, tanpa ia sadari kedua tangannya sudah mengepal dengan erat.


Karena tidak tahan melihat keakraban Aline dan adiknya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri mereka, tapi ketika baru melangkah ia di kejutkan oleh Sam yang sudah berada di samping Aline.


"Sam, kenapa dia juga bisa disini." gumam Dannis kemudian ia kembali ke tempat duduknya lagi.


Setelah melihat kepergian Leon, Dannis masih tak bergeming dari tempatnya. Matanya terus mengawasi Aline dan Sam yang sedang duduk memunggunginya.


"Apa - apaan ini, kenapa si cupu itu bersandar di bahu Sam." Dannis mendengus kesal, wajahnya begitu geram.


"Dasar wanita murahan, setelah ku tolak beraninya dia menggoda adik dan sahabatku." Dannis mengepalkan tangannya, kemudian ia beranjak pergi dari tempat itu dengan penuh emosi.


Sepanjang perjalanan menuju Apartemennya Dannis terus menerus mengumpat, dia juga bingung mengapa dirinya bisa bersikap demikian.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


Beberapa hari kemudian


Dannis masuk kantor seperti biasanya, tapi sejak kejadian waktu itu ia tampak tak bersemangat.


"Sam segera carikan sekretaris baru untukku ?" Perintah Dannis ketika Sam baru masuk kedalam ruangannya.


"Lalu Aline bagaimana boss, cutinya sudah habis. Mungkin besok dia sudah bisa masuk kerja kembali." ujar Sam.


"Ck, jangan berlagak bodoh Sam." Dannis berdecak kesal.


"Maaf boss maksudnya ?" Sam mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti mengapa bossnya itu beberapa hari ini bersikap angkuh padanya.


"Lupakan !" ucap Dannis dengan ketus.


"Carikan sekretaris laki - laki untukku !" sambung Dannis lagi tanpa melihat keberadaan asistennya yang tampak bingung dengan sikapnya.


"Baik boss." Sam melihat bossnya sekilas kemudian berlalu pergi tanpa banyak bertanya.


Tak lama kemudian terdengar suara ponsel Dannis berdering nyaring.


"Apa kamu bisa menjemput Aline untuk makan siang di rumah hari ini ?" ujar Tuan Nicholas dari ujung telepon.


"Tapi Pa....." Dannis belum menyelesaikan perkataannya tapi tuan Nicholas sudah menyelanya.


"Papa sudah ijin sama Ayahnya, kamu bisa menjemputnya di kantornya !" ujar Tuan Nicholas kemudian ia mematikan panggilannya tanpa membiarkan anaknya itu untuk protes.


"Selalu saja memaksa." Dannis melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian ia beranjak dari duduknya sambil menggerutu.


Beberapa saat kemudian Dannis sudah berada di dekat kantornya Aline, masih dari dalam mobilnya laki - laki itu mengawasi keadaan sekitar kantor. Ia masih bimbang antara turun atau tidak, ketika sedang berperang dengan batinnya ia melihat Aline berjalan melewati mobilnya.


Tanpa berpikir panjang, Dannis keluar dari mobilnya dan langsung menarik tangannya.


"Lepaskan !" Aline menghempaskan tangannya ketika Dannis menariknya dengan paksa. Beruntung dia hari ini memakai kacamata andalannya, hanya pakaiannya saja yang membedakannya.


Ketika menjadi sekretarisnya Dannis, dia selalu memakai pakaian yang serba kedodoran tapi kali ini ia terlihat sangat modis. Hingga membuat Dannis sedikit terpaku ketika melihat penampilannya.


"Kenapa dia sangat mirip dengan wanita itu." gumam Dannis melihat Aline dari atas hingga bawah.

__ADS_1


"Mau ngapain kesini, bukannya kamu sudah tidak mau melihatku lagi ?" Aline mencibir Dannis yang masih terpaku di hadapannya.


"Aku juga tidak akan kesini kalau bukan Papaku yang minta." dengus Dannis.


"Bodo amat." tanpa melihat Dannis, Aline melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu.


"Aku tidak peduli kamu mau atau tidak." ujar Dannis sambil menarik paksa tangan Aline dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Hey kamu mau menculikku ?" sentak Aline ketika Dannis mengunci pintu mobilnya secara otomatis.


"Ayah kamu sudah memberikan ijin, jadi aku bebas membawa mu kemana - mana." Dannis tersenyum menyeringai melihat wanita di sebelahnya itu.


"Awas saja kamu berani macam - macam ?" Aline mengepalkan kedua tinjunya.


Dannis hanya mendengus kesal melihat reaksi Aline, di luar sana banyak wanita yang mengejarnya tapi wanita ini justru terang terangan menolaknya.


Dannis terus melajukan mobilnya, ia tidak memperdulikan wanita di sebelahnya itu terus menggerutu sepanjang perjalanan. Tapi lama kelamaan telinganya terasa gatal juga mendengar umpatan demi umpatan yang di lontarkan oleh Aline.


"Hey cerewet, kamu bisa diam tidak ?" Dannis mendadak menghentikan mobilnya di tepi jalan, ia menatap tajam gadis yang ada di sebelahnya itu.


"Mau ngapain kamu ?" Aline sudah siap melayangkan tinjunya ketika Dannis mulai mendekatinya.


"Tentu saja mau membungkam mulut berisikmu itu." ujar Dannis menatap tajam pada Aline. Setelah di rasa wanita di sebelahnya itu diam lalu ia melajukan kembali kendaraannya, nampak ada smirk kecil di bibirnya ketika melihat gadis itu ketakutan.


Beberapa saat kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah Mansion mewah milik keluarga Bryan.


"Cepat turun atau mau aku gendong !" perintah Dannis ketika melihat Aline tak bergeming dari tempat duduknya.


Sedikitpun Aline tak menghiraukan Dannis, ia langsung bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam Mansion tersebut yang di ikuti oleh Dannis di belakangnya.


"kakak ipar." sapa Leon ketika melihat Aline baru masuk kedalam.


"Leon." Aline tersenyum manis pada Leon dan itu tidak luput dari penglihatan Dannis.


"Dasar ganjen." gerutu Dannis dalam hati ketika melihat Aline tersenyum manis pada adiknya, sedangkan dengannya selalu saja bersikap jutek.


"Ayo, Papa sudah menunggu !" Leon langsung menarik tangan Aline agar mengikutinya.


"Hey, disini yang akan menjadi calon suaminya siapa ?" sentak Dannis dengan geram hingga menghentikan langkah Leon dan Aline yang sudah berjalan mendahuluinya.

__ADS_1


"Tinggalkan kami Leon, ada yang harus ku bicarakan dengan wanita ini !" Dannis menatap tajam Leon hingga membuat adiknya itu berangsur pergi meninggalkannya.


__ADS_2